Nasihat dari seorang Imam …

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman

Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan teman

Berlelah-lelahlah,manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak kerena diam tertahan

Jika mengalir menjadi jernih,jika tidak,akan keruh menggenang

Singa jika tidak tinggalkan sarang tak akan mendapat mangsa

Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari dan orbitnya tidak bergerak dan terus diam

Tentu manusia bosan padanya dan enggan melihat

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang

kayu gahuru tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan

“Imam Syafi’i Rahimahullah”

Cirata

Sudah tiga tahun, Lab Geologi Teknik tidak ekskursi. Tahun ini akhirnya bisa ekskursi. Perizinan ke sana sendiri sebenarnya terbilang mepet, tetapi kami dapat waktu yang pas karena pihak Cirata menyetujui usulan waktu ekskursi tanggal 18 April 2016.

Pertama, kami kontak langsung dengan nomor kantor Cirata 0264270928 Ext. 3030. Biasanya nomor Cirata ketika ditelpon sering sibuk (waktu terbaik untuk telpon jam 8 pagi), jadi agak susah saat ingin konfirmasi sesuatu, disarankan untuk kontak langsung dengan Pak Sukadi, sekertariat di kantor sana 087879605657. Selanjutnya, setelah diangkat, kami disuruh kirim surat pengajuan ekskursi ke nomor fax 0264271140. Respon dari Cirata terbilang cepat, jika jadwal ekskursi yang diajukan sesuai dengan jadwal mereka (tidak penuh oleh kunjungan dari orang lain) maka kita bisa ekskursi ke sana. Balasan fax dari mereka, mengharuskan kontak langsung ke bagian teknis pelaksanaan di nomor 0264270928 Ext. 3065, nanti biasanya diangkat oleh Pak Djaenudin.

Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Cirata merupakan PLTA terbesar di Asia Tenggara. PLTA ini memiliki konstruksi power house di bawah tanah dengan kapasitas 8×126 Megawatt (MW) sehingga total kapasitas terpasang 1.008 Megawatt (MW) dengan produksi energi listrik rata-rata 1.428 Giga Watthour (GWh) pertahun.

Kapasita 1008 MW tersebut terdiri dari Cirata I yang memiliki empat unit masing-masing operasi dengan daya terpasang 126 MW yang mulai dioperasikan tahun 1988 dengan daya terpasang 504 MW. Selain itu, Cirata II juga dengan empat unit masing-masing 126 MW, yang mulai dioperasikan sejak tahun 1997 dengan daya terpasang 504 MW. Cirata I dan II mampu memproduksi energi listrik rata-rata 1.428 GWh pertahun yang kemudian disalurkan melalui jaringan transmisi tegangan ekstra tinggi 500 kV ke sistem interkoneksi Jawa-Madura-Bali (Jamali).

Guna menghasilkan energi listrik sebesar 1.428 Gwh, dioperasikan delapan buah turbin dengan kapasitas masing-masing 129.000 KW dengan putaran 187,5 RPM. Adapun tinggi air jatuh efektif untuk memutar turbin 112,5 meter dengan debit air maksimum 135 m3 perdetik.

PLTA Cirata dibangun dengan komposisi bangunan power house empat lantai di bawah tanah yang pengoperasiannya dikendalikan dari ruang control switchyard berjarak sekitar 2 kilometer (km) dari mesin-mesin pembangkit yang terletak di power house.

PLTA tersebut merupakan pembangkit yang dioperasikan oleh anak perusahaan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN persero) yaitu PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB) yang disalurkan melalui saluran transmisi tenaga listrik 500 kilo volt (KV) ke sistem Jawa Bali yang diatur oleh dispatcher PLN Pusat Pengatur Beban (P3B). Kontribusi utama Cirata terhadap sistem Jawa Bali yaitu memikul beban puncak dan beroperasi pada pukul 17.00 – 22.00 WIB, dengan moda operasi LFC (Load Frequency Control) dengan fasilitas line charging bila sistem Jawa Bali mengalami Black Out dan Start up operasi/ sinkron ke jaringan 500 KV yang relatif cepat yaitu kurang lebih lima menit.

PLTA Cirata terletak di daerah aliran sungai (DAS) Citarum di Desa Tegal Waru, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Luas Waduk Cirata, dari ujung selatan kecamatan Cipeundeuy kabupaten Bandung barat, dan terbendung di desa Ciroyom, kecamatan Cipeundeuy kabupaten Bandung barat, yang berbatasan langsung dengan maniis kabupaten Purwakarta. Latar belakang pendirian PLTA ini, dengan letak sungai Citarum yang subur, bergunung-gunung dan dianugerahi curah hujan yang tinggi. Pembangunan proyek PLTA Cirata merupakan salah satu cara pemanfaatan potensi tenaga air di Sungai Citarum yang letaknya di wilayah kabupaten Bandung, kurang lebih 60 km sebelah barat laut kota Bandung atau 100 km dari Jakarta melalui jalan Purwakarta.

Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Waduk_Cirata

Ini dia foto-foto waktu kami ekskursi.:)

13015323_1129670093720647_8417902105926818878_n

Foto di jalan

13010873_1129666697054320_6455780821077430231_n

Mau masuk tunnel ke power house

13010689_1129671870387136_1342564977358065624_n

Tulisan Asmaul Husna yang ada di sepanjang jalan di Kawasan Cirata

13006592_1129667017054288_1566098923351474599_n

Foto bareng di underground power house

13006544_1129672603720396_9057053345579131089_n

Lagi Tes Akhir

13000108_1129671747053815_5640591157420673738_n

Bagian downstream

12993575_1129667547054235_5634486966744678885_n

Lagi khusu dengerin penjelasan tentang bendungan

12993471_1129666887054301_3833296057481016429_n

Pak Imam dan Asisten

download (1)

Bendungan Cirata

download

Jalan di tepi bendungan

LONGSORAN BESAR YANG DIPICU OLEH TOREHAN SUNGAI PADA CEKUNGAN DUERO KENOZOIK (SPANYOL)

ABSTRAK PANJANG

PENDAHULUAN

Longsoran yang disebabkan oleh torehan sungai umumnya terjadi pada kaki lereng atau pada lidah (toe) yang teraktivasi dari longsoranan sebelumnya. Cekungan Duero adalah cekungan terbesar di Peninsula Iberia (98.073 km2). Tiga area drainase dapat dibedakan berdasarkan ciri geologi dan topografinya yaitu Cekungan Duero Kenozoik, Tepi Barat Cekungan Kenozoik, dan Daerah Rendahan Duero. Pada Cekungan Duero Kenozoik terdapat Sungai Duero yang bersumber dari Rangkaian Iberia pada ketinggian 2169 m.

Longsoran besar terjadi hanya di bagian tengah Cekungan Duero Kenozoik. Secara geologi, daerah ini merupakan cekungan depan daratan yang pada awalnya berkembang sebagai cekungan endorhoik besar. Daerah ini dibatasi oleh rangkaian pegunungan yang dihasilkan selama orogenesa Variscan dan Alpin. Pada bagian barat, daerah ini dibatasi oleh Iberian Massif, Rangkaian Cantabriann di utara, Rangkaian Iberia di timur, dan Sistem Tengah di selatan.

Pada bagian tengah Cekungan Duero Kenozoik, satuan litostratigrafi dari bawah ke atas terdiri dari Satuan Aragonian Bawah, Satuan Pedroso de la Abadesa (Miosen Tengah-Atas), Satuan Duenas (Miosen Tengah-Atas), Satuan Tierra de Campos (Miosen Tengah-Atas), Satuan Cuestas (Miosen Tengah), Satuan Calizas del Paramo (Miosen Atas), dan Satuan Endapan Kuarter.

Pada bagian tengah Cekungan Duero Kenozoik terdapat tiga kelompok struktur rekahan yaitu rekahan berarah timurlaut-baratdaya berupa sesar normal dengan orientasi searah aliran Sungai Pisuerga di tengah cekungan.

Konfigurasi geomorfologi saat ini berkaitan dengan pembukaan cekungan endorhoik pada umur Pleistosen. Kedalaman maksimum dari torehan di bagian tengah Cekungan Duero Kenozoik berdekatan dengan pertemuan Sungai Duero-Pisuerga yaitu 100-600 m.

Di daerah kering seperti Cekungan Duero dengan litologi batuan sedimen subhorizontal yang berbeda-beda komponennya, erosi telah membuat pola morfologi terhadap lereng dibatasi oleh batuan resisten dan gawir-gawir. Sepuluh longsoran ditemukan di bagian tengah Cekungan Duero Kenozoik yang berkaitan dengan lembah Sungai Duero dan Pisuerga. Dalam cekungan tersebut diamati adanya longsoran rotasional besar pada bagian tengah, bersamaan dengan hadirnya lempung berplastisitas tinggi dan resistensi rendah pada Satuan Duenas.

Selain longsoran besar, proses pergerakan massa lainnya dapat diamati. Di daerah utara  Cabezon, sisi lembah dengan panjang 5 km bersesuaian dengan arah aliran Sungai Pisuerga. Terdapat tiga meander sungai yang saat ini menyebabkan erosi pada bagian lidah (toe) lereng. Gerakan massa yang terjadi berupa tipe gelinciran rotasional, jatuhan batuan atau jungkiran, dan aliran tanah.

METODE

Metode yang digunakan adalah pemetaan dan analisis sepuluh longsoran yang berlokasi di bagian tengah Cekungan Duero Kenozoik. Untuk mendukung data pemetaan, dilakukan metode remote sensing (stereofotografi udara). Pengukuran keaktifan longsoran dilakukan dengan monitoring sejak tahun 2002 menggunakan Dual-frequency GPS receivers-Leica GPS System 530 dengan antena AT502. Pada beberapa longsoran, dilakukan pengukuran sistematik langsung pada beberapa bagian dan digunakan juga alat inklinometer.

Pengujian geoteknik dilakukan untuk menghasilkan parameter dalam back-analysis menggunakan software Slide 6.0. Analisis XRD dilakukan untuk mempelajari mineralogi sampel. Sementara itu untuk menentukan umur longsoran Hontoria (contoh longsoran yang paling representatif) dilakukan dating 14C menggunakan teknik AMS.

 HASIL DAN ANALISIS

Semua longsoran yang berkembang berkaitan dengan meander sungai besar pada lereng (elevasi 160 m) endapan Miosen. Pada Sungai Duero dengan arah timur-barat, longsoran yang terjadi berada pada tepi sebelah kanan, sedangkan pada Sungai Pisuerga yang berorientasi timurlaut-baratdaya menghasilkan longsoran pada tepi sebelah kiri. Arah dari sungai-sungai tersebut berkaitan dengan dua arah utama struktur rekahan di Cekungan Duero. Perekahan ini menyokong perkembangan retakan tensional pada batugamping Paramo dan bagian paling atas Satuan Cuesta.

Pada Lembah Duero, empat longsoran diidentifikasi yaitu Los Canonigos (373-5) berupa longsoran roto-translasional, La Curva (373-4) berupa longsoran besar roto-translasional ganda, Granja de Sardon (373-3) merupakan longsoran terbesar dari semua longsoran, melibatkan material lebih dari 50 hm3, Penalba (373-2) yang pada awalnya berupa longsoran besar roto-translasional di atas lapisan lempungan subhorizontal kemudian penorehan sungai menyebabkan jungkiran (toppling) di bawah zona translasional.

Pada Lembah Pisuerga, enam longsoran diobservasi di antaranya Reinoso (312-2) berupa longsoran besar rotasional ganda dengan reaktivasi lanjutan dalam massa yang tergelincir, Monte Reinoso (312-4) berupa longsoran rotasional yang mempengaruhi seri Miosen secara keseluruhan, Hontoria (312-6) yang merupakan longsoran roto-translasional paling representatif di Cekungan Duero, Tariego (312-7) merupakan longsoran roto-translasional ganda yang tidak aktif karena area yang longsor sudah stabil oleh teras Sungai Pisuerga, Cuesta Alta (343-1) berupa longsoran rotasional sederhana, dan Cabezon (343-2) berupa longsoran roto-translasional.

Hontoria
Longsoran Hontoria (312-6). A) Kondisi secara umum. B) Peta geologi dan profil longsoran. C) Pergerakan pada bagian lidah (toe) longsoran. D) Retakan tensional pada bagian mahkota longsoran.

Longsoran Hontoria merupakan tipe longsoran kompleks dengan luas sekitar 0,36 km2 dan volume material sekitar 7 x 106 m3. Pada bagian atas lereng, longsoran mempengaruhi batugamping Paramo dan bagian paling atas Satuan Cuesta yang diiringi berkembangnya retakan tensional.

Tiga satuan litostratigrafi berumur Miosen dari longsoran Hontoria terdiri dari:

  • Satuan Cuesta, terdiri dari dari marl, lempung marl, gypsum, batugamping, dan dolomit. Sampel yang diuji berupa lapisan paling lempungan yang memiliki plastisitas tinggi.
  • Satuan Tierra de Campos, terdiri dari endapan siliklastik dari lanau, pasir, dan lempung dengan beberapa pasiran dan kerikil mikrokonglomerat. Sampel yang diuji dibagi menjadi tiga bagian dengan Campos I berplastisitas menengah, Campos II berplastisitas rendah, dan Campos III berplastisitas rendah-menengah. Sampel pada Campos I sebagai representatif lapisan lempungan memiliki c′ = 55,2 kPa, ϕ′ = 12° dan sampel Campos II sebagai perwakilan lapisan granular memiliki c′=16,4 kPa, ϕ′=26°.
  • Satuan Duenas dengan litologi lempung, marl lempungan, dan marl. 90% sampel merupakan lapisan sangat lempungan dengan dominan smektit dan ilit. Lapisan ini berplastisitas tinggi dan merupakan zona translasional dari permukaan dasar longsoran. Sampel yang diuji dari longsoran Hontoria pada kedalaman 32 m yang merepresentasikan Satuan Duenas di bawah bidang keruntuhan memiliki c′ = 40 kPa dan ϕ′ =21°.

Dating 14C terhadap longsoran Hontoria menghasilkan umur 2050 ± 40 tahun SM untuk sampel terdalam (3,5 m) dan 1780 ± 35 tahun SM untuk sampel terdangkal (2,6 m).

Back analyses dari longsoran Hontoria dilakukan dengan menggunakan geometri lereng sebelum terjadi longsoran. Dari hasil analisis tersebut, diperoleh nilai Factor of Safety mendekati 1 (1,023). Nilai ini hanya dapat dicapai ketika muka air tanah naik hingga dasar Satuan Tierra de Campos.

KESIMPULAN

Faktor geologi dan geomorfologi terhadap Cekungan Duero relevan terhadap beberapa keadaan berikut.

  • Banyaknya kejadian longsoran di bagian tengah Cekungan Duero Kenozoik dengan laju torehan sungai yang tinggi meningkatkan relief. Erosi sungai lateral terjadi pada bagian kaki lereng yang menghasilkan longsoran. Longsoran ini berkembang pada bagian sisi luar meander yang memotong lidah (toe) lereng lembah.
  • Longsoran besar terjadi mengikuti keruntuhan progresif ketika erosi sungai mencapai lapisan lempung berplastisitas tinggi yang overconsolidated pada Satuan Duenas di bagian tengah Cekungan Duero Kenozoik.
  • Longsoranan besar yang berkembang berkaitan dengan orientasi lembah sungai yang bersesuaian dengan arah regional dari rekahan. Rekahan tersebut menyokong pembentukan retakan tensional di bagian mahkota lereng yang mempengaruhi batugamping Paramo dan Satuan Cuesta bagian paling atas.

Longsoran besar teradi pada beberapa ribu tahun terakhir dan tidak ada kondisi yang memperlihatkan akan terjadi longsor baru di masa depan. Ketidakadaan longsor baru ini berkaitan dengan aktivitas antropogenik.

REFERENSI:

Yenes, M., Monterrubio, S., Nespereira, J., Santos, G., dan Fernandez-Macarro, 2015, Large landslides induced by fluvial incision in the Cenozoic Duero Basin (Spain), Geomorphology 246 (2015), Elsevier, halaman 263-276.

NEOTEKTONIK

 Pertengahan Semester

  1. Jelaskan meknaisme gempabumi serta bukti-bukti geologinya dan jenis-jenis gelombang yang terjadi?
  2. Jelaskan hubungan sesar dengan gempabumi termasuk istilah rake, slip rates, total slip, asperity?
  3. Jelaskan mengenai jenis Magnitudo dan Intensitas Gempabumi dan Magnitudo mana yang paling baik untuk menggambarkan kejadian gempa di suatu daerah?
  4. Jelaskan mengenai konsep Tektonik dan keberadaan Gempabumi?
  5. Jelaskan penentuan jenis gerakan (slip) gempabumi (Focal Mechanism) dengan menggunakan kedatangan gelombang gempa (first motion study)?

Jawab:

  1. Gempabumi terjadi dalam kerak bumi sepanjang sesar yang tiba-tiba melepaskan sejumlah besar energi yang tersimpan dalam jangka waktu yang lama. Guncangan selama gempa disebabkan oleh gelombang seismik. Gelombang ini dihasilkan ketika batuan dalam kerak patah, menghasilkan energi yang besar.

Kerak bumi yang berdekatan dengan batas lempeng tektonik mengalami kompresi, tekukan, pelunakan yang berkaitan dengan gaya internal dalam bumi sehingga dapat menghasilkan gempabumi. Ketika dua massa berpindah satu sama lain, energi strain yang dilepaskan yang berkaitan dengan proses tektonik disimpan dan kemudian dilepas sepnajng rupture dari zona peertemuan. Blok-blok batuan yang berinteraksi dengan mudah kembali menuju keseimbangan dan gerakan gempabumi dihasilkan. Proses ini disebut sebagai elastic rebound. Dalam elastic rebound terjadi proses akumulasi strain, kegiatan pesesaran (faulting), energi strain elastic, dan perpindahan,

Selama perpecahan batuan kerak yang brittle, gelombang seismik dihasilkan. Gelombang ini menjalar menjauhi sumber gempabumi sepanjang lapisan luar bumi. Kecepatan gelombang ini bergantung kepada karakteristik material yang dilewati oleh gelombang. Hampir semua gempa bumi terjadi pada batas lempeng. Hal ini menjadi bukti geologi gempabumi pada batas lempeng.1

Lokasi gempabumi di seluruh dunia dan hubungannya dengan batas lempeng (Bolt, 2004).

Dua jenis gelombang yang dihasilkan dari gempabumi yaitu:

  • Body waves yang menyebar dari fokus gempa ke semua arah.
  • Surface waves yang menyebar dari episenter ke permukaan bumi. Gelombang ini dapat memindahkan partikel batuan dengan gerak rolling hingga struktur paling kecil yang dapat bertahan. Surface waves lebih lambat daripada body waves.

Untuk body waves sendiri, ada dua jenis gelombang, yaitu:

  • Gelombang Primer (P wave), gelombang kompresional yang arah penjalaran sama dengan arah gelombang. Gelombang ini memiliki karakteristik sangat cepat (4-7 km/s), dapat melewati fluida (gas atau cairan), dan tiba pada stasiun pengamatan pertama kali.
  • Gelombang Sekunder (S wave), gelombang transversal dengan arah penjalaran tegak lurus dengan pergerakan gelombang. Gelombang ini memiliki karakteristik bergerak dengan kecepatan 2-5 km/s, disebabkan oleh gerak geser (shearing), dan tidak dapat melewati fluida (gas atau fluida).

Sementara itu, untuk surface wave, gelombang ini dihasilkan ketika energi gempabumi menjangkau permukaan bumi. Gelombang permukaan ini memindahkan partikel batuan dengan gerak rolling dan berayun sehingga material bumi berpindah dalam arah yang berbeda. Meskipun merupakan gelombang yang berpindahnya paling lambat, tetapi gelombang ini adalah gelombang yang paling destruktif untuk struktur bangunan yang didirikan di atas permukaan tanah.

2

3

Diagram yang menunjukkan gerak rolling, maju mundur yang bersifat merusak (SCGS, 2005).

Referensi:

South Carolina Geological Survey, 2005, Earthquakes and Seismic Waves, South Caarolina Department of Education, Science Academic Standards.

Bolt, B. A., 2004, Earthquakes, Fifth Edition, W. H. Freeman and Company, New York.

Elnashai, A. S. Dan Di Sarno, L., 2008, Fundamentals of Earthquake Engineering, John Wiley & Sons Ltd, UK, hal. 6 dan 10-11.

  1. Sesar adalah rekahan di kerak bumi yang menyebabkan hilangnya kohesi dan disertai oleh pegeseran sepanjang rekahan tersebut. Di permukaan bumi, batuan akan patah/hancur ketika berada di bawah pengaruh sejumlah stress yang besar. Di dalam bumi, batuan akan ’mengalir’ secara plastis. Stress yang mendesak batuan akan menyebabkan perubahan bentuk atau volume batuan. Kondisi batuan yang dapat bersifat plastis ini menyebabkan batuan akan bersifat ductile. Ketika batuan melewati keadaan ductile dan berubah menjadi kondisi brittle, batuan akan patah sepanjang permukaan yang disebut sesar. Energi secara tiba-tiba yang dihasilkan atau disimpan menyebabkan gempabumi.

Permukaan sesar adalah permukaan sepanjang batuan yang bergerak di bawah, di atas, atau bergesekan satu sama lain. Batuan bisa jadi tidak bergerak sepanjang permukaan sesar (stuck) sehingga menyebabkan energi strain dan menghasilkan gempabumi ketika batuan patah satu sama lain.

Karakteristik gerakan gempabumi dipengaruhi oleh mekanisme slip dari sesar aktif. Parameter yang digunakan untuk menjelaskan gerakan sesar dan dimensinya adalah sebagi berikut:

  1. Azimuth: sudut di antara pergerakan sesar yaitu perpotongan bidang sesar dengan horizontal dan arah utara. Sudut diukur mengikuti kemiringan bidang sesar sesuai aturan tangan kanan.
  2. Dip: sudut antara sesar dan bidang horizontal.
  3. Slip atau rake: sudut antara arah relatif perpindahan dan arah horizontal yang diukur dari bidang sesar.
  4. Relative displacement: jarak yang ditempuh oleh sebuah titik pada sisi lain dari bidang sesar.
  5. Area: daerah permukaan yang mengalami stress paling besar dalam bidang sesar.
  6. Net slip: pergeseran relatif suatu titik yang semula berimpit pada bidang sesar akibat adanya sesar.
  7. Rake: sudut yang dibentuk oleh net slip dengan strike slip (pergeseran horisontal searah jurus) pada bidang sesar.

Slip vectors dari gempabumi pada batas lemepng menunjukkan pergerakan pada bidang sesar yang merefleksikan arah pergerakan relatif di antara dua lempeng. Di dalam sesar juga terdapat istilah asperity yang secara literal berarti kekasaran, sebuah area di atas sesar yang terkunci atau tidak ada pergeseran. Sejenis kekasaran permukaan yang muncul di sepanjang pertemuan dua blok sesar. Secara fisik, asperity merupakan sebuah area kompresi dengan kontak antara dua permukaan yang disebabkan oleh gaya normal. Di bumi, gempabumi tektonik disebabkan oleh pergerakan bidang sesar yang mana dua tubuh batuan mengalami kontak secara rigid.

4

Beberapa mekanisme sesar yang hadir bergantung kepada bagaimana lempeng berpindah satu sama lain (Housner, 1973). Mekanisme paling umum untuk sumber gempabumi dijelaskan sebagai berikut:

  1. Dip slip faults: satu blok berpindah secara vertikal satu sama lain. Jenis ini bisa sebagai normal faults dan reverse faults. Gaya regangan menyebabkan keruntuhan geser untuk sesar normal, sedangkan gaya kompresif mengontrol reverse faults. Sesar naik merupakan reverse faults yang dicirikan oleh kemiringan (dip) yang kecil.
  2. Strike-slip faults: Blok yang berdekatan berpindah secara horizontal satu sama lain. Strike-slip dapat berarah ke kanan atau ke kiri bergantung pada gerakan relatif dari blok untuk pengamat yang berlokasi di satu sisi garis sesar. Slip secara esensial merupakan bidang sesar vertikal dan dapat disebabkan oleh stress kompresi atau regangan. Sesar ini disebut juga tipikal zona transform.

Beberapa sesar menunjukkan kombinasi dari pergerakan strike-slip dan dip-slip yang disebut sebagai oblique slip. Slip ini dapat menjadi normal atau naik dan kanan atau kiri.

5

Referensi:

Elnashai, A. S. Dan Di Sarno, L., 2008, Fundamentals of Earthquake Engineering, John Wiley & Sons Ltd, UK, hal. 7.

IRIS Animations, Asperities, Link to P.2 Vocabulary.

South Carolina Geological Survey, 2005, Earthquakes and Seismic Waves, South Caarolina Department of Education, Science Academic Standards.

Stein, S. Dan Klosko, E., Earthquake Mechanisms and Plate Tectonics, Northwestern University, Illinois, USA.

 

  1. Cara paling berguna dan paling klasik untuk mengukur gempabumi adalah melalui Intensitas Gempabumi. Intensitas adalah ukuran kerusakan yang bekerja terhadap manusia, permukaan tanah dan reaksi manusia terhadap guncangan. Penentuan intensitas gempabumi yang tidak bergantung peralatan, tetapi pengamatan aktual efek dari zona meizoseismik maka intensitas dapat ditentukan melalui rekaman gempa-gempa sebelumnya (sejarah gempa). Dalam hal ini, rekaman sejarah gempabumi menjadi sangat penting di masa kini untuk mengestimasi resiko seismologi.

Skala intensitas pertama dikembangkan oleh de Rossi dari Italia dan Forel dari Swiss pada tahun 1880. Skala ini, dengan nilai dari I hingga X, digunakan untuk laporan intensitas gempabumi Fransisko tahun 1906. Sebuah skala yang dimodifikasi dibuat tahun 1902 oleh Vulkanologis dan Seismologis Italia, Mercalli dengan kisaran I hingga XII.

6

Skala Mercalli tersebut juga memperkenankan kerusakan tempat yang dipengaruhi oleh gempabumi untuk dinilai secara numerik. Skala intensitas bersifat subjektif dan bergantung kepada kondisi sosial dan konstruksi sebuah negara, sehingga dibutuhkan perbaikan dari waktu ke waktu. Efek regional harus dihitung, dalam hal ini menarik untuk membandingkan Skala Jepang (0 hingga VII) dengan Skala Mercalli yang Dimodifikasi.

7

Skala kuantitatif diterapkan untuk gempabumi pada wilayah berpenghuni dan tak berpenghuni yang dibuat pada tahun 1931 oleh Wadati di Jepang dan dikembangkan oleh Charles Richter tahun 1935 di California.

8

Definisi Magnitudo Ritcher Lokal.

Ritcher mendefinisikan magnitudo gempa lokal sebagai logaritma berbasis 10 dari amflitudo gelombang seismik maksimal dalam mikron (10-4 cm) yang direkam dalam seismograf Wood-Anderson dan berlokasi pada jarak 100 km dari pusat gempabumi. Hal ini mengandung arti bahwa setiap waktu magnitudo muncul satu unit, amplitudo gelombang gempabumi naik 10 kali. Saat periode fundamental seismograf Wood-Anderson bernilai 0,8 sekon, secara selektif itu menguatkan gelombang seismik dengan periode berkisar dari 0,5 hingga 1,5 sekon. Periode alami dari banyak struktur bangunan berada dalam kisaran ini sehingga magnitudo Ritcher lokal memberikan nilai bagi para engineer.

Mengikuti definisi di atas, bahwa magnitudo ini tidak memiliki batasan atas dan bawah secara teoritis. Bagaimanapun, ukuran gempabumi dibatasi pada batas akhir kekuatan batuan dalam kerak bumi. Sejak tahun 1935, sedikit gempabumi yang terekam dalam seismograf dengan magnitudo melebihi 8,0. Pada kasus ekstrimnya, seismograf sensitivitas tinggi dapat merekam gempabumi dengan magnitudo kurang dari -2.

Pada permulaannya, ide di belakang Skala Magnitudo Ritcher bersifat sederhana. Skala ini didefinisikan untuk California Selatan, gempabumi dangkal, dan jarak episenter kurang dari 600 km. Adapun, skala yang paling baik untuk menggambarkan kejadian gempabumi pada suatu daerah adalah Skala Intensitas Mercalli karena penentuan intensitas berdasarkan pengamatan kerusakan yang terjadi di lokasi.

Referensi:

Bolt, B. A., 2004, The Nature of Earthquake Ground Motion, University of California, Chapter 1.

 

  1. Gempabumi dimanifestasikan oleh guncangan tanah yang disebabkan oleh energi yang lepas secara tiba-tiba dalam kerak bumi. Energi ini mungkin berasal dari sumber yang berbeda seperti dislokasi kerak, erupsi vulkanik, atau bahkan ledakan dan runtuhan pertambangan akibat aktivitas manusia.

Gempabumi saat ini dikenal sebagai gejala dari perpindahan tektonik aktif (Scholz, 1990) yang didukung oleh pengamatan aktivitas seismik secara intens yang terjadi sebagian besar pada batas lempeng.

Lempeng memiliki dimensi yang besar dan terdiri dari batuan rigid yang stabil dengan ketebalan sekitar 100 km membentuk kerak atau litosfer dan bagian atas dari mantel bumi. Perpindahan horizontal dari litosfer disebabkan oleh arus konveksi dalam mantel dengan kecepatan sekitar 1 – 10 cm/tahun. Litosfer memiliki kekuatan dan perilaku brittle terhadap rekahan yang dapat menyebabkan sebuah gempabumi.

Batas lempeng yang menjadi tempat terjadinya gempabumi secara intens disebut sebagai sabuk seismik (Kanai, 1981). Hampir seluruh gempabumi berkaitan dengan tektonik lempeng. Batas lempeng dibagi ke dalam tiga tipe, yaitu lempeng samudera yang dibentuk pada spreading centers atau punggungan tengah samudera (mid oceanic ridges), kemudian dileburkan dalam zona subduksi atau tunjaman, sehingga pada spreading centers, lempeng berpindah dari batas dan pada zona subduksi lempeng yang menunjam berpindah menuju batas. Tipe ketiga, transform faults, gerak lempeng dengan arah paralel terhadap batas.

9

Peregangan (straining) dan rekahan (fracturing) yang tinggi dari kerak bumi disebabkan oleh proses subduksi. Rupture brittle dari permukaan dihasilkan sepanjang slip friksi dalam rekahan. Strain dihilangkan dan energi seismik dalam bentuk gempabumi dilepaskan. Gempabumi secara normal terjadi pada kedalaman beberapa puluh kilometer, dengan beberapa di antaranya terjadi pada kedalaman beberapa ratus kilometer. Batas lempeng divergen membentuk gempabumi dangkal pada mid oceanic ridges dengan magnitudo sedang. Gempabumi dangkal dan sedang terjadi pada zona konvergen dalam rentang ratusan kilometer. Gempabumi konvergen kontinental dapat menjadi sangat besar. Gempabumi dalam antara kedalaman 300 dan 700 km umumnya berlokasi di zona subduksi yang berkembang hingga ribuan kilometer. Gempabumi menjadi lebih dalam seiring jarak dari palung samudera semakin jauh.

10

Bagaimanapun, zona seismik Wadati-Benioff dibatasi pada bagian atas zona subsuksi, yaitu kedalaman 700 km. Di luar kedalaman ini, lempeng dilebur ke dalam mantel atau propertinya berubah dan pelepasan energi seismik terhambat. Gempabumi dangkal dengan magnitudo besar dapat terjadi sepanjang sesar transform.

Lempeng tektonik menyediakan penjelasan geologi yang sederhana dan umum untuk gempabumi pada batas lempeng atau intra-plate, yang berkontribusi sebesar 95% terhadap pelepasan energi seismik di dunia. Bagaimanapun, gempabumi tidak selalu berkaitan dengan batas lempeng. Gempabumi intraplate yang mungkin terjadi hampir di manapun dapat menyebabkan kerusakan berarti.

Referensi:

Elnashai, A. S. Dan Di Sarno, L., 2008, Fundamentals of Earthquake Engineering, John Wiley & Sons Ltd, UK, hal. 1-5.

  1. Gempabumi merupakan pelepasan energi elastik yang terakumulasi oleh pergerakan dalam sebuah sesar. Untuk mengidentifikasi tipe pergerakan sesar (fault slip) dilakukan first motion study. Dalam perekaman gempabumi, jika seismograf menunjukkan gerakan pertama berupa sebuah dorongan (push) (dari episenter ke stasiun seismograf) maka rekaman seismogram dibelokkan naik, sedangkan jika gerakan pertama adalah tarikan (menjauh dari stasiun) maka defleksi berarah ke bawah.

11

First Motion Study yang direkam oleh seismograf.

Pada kasus strike-slip fault, gerak partikel berkaitan dengan slip sesar:

Kuadran biru menunjukkan gerakan pertama berupa kompresi (push)  = Up, kuadran merah menunjukkan gerakan pertama berupa dilatasi (pull) = Down. Sebagai hasilnya, dapat diperoleh empat kuadran berupa dua kuadran kompresional yaitu gerakan pertamanya adalah ke bawah dan dua kuadran ekstensional dengan gerakan pertama ke atas.

12

Kuadran kompresi dan ekstensional dalam strike-slip fault.

Pada kasus, reverse fault, terdapat kuadran kompresional dan tensional. Kuadran kompresional, permukaan ditarik ke bawah à first motion Down. Kuadran tensional, permukaan didorong ke atas à first motion study Up. Jika dipetakan gerakan pertama, dapat ditentukan dua bidang focal dan sumbu P – T.

13

Kuadran kompresi dan tensional dalam reverse fault.

 Gelombang seismik menjalar menjauhi fokus, setiap gelombang memberikan kuadran baik berupa dilatasi atau kompresi sekitar fokus. Stasiun seismik pada jarak yang berbeda merekam up atau down first motion. Sebagai representasi, focal sphere yang didukung proyeksi stereografi dari bidang focal dan sumbu P – T menghasilkan ”beach balls”.

14

Gelombang gempa memberikan first motion ke stasiun seismik.

Focal Mechanism menjelaskan tipe pensesaran yang terjadi selama gempabumi. Bidang sesar aktualnya sendiri bersifat ambigu. Focal Mechanism dapat menggabungkan tipe-tipe pensesaran, dan di area deformasi aktif menyimpan informasi mengenai rezim strain.

15

Focal Mechanism dengan jenis pergerakan sesar.

Referensi:

web.ics.purdue.edu

Yeats, R. S., Sieh K., dan Allen C.R (1997), The geology of earthquakes, vi, hal 568., Oxford University Press, New York.

Geomorfologi Karangsambung

  1. Bendungan berada di Kalikarang pada kontur terendah. Batas genangan ditunjukkan oleh area dengan warna coklat pada peta.
  1. Trase Jalan Baniara melalui Gunung Bujil dan berakhir di Gunung Dliwang

Trase jalan dari Baniara (+44 m) melewati sekitar G. Bujil (+162 m) menuju G. Dliwang (+512 m) tanpa terowongan dan cut and fill ditunjukan dengan garis merah pada peta.

  1. Sungai yang dilalui trase jalan berjumlah 2 (dua) sungai yang berhulu di G.Paras sehingga jembatan yang diperlukan tidak terlalu banyak.
  1. Daerah-daerah yang diperkirakan akan bermasalah terhadap trase jalan adalah erosi akibat aliran sungai (lingkaran merah) dan kemungkinan potensi terjadinya longsoran pada kontur-kontur yang terjal (lingkaran hijau).
  1. Sumber batu untuk fondasi jalan adalah batuan beku diabas yang berasal dari G. Bujil (lingkaran warna ungu). Batuan ini memiliki kekerasan dan kekuatan yang tinggi sebagai pondasi jalan ditambah kemudahan untuk menambangnya karena memiliki bidang-bidang lemah seperti kekar kolom.
  1. Satuan batuan atau formasi batuan yang akan mengganggu keutuhan jalan adalah Formasi Karangsambung yang terdiri dari batulempung serpihan, berwarna hitam, berselingan dengan pasir, berstruktur scaly (sisik ikan), di beberapa bagian, memperlihatkan perlapisan yang baik, terdapat fragmen-fragmen berupa batugamping dan konglomerat polimik. Selain itu, perlu diperhatikan trase jalan di dekat kontur yang curam pada Formasi Waturanda, karena dimungkinkan adanya longsor.

Terutama pada batulempung akan memberikan pengaruh yang berarti terhadap keutuhan jalan. Batulempung memiliki karakteristik khas dengan sifat menyusut (shrinkage) dan mengembang (swelling) di bawah pengaruh cuaca pada siklus musim hujan dan kemarau. Sifat tersebut berbahaya karena jalan yang memiliki fondasi di atas satuan batuan ini akan rusak bahkan runtuh karena fenomena mengembang dan menyusut ini. Hal ini akan diperparah bila pelapukan dan erosi terjadi secara intensif pada satuan batulempung yang resistansinya rendah. Hal lain yang perlu diperhatikan juga adalah sifat batulempung ini yang memiliki struktur serpih sebagai bidang lemah bagi adanya keruntuhan batuan yang pada akhirnya juga mempengaruhi keutuhan jalan. Karsam

 Geologi daerah Karang Sambung (Lembar Kebumen) oleh Asikin dkk (1992).

Secara umum geologi Karangsambung merupakan struktur antiklin menunjam ke arah timur yang pada puncaknya telah tererosi membentuk amfiteater Karangsambung. Formasi yang berkembang secara berurutan adalah Teok (F. Karang sambung) yang berupa batulempung berstruktur sisik, dengan bongkah batugamping, konglomerat, batupasir, dan basal. Diatasnya diendapkan secara selaras Tomt (F. Totogan) yang terdiri dari breksi dengan komponen batulempung, batupasir, batugamping dan basal dengan masa dasar batulempung bersisik. Diatasnya lagi diendapkan Tmw (F.Waturanda) yang berupa batupasir dan menjadi breksi pada bagian atasnya. Formasi-formasi tersebut diterobos oleh Tmd (Diabas) termasuk di G. Bujil yang terkekarkan, sebagian kekar tiang.

REFERENSI

 Asikin, S., Harsolumakso, A. A., Busono H., dan Gafoer S, 1992, Geologic Map Of Kebumen Quadrangle, Java, Scale 1:100.000. Geologycal Research and Development Centre, Bandung.

Essential Definitions and Engineering Aspect of Rock

  1. Resume: Chapter 2 Geological Setting, Engineering Rock Mechanics

Dalam mekanika dan rekayasa batuan, batuan berperan sebagai material teknik dengan variasi yang tinggi akan mempengaruhi struktur (konstruksi), apakah struktur akan dibuat dalam batuan, di atas batuan, atau struktur merupakan bagian dari batuan. Dalam bidang sipil, batuan dipindahkan, diambil, dan ditambahkan untuk membentuk struktur. Sementara itu, di bidang tambang, batuan digali untuk open pit dengan fokus pada stabilitas lereng.

Lingkungan pembentukan batuan memiliki efek sangat besar dalam kegiatan rekayasa. Rekahan pada batuan akan mempengaruhi kestabilan dekat permukaan dan stress insitu alami mempengaruhi kestabilan struktur yang dalam. Selain itu, struktur keteknikan dapat juga dipengaruhi oleh kondisi batuan apakah kering atau basah, dingin atau hangat, dan stabil atau tertekan. Kondisi geologi dapat mempengaruhi mekanika batuan dan desain keteknikan.

 Deskripsi yang paling penting dari perilaku mekanik adalah kurva tegangan (stress)-regangan (strain) melalui pengujian kompresi satu arah (uniaksial). Kurva ini akan menggambarkan pengaruh yang sangat signifikan dari struktur mikro batuan dan sejarah dari perilaku mekaniknya. Gambar 1 memperlihatkan kurva tegangan-regangan untuk sampel batuan yang dikompresi dalam satu arah.  Ada beberapa karakteristik yang menarik dalam pengujian tersebut. Yang pertama adalah kekakuan (stiffness) yang didefinisikan sebagai modulus Young (E). Pada bagian sebelum puncak keruntuhan (pre-peak) dari kurva pada Gambar 1, batuan menjadi lebih atau kurang elastis. Untuk material dengan modulus tinggi (brittle), bagian awal dari kurva tegangan-regangan akan curam sedangkan untuk material dengan modulus rendah (ductile), kurva akan menjadi landai. Gambar 2 memperlihatkan perbedaan antara material brittle dan ductile. Karakteristik kedua adalah kuat tekan (compressive strength), yaitu tegangan maksimum (maximum stress) yang dapat dipertahankan batuan. Karakteristik ketiga adalah kecuraman dari bagian penurunan kurva yang merupakan ukuran kerapuhan batuan

Gambar 1
Gambar 1. Kurva tegangan dan regangan yang menunjukkan kekakuan, kekuatan, dan brittleness.

Gambar 2
Gambar 2. Ilustrasi perbedaan material brittle dan ductile.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bentuk kurva tegangan-regangan ditentukan oleh keberadaan struktur mikro. Misalnya, basal dengan butirannya yang halus, memiliki kekakuan tinggi, kekuatan tinggi, dan sangat getas. Di sisi lain, batugamping dengan variasi ukuran butir, memiliki kekakuan menengah, kekuatan menengah, dan penurunan kurva yang lebih landai akibat kerusakan bertahap dari struktur mikro.  Selama proses litifikasi dan sepanjang sejarah geologi, terdapat periode orogenik dan proses pembebanan yang bekerja terhadap batuan. Selanjutnya, terbentuk rekahan batuan dan struktur batuan lainnya (yang seringnya sangat kompleks) pada blok batuan.  Cara pembentukan rekahan mengarah kepada dua jenis diskontinuitas mendasar, yaitu pembukaan yang diistilahkan sebagai kekar dan pergerakan lateral yang diistilahkan sebagai zona geser atau sesar. Jenis diskontinuitas tersebut terdapat pada semua massa batuan di berbagai skala sehingga secara signifikan akan mempengaruhi deformabilitas, kekuatan, dan keruntuhan massa batuan. Selain itu, karakteristik penting lainnya seperti permeabilitas dipengaruhi hampir seluruhnya oleh konfigurasi struktur batuan. Selain itu, bukaan dari kekar dalam massa batuan merupakan saluran terbuka untuk aliran air yang membuat permeabilitas lebih besar dibandingkan dengan bagian batuan lainnya yang berdekatan.  Batuan sebagai material alami memiliki kondisi pembebanan dan in situ pre-existing stress dalam batuan. Peristiwa orogenik masa lalu menyebabkan batuan memiliki sejarah stress. Topografi permukaan dan erosi akan mempengaruhi in situ stress. Pada kasus penggalian dalam sebuah terowongan atau kegiatan penambangan, tidak ada pembebanan baru, melainkan berupa pre-existing stress yang disalurkan ulang oleh aktivitas keteknikan. Dalam semua kasus, hal ini akan menghasilkan stress yang meningkat di beberapa area dan menurunkan stress di tempat lainnya.

Ada dua aspek stress yang perlu diperhatikan oleh engineer:

1)      Kasus terowongan bawah tanah yang dalam, stress yang bekerja terhadap lantai akan sama seperti atap.

2)      Pada keseluruhan stress yang diukur di berbagai tempat, komponen stress horizontal lebih besar dari komponen stress vertikal.

Secara mendasar, komponen stress vertikal disebabkan oleh berat lapisan, sedangkan stress horizontal berkaitan dengan gaya tektonik seperti subduksi.

Gambar 3

Pembebanan yang diterapkan pada massa batuan yang mungkin mengandung pre-existing stress. 

Fluida pori dan aliran air lebih sulit terjadi dalam mekanika batuan daripada mekanika tanah. Meskipun massa batuan memiliki banyak rekahan yang lebih besar dan luas. Banyak batuan dalam intact-nya memiliki permeabilitas sangat rendah; aliran air biasanya melalui permeabilitas sekunder seperti rekahan pre-existing.  Aliran air dalam intact rock begitu penting perannya seperti dalam aplikasi di teknik reservoir dalam industri perminyakan, kasus aliran air dalam geothermal, dan pembuangan sisa radioaktif menggunakan aliran air 3D.   Faktor utama lain yang mempengaruhi batuan dan massa batuan adalah waktu. Material teknik berumur jutaan tahun, sedangkan aktivitas rekayasa dirancang hanya untuk jangka waktu seabad atau kurang.  Sehingga, terdapat dua jenis perilaku yaitu proses geologi, merupakan keseimbangan alam dan proses rekayasa yang relatif cepat.  Dalam jangka waktu lebih dari jutaan tahun, di beberapa area stress in situ batuan akan stabil dan di tempat lainnya stress akan dipengaruhi oleh aktivitas tektonik. Tekanan pori di batuan paling permeabel akan stabil tetapi aktivitas geologi dapat menyebabkan perubahan hidrogeologi. Sementara itu, respon batuan terhadap rekayasa terjadi dalam waktu yang sangat singkat.  Pengaruh waktu penting karena faktor penurunan kekuatan batuan sepanjang waktu serta pengaruh creep dan relaxation. Creep meningkatkan strain pada stress konstan. Relaxation menurunkan stress pada strain konstan.

Referensi:

Hudson, J. A. dan Harrison, J. P. (1998) : Engineering Rock Mechanics, Elsevier, UK, 29 – 36.

  1. Geology is Important for Rock Mechanical Analysis

Gresseth (1964) yang menyatakan bahwa studi kekar dan rekahan sering digunakan untuk mengindikasikan arah principal stress dan fabric skala besar dari massa batuan.

Kemudian, untuk berbagai tujuan praktis, mekanika batuan sering konsen dengan massa batuan, sering terjadi di dunia pertambangan dan keteknikan. Studi perilaku massa batuan berkaitan dengan perubahan stress atau kondisi lainnya (Pollard dan Fletcher, 2005). Pentingnya diskontinuitas yang mengontrol perilaku massa batuan (Müller, 1979). Stabilitas penggalian bergantung kekuatan massa batuan. Besarnya stress pre-existing bergantung sejarah geologi dari massa batuan yang diukur. (Hoek and Brown, 1980).

Dalam geologi, dibahas mengenai deskripsi batuan, proses-proses pembentukan batuan, sejarah geologi, dan aplikasi ilmu geologi dalam eksplorasi maupun kegiatan rekayasa.

Dalam mekanika batuan, batuan dapat menjadi subjek maupun objek dalam analisis. Hal ini bergantung tujuan kegiatan rekayasa apakah untuk pembuatan dam, terowongan, gedung, atau konstruksi lainnya. Struktur atau konstruksi yang dibangun apakah di atas permukaan batuan, di dalam batuan, atau menggunakan material dari batuan. Semua hal tersebut merujuk pada batuan.

Batuan sebagai material teknik memegang peranan penting dalam aktivitas rekayasa. Deskripsi material yang baik meliputi petrografi (komposisi mineral) dan struktur geologi (diskontinuitas) diperlukan untuk mengetahui karakteristik material yang akan digunakan. Kajian tentang sejarah dan pengaruh geologi juga mempengaruhi bagaimana in situ stress yang bekerja pada batuan. Pengaruh penting lainnya terhadap mekanika batuan adalah pengaruh air pori dan pengaruh pelapukan.

Strata geologi, perubahan material batuan, tipe batuan, struktur batuan, perubahan terhadap batuan, in situ stress, dan rezim hidrogeologi menjadi penting untuk kegiatan keteknikan. Pengaruh struktur batuan terhadap rekayasa dapat terjadi pada skala sangat luas hingga mikro. Interpretasi struktur batuan akan berpengaruh terhadap bentuk, desain, dan ukuran keteknikan.

Deskripsi petrografi memberi informasi mengenai bentuk formasi dan kandungan mineral yang secara teknis penting untuk dasar proyek keteknikan batuan. Komposisi mineral dapat mengestimasi sensitivitas batuan terhadap degradasi kimia oleh panas dan disolusi, identifikasi pelapukan yang menyebabkan slaking, ekspansi, dan estimasi pengisian mineral tertentu.

Sebagai contoh, dalam klasifikasi massa batuan, ada beberapa parameter yang digunakan untuk menentukan nilai dari massa batuan tersebut. Misalnya, karakterisasi dari kekar yang ada meliputi: bentuk, kondisi, spasi, lebar dari kekar, dan sebagainya. Perlu diketahui juga jenis batuannya untuk mengetahui karakteristik batuan yang ada. Basal akan memiliki kekuatan batuan yang tinggi dan kekakuan yang tinggi pula, sedangkan batugamping akan memiliki kekuatan dan tingkat kekakuan menengah.

Sementara itu, pengetahuan mengenai in situ stress yang bekerja di area konstruksi dapat membantu menentukan desain perkuatan yang perlu diberikan pada batuan agar konstruksi terbentuk dengan aman. Hampir semua stress di permukaan bumi memiliki dominasi stress horizontal yang lebih besar dari stress vertikal. Dengan demikian, perlu diperhatikan pengaruh stress horizontal ini terhadap proses konstruksi.

Berdasarkan uraian tersebut, geologi memegang peranan vital dalam mekanika batuan. Dalam menganalisis mekanika batuan, selain deskripsi batuan yang lengkap, kemudian kekar dan diskontinuitas yang terbentuk dalam massa batuan, juga diperlukan analisis mengenai stress yang bekerja pada batuan. Hal-hal tersebut akan mempengaruhi tingkat suksesnya suatu kegiatan rekayasa.

 Referensi:

Jaeger, J. C., Cook, N. G. W., dan Zimmerman, R. W., (1998) : Fundamentals of Rock Mechanics Fourth Edition, Blackwell Publishing, Malden, Victoria, Oxford, 1 – 7.

Hudson, J. A. dan Harrison, J. P. (1998) : Engineering Rock Mechanics, Elsevier, UK, 29 – 36.

Hoek, E. (2006) : Practical Rock Engineering, The Development of Rock Engineering, Unpublished, 1 – 21.

Pusch, R. (1995) : Rock Mechanics on a Geological Base, Development in Geotechnical Engineering, Elsevier, Amsterdam, 77, 1 – 48.

  1. Emphasis Rock Mechanics

Pada tahun 1960-an, perhatian dari mekanika batuan terfokus pada intact rock, sedangkan pada tahun 1970-an pada diskontinuitas dan massa batuan. Pada tahun 1980-an perhatian berkutat pada analisis numerik yang terus berlanjut hingga tahun 1990-an. Pada tahun 1990-an terdapat kombinasi di antara penentuan properti material, eksperimen in situ skala besar, penggunaan komputer, dan implementasi prinsip keteknikan. Saat ini, penggunaan komputer melebihi kemampuan kita untuk mengukur parameter input dan untuk mengetahui realisasi modeling komputer tersebut.

Saat ini, mekanika batuan diperlukan secara luas, meliputi kegiatan penambangan, sipil, dan juga indusri perminyakan. Dalam lingkup yang lebih luas, mekanika batuan digunakan secara sukses untuk memodelkan dan memprediksi perilaku dari massa batuan yang terkekarkan. Peralatan dan model yang dikembangkan berguna untuk cakupan industri dan desain rekayasa. Peralatan tersebut masih dapat dikembangkan menjadi lebih baik ke depannya.

Mekanika batuan dalam sepuluh tahun terakhir memunculkan teknologi kritis yang mengurangi resiko biaya pemboran, kualifikasi eksplorasi, dan meningkatkan produktivitas hidrokarbon. Mekanika batuan berperan penting dalam pembuatan keputusan vital dalam pemboran, pemboran air dalam, dan perekahan hidraulik masif, Ketidakstabilan lubang bor, subsidence, dan stuck pipe memakan biaya yang sangat mahal. Dengan teori, metode eksperimental, dan pesatnya pemodelan mekanika batuan memberikan pengetahuan dalam menyelesaikan permasalahan geologi yang kompleks dalam eksplorasi.

 Referensi:

Hudson, J. A. dan Harrison, J. P. (1998) : Engineering Rock Mechanics, Elsevier, UK, 29 – 36.

Amadei, B., Smeallie, P., dan Heuze, F. E. (2000) : Workshop on Industry-Government-University Partnership in Rock Mechanics and Rock Engineering: Challenge and Opportunities, American Rock Mechanics Association, iii.

The independent (2015) : Applied Rock Mechanics, http://courses.independent.co.uk/training/applied-rock-mechanics-arm-320939, diakses 29 September 2015.