Nasihat dari seorang Imam …

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman

Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan teman

Berlelah-lelahlah,manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak kerena diam tertahan

Jika mengalir menjadi jernih,jika tidak,akan keruh menggenang

Singa jika tidak tinggalkan sarang tak akan mendapat mangsa

Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari dan orbitnya tidak bergerak dan terus diam

Tentu manusia bosan padanya dan enggan melihat

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang

kayu gahuru tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan

“Imam Syafi’i Rahimahullah”

Anomali Euro 2016

Anomali selalu berarti sebuah keganjilan dalam suatu peristiwa yang hampir pasti. Suatu kejadian yang tidak berlaku semestinya. Anomali juga terjadi di Euro 2016. Sorotan terutama terpaku pada babak knockout hingga partai puncak. Banyak kemenangan yang tidak terduga seturut tim-tim unggulan macam Spanyol, Jerman, Prancis, dan tim langganan turnamen besar Italia harus saling menghabisi.

images

101greatgoals.com

Italia dan Spanyol adalah dua kekuatan sepak bola yang merajai dunia dengan generasi yang berbeda zaman. Spanyol gemilang di abad milenium, tetapi harus menerima kekandasan belakangan ini. Terbaru saat dikalahkan Italia 2-0 di babak perdelapan final Euro tahun ini. Italia dengan taktik yang diusung Antonio Conte mampu membungkam agresivitas dan penguasaan bola yang biasa ditunjukkan Spanyol. Italia telah membuktikan bahwa dengan semangat dan kesatuan tim mampu menjungkalkan beberapa unggulan Euro 2016, setelah sebelumnya di fase grup juga mengalahkan Belgia dengan skor identik 2-0. Hal ini merupakan kemenangan berarti bagi Italia atas Spanyol setelah di tahun 2008 dan 2012 dikalahkan Spanyol dalam perburuan gelar Euro. Yang menyakitkan tentu saat di final empat tahun silam, gelar Euro direngkuh Spanyol dengan membantai Italia 4-0.

images (1)

sidomi.com

Jerman dan Italia. Mereka bertemu lagi di perempat final Euro 2016. Faktanya Jerman belum bisa mengalahkan Italia di turnamen akbar. Sebut saja, di Piala Dunia 2006 saat Der Panzer kalah 2-0 di kandang sendiri meski jadi tuan rumah. Kemudian bertemu di Piala Eropa 2012, lagi-lagi Italia membungkam Jerman 2-1. Tetapi, di pertemuan terakhir pada perempat final Euro 2016, mereka menang melalui adu penalti yang sengit. Dua kiper hebat kedua tim menjadi antagonis. Jerman melenggang menantang unggulan lainnya, Prancis.

Berlanjut ke semi final, Prancis bertemu Jerman. Pertemuan terakhir kedua tim berkesudahan dengan kemenangan Jerman melalui gol Mats Hummel di Piala Dunia 2014. Nyatanya kedua tim jarang bertemu di turnamen akbar, lebih banyak pertandingan di laga persahabatan. Rekor pertemuan antara kedua timpun secara keseluruhan relatif berimbang. Prancis akhirnya melaju ke final usai menang 2-0 atas Jerman di semi final Euro 2016. Les Bleus menjamu tantangan Portugal.

images (2)

sidomi.com

Final was coming. Head to Head kedua tim menghidangkan dominasi Prancis atas Portugal. Seleccao das Quinas tidak pernah menang atas Prancis di turnamen akbar. Pada semi final Piala Eropa tahun 1984 dan 2000, Portugal kalah oleh Prancis dengan skor masing-masing 3-2 dan 2-1. Pun demikian dengan Piala Dunia 2006, lagi-lagi Prancis memuluskan diri menuju final setelah memulangkan Portugal lewat penalti Zidane. Tetapi, malam tadi nampaknya tidak ada yang mampu menghentikan Portugal. Bahkan Prancis yang sakti dan keramat ketika selalu menjadi juara saat menjadi tuan rumah, sekaligus ingin menggenapkan siklus 16 tahunan juara Euro, tak kuasa melakukan hal itu. Seakan semua keadaan bersepakat untuk memenangkan Portugal yang hanya berbekal tiga seri di fase grup, kemudian tak pernah menang dalam waktu normal kecuali saat mengalahkan Wales 2-0 di semi final. Final pun mereka menangkan melalui babak perpanjangan waktu. Cederanya Ronaldo yang harus ditarik keluar pada menit 25 nampaknya menjadi alasan yang emosional untuk menambah motivasi rekan-rekannya sekaligus mempertebal anomali kemenangan di sepanjang gelaran Euro 2016.

Ya, semua itu pada akhirnya semakin menyakralkan siklus 12 tahunan kemunculan juara baru Euro, setelah Denmark tahun 1992, Yunani tahun 2004, dan PORTUGAL JUARA EURO 2016. Fantastis!

Adu Siklus di Final Euro 2016

Seperti yang sudah diduga, final Euro 2016 memungkinkan sebuah pertarungan siklus sepak bola yang berkecamuk antara Prancis dengan Portugal (lihat di sini).

uefa-euro-2016-logo

Dan Jumat dini hari kemarin hal tersebut menjadi kenyataan. Skor identik menjadi pembeda pertandingan kedua semi final. Final ideal yang menjadi harapan banyak orang jelas tidak terjadi di gelaran kali ini. Para unggulan juara sudah saling menghabisi di awal semenjak babak knockout dimulai. Akhirnya Prancis menjadi tim unggulan yang mencapai partai puncak. Les bleus mengalahkan Jerman dengan skor 2-0 tanpa balas, Jerman sebelumnya menang adu penalti atas Italia, di babak 16 besar Italia membungkam juara bertahan Euro 2012, Spanyol 2-0.

Senin dini hari besok, si Ayam Jantan akan menjamu Samba Eropa di kandang sendiri. Portugal versus Prancis di final Euro 2016 layak diberi judul “Adu Siklus”. Mari kawan, kita lihat apa yang menarik untuk laga final nanti.

Prancis memenangkan gelar juara Euro tahun 1984 saat menjadi tuan rumah, kemudian pada Euro 2000, mereka kembali menjadi juara setelah kemenangan dramatis pada babak perpanjangan waktu melawan Italia, sekaligus menyandingkan gelar dengan Piala Dunia 1998 (dua tahun sebelumnya) saat menjadi tuan rumah. Prancis saat menjadi tuan rumah adalah kekuatan sarat bukti yang menjadi jaminan  untuk menjadi juara pada turnamen besar.

Siklus 16 tahunan untuk Prancis tinggal selangkah lagi menjadi kenyataan jika mereka bisa mengalahkan Portugal di partai final tanggal 11 Juli 2016.

Berbicara Portugal, mereka belum pernah juara Euro, tetapi prestasi di ajang ini terbilang mentereng. Mereka memiliki siklus menarik. Tahun 1996 adalah permulaan siklus, ketika itu tim berjuluk Seleccao das Quinas dikalahkan Republik Ceko 1-0 di babak perempat final. Empat tahun berselang, mereka bertemu sang juara dunia, Prancis di babak semi final dan kalah melalui skor 2-1. Tahun 2004, saat Portugal menjadi tuan rumah gelaran Euro, mereka mencapai prestasi tertinggi yaitu masuk final, tetapi naas karena harus kalah oleh Negeri Para Dewa, Yunani, yang saat itu sedang mengejutkan jagat sepak bola Eropa.

Kemudian siklus Portugal ini berulang dari awal. Dimulai pada Euro 2008, Cristiano Ronaldo dkk. dikalahkan Jerman pada babak perempat final melalui skor sengit 3-2, tahun 2012 mereka harus rela tidak masuk final setelah kalah adu penalti melawan Spanyol yang sedang berjaya melalui generasi emasnya. Dan pada tahun ini, siklus itu mencapai puncaknya, Portugal mengalahkan Wales 2-0 untuk melaju ke final Euro 2016. Siklus tahun 1996 – 2000 – 2004 (perempat final – semi final – final) berulang pada tahun 2008 – 2012 – 2016 (perempat final – semi final – final). Akankah juga di final Euro 2016 nanti, Portugal kalah sesuai siklus yang sudah-sudah?

Berbicara kualitas pemain, kedalaman skuat, dan rekor pertemuan, Portugal kalah dibandingkan Prancis. Mereka sudah bertemu Les Bleus di semi final Euro 1984 dan Portugal kalah melalui skor 3-2. Prancis yang saat itu menjadi tuan rumah berhasil menjuarai Euro usai mengalahkan Spanyol pada babak final dan Platini menjadi topscorer sekaligus pemain terbaik. Pada semi final Euro 2000, Portugal lagi-lagi kalah, kali ini dengan skor 2-1 oleh Prancis. Di partai puncak, Tim Ayam Jantan keluar sebagai juara setelah mengkandaskan Italia dan Zidane menjadi pemain terbaik saat itu.

Besar kemungkinan kali ini Prancis akan menjadi juara lagi karena faktor kuat yang telah sarat bukti jika Les Bleus menjadi tuan rumah. Meskipun ada satu siklus yang bisa menjadi kartu As bagi Portugal, yaitu siklus 12 tahunan juara baru Euro seperti yang ditorehkan Denmark tahun 1992, Yunani tahun 2004, dan tahun ini, 12 tahun berselang, Portugal berkesempatan meyakinkan pecinta sepak bola melalui siklus juara baru Euro.

Cristiano Ronaldo memang bintang bagi Portugal yang bisa jadi pembeda di final nanti, tetapi Antoine Griezmann sebagai pencetak gol terbanyak Euro 2016 dengan 6 gol berpotensi untuk mengikuti jejak pendahulunya, Zinedine Zidane dan Michel Platini, sebagai pemain terbaik yang membawa gelar juara bagi tuan rumah.

images

Sekali lagi, kemungkinan Prancis menjadi juara lebih besar dibandingkan Portugal dan kebanyakan pecinta sepak bola sepakat bahwa Seleccao das Quinas sebenarnya tidak tampil mengesankan di Euro 2016. Tetapi, bukan sepak bola namanya jika tidak memberikan kejutan. Siklus manakah yang terbukti benar di final Euro 2016?

  • Siklus 16 tahunan Prancis
  • Siklus 12 tahunan munculnya juara baru Euro
  • Siklus perempat final, semi final, final Portugal
  • Atau faktor keramat Prancis jika menjadi tuan rumah

 

Untuk Apa Kuliah

Kawan, saya pernah mendengar sebuah ungkapan. Untuk mengikat ilmu, tulislah. Saya mau cerita perjalanan saya kemarin.

Saya mendapat pembinaan dari beasiswa Chevron-Dompet Dhuafa (DD) semenjak S1 dan sekarang menjadi alumni DD. Banyak proyek sosial yang dilakukan di daerah sebagai bentuk manfaat dari value yang ditanamkan kepada para penerima manfaat. Di Sukabumi, kami kemarin ada acara santunan kepada anak yatim juga kepada yang tidak mampu, berkolaborasi dengan rekan-rekan dari Scoopa. Acara berjalan meriah karena dihadiri banyak masyarakat selain anak-anak, juga menampilkan pentas seni termasuk ada lomba-lomba lainnya.

berapa-biaya-kuliah-di-korea-9kueB3GqVm

news.okezone.com

Kami para alumni dan penerima manfaat berkumpul untuk bersilaturahim karena beberapa, terutama alumni baru bisa bertemu kembali. Banyak kabar-kabar baru. Rata-rata untuk para penerima manfaat, mereka sedang menuju tugas akhir dan setelah lulus akan mengalami masa kegalauan dalam mencari minat sesungguhnya. Untuk alumni, ada yang sudah bekerja dan ada yang sedang meneruskan S2. Selaku dari pihak DD, Mas Hassan memberikan materi pembinaan kepada penerima manfaat serta saran-saran kepada alumni.

Di sinilah kawan, saya menuliskan kembali tentang ilmu itu.

Banyak pengangguran berijazah di Indonesia. Tujuan ketika kuliah, mungkin ada yang ingin agar bisa bekerja di perusahaan besar, ingin lanjut terus ke jenjang pendidikan tertinggi, atau bekal menjadi wirausahawan. Banyak yang memutuskan untuk tidak menganggur kemudian mengambil S2 dan setelah lulus tidak tahu mau apa, pun jika mereka diterima bekerja, perusahaan menilai sama antara lulusan sarjana dan magister. Saya dan teman-teman saya termasuk yang merasakan masa pengangguran setelah menyandang gelar sarjana. Rasanya tidak menyenangkan. Awal-awal seakan kita bisa rehat sebentar dari kepenatan dunia kampus. Setelah itu, ada rasa bosan kemudian menjadi galau yang menyiksa diri. Masa depan tidak jelas. Ya, kondisi di negara kita memang sedang susah.

Mas Hassan menuturkan, lebih baik bekerja dulu bagi yang sudah lulus sarjana untuk mendapatkan pengalaman bekerja dan merasakan bagaimana kondisi sebagai seorang karyawan di perusahaan sekaligus mengaplikasikan ilmu-ilmu yang sudah kita pelajari di kampus. Jika kita memilih jalur profesional, kebutuhan S2 dan jenjang yang lebih tinggi itu untuk memenuhi kebutuhan yang disyaratkan dalam menunjang profesi.

Kasus untuk dosen, bisa langsung ambil S2 setelah lulus atau bahkan sekarang ada Program Menuju Doktor Sarjana Unggulan (PMDSU), jika belum menikah, melajulah secepat mungkin karena itu peluang terbaik kita.

Untuk menjadi seorang wirausahawan setelah lulus sarjana, kita harus siap dengan tren pengusaha yang akan menemui titik terendah pada masa-masa awal usaha. Kita harus punya mental baja untuk lolos dari lembah penderitaan itu untuk melesat selanjutnya. Mas Hassan mengambil sejumlah angka, dari 100 bisnis start up di negara ini, setelah usaha berjalan selama rentang 5-10 tahun, hanya 5 yang bisa bertahan dan berkembang. Untuk menjadi seorang pengusaha butuh lebih dari sekadar ilmu.

Jika kita ingin mengakselerasi kesuksesan pada suatu bidang, kita perlu panutan atau mentor. Misal kita ingin menjadi dosen, kita bisa melihat bagaimana dosen kita menggapai kesuksesannya, jadikan dosen kita sebagai pembimbing, maka kita akan menemukan pola tertentu menuju kesuksesan. Ya, sukses atau gagal ada polanya. Sekali kita tahu polanya, di sanalah kesempatan terbaik untuk mengakselerasi diri menggapai kesuksesan kita. Hal ini berlaku juga jika kita ingin menjadi profesional atau seorang wirausahawan, pastikan diri kita punya panutan atau mentor, temukan pola kesuksesan mereka, terapkan, dan bersiaplah untuk berakselerasi menuju puncak yang kita inginkan.

Mas Hassan menyarankan untuk gerakan sosial di daerah sebagai bentuk kontribusi, tidak harus diarahkan kepada hal tentang mengajar. Tidak semua orang dengan latarbelakang berbeda bisa mengajar. Seperti yang dilakukan pada ilmuberbagi yang mendapatkan penghargaan dari Kick Andy. Kontribusi di dalam ilmuberbagi, tidak memaksakan orang yang terlibat untuk dijadikan relawan mengajar, tetapi yang penting adalah menempatkan potensi yang dimiliki oleh setiap orang yang berbeda latar belakang itu pada posisi yang sesuai yang tetap berdampak besar terhadap perkembangan kegiatan yang dilakukan. Mas Hassan mencontohkan, ada yang tidak punya bakat apapun terhadap bentuk kontribusi di ilmuberbagi, tetapi punya waktu untuk hanya sekadar mengantarkan media-media publikasi acara, sehingga orang tersebut hanya bertugas tentang itu. Termasuk untuk alumni DD disarankan untuk berfokus pada pemanfaatan kapasitas yang dimiliki individu dengan latar belakang jurusan berbeda pada tempatnya masing-masing yang bermanfaat terhadap gerakan sosial.

Di luar itu, kami bercerita yang lain. Termasuk saat saya mengeruk pelajaran dari alumni yang lain. Bahwa dia pernah menyimpan mimpinya untuk kuliah selama 2 tahun karena tidak punya biaya dan kondisi ekonomi keluarga yang tidak mendukung. Dia akhirnya kerja di sejenis pabrik selama 2 tahun. Dia tidak menghapus mimpinya untuk kuliah, tetapi menyimpannya. Saat ada kesempatan, dia akhirnya bisa kuliah dan menjadi bagian dari penerima manfaat DD. Pelajaran yang berarti bagi kita, bahwa mimpi tidak harus dikejar sekarang jika kondisi tidak memungkinkan, kita bisa menunggu saat yang tepat untuk mewujudkan impian yang telah dipersiapkan dengan matang. Bukan menghapusnya tapi menyimpannya sementara waktu.

temu alumni 3 juli 2016

Temu penerima manfaat dan alumni Chevron-Dompet Dhuafa di Kalapanunggal, 3 Juli 2016. 

Twist Ending di Euro 2016?

Italia kembali menghadirkan akhir pertandingan yang membungkam para peragu. Dengan skuat yang tidak terlalu bersinar pada bagian tengah dan lini serang, tetapi hal itu menjadi senjata yang menyakitkan lewat skema serangan balik dan skema yang berawal dari garis pertahanan. Sungguh taktik identikal Italia yang sangat kuat, unggulan lainnya yaitu Spanyol dibuat tak berdaya pada knockout 16 besar kemarin. Menarik untuk dilihat adalah lawan berikutnya, Jerman. Belgia, Spanyol, dan Jerman adalah para unggulan di Euro. Jika Italia berhasil membungkam Jerman, mereka harus menghadapi kemungkinan Prancis sebagai unggulan lainnya. Melihat Islandia yang mampu memulangkan Inggris lebih awal, kejutan bisa saja terjadi, meskipun motivasi Tim Ayam Jantan untuk menjadi jawara di kandang sendiri tidak perlu diragukan. Pasalnya siklus 16 tahunan menjadi Juara Euro setelah terakhir di tahun 2000 sepertinya bakal semakin terealisasi untuk Les Blues jika mampu mengalahkan Islandia.

indomultimedia.net

indomultimedia.net

Menilik hasil tadi malam, menarik melihat Portugal yang tidak pernah menang selama 90 menit waktu normal dalam 5 pertandingan terkini di gelaran Euro 2016. Ricardo Quaresma secara berturut-turut dalam laga vs Kroasia dan Polandia menjadi pahlawan bagi Portugal. Mereka tinggal menunggu sang kuda hitam Wales atau tim unggulan setan merah Belgia di semifinal. Akankah juga siklus Portugal terjadi, yaitu terhenti di perempat final pada Euro 1996, terhenti di semifinal pada Euro 2000, dan merasakan final di tahun 2004 meski kalah. Pola terakhir juga sama bagi Portugal di tahun 2008 dan 2012 yaitu berturut-turut terhenti di perempat final dan semifinal. Untuk melaju ke final banyak orang yang meragukan Portugal sebelumnya, melihat permainan yang tidak mengesankan.

Yang jelas di final nanti akan terjadi sebuah posibilitas tinggi terhadap juara baru. Portugal dan Belgia memang pernah masuk final, tapi belum pernah juara. Jerman, Italia, dan Prancis sama-sama pernah merengkuh Trofi Euro. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah juara baru di final atau juaranya adalah tim unggulan? Atau ekspektasi para pecinta sepakbola menjadi antiklimaks atau twist ending seperti dalam film thriller dengan Wales atau Islandia yang menjadi juara? Saya pikir di antara kita, ada sedikit rasa lucu jika hal tersebut terjadi. Tapi Denmark dan Yunani sudah membuktikan itu.

sport.merahputih

sport.merahputih.com

Sepak Bola

Sejauh yang saya pahami, sepak bola memberi banyak pelajaran, kalau tidak bisa disebut sebagai hikmah. Saat ini, dunia ramai dengan kabar Euro 2016, setidaknya kegagalan Inggris disebut dengan Brexit 2.0, kabar lain seperti Italia dengan Antonio Conte-nya mampu bungkam juara bertahan, Spanyol.  Di luar semua itu, gelaran Copa America tidak memberikan sorotan yang terlalu dalam terhadap Chile, sang juara. Tetapi yang mencuat ke permukaan adalah tentang Messi.

images

espnfc.com

Saya merupakan pelaku sepak bola tingkat lokal, tingkat kelompok, di kampung, sekolah, dan rekan-rekan ketika di Bandung. Ketika di kampung, saya bersama teman-teman sebaya bermain di sawah milik orang yang sudah dipanen. Tantangannya adalah kami harus siap kabur jika pemilik sawah tahu kami bermain di sawahnya karena si pemilik akan susah untuk membajak sawah yang sudah terpadatkan akibat ribuan langkah yang membekas selama kami bermain. Di luar itu, kami anak kampung merasakan kebahagiaan sebagai seorang anak-anak dalam bermain. Sepak bola merupakan permainan yang sangat menyenangkan bagi kami, tidak peduli dimarahi pemilik sawah, tidak peduli kami menerjang sisa-sisa batang padi dengan kaki telanjang, dan tidak peduli cedera kaki yang muncul akibat tekel-tekel liar yang ajaibnya hanya bisa sembuh kalau kami bermain lagi keesokan harinya.

Masuk ke SMA, tidak ada sepak bola, tapi bentuk lain sebagai futsal. Di sini, saya bersama teman-teman sekolah bermain dalam ruang yang lebih sempit, mengutamakan kerja sama atau teknikal dari seorang pemain. Saya pernah ikut kompetisi ketika menjelang liburan dan sempat menyarangkan sebuah gol melawan kakak tingkat di bawah tekanan permainan yang tinggi. Kartu kuning pun saya dapat. Di sana saya mendapat arti bahwa perlu kerja sama yang baik dengan rekan setim.

Masuk kuliah di Bandung, tetap sepak bola futsal menjadi hobi karena banyak rekan-rekan yang bisa diajak dan juga wadah mengisi waktu luang. Di sini saya melihat bahwa sepak bola membuat individu berkreasi dengan baik, permainan kelompok, dan sekaliber bakat yang memang dimiliki oleh sedikit orang.

Saat di kampung, kami mendukung tim desa saat perlombaan 17 Agustus, sensasi menjadi penonton begitu histeris karena ada rasa bangga yang menyeruak saat tim kesayangan menang. Sebaliknya, saat kalah, kekecewaan menjadi hal yang lumrah. Masuk SMA dan kuliah, saya mulai menggemari tim-tim dari luar negeri dan tim daerah. Termasuk juga, tim-tim negara Eropa saat ada Liga Champions atau kompetisi domestik. Piala Dunia adalah sebuah kulminasi dari keseruan masyarakat dunia terhadap pertunjukan terakbar di bidang olahraga.

Kembali ke Messi. Berita yang ramai saat ini adalah keputusannya untuk pensiun dari Timnas Argentina sesaat setelah Albeceleste menyerah dari Chile, Menurut saya, yang membuat menarik adalah dukungan dari negara Argentina agar Messi membatalkan keputusannya itu. Mulai dari seorang guru yang menulis secarik kertas mengharukan untuk Messi, para legenda seperti Kempes dan Maradona, suporter yang mau berunjuk rasa meminta Messi mengurungkan pensiunnya, hingga seorang Presiden Argentina pun memohon Messi untuk terus berjuang di timnas. Kita semua sudah mafhum, Messi adalah pemain terbaik dunia, mungkin saja tidak ada pemain yang bisa meraih Balon d’Or selama 5 kali di masa mendatang, bakat Messi dalam bermain sepak bola sungguh mengagumkan tentu dengan usaha dan latihan yang tetap dijalankan.

Messi adalah sedikit dari pemain yang punya kemampuan luar biasa dalam sepakbola, setidaknya yang mencuat di permukaan dan diketahui oleh masyarakat dunia. Gelar-gelar bersama Barcelona sudah terlampau banyak, penghargaan individu sudah sering didapatkan, rekor-rekor prestisius terpecahkan, dan kecintaan publik terhadap dirinya juga sangat besar, terutama dari negaranya sendiri. Yang menarik lainnya adalah Messi belum mampu mempersembahkan gelar untuk negaranya di final yang berlangsung selama 4 kali, Copa America 2007, 2015, dan 2016, serta Piala Dunia 2014. Messi bermain dengan baik dan rekan-rekan setimnya adalah sekumpulan pemain-pemain terbaik yang mendukung Messi. Di luar penaltinya yang gagal saat adu tos-tosan lawan Chile kemarin, wajar jika Messi berujar kepada media, ini bukan untukku, sudah empat final. Karena seorang Messi adalah manusia biasa. Dia berpikir sesuai sifat sebagai  seorang manusia biasa, yang merasakan bahwa memang jalannya cerita dia di sepak bola seperti ini, terutama karirnya di Timnas. Jika saya boleh berpendapat, mungkin Messi berpikir takdir sepak bola baginya adalah tidak memenangkan gelar bersama timnas.

Di luar semua itu, Messi tetaplah pemain terbaik dunia yang akan dikenang dalam sejarah persepak bolaan oleh masyarakat dunia, teutama oleh Argentina. Bahkan karirnya di timnas bisa saja terus berlanjut dan pada akhirnya, dia memenangkan gelar bersama Argentina. Sebuah cerita yang saya rasa semua orang ingin kisah manis bersama timnas menutup kepensiunan Messi.