Jalan Cinta Para Pejuang

di sana, ada cita dan tujuan
yang membuatmu menatap jauh ke depan
di kala malam begitu pekat
dan mata sebaiknya dipejam saja
cintamu masih lincah melesat
jauh melampaui ruang dan masa
kelananya menjejakkan mimpi-mimpi
lalu di sepertiga malam terakhir
engkau terjaga, sadar, dan memilih menyalakan lampu
melanjutkan mimpi indah yang belum selesai
dengan cita yang besar, tinggi, dan bening
dengan gairah untuk menerjemahkan cinta sebagai kerja
dengan nurani, tempatmu berkaca tiap kali
dan cinta yang selalu mendengarkan suara hati
teruslah melanglang di jalan cinta para pejuang
menebar kebajikan, menghentikan kebiadaban,
menyeru pada iman
walau duri merantaskan kaki,
walau kerikil mencacah telapak
sampai engkau lelah, sampai engkau payah
sampai keringat dan darah tumpah
tetapi yakinlah, bidadarimu akan tetap tersenyum
di jalan cinta para pejuang

“Salim A. Fillah”

Dipublikasi di Spirit

Bintang Pelajar

Saya dulu ingat ketika ditanya Pak Dali, salahsatu Project Officer CGS waktu pertamakali bertemu di SMP saya SMP PGRI Ciasmara. Saat itu, saya sedang bersiap untuk memulai kuliah pertama saya di ITB Bandung. Beliau menanyakan, kamu cita-citanya mau jadi apa. Saya jawab saya mau jadi guru Pak. Beliau tersenyum dan sedikit tertawa karena kebanyakan orang-orang di kampung saya yang sekolah ingin jadi guru.

Bukan tanpa alasan saya menjawab itu dengan cepat. Karena gurulah yang membuat kita memahami proses pendidikan dan pembelajaran di kelas-kelas. Semenjak itu, orang yang berprofesi sebagi pengajar saya sebut sebagai guru, termasuk dosen. Dan, setahun yang lalu ketika ada pelatihan perencanaan karir dari Mas Budi Pangestu, pengisi acara yang diundang CGS, saya memantapkan ingin menjadi guru sebagi profesi saya yang permanen nantinya. Menjadi tenaga pengajar di kampus tempat saya belajar, ITB.

Setelah lulus dari ITB, saya merasakan banyak sekali rencana karir saya yang berantakan. Saya tidak mempersiapkan sejak dini untuk lanjut S2. Saya terlanjur memilih untuk berjibaku menyelesaikan skripsi Tugas Akhir selama kurang lebih 10 bulan dari perencanaan hingga lulus sidang. Dalam proses mendapat gelar Sarjana Teknik itu saya tidak cukup mantap untuk mempersiapkan segalanya ketika sudah lulus. Hingga akhirnya terbersit keinginan untuk bekerja di sebuah perusahaan terlebih dahulu agar pengalaman di dunia industri bisa saya alami sebelum melanjutkan jenjang akademik.

Ternyata semuanya tidak berjalan sesuai apa yang diharapkan. Persaingan kerja memang cukup ketat, kemudian banyak informasi lowongan kerja yang saya tidak tahu, serta persyaratan yang tidak bisa saya penuhi. Hingga akhirnya saya sempat mendaftar di Bintang Pelajar, salahsatu lembaga bimbingan pelajar yang berpusat di Bogor. Saya melewati seleksi penerimaan guru di sana. Pada pra-akad saya ditetapkan untuk mengajar sebagai guru honor tetap di Jakarta. Kemudian, saya mencoba me-lobby agar bisa ditempatkan di Bandung agar strategis untuk berbagai macam keperluan dan rencana yang masih bisa saya upayakan.

Alhamdulillah, saya disetujui untuk ditempatkan di Bandung sebagai Guru Honor Lepas, yaitu mengajar Fisika SMA sesuai KBM dengan waktu tersedia yang dimiliki. Akad sudah saya tandatangani, insyaallah jika tidak ada hambatan saya mengajar di Cabang Banda Bintang Pelajar. Dalam waktu satu tahun itu, saya akan mempersiapkan segalanya untuk persyaratan S2 ke luar negeri. Dosen pembimbing saya juga nampaknya akan membantu untuk mencarikan kerjaan sebagai konsultan di Bandung. Selain itu juga, sempat ditawarkan untuk menjadi asisten riset di laboratorium. Insyaallah ini jalan yang ditempuh, semoga Allah memberkahi.

Guru memang bukan profesi yang menggiurkan dari segi gaji. Tetapi di dalamnya, banyak hal yang bisa diperoleh. Jika mengingat guru ini, saya sadar satu hal. Saya lupa bahwa adanya saya sampai lulus di kampus teknik negeri ini berkat guru-guru saya selama SD, SMP, dan SMA. Saya tahu saya tidak banyak bertemu dengan mereka, tetapi meski sekadar menanyakan kabar mereka via SMS, saya tetap didoakan untuk yang terbaik dan dimudahkan segala urusan. Memang guru saya seperti itu, tidak perlu mereka diberikan segalanya untuk mebalas kebaikan. Cukup anak muridnya sukses dalam kehidupan.

Terimakasih Pak Awang dan guru SMP PGRI Ciasmara lainnya. Saya satu-satunya yang masuk SMAN 1 Leuwiliang waktu itu. Mohon maaf saya jarang mampir ke sana.

Terimakasih Bu Ade dan Bu Diah, serta guru-guru yang lainnya di SMAN 1 Leuwiliang. Saat lulus juga saya satu-satunya yang masuk ITB. Semoga ilmu yang saya peroleh menjadi kebaikan bagi sebanyak-banyaknya makhluk.

Doa terbaik untuk kehidupan kalian, guru-guruku!

Kota Kembang, 9 November 2014, kala sinar mentari menerobos jendela kamar dengan lembut bersama alunan tilawah Qur’an yang menentramkan.

Bismillahi tawakaltu ‘alallah…

Dipublikasi di Minor, My Story, Spirit | 1 Komentar

Kabut Tipis Di Puncak Geulis

Kabut tipis jatuh perlahan di puncak gunung. Bangunan makam menambah mistis suasana pagi. Tanpa sunrise. Menyisakan kami yang siap turun dari Gunung Geulis. Perjalanan satu hari satu malam di gunung yang terletak dekat dengan kawasan kampus di Jatinangor.

Kami bertiga saya, Kiki, dan Gempar berangkat pukul 13.00 WIB menuju Jatinangor dan sampai di kaki gunung dengan selamat. Melewati SD Sinarjati dan lapangan bola, kami melihat kawasan Jatinangor sebagai kawasan yang sedang berkembang dengan berbagai pembangunan. Kampus UNPAD, ITB, dan Menara Masjid Salman terlihat di antara gedung-geudng yang ada. Jalanan berbatu menjadi awal pendakian kami. Puncak gunung ini sudah terlihat jelas dari sini. Kemudian kami melewati perkebunan warga. Banyak gubug-gubug yang dibangun secara terpisah di samping tegalan.

DSCN2257Pemandangan di pekebunan jauh lebih indah karena kawasan Jatinangor semakin luas dilihat dan Gunung Manglayang menjulang tinggi. Kemiringan lereng lumayan terjal. Kami melewati persimpangan jalan dan memilih jalan yang terjal untuk mencapai puncak.

DSCN2280

 

Rimbunan pohon bambu dan daun-daunnya yang berjatuhan di tanah menambah seru medan pendakian. Lumayan panjang jalur yang kami lewati, dipenuhi oleh pohon bambu kemudian tumbuhan mulai berubah menjadi pohon-pohon kecil dan semak-semak. Di gunung ini banyak sekali jalur-jalur kecil yang dapat membuat kita tersesat. Kami membuat tanda dari rafia untuk menuntun ketika pulang. Perjalanan kami menyibak ranting-ranting, semak-semak dan batang-batang kayu sambil berpikir mencari jalur menuju puncak ditemani dengan obrolan-obrolan dan tawa-tawa kecil. Nampaknya tidak ada pendaki yang mendaki selain kami bertiga. Sampai ketika kami sampai di padang ilalang yang luas. Pemandangan yang syahdu.

DSCN2265

Puncak terlihat masih jauh. Waktu menunjukkan pukul 17.30 WIB. Langit mulai memperlihatkan tanda-tanda malam. Kami keluarkan senter dan golok untuk mengantisipasi apa yang terjadi di depan. Pohon bambu kembali menjadi medan yang harus kami lewati. Bentukan terasering menjadikan tatanan pohon bambu lumayan teratur. Setelah ini, jalur yang dilewati lebih banyak kami buat sendiri dengan menyibakan ilalang panjang. Kami tiba di puncak.

DSCN2261

Terlihat bangunan makam yang luas dengan panjang dan lebar sekitar 10 m. Di sampingnya ada sebuah bangunan lagi yang diatapi. Saya mengucapkan salam sepertinya seperti tempat air, ternyata ada ruangan makam di dalamya. Bulu kuduk sedikit bergetar.

DSCN2258

Kemudian kami mengitari area lainnya untuk mendirikan tenda dan menemukan satu bangunan yang lebih kecil dan di dalamnya makam juga. Banyak sesepuh yang dikebumikan di puncak gunung ini ternyata. Akhirnya kami mendapati tempat yang cocok untuk mendirikan tenda. Malam sudah gelap. Adzan maghrib baru saja lewat. Tenda selesai, sholat kami laksanakan, dan makanan siap kami hidangkan. Ditemani lilin dengan nyala kecil, angin berhembus kencang yang angin-anginan waktunya. Candaan menjadi bumbu menarik untuk menghangatkan malam yang tidak terlalu dingin. Akhirnya kami terlelap. Terdengar suara-suara krusuk-krusuk ketika kami tidur. Biarkanlah. Kami terlelap malam itu. Kami tidur bersama tiga makhluk lainnya. Di puncak yang sama di Gunung Geulis. Bedanya kami masih bisa bangun pada pagi harinya.

DSCN2262Pagi kami bangun dan menyiapkan makanan untuk turun gunung. Selanjutnya rafia yang menjadi tanda, berguna menuntun perjalanan turun kami. Beberapa spot cukup bagus untuk mengabadikan momen-momen pendakian. Spot yang cukup bagus adalah padang ilalang dan tempat dengan background Gunung Manglayang.

Gunung Geulis, 30 Oktober 2014

Dipublikasi di Journey, My Story, Nasihat Kehidupan, Spirit | Tinggalkan komentar

Lulus

Alhamdulillah, rangkaian pendidikan geologi sudah saya lewati. Banyak sekali pelajaran yang didapat di ujian sidang barusan. Banyak koreksi dari draft dan peta geologi. Tetapi semua itu sudah terlewati dan secara resmi Pak Choiril selaku ketua sidang sudah mengumumkan bahwa saya lulus sebagai sarjana teknik di Program Studi Teknik Geologi.

Satu hal yang paling penting dari semua itu saya mesti bersyukur. Menilik ke belakang banyak sekali pihak-pihak yang terlibat dalam proses kelulusan ini. Begitu juga, saya selalu ingat lapangan TA saya di Desa Cibuluh, Sumedang. Pemandangan Tampomas selalu indah dipandang mata saat makan siang di gubug dan saat mendeskripsi singkapan di sepanjang dinding Sungai Cipanas. Lapangan dengan luas sekitar 21 km2 itu menjadi wadah bagi saya menganalisa tatanan geologi yang ada. Ujian sidang barusan memperlihatkan betapa arifnya para dosen untuk mengrahkan pemahaman kepada mahasiswa jika dirasa terdapat kekeliruan. Bayangan saya berupa sidang yang dimarah-marahi dosen terasa lebih berasa dengan berbagai masukan untuk menjadikan diri saya sebagai seorang geologis. “Selamat, Anda sudah bergelar Insinyur” Tutur Pak Choiril sambil tersenyum. Selepas sidang  lega dirasa dan merasa masih sangat banyak kekurangan. Karena itu harus terus memperbaiki diri dan meningkatkan pemahaman geologi. Sejak masuk geologi inilah, menikmati gejala bumi dengan pemaknaan jauh lebih mengenakan hati dibandingkan hanya memandang keindahannya saja. Begitu tutur sebuah moto dari salahsatu komunitas geotrek.

Dalam proses keseluruhan ini, pada akhirnya saya banyak mendapatkan semangat, bantuan, inspirasi, dan motivasi dari berbagai pihak. Ucapan terima kasih sebesar-besarnya tertuju kepada:

  • Keluarga Besar di Desa Ciasmara dan SMAN 1 Leuwiliang yang memberikan banyak doa, dukungan, nasehat-nasehat, dan hal besar lainnya sehingga penulis mendapat banyak manfaat dan hikmah.
  • Bapak H. Ahmad Heryawan, Lc. selaku Gubernur Jawa Barat serta Pemerintah Provinsi Jawa Barat atas bantuan biaya pendidikan secara penuh termasuk biaya kebutuhan sehari-hari sehingga penulis dapat menempuh pendidikan di Institut Teknologi Bandung.
  • Chevron Geothermal Salak, Dompet Dhu’afa, Project Officer antara lain Pak Gita, Mas Hasan, Mbak Nana, Mas Fachri, Bu Nuk, Pak Dali, dan jajaran lainnya yang telah membantu juga dalam memberikan bantuan baik biaya maupun pembinaan karakter.
  • Bapak Dr. Eng. Imam A. Sadisun, MT. atas kebaikan dan kesabarannya dalam membimbing penulis, banyak sekali bantuan, motivasi, nasehat, inspirasi yang diberikan sehingga penulis mendapat banyak pembelajaran yang sangat berharga.
  • Seluruh dosen dan karyawan di Program Studi Teknik Geologi ITB yang telah memberikan ilmu yang sangat berharga dan memberikan bantuan selama perkuliahan di Teknik Geologi ITB.
  • Rekan-rekan pemetaan bersama: Teguh, Iyo, dan Ara serta Mas Rendi, Mas Arif, dan Mbak Fita di Laboratorium Geologi Teknik ITB yang telah membantu dalam perencanaan, pengolahan data, sharing-sharing, dan lain-lain.
  • Rekan-rekan Teknik Geologi ITB 2010 yang telah bersama-sama kita kuliah, saling mendukung atas kesuksesan, dan anggota biasa HMTG “GEA” ITB yang memberikan bantuan ilmu dalam bidang akademik maupun organisasi, serta kebersamaan selama berhimpun.
  • Kepala Dusun Cipinangpait, Pak Olot dan keluarga serta Kades Cibuluh, yang telah membantu penulis di Sumedang.
  • Sahabat sekosan di Jalan Taman Hewan: Eka, Aliyyus, dan Aceng. Semoga ketika sudah sukses kita bisa saling bertemu kembali.
  • Teman-teman Keluarga Pelopor yang berjumlah 96 orang. Perjuangan kita masih panjang untuk mengembangkan daerah kita tercinta, Jawa Barat.
  • Rekan-rekan di Sahabat CGS: Kang Irfan, Tri, Kang Heru, Alan, dan lainnya.
  • Teman-teman di sekre Pelopor: Ifan, Tarlani, Aceng, Firman, Luhur, dan Irma.
  • Teman-teman di Tubagus V: Arpan, Adit, Dedi, Deday, dan Fuad, atas kebersamaan dan kehangatan yag diberikan.
  • Teman-teman di Al-Jibaal ITB: Wahyu, Remi, Bahary, Rahmad, Anwar, Rifki, dan lainnya.
  • Kang Ikhsan dan teman satu lingkaran Dipta, Hasan, Reza, dan lainnya.
  • Berbagai pihak yang  tidak bisa disebutkan satu per satu, saya ucapkan terimakasih sebesar-besarnya.

 

Bandung, September 2014

Misbahudin

IMG-20140929-WA0003

 #Pasca lulus sidang

Dipublikasi di Journey, Minor, My Story, Spirit | Tinggalkan komentar

Lereng Selatan Gunung Gede

Pemandangan pagi ini cerah. Bus Sukabumi-Bandung membiarkanku memandang Gunung Gede yang berdiri kokoh di sana. Di sana selama empat hari empat malam saya mendapat ilmu dan pengalaman baru. Semoga bisa menjadi referensi yang baik akan kuasa Sang Pencipta.

10440824_10203296435909495_7149829218669300103_n

Perjalanan dimulai hari Selasa, berangkat dari gerbang depan ITB. Saya rampungkan perkenalan ke semuanya. Jalanan cukup ramai, beberapa lewat pasar memang macet. Perjalanan terasa cepat tidak terlalu banyak obrolan, hanya seperlunya saja. Saya yakin selama beberapa hari ke depan akan menjadi ranah menambah pengetahuan ilmu kehidupan.

Dikdik, Mamik, dan Adrian. Saya ikut dengan mereka untuk mendaki lereng selatan Gunung Gede. Sejauh yang dipahami, analisis vegetasi dilakukan di berbagai ketinggian, pohon dan lumut jenis apa aja yang tinggal di sini. Mereka makhluk hidup yang tanpa pamrih menyediakan kebutuhan udara bagi manusia dan sejauh mana keseimbangan yang terjadi dalam sistem alam yang kompleks ini.

Pintu masuk Gunung Gede terdiri dari tiga. Cibodas, Gunung Putri, dan Salabintana. Jalur Salabintana relatif sepi buat para pendaki. Katanya jalur yang ditempuh sampai puncak lebih dekat dari jalur ini. Kami sempat terlebih dahulu menyapa dan berbicara dengan petugas di kantor untuk kemudian bersiap menuju lokasi pengambilan data.

Kali ini tidak sampai puncak, hanya ketinggian 2400 m dan 2200 m saja saya ikut merasakan secara langsung bagaimana analisis vegetasi ini dilakukan. Kami mulai naik pukul 13.00 WIB. Selama perjalanan ke ketinggian 2400 m itu, seperti biasa kebiasaan saya muncul. Mungkin karena fisik yang tidak kuat selalu kecapekan dari awal. Jalur via Salabintana ini sempit, berbeda dengan Jalur Cibodas. Tidak banyak pemandangan dan pemberhentian wisata yang bisa kita lihat. Mungkin ini jadi alasan yang cocok untuk dilakukan pengambilan data karena relatif aman dari gangguan.

Sepanjang perjalanan, secara tidak sadar pacet-pacet melubangi kulit dan meninggalkan darah yang terus mengalir. Pacet-pacet ini banyak jumlahnya. Dari mulai tangan, perut, hingga kaki merasakan rabaan pacet. Udaranya yang lembab bisa jadi penyebab, jalur ini berada di lereng selatan.

Kami tiba pukul 18.30 WIB di Cileutik, ketinggian 2400 m. Di sinilah kami mendirikan tenda di hari itu. Udara dingin dan angin cukup kencang.  Air dari Sungai Cileutik bagaimanapun juga membantu keperluan makan dan minum meskipun airnya dingin sekali, apalagi kalau malam hari. Malamhari kami lewati tanpa api kayu yang menyala.

Esok hari, kami mulai membuat plot untuk kemudian diambil data yang mendukung tujuan penelitian. Kelembaban dan pH tanah diukur menggunakan alat soil tester. Mamik ditemani Adrian mengamati jenis pohon dalam plot tersebut. Dikdik mengamati lumut yang hidup menempel di permukaan batang pohon. Cuaca hari itu cerah, tapi udara tetap dingin. Pengambilan data dilakukan kurang lebih empat jam. Kemudian istirahat makan siang dan dilanjutkan pembuatan plot ke dua. Masing-masing ketinggian diambil data dari tiga plot. Plot-plot ini dibuat sederhana dari tali rafia yang dibentangkan membentuk kotak berukuran masing-masing 20 m di tiap sisi. Banyak jenis pohon meskipun saya tidak tahu namanya yang tumbuh di sekitaran sini. Inilah maksud analisis vegetasi dilakukan.

10330504_10203296377548036_8047025355806462797_n

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 Adrian

1511466_10203296347547286_5285863653093816891_n

Dikdik

1907413_10203296345507235_589751063550669675_n

Mamik

Keesokan harinya kami melanjutkan pengambilan data di plot kedua, ketinggian 2400 m. Sama seperti sebelumnya pengambilan data kelembaban, mikroclimate, pH, jenis pohon dan lumut, foto rona, kemiringan, diameter pohon, tinggi pohon menyibukan kami dalam plot kotak seharian itu. Pembuatan plot ketiga dilakukan dengan cepat. Semakin terasa bagaimana keseimbangan alam ini begitu kompleks, tapi manusia diberikan sedikit pemahaman dari Yang Maha Kuasa untuk meresapi ciptaan-Nya. Sedikit saja sudah membuat kita sadar bahwa pohon-pohon ini, lumut-lumut ini, dan gunung beserta isinya tercipta untuk mendukung kehidupan. Adrian pergi hari itu. Pergi untuk kembali. Kembali Hari Sabtu nanti.

Berikutnya menyisakan tiga orang. Kami turun sore hari untuk menuju ketinggian 2200 m. Segera membuat plot pertama di ketinggian ini, mendirikan tenda, dan sebagainya untuk memastikan kami tinggal selama dua hari lagi. Api kayu sudah menyala terus selama beberapa hari ke depan. Radiasi panas yang dihasilkan membantu tubuh yang butuh kehangatan. Tapi kehangatan kami cukup malam itu. Ditemani api, minuman hangat, dan obrolan-obrolan kecil. Selain radiasi panas yang dihasilkan, asap yang dihasilkan mebekaskan bau khas pada pakaian kami.

Hari berikutnya pengambilan data dilakukan pada plot pertama tanpa Adrian. Pengambilan data yang sama. Terlihat beberapa pendaki gunung yang mencari sepotong sunrise dan secangkir angin gunung sedikit-demi sedikit menuju puncak. Menyapa sebentar dan mereka langsung pergi. Mendaki gunung inilah hobi yang saya sukai. Begitupun mereka merasakan. Banyak hal yang tidak bisa dituliskan, cukup bagus untuk menjadi memori di masa mendatang dan pelajaran berharga yang hanya terasa jika melakukan.

10599523_10203296359147576_5477879376394296618_n

 Tenda Kami

Sore hari kami sempat membuat plot kedua di ketinggian 2200 m ini. Menjelang malam, seperti biasa kami bersiap masak untuk mengisi perut dan ditemani api kayu yang besar. Obrolan-obrolan disertai canda tawa ikut menghiasi bulan purnama yang menyala terang di atas pepohonan sekitar kami. Ini malam terakhir saya di Gunung Gede. Besok kami turun gunung untuk merecharge perbekalan.

Paginya, plot kedua dengan kemiringan cukup terjal menjadi pembuka hari yang cerah untuk jiwa yang sepi. Beberapa pendaki melewati jalanan dan menyapa kami yang tengah sibuk melihat-lihat pohon dan lumut. Mereka fokus untuk naik ke atas karena itulah yang mereka kejar. Kemudian, kabut tipis jatuh perlahan di lembah ini, lembah Salabintana, lembah di antara pegunungan. Kabut dan dinginnya silih berganti dengan matahari beserta kehangatannya.

Plot terakhir lebih terjal lagi kemiringan mencapai 30 derajat lebih. Tapi tidak menyurutkan Dikdik dan Mamik untuk pengambilan data dalam analisis vegetasi ini. Banyak keanekaragaman jenis pohon dan lumut yang ada. Pohon kecil dan besar. Ukuran sama bisa jadi jenis pohon berbeda. Bentuk daun dan ranting pohon bisa membantu dalam penentuan jenis spesies. Begitupun kulit kayu dari pohon tersebut dan struktur tulang daun yang ada. Mamik berulangkali mengambil sampel daun dengan tambang. Banyak kesenangan yang saya alami. Seru juga seperti anak kecil yang sedang bermain.

10570369_10203296355427483_927729363849906766_n 10603570_10203296365227728_2728352495158590747_n

 Mengabadikan momen di pohon paling besar.

Dikdik tetap dengan objek yang sama, lumut. Lumut berwarna hijau tapi bentuknya beraneka ragam. Ada lumut yang terlihat kering dan lumut yang basah.

10342991_10203296438629563_5033274261509424288_n 10552364_10203296440069599_6579819874924132582_n

Beragam jenis lumut

Akhirnya rampung juga, ini kesempatan yang bagus buat saya mengetahui bagaimana anak biologi melakukan metode penelitiannya. Di samping, cerita yang patut untuk ditulis dan dikenang. Kami turun sore hari itu juga.

Turun gunung menjelang malamhari. Saya cukup kerepotan, kacamata berembun karena keringat dan hari mulai gelap. Senter menjadi alat vital yang menerangi sejauh kaki melangkah. Bulan purnama dari kemarin tetap menyinari langit yang biru. Sejenak berhenti untuk menikmati pemandangannya. Akhirnya kami tiba di kantor, Pondok Halimun meskipun susah payah, saya turun karena jalur yang licin dan buram.

Di Pondok Halimun ini, kami menanti Adrian dan Sisil. Sisil akan melengkapi kekosongan orang. Karena besoknya saya pergi ke Bandung, sepertinya tidak untuk kembali lagi ke sini. Pacet-pacet yang ada cukup menjengkelkan. Tapi semua inilah yang menjadi pembeda dalam setiap pendakian bagiku. Bagaimanapun juga, gunung adalah tempat penting bagiku mencurahkan kesenangan dan merecharge diri kala butuh penyegaran.

10509608_10203296456390007_5280977905946370739_n

Cantiknyo….

Terimakasih semuanya… :)

Semoga sukses selalu segala urusannya.

 

Salabintana, 5-10 Agustus 2014

Dipublikasi di Journey, My Story, Spirit | 3 Komentar

Satu

Satu nusa satu bangsa

Satu bahasa kita

Tanah air pasti jaya

Untuk selama-lamanya …

Begitu kayanya Negeri Indonesia. Beragam kekayaan dan keindahan alam, juga suku dan bahasa. Kita butuh Indonesia yang utuh, yang satu, yang tidak terpecahbelah, yang menjaga keindahan dan kekayaan alam untuk rakyat. Dan di antaranya berada di tepi selatan Pulau Jawa bagian barat.

100_4854

 Panorama tambak udang dan bukit di kawasan Ciletuh.

Berjalan menyusuri tepi pantai, diterpa mentari pagi yang mulai memanas. Berbalut baju lapangan untuk mengambil data selengkap mungkin. Bagaimana pembentuk dan sejarah daerah ini. Ciletuh, Sukabumi.

100_5406 - Copy

  Indahnya laut yang memang biru di sini.

Perjalanan dimulai dari Bandung untuk menemani pemetaan di kawasan Ciletuh. Merupakan satu kesatuan dengan Karangsambung dan Pegunungan Bayat di Pulau Jawa, bukti adanya tunjaman antarlempeng berumur jutaan tahun yang lalu, Pra-Tersier. Ciletuh memang tidak selengkap yang lain, tapi pesonanya cukup untuk menajamkan daya pikir seorang calon sarjana.

IMG_0143

 Calon sarjana

Melewati daerah yang boleh dibilang relatif belum terjamah secara mudah. Angkutan menuju lokasi dari Terminal Sukabumi sangat jarang. Kita harus pandai-pandai menghitung waktu dan mencocokkan dengan keadaan.

Tiba menjelang matahari terbenam di balik bukit, pinggir Sungai Ciletuh. Seorang teman terlihat gembira karena beberapa hari ke depan bisa ditemani untuk melakukan pemetaan. Perencanaan dibuat tapi sedikit terganggu hingga harus beralih rencana karena ada latihan militer di sekitar Batununggul. Akhirnya, kami melewati jalur laut untuk cek batuan di pulau-pulau terdekat. Menjelang siang, kami mendarat di kawasan Batununggul. Terlihat sebuah batu yang menonjol di pesisir.

100_5180

 Batununggul

Selebihnya kami menyusuri sungai di kawasan ini. Menjelang malamhari, porter kami Pak Hilman dengan cekatan dan apik membuat tempat berteduh dan tidur dari Daun Gebang, juga mencari ikan untuk santapan makan. Banyak batuan di sini, mulai batuan beku, sedimen, hingga metamorf. Memperlihatkan warna, bentuk, dan ciri yang berbeda sehingga kaya akan keberagaman. Dari struktur sedimen hingga struktur geologi, dari zona hancuran hingga zona melange.

100_5473 - Copy

 Berdiri di atas batuan terubahkan, serpentinit.

100_5452 - Copy

 Menempel di badan batuan beku.

100_5502 - Copy

Perselingannya banyak
100_5221 - Copy - Copy

Inikah paralel laminasi?

Perjalanan di Batununggul ini menyisakan banyak cerita, bukan ceritaku saja tapi batuan-batuan yang bercerita pada alam bahwa mereka ada sejak sedari dulu. Sianghari mengecek batuan, malamhari menyantap makanan, ditemani ikan hasil carian dan daun gebang yang rindang, membentuk sebuah rumah sederhana dalam tiga hari tiga malam.

100_5447 - Copy

 Daun gebang multifungsi, bisa buat tidur, bisa buat gubuk, buatan Pak Hilman.

100_5496 - Copy

 Ini dia ikan hasil carian siap untuk jadi makanan.

Pemetaan berakhir. Banyak kisah yang tak tertulis, tapi menjadi bagian hidup. Dentuman peluru dan meriam di hari terakhir menjadi ‘kesan pemanis’ cerita di kawasan Ciletuh, Sukabumi ini. Tapi kami berhasil “menyelamatkan diri” dan pergi.

100_5468 - Copy

 Menatap mentari pagi yang sesungguhnya cukup panas di atas batuan terubahkan.

100_4908

 Batuan yang tergerus air laut, tapi terekam kamera.

IMG_0149

 Ayo meloncat sebelum dilarang!

IMG_20140527_154213

 Duh, indahnya di foto kala matahari memanasi laut dan dia berdiri di atas batu.

IMG_0042 (2)

 Ini dia air terjun di Jampang.

Ciletuh, Sukabumi, Juni 2014.

 

Dipublikasi di Journey, Minor, My Story | Tinggalkan komentar