Nasihat dari seorang Imam …

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman

Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan teman

Berlelah-lelahlah,manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak kerena diam tertahan

Jika mengalir menjadi jernih,jika tidak,akan keruh menggenang

Singa jika tidak tinggalkan sarang tak akan mendapat mangsa

Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari dan orbitnya tidak bergerak dan terus diam

Tentu manusia bosan padanya dan enggan melihat

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang

kayu gahuru tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan

“Imam Syafi’i Rahimahullah”

Apa enaknya ngajar?

Sesaat setelah lulus S1, saya berpikir akan mudah untuk melamar kerja karena sudah ada Surat Keterangan Lulus. Tapi ternyata tidak, kerja saat itu susah dicari. Apalagi untuk bertahan hidup di Kota Besar seperti Bandung perlu biaya juga. Saya bukan tipe orang yang bisa nabung dengan baik. Beasiswa yang saya terima waktu itu sudah habis, karena juga dipakai untuk keperluan lapangan selama Tugas Akhir.

Pekerjaan pertama saya adalah mengajar bimbel fisika di Bintang Pelajar. Waktu itu banyak juga teman-teman satu beasiswa yang ngajar bimbel. Pertama kali ngajar, saya kebagian ngajar anak SMA Negeri di Bandung. Dia sudah lama tinggal di Australia sebelum ke Bandung. Saya grogi ketika ngajar karena suasana ngajar bimbel terasa baru bagi saya. Kondisi ini juga terbaca oleh anak itu. Dia dengan santai bilang ga usah grogi gitu. Setelahnya, karena sudah terbiasa saya mulai menikmati ngajar saya, meski beberapa anak yg saya ajar judes dan ga perhatikan apa yg saya ajar. Tapi saya lanjut saja.

Kemudian, saya belum lupa tentang keinginan kerja di perusahaan tambang atau geologi. Ajakan teman waktu itu untuk pergi ke PT CSD melamar kerja, saya sanggupi. Saya menempuh perjalanan jauh ke Cibaliung untuk bertemu langsung dengan petinggi perusahaan di sana. Selesai obrolan malam hari itu dengan ditemani tontonan UFC, saya kemudian lanjut pulang Bandung karena ada shift ngajar. Bagi saya, pertemuan dengan PT CSD membuat pilihan yang tak menentu, ada ketidakyakinan dalam diri karena melihat situasi yang ‘keras’, sepertinya tidak cocok untuk saya yang masih bermental ‘lembek’. Hehe

Setelah itu, saya kemudian ditawarin seorang teman untuk ngajar persiapan siswa SMA Negeri di Bandung untuk Olimpiade Sains Tingkat Kota. Ternyata salahsatu muridnya, adalah murid saya di Bintang Pelajar.

Ngajar Olimpiade Kebumian karena background saya geologi menjadi suasana baru lainnya. Saya mesti belajar materi lain seperti meteorologi, oseanografi, dan astronomi karena Olimpiade Kebumian yang diujikan bukan hanya materi geologi saja. Seterusnya panggilan ngajar olimpiade berlanjut ke Tasik, Purwodadi, dan lainnya. Saat itu saya berkenalan dengan Ka Andre, juga banyak kenalan lain, trainer dari berbagai kampus di Indonesia.

Jadwal ngajar olimpiade kebumian dan bimbel fisika kadang harus saya pilih salahsatu karena jadwalnya bentrok.

Saat ini ketika saya masih S2, hanya bimbel fisika yang saya keluar kerja karena ingin fokus mendalami ilmu geologi rekayasa. Untuk ngajar Olimpiade Kebumian terus lanjut karena masih berkaitan dengan keilmuan geologi.

Mengajar memang butuh kesabaran. Saat di Purwodadi, saya harus rela bersabar meluangkan waktu ekstra untuk memahami materi selain geologi. Ketika di Lampung, saya harus bersabar untuk berpikir keras memecahkan pertanyaan siswa karena siswa yang saya ajar lebih ‘pintar’ dari saya, karena tembus OSN Nasional tahun sebelumnya.

Ngajar bagi saya enak-enak saja. Saya bisa mengukur sejauh mana pemahaman saya terhadap suatu ilmu, bagaimana proses mengkomunikasikan itu kepada orang lain. Saya juga seperti punya ‘ruh’ sendiri untuk mengajar. Mungkin inikah panggilan alam? Hehe

Untuk kemudian, saya pada akhirnya mesti bersyukur karena lebih banyak lagi orang-orang yang belum memiliki pekerjaan. Apalagi mengajar bagi saya, memberikan pengalaman batin tersendiri. Salahsatunya bahwa dalam kehidupan di dunia ini, seseorang pastilah punya ‘guru’ baik guru sekolah resmi maupun guru kehidupan yang mengajarkan dia pengetahuan maupun arti kehidupan.

Ditulis: saat ini dalam perjalanan Kereta Ciremai Express menuju Tegal, untuk melanjutkan kembali ‘jam terbang’ ngajar. Seperti biasa, jantung ini berdegup kencang, adrenalin terpacu karena ‘sesuatu yang baru’ sedang menunggu untuk diambil hikmahnya.

5 Februari 2017.

 

Meninjau Longsoran di Kp. Cikatomas, Ds. Citatah, Kec. Cipatat, KBB

Longsoran yang berada di Kampung Cikatomas telah menyebabkan sekitar seratusan warga mengungsi ke daerah aman. Longsoran yang terjadi disinyalir memiliki beberapa kali kejadian dan berlangsung sete…

Sumber: Meninjau Longsoran di Kp. Cikatomas, Ds. Citatah, Kec. Cipatat, KBB

Meninjau Longsoran di Kp. Cikatomas, Ds. Citatah, Kec. Cipatat, KBB

Longsoran yang berada di Kampung Cikatomas telah menyebabkan sekitar seratusan warga mengungsi ke daerah aman. Longsoran yang terjadi disinyalir memiliki beberapa kali kejadian dan berlangsung setelah hujan lebat turun beberapa waktu sebelum longsor terjadi. Gambar 1 menunjukkan lokasi longsoran.

earth-longsoran2

earth-longsoran Gambar 1. Peta lokasi kejadian longsor Cikatomas (Google Earth, 2016).

Berdasarkan peta geologi regional (Gambar 2), litologi yang terdapat di Cikatomas dan sekitarnya terdiri dari Formasi Citarum, Anggota Batupasir dan Batulanau (Mts) yang tersusun oleh batupasir berlapis sempurna berselingan dengan batulanau, batulempung, greywacke, dan breksi. Formasi ini menunjukkan sifat khas turbidit. Struktur sedimen seperti perlapisan bersusun, “concolute lamination”, “current ripple lamination”, tapak-tapak cacing, dan lain-lain terlihat berlimpah-limpah. Selain itu, terdapat Hasil Gunungapi Tua (Qob) yang tersusun oleh breksi gunungapi, breksi aliran, endapan lahar, dan lava menunjukkan kekar lempeng dan tiang. Susunannya antara andesit dan basal.
v

Gambar 2. Peta geologi daerah Cikatomas dan Sekitarnya (Sudjatmiko, 1972).

Sebelum memasuki lokasi kejadian longsor, kami mendapat informasi yang diperoleh dari warga ketika kami mencapai jalan menuju lokasi, bahwa para warga sudah dan masih ada yang sedang mengungsi ke desa sebelah, kemudian diketahui juga terdapat saluran air yang diduga mempengaruhi kejadian longsor. Selain itu, terdapat kupasan lereng yang mungkin juga mengganggu kestabilan lereng dan ada juga pabrik yang baru dibangun berjarak tidak lebih dari 300 m terhadap lokasi kejadian longsoran. Informasi dari warga tersebut coba kami buktikan ke lokasi longsoran secara langsung untuk mengamati lebih rinci.

Kami menyusuri jalan menuju Kampung Cikatomas yang berada di pinggir pabrik yang baru dibangun, tidak lama kami tiba pada turunan jalan dan menemukan jalanan yang mengalami retakan dan turunan (Foto 1).

sdc19239

Foto 1. Retakan pada jalan warga.

Semakin ke bawah retakan dan penurunan jalan itu semakin intensif dan semakin parah. Kemudian tepat di arah tenggara jalan pada tepi kanan, kami melihat pemandangan longsoran yang memiliki dimensi panjang mahkota sekitar 100 m dan berarah azimuth timurlaut (N600E). Kami mencoba mendekati lokasi mahkota longsoran tersebut. Kami melihat terdapat beberapa mahkota longsoran yang terbentuk (Foto 2).

sdc19255

Foto 2. Mahkota longsoran

Nampaknya ada yang terbentuk lebih awal dan terbentuk lebih akhir. Kami juga menafsirkan bidang gelincir yang ada dari kenampakan mahkota dan longsoran material di bawahnya adalah sebagai kontrol dari derajat pelapukan material hasil pelapukan Qob yang merupakan produk vulkanik. Material yang kami amati berupa tuf lapilli berwarna coklat kekuningan dengan tingkat pelapukan terlapukan sempurna hingga tanah residual (Foto 3).

sdc19277 sdc19271

Foto 3. Tuf lapili

Tanah residual memperlihatkan warna coklat kemerahan. Kemudian tepat pada area bawah mahkota, kami dapat mengamati material longsoran yang masih jenuh oleh air dan terdapat beberapa titik yang memperlihatkan adanya air yang terperangkap seperti kolam (Foto 4).

sdc19250 sdc19283

Foto 4. Air terperangkap pada material longsoran.

Hal ini kami perkirakan bahwa pengaruh air yang masuk ke dalam material yang loose dari tanah hasil pelapukan tuf lapilli ini. Banyaknya selang-selang pengaliran air yang digunakan warga sebagai sumber air dan mengarah ke arah mahkota longsoran mengindikasikan adanya sumber mata air di bagian sekitar mahkota longsoran ini. Hal ini selaras dengan kondisi material di sekitar sumber air yang memang berupa tanah hasil pelapukan dari tuf lapilli yang memiliki porositas dan permeabilitas yang baik. Selanjutnya ke arah bawah longsoran (dalam hal ini ke arah N60°E menjauhi mahkota), kami mengamati adanya retakan-retakan tanah yang paralel dan tegak lurus dengan jurus mahkota, yang mengalami penurunan dengan arah retakannya bervariasi dan terlihat material berupa tanah yang masih memiliki kejenuhan air cukup hingga tinggi, tetapi tidak sejenuh material yang persis berada di bawah mahkota (Foto 5).

sdc19263 sdc19267

Foto 5. Retakan yang menyebabkan penurunan material lereng.

Berdasar pada pengamatan-pengamatan tersebut, kami mendapati kesimpulan bahwa longsor ini disebabkan oleh faktor material lereng berupa hasil pelapukan tuf lapilli kemudian dipicu oleh air hujan dan menjadi jenuh sehingga failure terbentuk di bidang gelincir yang dikontrol oleh derajat pelapukan yang berbeda dari material lereng. Hingga kemudian, kami mengamati hal yang menarik pada bagian bawah longsoran secara keseluruhan, tepatnya di tepi sungai, pada bagian toe longsoran.

Kami menuruni jalan aspal yang sudah mengalami retakan dan penurunan yang parah, bertemu dengan warga yang memberikan informasi yang cukup menarik bahwa kejadian longsoran di kampung ini terjadi dengan waktu kejadian berbeda yang dimulai pada bagian bawah dulu (dekat sungai, kaki lereng), kemudian terakhir pada bagian atas longsoran (mahkota). Sepanjang kami berjalan menuju sungai, rumah-rumah warga mengalami keruntuhan, retakan tembok, posisi miring, dan hancur karena terganggu oleh pondasi tanah yang mengalami retakan dan longsoran (Foto 6).

sdc19304 sdc19308

Foto 6. Rumah warga yang retak dan terganggu kondisinya.

Kami juga mengamati adanya beberapa retakan jalan pada bagian yang menuju toe longsoran dengan orientasi N210°E dan N60°E (tegak lurus mahkota) dan kuantitasnya terbilang intensif dengan spasi sekitar 0,5 – 1 m.

Kami akhirnya tiba pada bagian toe longsoran dan mungkinkah yang terjadi adalah longsoran akibat torehan sungai. Dengan mengintegrasikan informasi dari warga, kami mendapati kesimpulan lain bahwa longsoran disebabkan oleh torehan sungai yang mengikis bagian kaki longsoran sehingga kestabilannya terganggu dan menyebabkan longsoran secara propagasi yang dimulai pada bagian kaki kemudian menerus pada bagian atas.

Kami selanjutnya mendapati hal lain lagi yang menarik bahwa pada bagian toe longsoran (yang berada persis di tepi sungai) terdapat perbedaan litologi. Pengamatan dilakukan secara visual jarak jauh karena keterbatasan akses. Kami menduga pada tepi kanan sungai (dilihat ke arah hilir) adalah Mts yang merupakan batuan sedimen berupa batupasir berlapis sempurna, berselingan dengan batulanau, batulempung, dan greywacke (Foto 7).

sdc19334

Foto 7. Foto yang diduga bagian dari formasi Mts (foto kurang jelas dan kami kesulitan untuk mengakses singkapan lebih dekat).

Akan tetapi kami tidak dapat mengamati secara detil. Perbedaan terlihat dari warna dan tekstur (melalui penglihatan secara jauh) dari batuan tersebut. Berbeda dengan material pada tepi kiri sungai (dilihat ke arah hilir) yang masih merupakan bagian dari hasil pelapukan Qob. Kami mengambil beberapa sampel tanah dan batuan tuf lapilli formasi Qob (Foto 8).

sdc19325

Foto 8. Longsoran pada tepi sungai dengan material hasil pelapukan Qob.

Berikutnya, kami juga mendapati adanya retakan dan penurunan tanah persis pada dasar sungai (sungai ikut turun membentuk air terjun) dengan tinggi mencapai 1 m. Kemudian diketahui melalui informasi dari warga, bahwa sungai ini mengalami perubahan jalur sungai menjadi seperti sekarang karena jalur sungai sebelumnya telah tertimbun oleh material longsoran pada bagian lereng di tepi atas sungai (Foto 9).

sdc19330 sdc19329

Foto 9. Retakan dan penurunan pada dasar sungai sehingga terbentuk air terjun (kiri). Longsoran pada bagian tepi sungai (kanan).

 

Apakah longsoran yang terjadi sebenarnya adalah longsoran dengan bidang gelincir deep seated ?

Selanjutnya, kami melewati jembatan yang mengangkangi sungai untuk menuju lereng yang berlawanan dengan lereng yang longsor. Pada lereng ini material yang sama kami dapati, yaitu tuf lapilli dengan pelapukan tinggi hingga tanah residual. Kami mendapati posisi pemandangan longsoran secara keseluruhan (Foto 10). Pada posisi di lereng seberang sungai yang tidak longsor ini, kami mengamati bahwa dimensi dari longsoran sesungguhnya besar dengan dimensi lebar mencapai 125 m dan panjang longsoran dari mahkota hingga toe longsoran di tepi sungai 155 m. Kami juga mendapati bahwa posisi longsoran ini memang berada pada bagian cutoff sungai dan memiliki potensi untuk mengalami pergerakan berikutnya yang dapat menimbulkan bahaya. Hal ini juga selaras dengan informasi yang diperoleh bahwa pergerakan longsoran terjadi beberapa kali kejadian.

x y

Foto 10. Pemandangan keseluruhan longsoran.

Sketsa penampang longsor Cikatomas.

sketsa

CATATAN AKHIR

  • Perlu dipastikan kembali, apakah perbedaan litologi (antara Qob dan Mts) berpengaruh pada terbentuknya bidang gelincir yang utama.
  • Berdasar keterangan warga, longsor berkembang dimulai pada bagian toe di sungai kemudian bagian atas toe turun secara perlahan hingga bidang geincir pada mahkota (pengaruh degree of weathering)
  • Penyebab:
    • Kontak Qob dan Mts sehingga terbentuk bidang gelincir deep seated.
    • Adanya retakan dan penurunan di tepi kanan sungai, mengindikasikan adanya bidang gelincir deep seated.
    • Gerakan tanah akibat bidang yang deep seated ini menghasilkan ketidakstabilan dan memicu longsoran di permukaan (di tepi sungai, yang dikuatkan oleh torehan arus sungai, dan di bagian atas/mahkota)
  • Faktor pemicu:
    • Hujan lebat membuat material menjadi jenuh, tekanan pori meningkat, dan berperan sebagai lubricant sehingga terjadi failure pada bidang gelincir.
    • Material longsoran adalah tanah atau batuan lapuk dari Qob. Faktor material ini memungkinkan terjadinya failure akibat penjenuhan dari air hujan yang terjadi beberapa waktu sebelumnya.
  • Perlu studi lanjut untuk memvalidasi keberadaan longsoran deep seated:
    • Pengambilan foto udara (dengan drone) untuk dapat melihat luasan daerah yang mengalami pergerakan.
    • Studi geofisika untuk menentukan bidang gelincir.
    • Mengukur pergerakan di permukaan dengan pengukuran geodetik.
  • Jika benar ada longsoran deep seated, maka lokasi bencana (Kapung Cikatomas) tidak dapat kembali dijadikan pemukiman karena akan selalu terjadi pergerakan, serta perlu dipastikan juga terkait potensi longsoran deep seated pada sisi kanan (timurlaut) sungai. Berhubung ada perkampungan penduduk di bagian tersebut.

 

Referensi:

Pengamatan (observasi) langsung ke lapangan.

Cikatomas, 2016, diunduh dari Google Earth tanggal 25 November 2016.

Sudjatmiko, 1972, Peta Geologi Lembar Cianjur, Jawa, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung.

REVIEW Australian Standard AS 1726 – 1993 Geotechnical Site Investigations

Australian Standard AS 1726 – 1993 Geotechnical Site Investigations dibuat oleh panitia CE/15 yang dipublikasikan oleh Standards Association of Australia pada tanggal 13 April 1993. Standar ini memiliki jumlah 40 halaman dengan konten berupa scope, aplikasi, dokumen referensi dan yang berkaitan, definisi, perencanaan dan desain dari suatu investigasi geoteknik, metode investigasi, pelaporan, dan review konstruksi serta monitoring pelaksanaan. Kemudian juga terdapat lampiran yang berisi penjelasan deskripsi dan klasifikasi tanah dan batuan untuk tujuan geoteknik, metode uji lapangan, pengujian laboratorium, rangkuman proyek tipikal untuk sebuah investigasi geoteknik, dan komen.

Standar ini dibuat sebagai sebuah pendahuluan (preliminary) untuk konstruksi bangunan dan rekayasa sipil. Prinsip yang digunakan dalam standar ini bertujuan untuk menetapkan secara singkat pertimbangan-pertimbangan yang mempengaruhi desain dan konstruksi kerja yang harus dibuat dalam investigasi geoteknik. Berkaitan dengan hal itu, dalam standar ini akan memunculkan identifikasi lapangan dan kerja laboratorium yang harus diimplementasikan untuk menyediakan data geoteknik yang disyaratkan untuk memfasilitasi desain rekayasa dan konstruksi dari suatu pekerjaan. Beberapa metode yang cocok untuk pengumpulan data dan pengujian material geoteknik dan sistem klasifikasi material ditampilkan pada bagian lampiran.

Beberapa dokumen referensi dan terkait yang digunakan untuk standar ini adalah AS 1289 Methods Of Testing Soils For Engineering Purposes, Australasian Institute of Mining and Metallurgy, Monograph Series No. 9 – Field Geologists (1989), Institution of Engineers, Australia Guidelines for The Provision of Geotechnical Information in Construction Contracts (1987), dan ISRM Commission on Standardization of Laboratory and Field Tests, Suggested Methods for The Quantitative Description of Discontinuities in Rock Masses (1978).

Dalam standar ini, definisi dari geotechnical site investigations adalah proses menilai karakter geoteknik dari suatu lokasi dalam konteks kerja yang ada atau yang diusulkan atau kegunaan lahan. Investigasi tersebut mencakup hal-hal berikut:

  • Evaluasi geologi dan hidrogeologi suatu lokasi.
  • Pemeriksaan informasi geoteknik yang ada yang berdekatan dengan lokasi.
  • Penggalian atau pengeboran tanah atau batuan.
  • Penilaian insitu dari properti geoteknik material.
  • Pengambilan sampel tanah atau batuan untuk pemeriksaan, identifikasi, perekaman, pengujian atau tampilan.
  • Pengujian sampel tanah atau batuan untuk menghitung properti yang berhubungan dengan tujuan investigasi.
  • Pelaporan hasil

Dalam standar ini, deskripsi tanah dijelaskan secara rinci terkait klasifikasi, tekstur, kondisi, dan komposisinya begitu juga dengan batuan. Selain daripada hal itu, dalam batuan istilah yang digunakan dalam deskripsi massa batuan untuk diskontinuitas adalah defect, tetapi propertinya sama yaitu orientasi, spasi, kekasaran, waviness, dan kontinuitas (persistence?). Dalam infilling suatu diskontinuitas atau dalam standar ini digunakan istilah defects, mungkin dapat ditambahkan jenisnya selain clean, stain, veneer, dan coating, yaitu calcite filling, inactive clay mineral, dan swelling clay. Kemudian, klasifikasi pelapukan batuan yang digunakan dalam standar ini menunjukkan 5 tingkat pelapukan, yaitu fresh rock, slightly weathered rock, distinctly weathered rock, extremely weathered rock, dan residual soil. Dalam klasifikasi batuan yang lain, dikenal adanya highly and moderately weathered rock. Maksud distinctly weathered rock bisa saja diperinci menjadi tingkat pelapukan highly and moderately weathered rock.

Sementara itu, berkaitan dengan metode pengujian lapangan, standar ini hanya memberikan penjelasan yang bersifat informatif tanpa rincian prosedur pelaksanaannya. Secara umum informasi yang ditampilkan berupa list-list metode yang ada sifatnya lengkap dan memang diperlukan dalam suatu investigasi geologi teknik.

Untuk analisis potensi bahaya, standar ini secara langsung menyatakan klasifikasi potensi bahayanya yang harus dimasukkan dalam suatu pelaporan, tetapi tidak  menjabarkan jenis-jenis atau macam-macam bahaya yang ada pada suatu lokasi. Seperti halnya untuk kasus gempa perlu dipertimbangkan nilai Peak Ground Acceleration sebagai analaisis dinamis terhadap suatu infrastruktur atau kerja sipil yang ada atau yang diusulkan.

Secara umum, dalam AS 1726 – 1993 Geotechnical Site Investigations ini, penjelasan mengenai uji lapangan dan laboratorium serta pemetaan geologi tidak dijelaskan secara detil sehingga perlu diperbarui ke depannya apakah memakai standar yang berlaku pada standar internasional yang lain atau memang disitir secara umum saja. Selain itu, standar ini terakhir dipublikasi pada tahun 1993 dan membutuhkan publikasi dari standar yang telah diperbarui.

 

Referensi:

Standards Australia Committee, 1993, AS 1726 – 1993 Geotechnical Site Investigations, Standards Australia, Homebush, NSW.

 

Pendaki Hilang

“Wak, di daerah sini ada gunung yang jarang dinaiki orang?”

“Ada”

“Gunung apa Wak? Di mana itu?”

“Gunung Gendereng, dari sini lumayan jauh. Dua jam ke arah Ciguha.”

“Gunung itu jarang ada yang naik, masih banyak hutannya. Kata orang-orang …………………………………… .”

Terputus.

Karta tak bisa bergerak, kakinya sangat sakit, dia tidak lagi bisa mendengar apapun, seperti tuli mendadak. Dalam ketidakberdayaan itu, dia masih bisa merasakan tubuhnya yang basah oleh cipratan air. “Air terjun,” ucapnya lirih. Penglihatannya pelan-pelan menjadi kabur dan berubah menjadi gelap. Masuk ke sebuah lorong yang seolah-olah membawanya ke tempat lain.

Sebulan penuh pencarian itu, melibatkan badan evakuasi nasional dan segenap komunitas pencinta alam. Semua bersatu dalam unit terpadu search and rescue (SAR). Area-area pencarian korban sudah dievaluasi berkali-kali. Tidak ada tanda-tanda yang mengarah kepada keberadaan survivor. Carrier yang masih bersih dan utuh ditemukan. Akan tetapi, barang-barang di dalam kantong gunung berkapasitas delapan puluh liter itu tampak berantakan. Sleeping bag, sepotong flanel, dan celana lapangan tak karuan, bercampur dengan pisau lipat, benang, headlamp, pemantik api, jas hujan, dan berbagai jenis tali. Kotak pertolongan pertama untuk kecelakaan, tercecer semua isinya. Segala macam makanan serta perangkat-perangkatnya dalam kondisi acak. Tidak ada air minum. Tenda tidak ada di dalam carrier, seperti terlempar jauh dari dalam. Seorang laki-laki muda yang turut serta berujar “Iya, ini carrier saya yang dipakai Karta untuk naik.”

Kasus hilangnya pendaki di Gunung Gendereng sempat masuk media-media nasional. Sudah cukup banyak kasus sepanjang tahun itu. Tim SAR masih berupaya melakukan penelusuran dan pencarian di daerah operasi. “Gunung ini jarang ada yang daki,” “hutannya masih rimba,” “jika tidak terbiasa di gunung, bisa bahaya,” ujar seorang warga bersuara parau. Bicaranya terpotong-potong disela batuk anehnya.

Wira sedang berpikir ketika koordinator misi mengumpulkan informasi-informasi awal. “Dia sempat ngajak saya buat naik. Saya pikir Karta mau berangkat besoknya setelah saya ujian, tetapi dia tetap pergi hari itu juga.”

Para koordinator serta personil unit nampak berkumpul dengan mimik-mimik serius di salah satu pos pemantau. Warga pemilik warung kopi bilang bahwa Karta menitipkan motor selama tiga hari kepadanya. Tetapi, di hari ketiga, Karta tidak kunjung muncul.

“Apa kamu tahu apa saja yang dibawa Karta?”

“Dia pinjam carrier dan GPS. Perlengkapan lain semestinya dia bawa.”

“Apa dia naik gunung sendirian?”

“Iya, sepertinya tidak ada teman yang diajak selain saya.”

Tiba-tiba Wira mengingat sesuatu. “Ohiya, sore hari ada telepon. Karta bilang sudah sampai di puncak dan mau lanjut jalan.” Besoknya dia hubungi Karta untuk menanyakan keadaan, berkali-kali tidak ada jawaban. Sesuatu mungkin telah terjadi, dia lantas menuju Ciguha. Rasa penasaran dan sedikit kekhawatiran muncul. Tidak ada kabar. Sejak saat itu Karta resmi dinyatakan hilang.

Tempat terakhir keberadaan survivor sudah ditelusuri, nampaknya area pencarian perlu diperluas. Koordinator misi memimpin rapat. Komandan lapangan menggelar peta, membentuk lingkaran di beberapa lokasi sebagai blok pembatas, satu di selatan, dua di barat, dan menarik garis untuk pemasangan string lines. Sejauh ini tiga area yang menjadi fokus perhatian. Daerah-daerah lainnya tidak menghasilkan petunjuk. “Besok kita gunakan detection mode di blok I dan pencarian tipe II di sebelah barat. Masih ada area yang belum tersapu di sekitar sana, kita akan tambah unit.” Malam sudah larut, semua personil beristirahat untuk tugas besok.

Pagi menjelang. Pencarian dimulai lagi. Unit-unit disebar sesuai kebutuhan. Blok-blok pencarian dibuat untuk membatasi area jelajah survivor. Tiap unit melakukan penyisiran dan penelusuran, dipimpin oleh seorang komandan. String lines dan tags berwarna merah dipasang pada batas blok agar survivor bisa teralihkan ke tempat aman kalau-kalau melewati garis itu. Global Positioning System (GPS), kompas, peta, teropong, dan jenis alat lainnya digunakan selama operasi. Setiap unit punya anggota khusus yang peka bau-bauan dan objek-objek vital. Ada blokade di jalur masuk untuk pemeriksaan masuk dan keluar. Perangkap dibuat dengan menggemburkan tanah di lokasi yang kemungkinan dilewati survivor. Personil di pos pemantau melakukan pencarian di tempat-tempat strategis, persimpangan jalan dan pertemuan dua sungai. Selain itu, ada look outs, pengintaian dari tempat tinggi untuk mengamati area yang lebih rendah seperti lembah, tempat-tempat terisolir, dan sungai-sungai di bawah tebing. Pengintai juga selalu awas jika muncul gerakan-gerakan atau semacam tanda yang mungkin berasal dari survivor. Mereka juga membuat tanda-tanda mencolok untuk menarik perhatian survivor dengan membuat asap, bunyi-bunyian, dan sinar. On scene commander memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.

Tidak ada temuan berarti. Sekali waktu, jejak kaki yang muncul tidak mengindikasikan petunjuk sama sekali. Ranting-ranting pohon menyisakan arang-arang basah, sudah hancur, dan mulai bercampur dengan tanah juga demikian. Semua hal temuan lainnya telah diidentifikasi, tak kunjung ada titik terang.

Pada hari ketiga puluh satu semenjak Karta dinyatakan hilang.

Di satu dua tempat nampak area-area gundul, akibat kebakaran atau sebab lain. Diamati pada jarak dekat, lahan dengan sisa-sisa batang pohon yang hangus. “Banyak sekali tempat yang terbakar di sini,” ucap seorang personil.

Unit di blok barat berhasil menemukan sebuah topi berwarna coklat, bermerk salah satu produsen perlengkapan gunung. Benda itu ditemukan saat seorang personil terjatuh menginjak tanah pengaruh hujan semalam. Dia jatuh cukup keras dan tidak sengaja melihat sesuatu di akar Edelweis.

Kondisi lereng curam, lebih berupa tebing andesit, sungai deras mengalir dari  punggungan selatan. Penemuan topi menuntun pencarian di bawah tebing. Tetapi, akses menuju sana tidaklah mudah, dibutuhkan peralatan khusus.

Koordinator dan personil lain sudah berada di lokasi tebing. Lima orang terlatih memasang tripod yang terhubung tali karmantel semi statis, biasa digunakan untuk rescue. Seragam lapangan dan rompi dipakai. Harness, alat penopang tubuh yang terikat di pinggang kemudian dihubungkan dengan tali melalui cincin kait karabiner. Helm dan sepatu panjat sudah dikenakan juga. Lalu, secara hati-hati mereka menurunkan diri dan mengatur kecepatan dengan descender. Pada tebing batu itu, sesekali ditancapkan piton, paku tebing yang dipukul dengan palu khusus untuk mengakali lintasan turun yang rumit. Dentingan terdengar pelan lalu hilang ditelan lembah gunung.   

Untuk waktu yang lama, keluarga korban merasakan kesedihan yang mendalam. Informasi ini terasa memprihatinkan bagi kalangan teman-temannya. Dia dikenal seorang pendiam yang hobi pergi sendirian. Kerisauan batin menuntunnya dalam perjalanan-perjalanan ke tempat-tempat sepi yang membawa ketenangan.

Operasi bawah tebing menemukan Karta dalam kondisi sudah tak bernafas. Menurut hasil otopsi, tidak ada temuan luka selain kaki yang terjepit batu sungai, juga tidak ada tanda-tanda serangan hewan. Belum jelas keberadaan korban ketika tim SAR sedang beroperasi di area pencarian selama sepuluh hari awal, karena pada saat berbarengan korban ternyata diduga masih hidup.

Siang yang cerah, matahari tanpa penghalang memancarkan panas merata ke desa itu. Senyum ramah dari seorang kakek menyambut kedatangannya. Warung kopi berupa gubug dari bambu, lengkap dengan bangku dan meja untuk pembeli. Gunung di sana tidak lebih tinggi dari puncak yang pernah dia daki. “Tidak terlalu terjal,” kiranya, menaksir sudut kemiringan gunung.

“Pak, saya titip tiga hari ya motor ini, nanti diambil lagi.”

“Iya Den, hati-hati di jalan.” Den, panggilan untuk orang muda menurut adab kesopanan warga setempat, mungkin maksudnya lebih mirip kata raden.

Dia berjalan mengitari sawah, lalu mendapati jalan setapak yang mengarah ke kaki gunung. Sesampainya di sana, dia berhenti sebentar. Bukan lelah, tapi melempar pandang ke warung kopi tempat dia menitipkan motor. Sadar yang mendaki gunung itu mungkin hanya dirinya seorang. Yang diinginkannya hanya kesendirian dan ketenangan.

Berlalu satu jam setelah melewati jalan tanah yang jarang dilewati, terlihat dari tingginya rumput yang tumbuh secara acak. Dia lalu merasakan kehadiran seseorang di balik pohon-pohon rimbun. Suara siulan yang ditirukan, meyakinkan itu adalah manusia. Terdengar langkah kaki. “Mungkin warga sekitar yang lagi turun,” gumamnya. Di persimpangan itu, tepat dia akan berpapasan dengan seseorang itu, yang terlihat jelas hanyalah sebuah jalan terusan, membentang lurus di antara pohon-pohon besar kemudian hilang di ujungnya.

Pohon-pohon berkayu, cantigi, padi liar, dan pemandangan kawah di gunung sebelah sesekali dia amati dan renungkan. Sesampainya di suatu padang Edelweiss, dia yakin sedang berada di posisi yang tinggi. Berhenti dan melepas carrier, mengambil air minum, mencermati GPS, lalu mencari-cari sinyal untuk menghubungi kawannya. Di tepian padang Edelweiss, plang kayu bertuliskan Puncak I tertempel pada sebuah batang pohon. Di tempat itulah dia berkomunikasi. Tanpa disadari, beberapa pasang mata sedang mengawasinya dari balik pepohonan.

Matahari dengan cepat kembali ke peraduan. Awan-awan senja seakan turut terbenam di barat. Suasana gelap seketika mengambil alih keadaan. Ketika dia sedang kembali menuju tempat menaruh carrier, terdengar suara langkah-langkah kaki di belakangnya. Saat menoleh, samar-samar empat sosok muncul di hadapannya. “Aku tidak sendirian,” ucapnya dalam hati.

Dalam kejauhan dan suasana hening, lima sosok itu bercakap-cakap. Hanya angin yang tahu apa yang sedang dibincangkan. Tiba-tiba, satu orang jatuh tak berdaya menghujam tanah. Hari makin gelap, tidak ada cahaya.

Dalam siluet itu, seseorang menciptakan api di dekat wajahnya. Kepulan asap muncul secara tiba-tiba, kemudian naik dan lenyap di angkasa. Sementara dua orang mengangkat tubuh itu, dua lainnya berjalan ke arah berlawanan menuju hutan.

Kapak, gergaji, dan perangkat lainnya tergeletak di salah satu tumpukan kayu. Gelondongan itu siap dijatuhkan. Arus sungai akan membawanya menuju hilir dan berhenti di tempat yang hanya mereka yang tahu. Hutan itu dipenuhi pohon saninten, jamuju, kihujan, dan jati. Suara sungai dan hewan-hewan malam mengisi kesunyian. Mereka harus terus mengawasi keadaan.

end