Jalan Cinta Para Pejuang

di sana, ada cita dan tujuan
yang membuatmu menatap jauh ke depan
di kala malam begitu pekat
dan mata sebaiknya dipejam saja
cintamu masih lincah melesat
jauh melampaui ruang dan masa
kelananya menjejakkan mimpi-mimpi
lalu di sepertiga malam terakhir
engkau terjaga, sadar, dan memilih menyalakan lampu
melanjutkan mimpi indah yang belum selesai
dengan cita yang besar, tinggi, dan bening
dengan gairah untuk menerjemahkan cinta sebagai kerja
dengan nurani, tempatmu berkaca tiap kali
dan cinta yang selalu mendengarkan suara hati
teruslah melanglang di jalan cinta para pejuang
menebar kebajikan, menghentikan kebiadaban,
menyeru pada iman
walau duri merantaskan kaki,
walau kerikil mencacah telapak
sampai engkau lelah, sampai engkau payah
sampai keringat dan darah tumpah
tetapi yakinlah, bidadarimu akan tetap tersenyum
di jalan cinta para pejuang

“Salim A. Fillah”

Dipublikasi di Spirit

Cibuluh

Tiba lagi di Kota Kembang, kota yang berbeda dengan kota lainnya. Udara di sini sejuk dan terlihat mempesona meskipun beberapa kendala kemacetan biasa terjadi.

Sebulan penuh saya berkelana sepanjang lintasan sungai dan jalan untuk memetakan daerah penelitian tugas akhir. Hasilnya cukup memuaskan, meskipun harus sering berkonsultasi dengan dosen pembimbing.

Setelah pekan pertama yang seru dan lancar, menaikturuni dua hingga tiga bukit untuk memulai lintasan singkapan yang paling jauh di selatan kotak penelitian, lain halnya untuk pekan berikutnya karena terkendala ketersediaan porter yang sudah mulai sibuk dengan pekerjaan yang lebih urgen. Sempat tersendat beberapa hari untuk tidak melapang, diselingi dengan kedatangan Eka dari Bandung untuk berkunjung ke lapangan TA saya.

Sambil mengisi waktu luang, kami berdua pergi ke Sungai Cipinangpait untuk mengambil sampel andesit dan batupasir yang lupa saya ambil untuk analisis petrografi. Saya berniat untuk ke lapangan tidak sendirian untuk menjaga keselamatan jika terjadi apa-apa.

Kemudian hari berikutnya, saya menyusur Sungai Cirangkong dari bendungannya sampai mencapai singkapan yang sudah mulai mendekati alluvial. Dua hari itu saya lalui tanpa porter dan terasa cepat, medannya hanya sebatas sungai, tetapi di Cirangkong ke hilir terdapat beberapa singkapan yang menarik seperti batulempung yang bersisik dan lapisan batupasir dengan kemiringan lapisan mencapai 90 derajat.

Sampai akhirnya kesepakatan disetujui dengan porter yang baru, saya bersamanya melakukan persiapan bahan makanan dan pakaian untuk bercamp di sekitar Cipanas. Porter tahu betul ke mana lintasannya dan akses menujunya meskipun harus menerabas ranting pohon dan juga tangkai-tangkai berduri, tanah berlumpur yang menarik-narik sepatu. Begitu juga tempat tinggal selama di Cipanas berupa gubug petani yang sedang menunggu masa panen tiba. Tinggal menghitung hari, kuning padi sudah siap untuk dituai. Hingga kami selesai nanti, ladang sawah sudah rapi dipotong buahnya.

Mis10-08

 Pemandangan yang indah di pusat lengkungan Cipanas

Perjalanan mencari singkapan batuan di sekitar Cipanas ini tak henti dihadiahi sebuah pemandangan yang indah. Kegagahan Tampomas tampak lebih jelas di sini, di pusat lengkungan Cipanas yang diduga terkena jalur patahan yang sifatnya mendatar. Air Cipanas tidak bersih, tapi entahlah, mungkin Tuhan memberikan karunianya, air ini yang kami minum dan pakai untuk mandi, tetapi kami sehat dan bahagia menjalani hari-hari. Tebing-tebing sungai hancur dan terkena longsor menyingkapkan batulempung Formasi Subang dengan baik dan memperlihatkan deskripsi khusus dirinya, berwarna abu-abu kehitaman, mengulitbawang, kadang menyerpih dan mudah digetaskan. Aliran Cipanas cukup kuat untuk membawa raga mengalir mengikuti hukum menuju tempat yang lebih rendah.

DSC02707

Di Cipanas ini jugalah, pengambilan sampel sifat mengembang batulempung diambil. Sebuah sampel yang beratnya mungkin mencapai 15 kg. Batulempung ini harus dibentuk kubus untuk kemudian dilapisi peralatan yang sudah ditentukan dan siap tahan terhadap cahaya dan cuaca. Tiga buah sampel ini yang berat dibawa karena harus menaikturuni Pasir Derewak dengan ketinggian mencapai 200 m dengan medan jalan berlumpur. Tapi, porter saya cukup kuat dan tidak mengeluh tentang hal ini.

DSC02805

Akhirnya, saya tiba lagi di Basecamp di Cipinangpait. Untuk kemudian pergi ke Cikoang, daerah mapping Ara untuk ikut membantu mengambil sampel swelling. Daerah Ara lebih mudah dijangkau dan medannya relatif tidak lebih berat. Pengambilan sampel di sini berjalan dengan tenang dan lancar, hujan tidak mengeluarkan geledek seperti di Cipanas dan matahari tidak begitu menyengat kulit dalam jangka waktu yang lama selama kami di lapangan.

Hingga saat ini, saya menulis ini sebagai bagian dari memori yang nanti mengingatkan saya terhadap orang-orang yang membantu selama di lapangan TA.

DSC02798

Terimakasih semuanya.

Bandung, 26 Maret 2014.

 

Dipublikasi di Journey, Minor, My Story | Tinggalkan komentar

Dalam Zona Patahan Aku Berdiri

Genap satu pekan melakukan pencarian singkapan batuan. Untuk memahami bagaimana daerah ini terbentuk beserta komponen bahan alam yang menyertainya.

Menurut penelitian lebih dulu, saya berdiri di atas zona patahan. Sebuah zona yang memiliki intensitas deformasi yang kuat dan beragam. Tapi kali ini, studi untuk tugas akhir saya bukan tentang struktur tapi tentang karakteristik dari batulempung meliputi ciri khas yang tidak banyak orang minati. Batuempung berukuran butir sangat halus, tidak terlihat oleh mata telanjang. Jika kontak dengan udara akan menunjukkan gejala mengembang meskipun sekali lagi tidak terlihat dengan kasat mata. Tapi selama sepekan ke belakang, pencarian singkapan batulempung dengan kondisi yang segar tidak berhasil saya jumpai, mungkin di pekan berikutnya.

Setiap hari saya harus menyiapkan fisik dan stamina yang kuat. Bagaimana tidak, berangkat pukul 07.00 WIB dari basecamp di rumah Kepala Dusun CipinangPait menapaki jalan proyekan menembus tiga bukit, tentu turun dan naik. Keringat selalu menjadi pengganti mandi saya di pagi hari. Dengan diantar oleh ketua RW Cirangkong yang begitu paham medan dan nama setiap bukit ketinggian. Tak jarang saya yang biasa mendaki gunung, meminta banyak istirahat saking capeknya. Perjalanan menembus bukit tentu bukan tanpa alasan. Masalahnya tidak ada akses yang lebih cepat dan lebih terjangkau dibandingkan ini. Perjalanan ke kawasan Bukit Gunung Haji memerlukan waktu satu jam. Belum perjalanan menuju Pasir Panenjoan satu jam juga. Total perjalanan untuk mencari singkapan di daerah paling selatan baru dimulai pukul 09.00 WIB.

Suara derit pohon bambu di pagi dan siang hari yang terusik oleh angin hutan menjadi nada tak berirama tapi menemani saya dan porter. Jika sendiri, saya khawatir tidak bisa melanjutkan perjalanan dengan baik. Kondisi medan berlumpur, panas terik matahari akan membakar kulit jika jaket kuning tak menutupi tubuh. Panas ini ditransfer masuk ke dalam tubuh meskipun jarak matahari jauh kilometer di atas zona patahan ini. Porter yang juga sebagai ketua RW Cirangkong dalam dialek dan bahasa yang sama menjadi teman obrolan yang menyenangkan sepanjang pencarian berbagai tanda alam.

Pernah berdiri di dua bukit tertinggi di daerah penelitian ini. Memandang dataran rendah berisi sawah dan rumah penduduk dalam horizon pandangan yang luas. Terlihat bahwa seluas mata memandang selain dataran rendah, juga perbukitan saling mengambil tempat. Menyusur sungai melihat berbagai batuan dan struktur internal batuan tersebut, juga struktur eksternal akibat proses deformasi. Hingga melihat kegagahan Tampomas berdiri sepanjang arah barat daya daerah penelitian. Meski awan tak lekang menutup tubuh, kadang puncaknya. Di satu pagi ketika menuju Pasir Panenjoan sebuah potret indah Gunung Tampomas berhasil diabadikan.

Saya selama beberapa bulan selalu mendaki gunung. Semoga di kesempatan ini, bisa ikut merasakan mendaki Gunung yang terletak di Kabupaten Sumedang ini.

Perjalanan hari pertama saya menyusur sungai untuk mendeskripsi batuan sepanjang lintasan geologi dalam hal ini lintasan berada sepanjang jalur sungai dari hilir menuju hulu. Sungai Cirangkong menjadi destinasi pertama. Sungai ini terselesaikan sampai hulu dalam dua hari. Banyak singkapan batuan yang cukup bagus hingga saya tahu urutan vertikal dari pengendapan batuan-batuan yang ada.

Selanjutnya Sungai Cipinangpait. Singkapan batuan yang ada lebih segar dan memanjakan mata. Terlihat batuan-batuan berfragmen menyudut tertanam dalam massa dasar batuan piroklastik tetapi bersifat pasiran. Di hari yang ketiga ini juga saya berhasil menjangkau Pasir Bajo yang warga sekitar namakan Tanjakan Cadas. Sering juga sapi-sapi yang ditambatkan sedang mencari makan dan digembalakan oleh warga sekitar. Kadang-kadang bapak-bapak berumur dan pemuda yang terbilang duapuluh tahunan.

Hari keempat Pasir Bajo kami turuni untuk menuju Sungai Cibayawak. Tapi tidak ketemu hewan tersebut. Jika melihat bentuk kontur dalam peta dasar yang sering saya bawa dalam pemetaan ini, bentuk sungai ini memang mirip ekor dari jenis kadal. Bisa bayawak atau buaya. Lembah-lembah dari sungainya menunjukkan bentuk hurup V menandakan erosi vertikal dominan terjadi. Pohon-pohon bambu menjadi tanaman penghias di sekelilingnya. Di sungai Cibayawak ini banyak tersingkap pecahan fosil moluska. Mereka menjadi saksi bisu sampai saat ini bagaimana mereka pernah hidup secara damai dengan batuan dalam dimensi ruang dan waktu.

Hari kelima menaiki dan menuruni dua bukit sudah terbiasa sekarang. Satu bukit lagi bernama Pasir Panenjoan coba didaki yang warga biasa namai Pasir Ori. Nyatanya, bukit atau pasir ini memang memiliki ketinggian tertinggi di daerah penelitian saya berdasarkan peta elevasi yang dibuat dengan bantuan perangkat lunak. Di sini semuanya terasa jelas. Gunung Tampomas terlihat indah, Sungai Cipanas yang merupakan sungai yang luas juga terlihat bersama longsoran di salahsatu tepinya. Pasir Bajo dan kawasan Gunung Haji yang berjejer terlihat kokoh di sebelah utara pasir ini. Hari kelima tak banyak singkapan yang ditemukan, lebih banyak proses geomorfologi yang dideskripsi seperti longsoran dan pengamatan dataran dan perbukitan yang nantinya akan dijadikan satuan.

Hari keenam, kami sudah tahu medan pasir Panenjoan, sekarang saatnya menyusur dari hulu menuju Sungai Cibayawak yang utama. Banyak sekali bongkah batuan beku terutama andesit berukuran hingga 5 meter sepanjang hulu hingga mendekati muara anak cabang Sungai Cibayawak ini. Pohon bambu menjadikan medan lebih sulit karena ranting-rantingnya yang tercecer sepanjang jalan. Mendekati ke arah hilir mulai dijumpai batulempung berwarna abu-abu kecokelatan dan ke hilir lagi dijumpai yang berwarna abu-abu kehijauan hingga akhirnya kembali berdiri di atas endapan alluvial Sungai Cibayawak. Menyusur hilir sungai utama ini yang memiliki anak cabang berpola trellis seperti pagar akibat pengaruh struktur geologi. Diduga kuat. Selain kelurusan dalam peta topografi juga banyak ditemukan kekar gerus dan fragmen searah kelurusan tersebut. Saya bersama porter berpanas ria dalam terik siang mengukur arah dan kemiringan struktur yang menyebabkan batuan ini tidak selamanya bagus. Tapi dengan struktur inilah di mana aku berdiri dalam zona patahan.

Hari terakhir menjadi hari dengan lintasan tempuh yang paling panjang. Sinar matahari tak henti menerpa daerah ini juga menembus jaket kuning yang saya pakai hingga menyisakan panas yang terasa hingga ke tubuh meski sudah berada di peraduan sore harinya.

Ya, genap satu pekan saya melakukan pengamatan singkapan sepanjang lintasan. Hasilnya cukup memuaskan. Semoga pekan berikutnya perjalanan lebih menyenangkan. Senang rasanya menyusur sungai, menembus hutan, mendengarkan bunyi burung, naik turun bukit, dan mencoba untuk menyatu dengan alam.

Cibuluh, Ujungjaya, Sumedang, 1-6 Maret 2014 kala Hari Jum’at untuk beristirahat dan merenungkan semuanya.

Dipublikasi di Journey, Minor, My Story | Tinggalkan komentar

Sarana Olahraga Ganesha (Sorga)

Di Satu Pagi.
Tanah cokelat kami jejaki selama putaran yang bisa dihitung jari.
Banyak orang menikmati sarana menyehatkan badan ini.

Sarana Olahraga Ganesha (Sorga).

DSC02032 DSC02030 DSC02028 DSC02022 DSC02023 DSC02024 DSC02025 DSC02026 DSC02021 DSC02020 DSC02019 DSC02018 DSC02017 DSC02016 DSC02015 DSC02014 DSC02013 DSC02012

Sarana Olahraga Ganesha (Sorga)

Gambar | Posted on by | Tinggalkan komentar

Jejak Sunrise

DSC01964“ada yang lain ditempat ini yang membuat lidah gugup tak bergerak ada sunrise di sudut jendela dan memaksa diri tuk bilang “Maha Suci Engkau”.

Sunrise biasa saya amati dan rasakan di puncak gunung. Puncak Gunung Cikuray, Gunung Guntur, dan Gunung Manglayang. Tapi kali ini, sunrise meninggalkan bekas di langit yang saya lihat di tempat biasa saya tertidur dan terbangun.

Sunrise dan sunset hanya berbeda dalam hal penerbitan. Yang satu tidak terbit, tapi tenggelam di ufuk barat, sedangkan yang saya lihat tadi pagi terbit menyapa pagi dari timur. Kita percaya suatu saat akan terjadi pergantian posisi.

Setelah menikmati ilmu di tempat biasa setiap Kamis Malam, saya bersama Fire Man pulang ke Sekre Pelopor dan melihat sebentar acara hiburan di media elektronik bersama Aa Ifan. Sebuah acara yang menampilkan bagaimana seseorang mampu membuat kita menampakkan senyum bahkan tertawa terbahak-bahak. Ini sebuah audisi.

Tertidur setelahnya dan terbangun pagi harinya. Beribadah dan hingga tersadar ada yang berbeda dengan jendela pagi ini. Sebuah pemandangan yang bagus. Sebuah lukisan Tuhan di horizon timur langit pagi ini. Meskipun ada bendera yang menunjukkan antusiasme menyambut apa yang disebut pesta demokrasi tahun ini. Tapi saya melihat pantulan kuning kemerahan dari mentari yang baru terbit.

DSC01965

Bagaimana mungkin matahari bisa terus bergerak sedangkan kita terus sibuk dengan aktivitas kita. Ada yang mengatur. Matahari memiliki energi yang sangat bermanfaat, dikonversi menjadi beragam energi lainnya. Seperti panel surya yang ada di kampus saya hingga di pinggir Jalan Tamansari. Begitu juga, bagaimana dia mengeringkan jemuran di Sekre Pelopor dan membakar semangat bagi orang yang mau berlelah-lelah menjemput cita.

DSC01967

Sekre Pelopor adalah tempat bagi saya, Fire Man, Mr. Up, Aa Ifan, Akang Raha untuk tinggal dan menyimpan barang-barang perkuliahan. Tapi, di sini juga selalu banyak dikunjungi oleh kawan-kawan Pelopor yang lain. Para BP tak jarang mengadakan rapat, menghabiskan waktu dan pikiran untuk berusaha membangun. Sering juga, kami beramai-ramai mengadakan masak dan makan-makan. Tentu dengan segala canda tawa dan kesenangan yang ada di hari itu.

DSC01980 DSC01987

 

Di sini ada media elektronik tempat kami menonton pertandingan sepakbola, ada juga pemanas air untuk kami menyeduh segelas minuman penyemangat pagi, ada perpustakaan kecil yang memiliki koleksi perbendaharaan kata yang banyak. Tak jarang juga, kami dari Pelopor kedatangan banyak tamu. Ya, tamu yang merupakan teman sendiri dari jurusan yang sama atau dari daerah yang berbeda. Sekadar mampir atau ikut mengerjakan tugas bersama.

DSC01977 DSC01979 DSC01982 DSC01984

Setiap pagi, selain angkutan umum yang membawa kami menuju kampus. Ada satu rute perjalanan yang menarik biasa kami lalui untuk go kampus. Ya, memutar sedikit ke arah selatan setelah keluar dari pintu sekre, melewati gang-gang kecil, terus dan sampai ke kompleks perumahan, belok kanan, terus belok kiri, terus belok kiri lagi, terus ada gang kecil, belok kanan, terus belok kanan, terus belok kiri, belok kanan, belok kiri lagi, belok kanan lagi, belok kiri, terlihat perumahan mewah dengan lapangan fusal di sebelah timurnya, ada gang kecil, belok kanan, lurus terus sampai mentok, belok kiri, ada tempat fotokopian dan para siswa bersekolah, ada masjid, belok kanan terus hingga akhirnya kami tiba di Simpang Dago. Sebuah pasar yang selalu padat bukan hanya oleh pedagang, tapi orang berlalu lalang. Berlalu lalang dengan melangkahkan kaki atau berlalu lalang diam bersama angkutan umum. Seterusnya tinggal meneruskan menuju kampus. Begitulah rute yang cukup menarik, sekadar menghabiskan waktu bersama dengan obrolan pagi pengisi hari.

Masing-masing penghuni sekre memiliki keunikan tersendiri.

Akang Raha memiliki semangat dalam berwirausaha, wawasan mengenai dunia bisnis memang jangan diragukan lagi. Fire Man selalu membakar kami dengan candaan dan obrolan ringan yang membuat kami tidak hanya tersenyum tertawa tapi juga berpikir. Mr. Up yang selalu bahagia dan up terus, tidak pernah down, selalu memiliki kisah atau cerita yang membuat sekre terlihat ramai meskipun dengan suara. Kegemarannya membaca informasi di medsos membantu kami memahami banyak permasalahan di negara ini. Aa Ifan orang yang sering memberi kami pelajaran sebagai pengingat, membuat kami harus hidup bersih dan rapi di sini. Meskipun terdengar berlebihan, tapi itu yang saya rasakan dan semoga tetap berkembang. Untuk mengenalnya, memang harus datang langsung. Mari mengenal lebih dekat!

Kami semua ada di sebuah tepi sudut di kompleks Bangbayang.

Kota Kembang, 21 Februari 2014 07.15 WIB, saat lanskap kuning kemerahan sudah berganti dengan awan putih.

 

Dipublikasi di My Story, Spirit | Tinggalkan komentar

Sehat Bahagia

Nikmat yang luar biasa. Kita masih diberi kesehatan. Apalagi jika sehat jasmani dan ruhani. Bertajuk Pelopor Sehat Bahagia, kami berenam (Misbah, Ade, Ipin, Adit, Eko, dan Gigih) menggunakan sepeda sewaan di sewa sepeda Jalan Ganesha, meluncur satu persatu. Destinasi kami taman-taman yang ada di kota kembang. Semenjak ada orang nomor satu baru di kota ini, taman-taman banyak yang disulap menjadi lebih indah dan setidaknya jauh lebih bermanfaat. Destinasi pertama adalah Taman Jomblo, taman ini terletak di bawah fly over Pasopati, dekat dengan Baltos. Di sini pemandangan lumayan indah dengan kanan kiri mobil dan motor berseliweran. Kursi-kursi berupa kubus dengan variasi warna cerah dan tinggi yang berbeda pula. Langsung saja kami abadikan beberapa pose di sini, termasuk saat berfoto bersama di depan nama taman ini. 1781927_808944942455412_58708173_n (1) Selanjutnya kami meluncur ke arah timur mengikuti jalan pejalan kaki di samping Gedung Annex. Sepeda kami beberapa ada yang mengalami masalah. Sempat saling meninggalkan, tetapi kami bertemu kembali di depan gedung Sate. Banyak orang-orang yang sedang berjalan kecil dan berjalan cepat alias lari dan duduk santai di Gasibu. Papan nama Telkom Indonesia begitu indah untuk dijadikan potret. meskipun matahari tidak muncul, tapi background awan putih di belakangnya memperlihatkan kegagahan gedung perusahaan telekomunikasi itu.

1391825375241

1391825381688

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kami bertemu kembali setelah sempat ada yang tertinggal. Abadikan momen dulu di sini. gedung Sate terlihat anggun, bukan karena tusuk sate di atas gedungnya, tapi taman bunga di sekelilingnya. Juga kondisi yang bersih. Terlihat beberapa petugas keamanan sedang melakukan apel pagi. Mobil dan motor satu persatu melesat dengan cukup kencang di jalan depan gedung ini. Selanjutnya, kami meluncur ke Taman Lansia. Memang terlihat banyak lansia di sini. Kami beristirahat sejenak, sambil ngobrol-ngobrol dan melihat percakapan banyak orang. Tidak lupa juga berfoto ria dengan senyum gembira di depan tulisan lansia. Tapi, sesungguhnya, kami masih muda. 1391825373656 1391825373147

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Next, tidak jauh dari Taman Lansia, Taman Pustaka Bunga sesuai namanya memang banyak bunga di sini. Kami masuk dan mengisi daftar hadir setelah sebelumnya memarkir sepeda di tempat parkir. Ada sungai kecil, banyak bunga, orang berjalan santai menikmati pemandangan, ada kursi-kursi dari semen yang dibuat untuk menikmati pemandangan dalam kenyamanan. Berkenalan dengan anak kecil dan menanyakan hal-hal dasar. Tapi Ade mengeksplore lebih jauh. Karena ternyata, si anak pernah ikut acara PAS. Ade  merupakan kakak pembimbing PAS Salman. Dengan senyum untuk anak kecil dan perhatiannya, Ade ikut menikmati bukan hanya taman ini tapi kesenangan dengan anak kecil. 

1391826188086 1391826176994 1391825619741 1391826187729

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sampai di sini, hingga saya izin duluan untuk ikut acara di Salman. Eksplorasi keindahan Bandung masih berlanjut.

8 Februari 2014

Dipublikasi di Journey, My Story | Tinggalkan komentar