Nasihat dari seorang Imam …

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman

Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan teman

Berlelah-lelahlah,manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak kerena diam tertahan

Jika mengalir menjadi jernih,jika tidak,akan keruh menggenang

Singa jika tidak tinggalkan sarang tak akan mendapat mangsa

Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari dan orbitnya tidak bergerak dan terus diam

Tentu manusia bosan padanya dan enggan melihat

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang

kayu gahuru tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan

“Imam Syafi’i Rahimahullah”

REVIEW Australian Standard AS 1726 – 1993 Geotechnical Site Investigations

Australian Standard AS 1726 – 1993 Geotechnical Site Investigations dibuat oleh panitia CE/15 yang dipublikasikan oleh Standards Association of Australia pada tanggal 13 April 1993. Standar ini memiliki jumlah 40 halaman dengan konten berupa scope, aplikasi, dokumen referensi dan yang berkaitan, definisi, perencanaan dan desain dari suatu investigasi geoteknik, metode investigasi, pelaporan, dan review konstruksi serta monitoring pelaksanaan. Kemudian juga terdapat lampiran yang berisi penjelasan deskripsi dan klasifikasi tanah dan batuan untuk tujuan geoteknik, metode uji lapangan, pengujian laboratorium, rangkuman proyek tipikal untuk sebuah investigasi geoteknik, dan komen.

Standar ini dibuat sebagai sebuah pendahuluan (preliminary) untuk konstruksi bangunan dan rekayasa sipil. Prinsip yang digunakan dalam standar ini bertujuan untuk menetapkan secara singkat pertimbangan-pertimbangan yang mempengaruhi desain dan konstruksi kerja yang harus dibuat dalam investigasi geoteknik. Berkaitan dengan hal itu, dalam standar ini akan memunculkan identifikasi lapangan dan kerja laboratorium yang harus diimplementasikan untuk menyediakan data geoteknik yang disyaratkan untuk memfasilitasi desain rekayasa dan konstruksi dari suatu pekerjaan. Beberapa metode yang cocok untuk pengumpulan data dan pengujian material geoteknik dan sistem klasifikasi material ditampilkan pada bagian lampiran.

Beberapa dokumen referensi dan terkait yang digunakan untuk standar ini adalah AS 1289 Methods Of Testing Soils For Engineering Purposes, Australasian Institute of Mining and Metallurgy, Monograph Series No. 9 – Field Geologists (1989), Institution of Engineers, Australia Guidelines for The Provision of Geotechnical Information in Construction Contracts (1987), dan ISRM Commission on Standardization of Laboratory and Field Tests, Suggested Methods for The Quantitative Description of Discontinuities in Rock Masses (1978).

Dalam standar ini, definisi dari geotechnical site investigations adalah proses menilai karakter geoteknik dari suatu lokasi dalam konteks kerja yang ada atau yang diusulkan atau kegunaan lahan. Investigasi tersebut mencakup hal-hal berikut:

  • Evaluasi geologi dan hidrogeologi suatu lokasi.
  • Pemeriksaan informasi geoteknik yang ada yang berdekatan dengan lokasi.
  • Penggalian atau pengeboran tanah atau batuan.
  • Penilaian insitu dari properti geoteknik material.
  • Pengambilan sampel tanah atau batuan untuk pemeriksaan, identifikasi, perekaman, pengujian atau tampilan.
  • Pengujian sampel tanah atau batuan untuk menghitung properti yang berhubungan dengan tujuan investigasi.
  • Pelaporan hasil

Dalam standar ini, deskripsi tanah dijelaskan secara rinci terkait klasifikasi, tekstur, kondisi, dan komposisinya begitu juga dengan batuan. Selain daripada hal itu, dalam batuan istilah yang digunakan dalam deskripsi massa batuan untuk diskontinuitas adalah defect, tetapi propertinya sama yaitu orientasi, spasi, kekasaran, waviness, dan kontinuitas (persistence?). Dalam infilling suatu diskontinuitas atau dalam standar ini digunakan istilah defects, mungkin dapat ditambahkan jenisnya selain clean, stain, veneer, dan coating, yaitu calcite filling, inactive clay mineral, dan swelling clay. Kemudian, klasifikasi pelapukan batuan yang digunakan dalam standar ini menunjukkan 5 tingkat pelapukan, yaitu fresh rock, slightly weathered rock, distinctly weathered rock, extremely weathered rock, dan residual soil. Dalam klasifikasi batuan yang lain, dikenal adanya highly and moderately weathered rock. Maksud distinctly weathered rock bisa saja diperinci menjadi tingkat pelapukan highly and moderately weathered rock.

Sementara itu, berkaitan dengan metode pengujian lapangan, standar ini hanya memberikan penjelasan yang bersifat informatif tanpa rincian prosedur pelaksanaannya. Secara umum informasi yang ditampilkan berupa list-list metode yang ada sifatnya lengkap dan memang diperlukan dalam suatu investigasi geologi teknik.

Untuk analisis potensi bahaya, standar ini secara langsung menyatakan klasifikasi potensi bahayanya yang harus dimasukkan dalam suatu pelaporan, tetapi tidak  menjabarkan jenis-jenis atau macam-macam bahaya yang ada pada suatu lokasi. Seperti halnya untuk kasus gempa perlu dipertimbangkan nilai Peak Ground Acceleration sebagai analaisis dinamis terhadap suatu infrastruktur atau kerja sipil yang ada atau yang diusulkan.

Secara umum, dalam AS 1726 – 1993 Geotechnical Site Investigations ini, penjelasan mengenai uji lapangan dan laboratorium serta pemetaan geologi tidak dijelaskan secara detil sehingga perlu diperbarui ke depannya apakah memakai standar yang berlaku pada standar internasional yang lain atau memang disitir secara umum saja. Selain itu, standar ini terakhir dipublikasi pada tahun 1993 dan membutuhkan publikasi dari standar yang telah diperbarui.

 

Referensi:

Standards Australia Committee, 1993, AS 1726 – 1993 Geotechnical Site Investigations, Standards Australia, Homebush, NSW.

 

Pendaki Hilang

“Wak, di daerah sini ada gunung yang jarang dinaiki orang?”

“Ada”

“Gunung apa Wak? Di mana itu?”

“Gunung Gendereng, dari sini lumayan jauh. Dua jam ke arah Ciguha.”

“Gunung itu jarang ada yang naik, masih banyak hutannya. Kata orang-orang …………………………………… .”

Terputus.

Karta tak bisa bergerak, kakinya sangat sakit, dia tidak lagi bisa mendengar apapun, seperti tuli mendadak. Dalam ketidakberdayaan itu, dia masih bisa merasakan tubuhnya yang basah oleh cipratan air. “Air terjun,” ucapnya lirih. Penglihatannya pelan-pelan menjadi kabur dan berubah menjadi gelap. Masuk ke sebuah lorong yang seolah-olah membawanya ke tempat lain.

Sebulan penuh pencarian itu, melibatkan badan evakuasi nasional dan segenap komunitas pencinta alam. Semua bersatu dalam unit terpadu search and rescue (SAR). Area-area pencarian korban sudah dievaluasi berkali-kali. Tidak ada tanda-tanda yang mengarah kepada keberadaan survivor. Carrier yang masih bersih dan utuh ditemukan. Akan tetapi, barang-barang di dalam kantong gunung berkapasitas delapan puluh liter itu tampak berantakan. Sleeping bag, sepotong flanel, dan celana lapangan tak karuan, bercampur dengan pisau lipat, benang, headlamp, pemantik api, jas hujan, dan berbagai jenis tali. Kotak pertolongan pertama untuk kecelakaan, tercecer semua isinya. Segala macam makanan serta perangkat-perangkatnya dalam kondisi acak. Tidak ada air minum. Tenda tidak ada di dalam carrier, seperti terlempar jauh dari dalam. Seorang laki-laki muda yang turut serta berujar “Iya, ini carrier saya yang dipakai Karta untuk naik.”

Kasus hilangnya pendaki di Gunung Gendereng sempat masuk media-media nasional. Sudah cukup banyak kasus sepanjang tahun itu. Tim SAR masih berupaya melakukan penelusuran dan pencarian di daerah operasi. “Gunung ini jarang ada yang daki,” “hutannya masih rimba,” “jika tidak terbiasa di gunung, bisa bahaya,” ujar seorang warga bersuara parau. Bicaranya terpotong-potong disela batuk anehnya.

Wira sedang berpikir ketika koordinator misi mengumpulkan informasi-informasi awal. “Dia sempat ngajak saya buat naik. Saya pikir Karta mau berangkat besoknya setelah saya ujian, tetapi dia tetap pergi hari itu juga.”

Para koordinator serta personil unit nampak berkumpul dengan mimik-mimik serius di salah satu pos pemantau. Warga pemilik warung kopi bilang bahwa Karta menitipkan motor selama tiga hari kepadanya. Tetapi, di hari ketiga, Karta tidak kunjung muncul.

“Apa kamu tahu apa saja yang dibawa Karta?”

“Dia pinjam carrier dan GPS. Perlengkapan lain semestinya dia bawa.”

“Apa dia naik gunung sendirian?”

“Iya, sepertinya tidak ada teman yang diajak selain saya.”

Tiba-tiba Wira mengingat sesuatu. “Ohiya, sore hari ada telepon. Karta bilang sudah sampai di puncak dan mau lanjut jalan.” Besoknya dia hubungi Karta untuk menanyakan keadaan, berkali-kali tidak ada jawaban. Sesuatu mungkin telah terjadi, dia lantas menuju Ciguha. Rasa penasaran dan sedikit kekhawatiran muncul. Tidak ada kabar. Sejak saat itu Karta resmi dinyatakan hilang.

Tempat terakhir keberadaan survivor sudah ditelusuri, nampaknya area pencarian perlu diperluas. Koordinator misi memimpin rapat. Komandan lapangan menggelar peta, membentuk lingkaran di beberapa lokasi sebagai blok pembatas, satu di selatan, dua di barat, dan menarik garis untuk pemasangan string lines. Sejauh ini tiga area yang menjadi fokus perhatian. Daerah-daerah lainnya tidak menghasilkan petunjuk. “Besok kita gunakan detection mode di blok I dan pencarian tipe II di sebelah barat. Masih ada area yang belum tersapu di sekitar sana, kita akan tambah unit.” Malam sudah larut, semua personil beristirahat untuk tugas besok.

Pagi menjelang. Pencarian dimulai lagi. Unit-unit disebar sesuai kebutuhan. Blok-blok pencarian dibuat untuk membatasi area jelajah survivor. Tiap unit melakukan penyisiran dan penelusuran, dipimpin oleh seorang komandan. String lines dan tags berwarna merah dipasang pada batas blok agar survivor bisa teralihkan ke tempat aman kalau-kalau melewati garis itu. Global Positioning System (GPS), kompas, peta, teropong, dan jenis alat lainnya digunakan selama operasi. Setiap unit punya anggota khusus yang peka bau-bauan dan objek-objek vital. Ada blokade di jalur masuk untuk pemeriksaan masuk dan keluar. Perangkap dibuat dengan menggemburkan tanah di lokasi yang kemungkinan dilewati survivor. Personil di pos pemantau melakukan pencarian di tempat-tempat strategis, persimpangan jalan dan pertemuan dua sungai. Selain itu, ada look outs, pengintaian dari tempat tinggi untuk mengamati area yang lebih rendah seperti lembah, tempat-tempat terisolir, dan sungai-sungai di bawah tebing. Pengintai juga selalu awas jika muncul gerakan-gerakan atau semacam tanda yang mungkin berasal dari survivor. Mereka juga membuat tanda-tanda mencolok untuk menarik perhatian survivor dengan membuat asap, bunyi-bunyian, dan sinar. On scene commander memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.

Tidak ada temuan berarti. Sekali waktu, jejak kaki yang muncul tidak mengindikasikan petunjuk sama sekali. Ranting-ranting pohon menyisakan arang-arang basah, sudah hancur, dan mulai bercampur dengan tanah juga demikian. Semua hal temuan lainnya telah diidentifikasi, tak kunjung ada titik terang.

Pada hari ketiga puluh satu semenjak Karta dinyatakan hilang.

Di satu dua tempat nampak area-area gundul, akibat kebakaran atau sebab lain. Diamati pada jarak dekat, lahan dengan sisa-sisa batang pohon yang hangus. “Banyak sekali tempat yang terbakar di sini,” ucap seorang personil.

Unit di blok barat berhasil menemukan sebuah topi berwarna coklat, bermerk salah satu produsen perlengkapan gunung. Benda itu ditemukan saat seorang personil terjatuh menginjak tanah pengaruh hujan semalam. Dia jatuh cukup keras dan tidak sengaja melihat sesuatu di akar Edelweis.

Kondisi lereng curam, lebih berupa tebing andesit, sungai deras mengalir dari  punggungan selatan. Penemuan topi menuntun pencarian di bawah tebing. Tetapi, akses menuju sana tidaklah mudah, dibutuhkan peralatan khusus.

Koordinator dan personil lain sudah berada di lokasi tebing. Lima orang terlatih memasang tripod yang terhubung tali karmantel semi statis, biasa digunakan untuk rescue. Seragam lapangan dan rompi dipakai. Harness, alat penopang tubuh yang terikat di pinggang kemudian dihubungkan dengan tali melalui cincin kait karabiner. Helm dan sepatu panjat sudah dikenakan juga. Lalu, secara hati-hati mereka menurunkan diri dan mengatur kecepatan dengan descender. Pada tebing batu itu, sesekali ditancapkan piton, paku tebing yang dipukul dengan palu khusus untuk mengakali lintasan turun yang rumit. Dentingan terdengar pelan lalu hilang ditelan lembah gunung.   

Untuk waktu yang lama, keluarga korban merasakan kesedihan yang mendalam. Informasi ini terasa memprihatinkan bagi kalangan teman-temannya. Dia dikenal seorang pendiam yang hobi pergi sendirian. Kerisauan batin menuntunnya dalam perjalanan-perjalanan ke tempat-tempat sepi yang membawa ketenangan.

Operasi bawah tebing menemukan Karta dalam kondisi sudah tak bernafas. Menurut hasil otopsi, tidak ada temuan luka selain kaki yang terjepit batu sungai, juga tidak ada tanda-tanda serangan hewan. Belum jelas keberadaan korban ketika tim SAR sedang beroperasi di area pencarian selama sepuluh hari awal, karena pada saat berbarengan korban ternyata diduga masih hidup.

Siang yang cerah, matahari tanpa penghalang memancarkan panas merata ke desa itu. Senyum ramah dari seorang kakek menyambut kedatangannya. Warung kopi berupa gubug dari bambu, lengkap dengan bangku dan meja untuk pembeli. Gunung di sana tidak lebih tinggi dari puncak yang pernah dia daki. “Tidak terlalu terjal,” kiranya, menaksir sudut kemiringan gunung.

“Pak, saya titip tiga hari ya motor ini, nanti diambil lagi.”

“Iya Den, hati-hati di jalan.” Den, panggilan untuk orang muda menurut adab kesopanan warga setempat, mungkin maksudnya lebih mirip kata raden.

Dia berjalan mengitari sawah, lalu mendapati jalan setapak yang mengarah ke kaki gunung. Sesampainya di sana, dia berhenti sebentar. Bukan lelah, tapi melempar pandang ke warung kopi tempat dia menitipkan motor. Sadar yang mendaki gunung itu mungkin hanya dirinya seorang. Yang diinginkannya hanya kesendirian dan ketenangan.

Berlalu satu jam setelah melewati jalan tanah yang jarang dilewati, terlihat dari tingginya rumput yang tumbuh secara acak. Dia lalu merasakan kehadiran seseorang di balik pohon-pohon rimbun. Suara siulan yang ditirukan, meyakinkan itu adalah manusia. Terdengar langkah kaki. “Mungkin warga sekitar yang lagi turun,” gumamnya. Di persimpangan itu, tepat dia akan berpapasan dengan seseorang itu, yang terlihat jelas hanyalah sebuah jalan terusan, membentang lurus di antara pohon-pohon besar kemudian hilang di ujungnya.

Pohon-pohon berkayu, cantigi, padi liar, dan pemandangan kawah di gunung sebelah sesekali dia amati dan renungkan. Sesampainya di suatu padang Edelweiss, dia yakin sedang berada di posisi yang tinggi. Berhenti dan melepas carrier, mengambil air minum, mencermati GPS, lalu mencari-cari sinyal untuk menghubungi kawannya. Di tepian padang Edelweiss, plang kayu bertuliskan Puncak I tertempel pada sebuah batang pohon. Di tempat itulah dia berkomunikasi. Tanpa disadari, beberapa pasang mata sedang mengawasinya dari balik pepohonan.

Matahari dengan cepat kembali ke peraduan. Awan-awan senja seakan turut terbenam di barat. Suasana gelap seketika mengambil alih keadaan. Ketika dia sedang kembali menuju tempat menaruh carrier, terdengar suara langkah-langkah kaki di belakangnya. Saat menoleh, samar-samar empat sosok muncul di hadapannya. “Aku tidak sendirian,” ucapnya dalam hati.

Dalam kejauhan dan suasana hening, lima sosok itu bercakap-cakap. Hanya angin yang tahu apa yang sedang dibincangkan. Tiba-tiba, satu orang jatuh tak berdaya menghujam tanah. Hari makin gelap, tidak ada cahaya.

Dalam siluet itu, seseorang menciptakan api di dekat wajahnya. Kepulan asap muncul secara tiba-tiba, kemudian naik dan lenyap di angkasa. Sementara dua orang mengangkat tubuh itu, dua lainnya berjalan ke arah berlawanan menuju hutan.

Kapak, gergaji, dan perangkat lainnya tergeletak di salah satu tumpukan kayu. Gelondongan itu siap dijatuhkan. Arus sungai akan membawanya menuju hilir dan berhenti di tempat yang hanya mereka yang tahu. Hutan itu dipenuhi pohon saninten, jamuju, kihujan, dan jati. Suara sungai dan hewan-hewan malam mengisi kesunyian. Mereka harus terus mengawasi keadaan.

end

ISEDM 2016

Selama dua hari kemarin, saya berkesempatan menjadi panitia ISEDM, sebuah simposium internasional mengenai bencana alam dan mitigasinya. Saya baru bergabung ketika hari pelaksanaan. Kembali lagi saya merasakan bagaimana peran sebagai panitia suatu kegiatan. Berkenalan dengan orang-orang baru dan mendapat ilmu pengetahuan serta wawasan yang berbeda. Dari latar belakang geologi, saya memandang bahwa suatu permasalahan memerlukan integrasi dari berbagai disiplin ilmu untuk saling melengkapi dan di sanalah diperoleh suatu solusi yang komprehensif.dsc_0592Indonesia Raya Menggaung di CRCS

dsc_0625

Peserta mulai memadati arena simposium

Saya sendiri merasakan bahwa untuk bisa mempublikasikan karya penelitian dalam bentuk presentasi maupun salinan poster membutuhkan pengorbanan yang besar dari segi waktu, pikiran, dan tenaga. Ada yang menyiapkan dalam beberapa bulan dan ada juga yang menyiapkan dalam waktu singkat dengan beban kerja yang besar. Setiap dari mereka memiliki ceritanya sendiri.

dsc_0710Sesi diskusi presentasi Kritika Bora asal India

100_7935Best Presenter Rino Salman

Satu hal yang sangat berkesan bagi saya adalah  attitude yang dijaga dalam suatu rangkaian acara simposium selama dua hari kemarin. Bagaimana seluruh ahli dan praktisi di bidang terkait kebencanaan berbagi ide-ide mereka, kemudian diskusi-diskusi yang menghasilkan suatu pencerahan yang saling menular, serta kesempatan bagi yang masih muda untuk berkarya dan mendapatkan pengalaman yang begitu berharga. Banyak partisipan dari luar negeri yang juga turut andil mengikuti simposium ini.

dsc_0042Pak Hasanuddin Z. Abidin akan memaparkan presentasi subsidence

Saya juga terkesan dengan kebaikan-kebaikan yang muncul serta semangat-semangat dari para panitia yang tidak hanya sebagai event organizer tetapi juga berpartisipasi aktif mengemukakan ide-ide penelitian mereka.

dsc_0830Sesi foto bersama panitia

Apa-apa yang baik bisa ditemukan dalam simposium ISEDM, dari sanalah saya belajar banyak hal.

Terimakasih panitia ISEDM 2016 dan sukses selalu!

dsc_0049

 

Engineering Geologist Roles and Responsibility

A. Aturan dan Tanggung Jawab Engineering Geologist

Tanggung jawab utama dari ahli geologi rekayasa adalah “getting the geology right” (Fookes, 1997 dalam Hencher 2012) dan “assessing the adequacy of investigation and its reporting” (Knill, 2002 dalam Hencher 2012), tetapi seorang engineering geologist yang berpengalaman dengan pelatihan yang tepat dapat pergi lebih jauh hingga membuat desain penuh sebuah struktur geoteknik. Demikian pula, beberapa insinyur geoteknik menjadi sangat berpengetahuan tentang geologi dan proses geologi melalui pelatihan, studi, dan pengalaman dan benar-benar bisa dipanggil sebagai seorang engineering geologist. Seorang engineering geologist sering dapat memberi kontribusi penting pada awal proyek dalam perencanaan dan desain investigasi untuk suatu lokasi dan memastikan bahwa kontrak dengan resikonya tepat.

Kontribusi utama seorang engineering geologist dalam sebuah proyek di antaranya:

  • Pengungkapan sejarah geologi di sebuah lokasi. Hal ini berkaitan dengan pengetahuan lokal dan regional, pemeriksaan dokumen yang ada, termasuk peta dan foto udara, dan penafsiran dari batuan yang tersingkap serta ekspresi geomorfologi. Geologi harus menjadi titik awal dari model dasar yang memadai untuk desain.
  • Prediksi perubahan dan dampak yang bisa terjadi di masa rekayasa struktur (mungkin 50-100 tahun). Pada beberapa lokasi, kerusakan parah dapat diantisipasi karena paparan elemen dengan pengembangan, penyusutan, dan gelindingan material. Lokasi dapat terkena bahaya lingkungan termasuk hujan biasa, gempa, tsunami, subsidence, settlement, banjir, erosi permukaan dan bawah permukaan serta longsoran.
  • Mengenali pengaruh geologi Kuarter, termasuk glasiasi terakhir, naik dan turunnya di permukaan laut, potensi menghadapi saluran tertimbun di bawah sungai dan muara.
  • Mengidentifikasi pola pelapukan masa lampau, kemungkinan lokalitas dan batas zona pelapukan.
  • Memastikan investigasi yang tepat dan hemat biaya dan pengujian yang berfokus pada ciri-ciri penting yang khusus untuk suatu lokasi dan proyek.
  • Penyusunan model tanah yang memadai, termasuk kondisi tanah, untuk memungkinkan analisis yang tepat dan prediksi kinerja proyek.
  • Kemampuan untuk mengenali potensi bahaya dan risiko residual, bahkan mengikuti investigasi yang berkualitas tinggi.
  • Identifikasi agregat dan bahan konstruksi lainnya; pembuangan limbah.
  • Mengenai manajemen proyek, ia harus mampu meramalkan kesulitan dengan kontrak yang tidak memadai yang tidak memungkinkan fleksibilitas jika mereka menemukan kondisi tanah yang buruk.

Ground engineering membutuhkan penggambaran spesifik proyek dari kondisi tanah bawah permukaan. Aspek utama yang terlibat merupakan ”Segitiga Geologi Teknik” (Gambar 1). Segitiga ini berpusat di sekitar kegiatan rekayasa geologi utama dari karakterisasi lokasi dan sintesis berdasarkan pemahaman genetik materi geologi, struktur, dan proses.

untitled6

Gambar 1. Segitiga Geologi Teknik.

Tujuannya adalah mendirikan model geologi komprehensif. Model ini membutuhkan spesifikasi dari dua fitur umum, yaitu komposisi dan kondisi batas geologi.

Komposisi tanah dan proses geologi yang berlaku di lokasi diidentifikasi paling jelas dan ditetapkan jika mereka dianggap dalam konteks genetik. Ini menempatkan geologi teknik sebagai ilmu geologi. Kondisi geologi saat ini dan lanskap adalah hasil dari masa lalu dan proses geologi yang sedang berlangsung, yang dapat menimbulkan bahaya ke struktur rekayasa ground. Desain dan konstruksi dari struktur berkelanjutan membutuhkan pemahaman dan akomodasi proses ini.

Rekayasa geologi akan hampir selalu bekerja dalam tim dan perlu mengambil tanggung jawab untuk perannya di dalam tim geoteknik. Jika ada kondisi geologi yang tidak diketahui dan bahaya yang signifikan, ia perlu membuat dirinya mendengar menggunakan terminologi yang dipahami oleh rekan engineering nya.

Geologi rekayasa memerlukan kuantifikasi mode geologi. Hoek (1999) dalam Hencher (2012) menggambarkan proses seperti “putting numbers to geology”. Hal ini bukan untuk mengatakan bahwa ahli geologi murni tidak mengambil pendekatan kuantitatif, yang mereka lakukan misalnya dalam menganalisis proses sedimen, struktur geologi, dan dalam geokronologi. Bagaimanapun, seorang geologis biasanya memiliki perhatian dalam proses yang relatif lambat dan tingkat stress yang sangat tinggi pada kedalaman yang tinggi. Perilaku tanah dan batuan dalam jangka pendek (hari dan bulan) dan pada stress yang relatif rendah adalah wilayah mekanika tanah dan mekanika batuan. Pengetahuan tentang prinsip-prinsip dan praktek mekanika tanah dan batuan penting bagi ahli geologi rekayasa. Ini termasuk kekuatan, kompresibilitas, dan permeabilitas pada materi dan skala massa, prinsip tegangan efektif, perubahan yang disebabkan regangan, kondisi kritis, dan dilatasi massa batuan.

Seperti yang dapat dilihat dari Gambar 2, geologi rekayasa dipandang sebagai salah satu disiplin ilmu intrinsik untuk ground engineering dalam arti luas. Meskipun berbasis pada bidang ilmiah non rekayasa, geologi teknik diposisikan pada tingkat hirarki yang sama seperti mekanika tanah dan mekanika batuan, berinteraksi dengan mereka dalam banyak aspek. Tidak ada ruang untuk beberapa pandangan tradisional lagi bahwa ‘‘engineering geology’s role …… is essentially that of a service agent’’ untuk engineer (Fookes, 1997 dalam Hencher, 2012). Jelas, dalam konteks ground engineering yang lebih luas, ‘‘all aspects must be kept in balance and no pertinent aspect should be omitted’’ (Knill, 2002 dalam Hencher, 2012).

untitled5

Gambar 2. Posisi mekanika tanah, mekanika batuan, geologi rekayasa, dan masyarakat internasional asosiasi dalam ground engineering (dimodifikasi JEWG, 2004 dalam Hencher, 2012).

Referensi:

Bock, H., 2006, Common ground in engineering geology, soil mechanics and rock mechanics: past, present and future, Bull. Eng. Geol. Env, 65: 209-216.

Hencher, S., 2012, Practical Engineering Geology, Applied Geotechnics, 4, Spon Press.

B. Feasibility Study

Dalam investigasi, feasibility study termasuk ke dalam tahap awal dari suatu tahapan investigasi. Feasibility Study ini terdiri dari tahap konsepsi proyek (project conception stage) dan tahap investigasi pendahuluan (preliminary investigation stage).

Project Conception Stage

Setelah ditentukan bahwa suatu proyek akan dilaksanakan, sebuah studi awal dilakukan berdasarkan semua data geoteknik, geologi, dan topografi yang tersedia. Lokasi yang diusulkan dan lingkungannya sebaiknya diuji oleh seorang ahli geologi rekayasa yang berpengalaman. Tujuan dari tahap ini adalah untuk mencoba mengidentifikasi masalah potensial yang mungkin terjadi dari kondisi geoteknik lokasi yang berhubungan dengan pekerjaan rekayasa yang diusulkan. Dalam hal ini, istilah Site Investigation diambil oleh kebanyakan untuk merepresentasikan investigasi lokasi termasuk kegunaan masa lalunya, kepemilikan, dan akses. Sebuah investigasi ground dari suatu lokasi disebut sebagai Ground Investigation dan bagian dari Site Investigation. Engineering geologist biasanya fokus pada kedua aspek pekerjaan ini. Data geoteknik, geologi, dan topografi sebaiknya mencakup: semua peta topografi yang tersedia, semua peta geologi dan hidrogeologi, memoar, artikel yang dipublikasi di jurnal ilmiah yang tersedia, foto udara pada semua skala, rekaman bahaya alam seperti gempabumi, badai, dan longsoran, investigasi lokasi dan laporan konstruksi untuk proyek rekayasa yang berdekatan, artikel publikasi properti geoteknik dari unit geologi yang ditemukan di lokasi, data hidrogeologi dan hidrologi, rekaman aktivitas manusia di masa lalu, masa sekarang, dan masa depan yang dapat mempengaruhi lingkungan geologi.

Rekomendasi suatu lokasi yang diuji oleh seorang ahli geologi rekayasa mungkin dapat dianggap sebagai ambang batas publikasi diri dalam buku yang ditulis olehnya. Bagaimanapun, tidak ada keraguan bahwa signifikansi dan bahkan kehadiran ciri geologi penting dari suatu lokasi dapat secara cepat dikenali oleh orang yang memiliki kemampuan dalam pekerjaan ini. Sebuah kerja dengan sedikit hari oleh ahli geologi rekayasa dapat menghemat banyak waktu dan masalah seperti uang.

Preliminary Investigation Stage

Evaluasi proyek dalam tahap konsepsi mungkin menunjukkan celah signifikan dalam pengetahuan dasar suatu lokasi, sehingga memungkinkan tidak adanya pengenalan masalah. Dalam sebuah kasus,. beberapa investigasi pendahuluan mungkin dibutuhkan untuk membuat pengetahuan dasar tersebut. Hal ini akan diperoleh menggunakan teknik yang relatif sederhana dan murah seperti laporan yang masih ada (peta dan foto udara), pemetaan geologi dan geologi teknik, geofisik, dan mungkin beberapa lubang bor. Lubang bor dapat diperoleh sebagian sebagai sebuah eksperimen untuk menentukan metode terbaik untuk pemboran, sampling, dan pengujian insitu yang akan dilakukan dalam tahap utama investigasi. Pada akhir tahap ini, sebaiknya ada pengetahuan yang cukup untuk memungkinkan desain dari investigasi ground utama.

Referensi:

Price, D. G., 2009, Engineering Geologi: Principles and Practice, Springer, Verlag.

LESSON LEARN FROM GEOLOGICAL CASES

Luar Negeri

A. Bendungan Malpasset, Perancis, tahun 1959

Sekitar 15 km dari Fréjus, sebuah kota Romawi kuno di Côte d’Azur, sepanjang Laut Mediterania, di sebuah tempat bernama Malpasset, sebuah bendungan telah dirancang dan dibangun tahun 1950-an untuk menyediakan irigasi dan air minum dari sungai kecil bernama Reyran.

Hanya failure yang menyadarkan dua ciri massa batuan yang terbukti instrumental. Sebuah blok besar batuan fondasi yang hilang adalah bagian kiri dari setengah busur bendungan, meninggalkan penggalian dalam bentuk dihedral yang dibatasi oleh dua muka bidang. Muka hilir adalah bidang sesar yang ditutupi oleh batuan hancur. Muka hulu terlihat sebagai satu set sobekan sepanjang dua atau lebih permukaan foliasi, tanpa batuan hancur.

Pada banyak lokasi bendungan dengan garis kontur yang memperlihatkan sebuah zona lemah, penyelidikan menggunakan parit bukan boreholes. Aksi pembersihan aliran membuat jalur sesar terlihat di tepi kanan dan memperlihatkan penampang melintang di kedua bank toe.

Pada skala matriks batuan, beberapa sampel (Goguel, 2010b dalam Duffaut, 2013) mengungkapkan batuan lebih cenderung dihedral yang mengandung serisit lebih daripada di tempat lain, sebuah mineral mika yang rentan terhadap peningkatan deformabilitas dan penurunan kekuatan. Dia menulis: “I think . . . the failure is due to thepoor mechanical strength of a gneiss which happens to contain dis-persed sericite” (pengamatan ini tidak diikuti dengan tes kekuatan dan deformabilitas, dan tidak ada blok batu dari dihedral yang disampling untuk memeriksa pengaruh ini). Pelapukan gneis telah ditunjukkan oleh beberapa ahli, tapi tidak ada pengamatan yang  menegaskan pengaruhnya; tidak adanya lereng yang menggelincir pada bagian hulu bendungan selama drawdown cepat dan keadaan yang sempurna dari saluran air di ketinggian menengah terbukti merupakan kekuatan global dari lereng.

capture

Fitur yang paling mencolok dari lokasi yang terkena failure. Gambar atas, penggalian “dihedral” dengan setengah blok yang naik jatuh setelah aliran; Gambar bawah, sebuah celah lebar terbuka pada bagian hulu dari lengkungan beton, yang lebih luas di dasar dan penutupan lebih tinggi (Duffaut, 1960).

untitled

Gambar dekat dari penampang sesar utama di tepi kanan. Batas yang hancur dari zona sesar terlihat jelas, ketebalan mencapai meteran (Duffaut, 1960).

Referensi:

Duffaut, P., 2013, The traps behind the failure of Malpasset arch dam, France, in 1959,           Journal of Rock Mechanics and Geotechnical Engineering, 5, hal. 335-341.

B. Gempabumi Kobe, Jepang

Pada tanggal 17 Januari, 1995 pukul 05:47 waktu setempat, gempa berkekuatan 7,2 Magnitude (Japan Meteorlogical Agency Scale) mengguncang Kobe, Jepang dan kawasan sekitarnya. Gempa Kobe (Hyogo Ken Nanbu Gempa) berlangsung selama hampir 15 detik yang menewaskan lebih dari 5.000 orang, melukai lebih dari 26.000 orang, menggusur 300.000 penduduk, menghancurkan lebih dari 150.000 bangunan, dan total kerugian ekonomi diperkirakan 20 triliun Yen (200 miliar Dolar AS) (Akai, 1995).

Kobe Jepang terletak di wilayah yang rawan gempa yang didominasi oleh sistem patahan kompleks (Akai, 1995). Wilayah Hanshin dan Pulau Awaji dipengaruhi oleh subduksi Lempeng Filipina dan Lempeng Pasifik. Pantai utara Jepang mengalami getaran tanah terbesar. Dengan kedalaman fokus 16 km dan durasi 15 detik, gempa menyebabkan perpindahan 1,7 m pada permukaan lateral dan 1,0 m perpindahan tanah vertikal. Peak Ground Acceleration (PGA) sebesar 0,5g, tapi sejumlah lokasi mengalami PGA melebihi 0,8g (Chung, 1996). Panjang rupture secara keseluruhan adalah sekitar 30 sampai 50 kilometer (Dickenson, 1996).

untitled2

Peta percepatan spektral Gempa Kobe, Jepang 1995 Kredit: Survei Geologi AS.

Bagian besar dari Pulau Kobe dan Rokko adalah lahan timbunan buatan (Dickenson, 1996). Profil tanah keseluruhan dari kota Kobe terdiri dari pasir yang diendapkan di permukaan, kemudian 10-15 meteran lapisan lempung marin lunak, diikuti oleh lapisan tebal kerikil dan pasir, yang diikuti oleh lempung Pleistosen getas (Brebbia, 1996).

Gambar di bawah ini menunjukkan profil tanah asli, yang kini memiliki lapisan pasir lepas yang diendapkan di atas. Pulau buatan ini diciptakan dengan menempatkan granit berpasir di atas tanah lempung kompresibel. Akibatnya, banyak dari struktur Kobe Jepang dibangun di atas tanah lunak lepas yang menyajikan dua bahaya gempa utama.

untitled3

Profil umum tanah yang rentan terhadap likuifaksi (Brebbia, 1996).

Pertama, likuifaksi yang terjadi. Saat gempa, tanah bergetar yang disebabkan likuifaksi dari tanah lepas dengan perkiraan luas 17 kilometer persegi (Chung, 1996). Sebagai tanah lunak dengan jumlah besar pasir dan air, proses likuifaksi diperkuat oleh percepatan tanah maksimum hampir 0,8g di beberapa lokasi. Kedua, masalah setttlement yang berkaitan dengan tanah lunak yang berkontribusi terhadap kinerja seismik yang buruk dari bangunan. Dengan kadar air yang tinggi di tanah lempung marin, pasir diendapkan dan granit menghasilkan settlement rata-rata 4 meter dan masih terjadi hingga sekarang (Brebbia, 1996).

Kedua pulau mengalami likuifaksi dan penurunan tanah sebesar 30-60 cm. Failure tanah pantai yang luas dilaporkan sepanjang pantai barat pulau pelabuhan dan sepanjang bagian selatan dari pulau Rokko. Timbunan granular di belakang struktur garis pantai menjadi miring dan rusak (Brebbia, 1996). Citra satelit mengungkapkan failure tanah pulau pelabuhan mencapai 2-3 meter gerakan horisontal serta 1 meter settlement (Brebbia, 1996).

Referensi:

Akai, Koichi, dan Bray, J. D., 1995, Geotechnical reconnaisance of the effects of the january 17, 1995, Hyogoken Nanbu Earthquake, JapanEarthquake Engineering Research Center Report.

Brebbia, C. A., 1996, The Kobe Earthquake: Geodynamical Aspects, Computational Mechanics Publications, Southampton, UK.

Chung, R. M., 1996, The January 17, 1995, Hyogoken Nanbu (Kobe) Earthquake: Performance of Structures, Lifelines, and Fire Protection Systems. Gaithersbrug, MD: The Institute.

Dickenson, S.E. dan Stuart D. W., 1996, Hyogoken Nanbu Earthquake of January 17, 1995. New York, NY: American Society of Civil Engineers.

Dalam Negeri

A. Bendungan Situ Gintung

Situ Gintung, lokasi yang terletak di suburban Cirendeu, Ciputat, Kabupaten Tangerang. Bendungan failure pada tanggal 27 Maret 2009, mengeringkan waduk, terjadi banjir yang menewaskan sedikitnya 100 orang.

untitled4

Lokasi Situ Gintung

Penggunaan asli dari bendungan telah menahan air untuk irigasi sawah yang kemudian digantikan oleh pembangunan perkotaan. Orang yang tinggal di dekat bendungan telah membuat keluhan tentang kebocoran di masa lalu dan bendungan benar-benar jebol pada bulan November 2008 namun tidak ada kerusakan yang terjadi. Daerah mengalami hujan deras beberapa jam pada malam 26/27 Maret, 2009 yang menyebabkan level waduk meningkat. Retakan dilaporkan terlihat di wajah tanggul bendungan sekitar tengah malam. Banyak orang terjebak di kota dan banyak naik ke atap rumah mereka untuk menghindari banjir.

Referensi:

U.S. Department of the Interior Bureau of Reclamation, 2014, RCEM-Reclamation Consequence Estimating Methodology, Interim Draft.

B. Tol Ungaran-Bawen

Jalan tol Semarang-Solo terbagi menjadi 5 (lima) seksi, yaitu  Seksi I Semarang – Ungaran, Seksi II (11 KM) telah dioperasikan sejak 10 Nopember 2011, Seksi II Ungaran – Bawen (11,95 km), Seksi III Bawen-Salatiga sepanjang 17, 93 Km, Seksi IV Salatiga – Bojolali sepanjang 24,13 KM, dan Seksi V Boyolali – Solo sepanjang 8,4 KM.

Belum genap satu bulan beroperasi dan diresmikan Menteri PU Djoko Kirmanto, badan jalan Tol Seksi 2 Semarang-Solo (SS) ruas Ungaran-Bawen di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah ambles. Kerusakan ini terjadi di ruas jalan kilometer (KM) 34+600, atau tepatnya di bagian pangkal jembatan Lemah Ireng 1 tahun 2014. Bangunan bawah jembatan yang berfungsi sebagai pemikul beban jembatan tersebut ambles lantaran diduga ada pergerakan tanah berikut talud peno pangnya.

Imbasnya, badan jalan tol sisi timur di sekitar pangkal jembatan ikut ambles hingga membentuk patahan. Adanya pergerakan tanah juga mengakibatkan retakan memanjang pada tanah urugan di sekitar amblesnya badan jalan. Selain itu, memicu ambrolnya talud pangkal jembatan dan membentuk patahan sepanjang hampir 10 meter.

Adanya persoalan infrastruktur tersebut, terjadi penyempitan di lajur tol dari arah Ungaran menuju Bawen, khususnya jelang ujung selatan jembatan sepanjang 879 meter tersebut. PT Trans Marga Jateng (TMJ), selaku pengelola tol Semarang-Solo, telah memasang rambu-rambu peringatan kepada pengguna jalan tol sejak KM 34+200. Termasuk pemasangan pengaman berupa barrier serta traffic cone di sekitar lokasi badan jalan yang ambles.

Referensi:

http://www.waskita.co.id/en/id/index.php/news2/item/500-menteri-pu-resmikan-jalan-tol-ungaran-bawen-seksi-ii-semarang-solo diakses tanggal 14 September 2016 pukul 10.00 WIB.

http://www.merdeka.com/peristiwa/belum-sebulan-diresmikan-jalan-tol-semarang-solo-ambles.html diakses tanggal 14 September 2016 pukul 10.00 WIB.