Jalan Cinta Para Pejuang

di sana, ada cita dan tujuan
yang membuatmu menatap jauh ke depan
di kala malam begitu pekat
dan mata sebaiknya dipejam saja
cintamu masih lincah melesat
jauh melampaui ruang dan masa
kelananya menjejakkan mimpi-mimpi
lalu di sepertiga malam terakhir
engkau terjaga, sadar, dan memilih menyalakan lampu
melanjutkan mimpi indah yang belum selesai
dengan cita yang besar, tinggi, dan bening
dengan gairah untuk menerjemahkan cinta sebagai kerja
dengan nurani, tempatmu berkaca tiap kali
dan cinta yang selalu mendengarkan suara hati
teruslah melanglang di jalan cinta para pejuang
menebar kebajikan, menghentikan kebiadaban,
menyeru pada iman
walau duri merantaskan kaki,
walau kerikil mencacah telapak
sampai engkau lelah, sampai engkau payah
sampai keringat dan darah tumpah
tetapi yakinlah, bidadarimu akan tetap tersenyum
di jalan cinta para pejuang

“Salim A. Fillah”

Dipublikasi di Spirit

Satu

Satu nusa satu bangsa

Satu bahasa kita

Tanah air pasti jaya

Untuk selama-lamanya …

Begitu kayanya Negeri Indonesia. Beragam kekayaan dan keindahan alam, juga suku dan bahasa. Kita butuh Indonesia yang utuh, yang satu, yang tidak terpecahbelah, yang menjaga keindahan dan kekayaan alam untuk rakyat. Dan di antaranya berada di tepi selatan Pulau Jawa bagian barat.

100_4854

 Panorama tambak udang dan bukit di kawasan Ciletuh.

Berjalan menyusuri tepi pantai, diterpa mentari pagi yang mulai memanas. Berbalut baju lapangan untuk mengambil data selengkap mungkin. Bagaimana pembentuk dan sejarah daerah ini. Ciletuh, Sukabumi.

100_5406 - Copy

  Indahnya laut yang memang biru di sini.

Perjalanan dimulai dari Bandung untuk menemani pemetaan di kawasan Ciletuh. Merupakan satu kesatuan dengan Karangsambung dan Pegunungan Bayat di Pulau Jawa, bukti adanya tunjaman antarlempeng berumur jutaan tahun yang lalu, Pra-Tersier. Ciletuh memang tidak selengkap yang lain, tapi pesonanya cukup untuk menajamkan daya pikir seorang calon sarjana.

IMG_0143

 Calon sarjana

Melewati daerah yang boleh dibilang relatif belum terjamah secara mudah. Angkutan menuju lokasi dari Terminal Sukabumi sangat jarang. Kita harus pandai-pandai menghitung waktu dan mencocokkan dengan keadaan.

Tiba menjelang matahari terbenam di balik bukit, pinggir Sungai Ciletuh. Seorang teman terlihat gembira karena beberapa hari ke depan bisa ditemani untuk melakukan pemetaan. Perencanaan dibuat tapi sedikit terganggu hingga harus beralih rencana karena ada latihan militer di sekitar Batununggul. Akhirnya, kami melewati jalur laut untuk cek batuan di pulau-pulau terdekat. Menjelang siang, kami mendarat di kawasan Batununggul. Terlihat sebuah batu yang menonjol di pesisir.

100_5180

 Batununggul

Selebihnya kami menyusuri sungai di kawasan ini. Menjelang malamhari, porter kami Pak Hilman dengan cekatan dan apik membuat tempat berteduh dan tidur dari Daun Gebang, juga mencari ikan untuk santapan makan. Banyak batuan di sini, mulai batuan beku, sedimen, hingga metamorf. Memperlihatkan warna, bentuk, dan ciri yang berbeda sehingga kaya akan keberagaman. Dari struktur sedimen hingga struktur geologi, dari zona hancuran hingga zona melange.

100_5473 - Copy

 Berdiri di atas batuan terubahkan, serpentinit.

100_5452 - Copy

 Menempel di badan batuan beku.

100_5502 - Copy

Perselingannya banyak
100_5221 - Copy - Copy

Inikah paralel laminasi?

Perjalanan di Batununggul ini menyisakan banyak cerita, bukan ceritaku saja tapi batuan-batuan yang bercerita pada alam bahwa mereka ada sejak sedari dulu. Sianghari mengecek batuan, malamhari menyantap makanan, ditemani ikan hasil carian dan daun gebang yang rindang, membentuk sebuah rumah sederhana dalam tiga hari tiga malam.

100_5447 - Copy

 Daun gebang multifungsi, bisa buat tidur, bisa buat gubuk, buatan Pak Hilman.

100_5496 - Copy

 Ini dia ikan hasil carian siap untuk jadi makanan.

Pemetaan berakhir. Banyak kisah yang tak tertulis, tapi menjadi bagian hidup. Dentuman peluru dan meriam di hari terakhir menjadi ‘kesan pemanis’ cerita di kawasan Ciletuh, Sukabumi ini. Tapi kami berhasil “menyelamatkan diri” dan pergi.

100_5468 - Copy

 Menatap mentari pagi yang sesungguhnya cukup panas di atas batuan terubahkan.

100_4908

 Batuan yang tergerus air laut, tapi terekam kamera.

IMG_0149

 Ayo meloncat sebelum dilarang!

IMG_20140527_154213

 Duh, indahnya di foto kala matahari memanasi laut dan dia berdiri di atas batu.

IMG_0042 (2)

 Ini dia air terjun di Jampang.

Ciletuh, Sukabumi, Juni 2014.

 

Dipublikasi di Journey, Minor, My Story | Tinggalkan komentar

Prabowo dan Jokowi

Pilpres tahun ini hanya diikuti oleh dua capres dan cawapres. Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Banyak hal menarik yang bisa diperbincangkan setiap kali masa pilpres. Tapi, bagaimana dengan pilpres yang hanya menyajikan dua pilihan ini. Tentu ada dua pilihan lain lagi, orang yang tidak memilih atau memilih keduanya saat pilpres nanti. Media sudah gencar mengkampanyekan capres-cawapres, karena terhitung 3 Juni masa kampanye resmi ditetapkan oleh KPU.

Banyak isu yang berseliweran di media masa. Rakyat dituntut untuk kritis dan menyikapi dengan bijak karena tidak semua isu didukung dengan data dan fakta yang sebenarnya. Beberapa hanya kampanye hitam yang mendiskreditkan capres-cawapres. Banyak teori konspirasi yang diciptakan terkait kedua pasangan. Konspirasi ini sesungguhnya ibarat sebuah proses yang tersembunyi yang tidak semua orang mengetahui secara pasti apa yang sebenarnya melatarbelakangi sebuah peristiwa. Dan, konspirasi inipun menjadi sebuah bahan yang bisa dipertentangkan.

Menarik, dua capres yang ada menyiratkan sebuah karakter yang menurut saya berbeda. Prabowo tersirat sebagai sosok yang tegas, sedangkan Jokowi sebagai sosok yang merakyat. Terlepas dari semua konspirasi atau sekedar manipulasi karakter, itulah karakter dua sosok capres yang setidaknya terlihat secara fisik. Apakah kita tahu isi hati para capres ini? Tentu tidak. Kita hanya bisa mengetahui dari ciri fisik dan apa-apa yang nampak di permukaan. Sebagai seorang geologis, saya tahu begitu banyak interpretasi dengan data yang sama dari orang-orang yang berbeda.

Agus Mustofa seorang penulis buku Tasawuf Modern membuat sebuah status tentang Pemimpin Terpilih adalah Kita. #Bukan kampanye.

~ PEMIMPIN TERPILIH ADALAH KITA ~

Di sebuah negara demokrasi
seorang pemimpin yang terpilih
adalah representasi dari rakyatnya

Jika yang terpilih pintar, berarti rakyatnya pintar
Jika yang terpilih santun, rakyatnya pun pasti santun
Kalau yang terpilih penipu, tentulah rakyatnya penipu
Dan kalau yang terpilih koruptor, tak bisa dipungkiri
ini memang negeri para koruptor…

Maka, memilih pemimpin yang baik dan benar
Harus terlebih dahulu menjadikan diri kita baik dan benar
Dan agar kita bisa mempunyai pemimpin yang hebat
Tak bisa tidak, kita harus lebih dulu menjadi masyarakat hebat

Proses memilih pemimpin yang penuh caci maki
Kampanye hitam dan saling jegal menjegal tanpa kendali
Sumpah serapah dan serangan yang penuh benci
Serta cara-cara buruk dan anggaran hasil korupsi

Jangan-jangan hanya akan menghasilkan pemimpin
Yang kualitasnya tak jauh dari apa yang sedang terjadi
Karena sesungguhnya siapa pun yang terpilih
Hanyalah representasi dari kualitas kita sendiri…

Di sebuah negara demokrasi ini rakyatlah yang memegang kekuasaan untuk menentukan siapa pemimpin yang akan dipilihnya untuk menahkodai arah gerak negara ini. Ada resiko, suara mayoritas belum tentu kebenaran. Tetapi, jika isi kepala rakyat jahat maka pemimpin yang terpilih jahat, begitu juga sebaliknya. Tentu, ini mengambil sebuah penarikan kesimpulan secara umum tanpa mempertimbangkan hal-hal detail yang lain. Salahsatu teman di FB mengatakan bahwa kita harus kembali kepada hati. Karena hati membimbing kita untuk memilih yang terbaik. Jika kita menyerahkan pilihan bergantung sosok, beribu alasan akan menyatakan bahwa sosok yang kita pilih adalah yang terbaik tanpa mempertimbangkan kekurangan yang ada. Yang lebih ekstrim adalah fanatik terhadap satu calon. Tetapi jika kita membersihkan hati, menimbang dengan bijak, dan yang lebih umum menimbang secara objektif bahwa pilihan untuk presiden ini memang pada akhirnya menjadi hak pribadi kita. Bahkan, teman yang lain bilang tidak harus kita mengkampanyekan memilih capres-cawapres yang kita pilih kepada oranglain karena menjatuhkan pilihan kepada satu calon saja sudah luarbiasa bersyukur. 

Saya lebih menyetujui jika kampanye yang dilakukan adalah kampanye yang produktif, kampanye yang positif, kampanye yang tidak kontraproduktif yang memungkinkan terjadi bumerang. Apapun itu, rakyatlah yang nanti akan memilih pemimpinnya. Memilih sosok tegas atau memilih sosok yang merakyat?

Cooming Soon, 9 Juli 2014…

Dipublikasi di Nasihat Kehidupan, Spirit | Tinggalkan komentar

Kota Bersinar Dalam Gelap

Pendakian Gunung Manglayang untuk kedua kalinya baru saja saya lewati. Kali ini bersama Gempar dan Faqih. Kami berangkat dari Bandung menuju Jatinangor dan Bumi Perkemahan Kiara Payung sebelum akhirnya tiba di warung untuk menitipkan motor. Pendakian dimulai pukul 14.00 WIB. Seperti pendakian sebelumnya, saya cukup keteteran membawa carrier 80 L. Medan Manglayang terbilang terjal dari awal dengan akar-akar pohon yang masih terlihat sepanjang jalan pendakian. Semakin ke atas mendaki, panorama perkotaan terlihat bagus dan medan berganti dengan batu cadas yang meskipun tidak hujan masih terasa licin. Beberapa kali kami istirahat untuk menghilangkan lelah sembari melihat pemandangan gunung yang mengelilingi Bandung dan perbatasannya ini. Sebelum mencapai puncak, ada plang yang berisi keterangan  pesan yang menyiratkan perjuangan dalam hidup. Dari plang ini perjalanan menuju puncak sebentar lagi. Beberapa batu yang ada di jalur pendakian menunjukkan arah menuju puncak.

IMG_6370

  Gempar dan Faqih

Hingga akhirnya kami tiba di puncak bayangan pada pukul 16.00 WIB. Cuaca cerah di sini. Kelompok pendakian yang lain sudah terlebih dahulu datang dan sudah mendirikan tenda di tempat yang bagus untuk melihat pemandangan. Kami juga segera mendirikan tenda dan mencari kayu untuk bahan api unggun. Tenda selesai dan kami mengambil istirahat sambil bersantai sekeliling tenda. Menjelang malam, kota bersinar di sebuah lembahan besar yang diapit deretan gunung. Lampu-lampu rumah, pabrik, gedung, dan kendaraan terlihat di puncak bayangan ini menampilkan sebuah pemandangan yang cantik. Kami mulai menyiapkan makanan. Memasak dengan bantuan parafin dan kompor spirtus. Sambil menunggu makanan siap saji kami menyalakan dan menghangatkan badan dengan api unggun. Kota semakin bersinar dengan indah. Lampu-lampu kota kompak menyinari malam yang semakin gelap. Bintang dan bulan juga menyajikan kekompakan yang sama di langit. Ditemani dengan obrolan-obrolan ringan, makananpun sudah siap dan dalam waktu singkat sudah mengisi perut kami yang sudah lapar.

IMG_6403

 Kota Bersinar  

Selepas makan, kami masuk tenda dan mendengarkan siaran radio. Udara semakin dingin. Saya tidak membawa sleeping bag dan ternyata berpengaruh meskipun tidur dengan selimut. Udara dingin di puncak bayangan ini merasuk ke dalam tubuh. Paginya, saya mimisan dan bersin berkali-kali.

Di pagi yang dingin ini, kami siap menjemput mentari yang akan muncul di sebalik awan. Banyak orang yang sudah berkumpul untuk mengambil setiap momen yang ada. Rona kuning kemerahan ditambah pemandangan deretan gunung dan lampu kota yang belum mati sepenuhnya menambah syahdu suasana. Cukup untuk berdiri sejenak, bulat kuning itu muncul perlahan dan kami mengabadikan kemunculannya di pagi hari ini. Sebuah pemandangan yang hanya bisa didapatkan di puncak Gunung Manglayang. Gunung Tampomas juga terlihat kokoh di sekitar mentari yang baru terbit. Beberapa foto kami abadikan di sini.

IMG_6426

 Sosok Dalam Rona Kemerahan 

IMG_6445

 Sunrise

IMG_6443

  Siluet Untuk Sunrise

Selanjutnya, kami masak untuk mengisi tenaga. Saatnya perjalanan turun. Waktu perjalanan turun relatif lebih cepat daripada mendaki. Kami mengambil jalur turun gunung yang sama dengan mendaki. Sebelumnya, kami berpamitan dengan kelompok pendakian yang lain.

100_9299

 Foto Saat Turun Gunung

100_9306

  Matahari Menerobos Celah Pohon

Tiba juga di warung untuk mengambil motor yang dititip. Kami turun dari puncak bayangan pukul 10.00 WIB dan tiba pukul 11.00 WIB lewat. Setelah berpamitan kepada penjaga warung, kami pulang menuju Bandung.

Kini, pendakian kedua Manglayangpun, saya belum bisa menerbangkan layang-layang di sini. http://hujungdestinasi.wordpress.com/2014/01/28/melayang-di-atas-manglayang/

Tapi, saya menyadari banyak keindahan yang bisa dinikmati dari perjalanan ini.

 

#Manglayang, 1 Juni 2014

Dipublikasi di Journey, My Story | Tinggalkan komentar

Nomor Satu

Selama dua pekan ke belakang, saya berkutat untuk mengerjakan Tugas Akhir. Selama itu juga sempat terkena sakit. Dokter bilang terkena campak jadi meminimalisasi untuk ketemu orang. Ada dua hal menarik bulan ini yang saya ikuti perkembangan beritanya. Pertama adalah Final Liga Champions 2014 dan Capres-Cawapres Republik Indonesia 2014-2019. Tentu Final Champions ini hanya sekedar hiburan. Tetapi untuk pilpres menjadi hal yang harus kita pikirkan dengan serius karena menyangkut masa depan Indonesia.

Saya ingin sedikit bercerita tentang Final Liga Champions. Seperti diketahui, satu menit menjelang bubaran pertandingan, Sergio Ramos memaksa pertandingan untuk diperpanjang waktunya. Gol sundulan pada menit 90″+3′ menyambut umpan sepak pojok Luca Modric menjadi sangat krusial karena pada akhir pertandingan Los Blancos berhasil meraih La Decima. Ya, selain La Decima, Cristiano Ronaldo juga menjadi topskorer dan menasbihkan diri sebagai pencetak gol terbanyak di Liga Champions dalam satu musim dengan koleksi 17 gol. Yang sangat menarik dalam pertandingan final ini adalah harga satu menit. Andaisaja Atletico, yang menjadi lawan Madrid di final ini mampu mencegah terjadinya gol Ramos selama satu menit saja sebelum pertandingan berakhir tentu Los Rojiblancos lah yang akan keluar sebagai juara dan mengukir La Premiera dalam Liga Champions! Tapi, El Real menunjukkan kekuatannya dengan pengorbanan sampai pertandingan normal berakhir. Asa La Decima semenjak kedudukan 1-1 itu semakin membuat Real Madrid bersemangat dan di babak perpanjangan waktu kedua, sundulan pemain termahal Gareth Bale, tendakan keras Marcelo, dan sepakan penalti Ronaldo membawa Madrid seperti superior atas lawannya yang juga satu kota. Pertandingan final ini memang menjadi sejarah tersendiri karena mempertemukan dua klub sekota di Final Liga Champions dan pertandingan memang begitu dramatis. Hampir saja Atletico membuktikan diri bahwa mereka menjadi kekuatan yang hebat di Eropa. Begitulah sepakbola, di menit terakhir masih menyimpan peluang untuk menjadi nomor satu. Hala Madrid!

Selanjutnya, pekan kemarin telah ditetapkan dua Capres-Cawapres Republik Indonesia. Sebuah negara yang menganut sistem demokrasi. Sebagai orang yang tidak berkompeten di bidang politik, saya mengetahui bahwa nanti rakyatlah yang memberikan mandat kepada siapa negeri ini akan dipimpin. Semua orang sama suaranya. Dari kalangan pejabat hingga pedagang kaki lima, dari ulama hingga pelaku kriminal semua memiliki hak yang sama untuk menentukan pilihan presidennya 9 Juli 2014. Saya terlahir ketika negara ini dipimpin oleh Bapak Soeharto yang sebagian menyebutnya sebagai Bapak Pembangunan Indonesia. Negara yang sudah melewati beragam era dari era Orde Lama di masa kepemimpinan Bung Karno hingga era Reformasi saat ini. Semua presiden memiliki sejarahnya sendiri dan saat ini tiba waktunya untuk rakyat Indonesia memilih presiden untuk lima tahun ke depan. Siapakah yang akan terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia tahun 2014-2019? Sebuah pertanyaan yang akan ditentukan rakyat pada Bulan Ramadhan nanti.

Melihat sejauh ini pemberitaan media, saya sebenarnya tidak menyukai cara berkampanye atau pemberitaan yang mengungkapkan sisi negatif dari para capres-cawapres tanpa informasi yang berimbang. Kadang diberitakan informasi yang tidak menyeluruh sehingga persepsi yang diperoleh mencitrakan capres-cawapres dengan buruk. Sudah sangat ramai di media sosial, isu HAM yang ditujukan kepada Prabowo Subianto, capres yang diusung Gerindra, PPP, PAN, PKS, Golkar, dan PBB, sedangkan isu sara ditujukan kepada Joko Widodo yang diusung oleh PDI-Perjuangan, Nasdem, PKB, Hanura, dan PKPI. Tentu untuk sebuah isu, kita mesti memeriksanya dengan kritis. Media memang menjadi wadah bagi informasi yang dengan mudah diperoleh setiap hari. Bagi masyarakat di perkampungan, kini ada televisi yang menyiarkan semua berita yang ada di negeri ini. Media memang seakan bisa mempengaruhi isi pikiran seseorang. Tetapi, seperti diungkapkan para pengamat, masyarakat Indonesia ini sudah pintar dan cerdas dalam menyikapi pemberitaan yang ada. Saya berharap sebenarnya media bisa memberikan informasi yang berimbang tentang pemilihan presiden dan semua hal yang berkaitan dengannya, termasuk mengenai kampanye para capres-cawapres. Tapi mungkin, tidak menarik kontestasi pilpres jika tidak dibumbui oleh isu-isu. Bagi saya, sejauh informasi yang mengandung keburukan para capres-cawapres itu ditampilkan secara menyeluruh tidak masalah. Pada akhirnya, kita bisa menilai sendiri. Jika memang para capres-cawapres tersangkut isu buruk kemudian ditampilkan beragam data dan fakta serta informasi terkini yang sebenarnya tidak menjadi soal. Kita memang harus mengetahui rekam jejak calon pemimpin negeri ini. Mungkin kini media sudah menjadi barang andalan untuk digunakan oleh beragam kepentingan seperti juga di negeri ini banyak orang dan termasuk asing yang memiliki kepentingan di Indonesia.

Saya mengagumi kekayaan yang dimiliki Indonesia. Tidak hanya kekayaan bahan tambangnya saja, keanekaragaman hayati, dan keindahan alamnya. Tetapi juga, negeri ini memiliki beragam suku budaya dan beragam agama yang bisa hidup di negeri kepulauan ini. Sangat disayangkan ketika dengan semua potensi yang ada, asing begitu mendominasi kekayaan alam kita. Sebenarnya kenapa bisa begitu? Mungkin para pejabat di negeri ini masih merasa nyaman dengan kursinya atau asing begitu tergoda dengan kekayaan alam Indonesia dan melakukan segala cara untuk menguasainya. Satu poin yang saya sepakati untuk negeri ini ke depan bahwa Negeri Indonesia adalah negeri yang sudah merdeka sejak Bung Karno mendeklarasikan kemerdekaan bangsa, negeri yang bermartabat, dan negeri dengan segala potensi yang ada bisa menjadi negeri yang maju. Saya yakin setiap capres-cawapres yang ada memiliki kemauan untuk menjadikan negeri ini negeri yang maju dan sejahtera. Tetapi dalam prosesnya selalu diikuti beragam kepentingan. Banyak hal yang saya ingin sampaikan terkait pilpres kali ini, banyak hal menarik yang bisa dikritisi. Insyaallah semoga Indonesia diberkahi pemimpin yang adil dan tidak bekerja untuk kepentingan sepihak tetapi semata-mata untuk rakyat di negeri sendiri!

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Cibuluh

Tiba lagi di Kota Kembang, kota yang berbeda dengan kota lainnya. Udara di sini sejuk dan terlihat mempesona meskipun beberapa kendala kemacetan biasa terjadi.

Sebulan penuh saya berkelana sepanjang lintasan sungai dan jalan untuk memetakan daerah penelitian tugas akhir. Hasilnya cukup memuaskan, meskipun harus sering berkonsultasi dengan dosen pembimbing.

Setelah pekan pertama yang seru dan lancar, menaikturuni dua hingga tiga bukit untuk memulai lintasan singkapan yang paling jauh di selatan kotak penelitian, lain halnya untuk pekan berikutnya karena terkendala ketersediaan porter yang sudah mulai sibuk dengan pekerjaan yang lebih urgen. Sempat tersendat beberapa hari untuk tidak melapang, diselingi dengan kedatangan Eka dari Bandung untuk berkunjung ke lapangan TA saya.

Sambil mengisi waktu luang, kami berdua pergi ke Sungai Cipinangpait untuk mengambil sampel andesit dan batupasir yang lupa saya ambil untuk analisis petrografi. Saya berniat untuk ke lapangan tidak sendirian untuk menjaga keselamatan jika terjadi apa-apa.

Kemudian hari berikutnya, saya menyusur Sungai Cirangkong dari bendungannya sampai mencapai singkapan yang sudah mulai mendekati alluvial. Dua hari itu saya lalui tanpa porter dan terasa cepat, medannya hanya sebatas sungai, tetapi di Cirangkong ke hilir terdapat beberapa singkapan yang menarik seperti batulempung yang bersisik dan lapisan batupasir dengan kemiringan lapisan mencapai 90 derajat.

Sampai akhirnya kesepakatan disetujui dengan porter yang baru, saya bersamanya melakukan persiapan bahan makanan dan pakaian untuk bercamp di sekitar Cipanas. Porter tahu betul ke mana lintasannya dan akses menujunya meskipun harus menerabas ranting pohon dan juga tangkai-tangkai berduri, tanah berlumpur yang menarik-narik sepatu. Begitu juga tempat tinggal selama di Cipanas berupa gubug petani yang sedang menunggu masa panen tiba. Tinggal menghitung hari, kuning padi sudah siap untuk dituai. Hingga kami selesai nanti, ladang sawah sudah rapi dipotong buahnya.

Mis10-08

 Pemandangan yang indah di pusat lengkungan Cipanas

Perjalanan mencari singkapan batuan di sekitar Cipanas ini tak henti dihadiahi sebuah pemandangan yang indah. Kegagahan Tampomas tampak lebih jelas di sini, di pusat lengkungan Cipanas yang diduga terkena jalur patahan yang sifatnya mendatar. Air Cipanas tidak bersih, tapi entahlah, mungkin Tuhan memberikan karunianya, air ini yang kami minum dan pakai untuk mandi, tetapi kami sehat dan bahagia menjalani hari-hari. Tebing-tebing sungai hancur dan terkena longsor menyingkapkan batulempung Formasi Subang dengan baik dan memperlihatkan deskripsi khusus dirinya, berwarna abu-abu kehitaman, mengulitbawang, kadang menyerpih dan mudah digetaskan. Aliran Cipanas cukup kuat untuk membawa raga mengalir mengikuti hukum menuju tempat yang lebih rendah.

DSC02707

Di Cipanas ini jugalah, pengambilan sampel sifat mengembang batulempung diambil. Sebuah sampel yang beratnya mungkin mencapai 15 kg. Batulempung ini harus dibentuk kubus untuk kemudian dilapisi peralatan yang sudah ditentukan dan siap tahan terhadap cahaya dan cuaca. Tiga buah sampel ini yang berat dibawa karena harus menaikturuni Pasir Derewak dengan ketinggian mencapai 200 m dengan medan jalan berlumpur. Tapi, porter saya cukup kuat dan tidak mengeluh tentang hal ini.

DSC02805

Akhirnya, saya tiba lagi di Basecamp di Cipinangpait. Untuk kemudian pergi ke Cikoang, daerah mapping Ara untuk ikut membantu mengambil sampel swelling. Daerah Ara lebih mudah dijangkau dan medannya relatif tidak lebih berat. Pengambilan sampel di sini berjalan dengan tenang dan lancar, hujan tidak mengeluarkan geledek seperti di Cipanas dan matahari tidak begitu menyengat kulit dalam jangka waktu yang lama selama kami di lapangan.

Hingga saat ini, saya menulis ini sebagai bagian dari memori yang nanti mengingatkan saya terhadap orang-orang yang membantu selama di lapangan TA.

DSC02798

Terimakasih semuanya.

Bandung, 26 Maret 2014.

 

Dipublikasi di Journey, Minor, My Story | Tinggalkan komentar