Nasihat dari seorang Imam …

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman

Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan teman

Berlelah-lelahlah,manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak kerena diam tertahan

Jika mengalir menjadi jernih,jika tidak,akan keruh menggenang

Singa jika tidak tinggalkan sarang tak akan mendapat mangsa

Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari dan orbitnya tidak bergerak dan terus diam

Tentu manusia bosan padanya dan enggan melihat

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang

kayu gahuru tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan

“Imam Syafi’i Rahimahullah”

Engineering Geologist Roles and Responsibility

A. Aturan dan Tanggung Jawab Engineering Geologist

Tanggung jawab utama dari ahli geologi rekayasa adalah “getting the geology right” (Fookes, 1997 dalam Hencher 2012) dan “assessing the adequacy of investigation and its reporting” (Knill, 2002 dalam Hencher 2012), tetapi seorang engineering geologist yang berpengalaman dengan pelatihan yang tepat dapat pergi lebih jauh hingga membuat desain penuh sebuah struktur geoteknik. Demikian pula, beberapa insinyur geoteknik menjadi sangat berpengetahuan tentang geologi dan proses geologi melalui pelatihan, studi, dan pengalaman dan benar-benar bisa dipanggil sebagai seorang engineering geologist. Seorang engineering geologist sering dapat memberi kontribusi penting pada awal proyek dalam perencanaan dan desain investigasi untuk suatu lokasi dan memastikan bahwa kontrak dengan resikonya tepat.

Kontribusi utama seorang engineering geologist dalam sebuah proyek di antaranya:

  • Pengungkapan sejarah geologi di sebuah lokasi. Hal ini berkaitan dengan pengetahuan lokal dan regional, pemeriksaan dokumen yang ada, termasuk peta dan foto udara, dan penafsiran dari batuan yang tersingkap serta ekspresi geomorfologi. Geologi harus menjadi titik awal dari model dasar yang memadai untuk desain.
  • Prediksi perubahan dan dampak yang bisa terjadi di masa rekayasa struktur (mungkin 50-100 tahun). Pada beberapa lokasi, kerusakan parah dapat diantisipasi karena paparan elemen dengan pengembangan, penyusutan, dan gelindingan material. Lokasi dapat terkena bahaya lingkungan termasuk hujan biasa, gempa, tsunami, subsidence, settlement, banjir, erosi permukaan dan bawah permukaan serta longsoran.
  • Mengenali pengaruh geologi Kuarter, termasuk glasiasi terakhir, naik dan turunnya di permukaan laut, potensi menghadapi saluran tertimbun di bawah sungai dan muara.
  • Mengidentifikasi pola pelapukan masa lampau, kemungkinan lokalitas dan batas zona pelapukan.
  • Memastikan investigasi yang tepat dan hemat biaya dan pengujian yang berfokus pada ciri-ciri penting yang khusus untuk suatu lokasi dan proyek.
  • Penyusunan model tanah yang memadai, termasuk kondisi tanah, untuk memungkinkan analisis yang tepat dan prediksi kinerja proyek.
  • Kemampuan untuk mengenali potensi bahaya dan risiko residual, bahkan mengikuti investigasi yang berkualitas tinggi.
  • Identifikasi agregat dan bahan konstruksi lainnya; pembuangan limbah.
  • Mengenai manajemen proyek, ia harus mampu meramalkan kesulitan dengan kontrak yang tidak memadai yang tidak memungkinkan fleksibilitas jika mereka menemukan kondisi tanah yang buruk.

Ground engineering membutuhkan penggambaran spesifik proyek dari kondisi tanah bawah permukaan. Aspek utama yang terlibat merupakan ”Segitiga Geologi Teknik” (Gambar 1). Segitiga ini berpusat di sekitar kegiatan rekayasa geologi utama dari karakterisasi lokasi dan sintesis berdasarkan pemahaman genetik materi geologi, struktur, dan proses.

untitled6

Gambar 1. Segitiga Geologi Teknik.

Tujuannya adalah mendirikan model geologi komprehensif. Model ini membutuhkan spesifikasi dari dua fitur umum, yaitu komposisi dan kondisi batas geologi.

Komposisi tanah dan proses geologi yang berlaku di lokasi diidentifikasi paling jelas dan ditetapkan jika mereka dianggap dalam konteks genetik. Ini menempatkan geologi teknik sebagai ilmu geologi. Kondisi geologi saat ini dan lanskap adalah hasil dari masa lalu dan proses geologi yang sedang berlangsung, yang dapat menimbulkan bahaya ke struktur rekayasa ground. Desain dan konstruksi dari struktur berkelanjutan membutuhkan pemahaman dan akomodasi proses ini.

Rekayasa geologi akan hampir selalu bekerja dalam tim dan perlu mengambil tanggung jawab untuk perannya di dalam tim geoteknik. Jika ada kondisi geologi yang tidak diketahui dan bahaya yang signifikan, ia perlu membuat dirinya mendengar menggunakan terminologi yang dipahami oleh rekan engineering nya.

Geologi rekayasa memerlukan kuantifikasi mode geologi. Hoek (1999) dalam Hencher (2012) menggambarkan proses seperti “putting numbers to geology”. Hal ini bukan untuk mengatakan bahwa ahli geologi murni tidak mengambil pendekatan kuantitatif, yang mereka lakukan misalnya dalam menganalisis proses sedimen, struktur geologi, dan dalam geokronologi. Bagaimanapun, seorang geologis biasanya memiliki perhatian dalam proses yang relatif lambat dan tingkat stress yang sangat tinggi pada kedalaman yang tinggi. Perilaku tanah dan batuan dalam jangka pendek (hari dan bulan) dan pada stress yang relatif rendah adalah wilayah mekanika tanah dan mekanika batuan. Pengetahuan tentang prinsip-prinsip dan praktek mekanika tanah dan batuan penting bagi ahli geologi rekayasa. Ini termasuk kekuatan, kompresibilitas, dan permeabilitas pada materi dan skala massa, prinsip tegangan efektif, perubahan yang disebabkan regangan, kondisi kritis, dan dilatasi massa batuan.

Seperti yang dapat dilihat dari Gambar 2, geologi rekayasa dipandang sebagai salah satu disiplin ilmu intrinsik untuk ground engineering dalam arti luas. Meskipun berbasis pada bidang ilmiah non rekayasa, geologi teknik diposisikan pada tingkat hirarki yang sama seperti mekanika tanah dan mekanika batuan, berinteraksi dengan mereka dalam banyak aspek. Tidak ada ruang untuk beberapa pandangan tradisional lagi bahwa ‘‘engineering geology’s role …… is essentially that of a service agent’’ untuk engineer (Fookes, 1997 dalam Hencher, 2012). Jelas, dalam konteks ground engineering yang lebih luas, ‘‘all aspects must be kept in balance and no pertinent aspect should be omitted’’ (Knill, 2002 dalam Hencher, 2012).

untitled5

Gambar 2. Posisi mekanika tanah, mekanika batuan, geologi rekayasa, dan masyarakat internasional asosiasi dalam ground engineering (dimodifikasi JEWG, 2004 dalam Hencher, 2012).

Referensi:

Bock, H., 2006, Common ground in engineering geology, soil mechanics and rock mechanics: past, present and future, Bull. Eng. Geol. Env, 65: 209-216.

Hencher, S., 2012, Practical Engineering Geology, Applied Geotechnics, 4, Spon Press.

B. Feasibility Study

Dalam investigasi, feasibility study termasuk ke dalam tahap awal dari suatu tahapan investigasi. Feasibility Study ini terdiri dari tahap konsepsi proyek (project conception stage) dan tahap investigasi pendahuluan (preliminary investigation stage).

Project Conception Stage

Setelah ditentukan bahwa suatu proyek akan dilaksanakan, sebuah studi awal dilakukan berdasarkan semua data geoteknik, geologi, dan topografi yang tersedia. Lokasi yang diusulkan dan lingkungannya sebaiknya diuji oleh seorang ahli geologi rekayasa yang berpengalaman. Tujuan dari tahap ini adalah untuk mencoba mengidentifikasi masalah potensial yang mungkin terjadi dari kondisi geoteknik lokasi yang berhubungan dengan pekerjaan rekayasa yang diusulkan. Dalam hal ini, istilah Site Investigation diambil oleh kebanyakan untuk merepresentasikan investigasi lokasi termasuk kegunaan masa lalunya, kepemilikan, dan akses. Sebuah investigasi ground dari suatu lokasi disebut sebagai Ground Investigation dan bagian dari Site Investigation. Engineering geologist biasanya fokus pada kedua aspek pekerjaan ini. Data geoteknik, geologi, dan topografi sebaiknya mencakup: semua peta topografi yang tersedia, semua peta geologi dan hidrogeologi, memoar, artikel yang dipublikasi di jurnal ilmiah yang tersedia, foto udara pada semua skala, rekaman bahaya alam seperti gempabumi, badai, dan longsoran, investigasi lokasi dan laporan konstruksi untuk proyek rekayasa yang berdekatan, artikel publikasi properti geoteknik dari unit geologi yang ditemukan di lokasi, data hidrogeologi dan hidrologi, rekaman aktivitas manusia di masa lalu, masa sekarang, dan masa depan yang dapat mempengaruhi lingkungan geologi.

Rekomendasi suatu lokasi yang diuji oleh seorang ahli geologi rekayasa mungkin dapat dianggap sebagai ambang batas publikasi diri dalam buku yang ditulis olehnya. Bagaimanapun, tidak ada keraguan bahwa signifikansi dan bahkan kehadiran ciri geologi penting dari suatu lokasi dapat secara cepat dikenali oleh orang yang memiliki kemampuan dalam pekerjaan ini. Sebuah kerja dengan sedikit hari oleh ahli geologi rekayasa dapat menghemat banyak waktu dan masalah seperti uang.

Preliminary Investigation Stage

Evaluasi proyek dalam tahap konsepsi mungkin menunjukkan celah signifikan dalam pengetahuan dasar suatu lokasi, sehingga memungkinkan tidak adanya pengenalan masalah. Dalam sebuah kasus,. beberapa investigasi pendahuluan mungkin dibutuhkan untuk membuat pengetahuan dasar tersebut. Hal ini akan diperoleh menggunakan teknik yang relatif sederhana dan murah seperti laporan yang masih ada (peta dan foto udara), pemetaan geologi dan geologi teknik, geofisik, dan mungkin beberapa lubang bor. Lubang bor dapat diperoleh sebagian sebagai sebuah eksperimen untuk menentukan metode terbaik untuk pemboran, sampling, dan pengujian insitu yang akan dilakukan dalam tahap utama investigasi. Pada akhir tahap ini, sebaiknya ada pengetahuan yang cukup untuk memungkinkan desain dari investigasi ground utama.

Referensi:

Price, D. G., 2009, Engineering Geologi: Principles and Practice, Springer, Verlag.

LESSON LEARN FROM GEOLOGICAL CASES

Luar Negeri

A. Bendungan Malpasset, Perancis, tahun 1959

Sekitar 15 km dari Fréjus, sebuah kota Romawi kuno di Côte d’Azur, sepanjang Laut Mediterania, di sebuah tempat bernama Malpasset, sebuah bendungan telah dirancang dan dibangun tahun 1950-an untuk menyediakan irigasi dan air minum dari sungai kecil bernama Reyran.

Hanya failure yang menyadarkan dua ciri massa batuan yang terbukti instrumental. Sebuah blok besar batuan fondasi yang hilang adalah bagian kiri dari setengah busur bendungan, meninggalkan penggalian dalam bentuk dihedral yang dibatasi oleh dua muka bidang. Muka hilir adalah bidang sesar yang ditutupi oleh batuan hancur. Muka hulu terlihat sebagai satu set sobekan sepanjang dua atau lebih permukaan foliasi, tanpa batuan hancur.

Pada banyak lokasi bendungan dengan garis kontur yang memperlihatkan sebuah zona lemah, penyelidikan menggunakan parit bukan boreholes. Aksi pembersihan aliran membuat jalur sesar terlihat di tepi kanan dan memperlihatkan penampang melintang di kedua bank toe.

Pada skala matriks batuan, beberapa sampel (Goguel, 2010b dalam Duffaut, 2013) mengungkapkan batuan lebih cenderung dihedral yang mengandung serisit lebih daripada di tempat lain, sebuah mineral mika yang rentan terhadap peningkatan deformabilitas dan penurunan kekuatan. Dia menulis: “I think . . . the failure is due to thepoor mechanical strength of a gneiss which happens to contain dis-persed sericite” (pengamatan ini tidak diikuti dengan tes kekuatan dan deformabilitas, dan tidak ada blok batu dari dihedral yang disampling untuk memeriksa pengaruh ini). Pelapukan gneis telah ditunjukkan oleh beberapa ahli, tapi tidak ada pengamatan yang  menegaskan pengaruhnya; tidak adanya lereng yang menggelincir pada bagian hulu bendungan selama drawdown cepat dan keadaan yang sempurna dari saluran air di ketinggian menengah terbukti merupakan kekuatan global dari lereng.

capture

Fitur yang paling mencolok dari lokasi yang terkena failure. Gambar atas, penggalian “dihedral” dengan setengah blok yang naik jatuh setelah aliran; Gambar bawah, sebuah celah lebar terbuka pada bagian hulu dari lengkungan beton, yang lebih luas di dasar dan penutupan lebih tinggi (Duffaut, 1960).

untitled

Gambar dekat dari penampang sesar utama di tepi kanan. Batas yang hancur dari zona sesar terlihat jelas, ketebalan mencapai meteran (Duffaut, 1960).

Referensi:

Duffaut, P., 2013, The traps behind the failure of Malpasset arch dam, France, in 1959,           Journal of Rock Mechanics and Geotechnical Engineering, 5, hal. 335-341.

B. Gempabumi Kobe, Jepang

Pada tanggal 17 Januari, 1995 pukul 05:47 waktu setempat, gempa berkekuatan 7,2 Magnitude (Japan Meteorlogical Agency Scale) mengguncang Kobe, Jepang dan kawasan sekitarnya. Gempa Kobe (Hyogo Ken Nanbu Gempa) berlangsung selama hampir 15 detik yang menewaskan lebih dari 5.000 orang, melukai lebih dari 26.000 orang, menggusur 300.000 penduduk, menghancurkan lebih dari 150.000 bangunan, dan total kerugian ekonomi diperkirakan 20 triliun Yen (200 miliar Dolar AS) (Akai, 1995).

Kobe Jepang terletak di wilayah yang rawan gempa yang didominasi oleh sistem patahan kompleks (Akai, 1995). Wilayah Hanshin dan Pulau Awaji dipengaruhi oleh subduksi Lempeng Filipina dan Lempeng Pasifik. Pantai utara Jepang mengalami getaran tanah terbesar. Dengan kedalaman fokus 16 km dan durasi 15 detik, gempa menyebabkan perpindahan 1,7 m pada permukaan lateral dan 1,0 m perpindahan tanah vertikal. Peak Ground Acceleration (PGA) sebesar 0,5g, tapi sejumlah lokasi mengalami PGA melebihi 0,8g (Chung, 1996). Panjang rupture secara keseluruhan adalah sekitar 30 sampai 50 kilometer (Dickenson, 1996).

untitled2

Peta percepatan spektral Gempa Kobe, Jepang 1995 Kredit: Survei Geologi AS.

Bagian besar dari Pulau Kobe dan Rokko adalah lahan timbunan buatan (Dickenson, 1996). Profil tanah keseluruhan dari kota Kobe terdiri dari pasir yang diendapkan di permukaan, kemudian 10-15 meteran lapisan lempung marin lunak, diikuti oleh lapisan tebal kerikil dan pasir, yang diikuti oleh lempung Pleistosen getas (Brebbia, 1996).

Gambar di bawah ini menunjukkan profil tanah asli, yang kini memiliki lapisan pasir lepas yang diendapkan di atas. Pulau buatan ini diciptakan dengan menempatkan granit berpasir di atas tanah lempung kompresibel. Akibatnya, banyak dari struktur Kobe Jepang dibangun di atas tanah lunak lepas yang menyajikan dua bahaya gempa utama.

untitled3

Profil umum tanah yang rentan terhadap likuifaksi (Brebbia, 1996).

Pertama, likuifaksi yang terjadi. Saat gempa, tanah bergetar yang disebabkan likuifaksi dari tanah lepas dengan perkiraan luas 17 kilometer persegi (Chung, 1996). Sebagai tanah lunak dengan jumlah besar pasir dan air, proses likuifaksi diperkuat oleh percepatan tanah maksimum hampir 0,8g di beberapa lokasi. Kedua, masalah setttlement yang berkaitan dengan tanah lunak yang berkontribusi terhadap kinerja seismik yang buruk dari bangunan. Dengan kadar air yang tinggi di tanah lempung marin, pasir diendapkan dan granit menghasilkan settlement rata-rata 4 meter dan masih terjadi hingga sekarang (Brebbia, 1996).

Kedua pulau mengalami likuifaksi dan penurunan tanah sebesar 30-60 cm. Failure tanah pantai yang luas dilaporkan sepanjang pantai barat pulau pelabuhan dan sepanjang bagian selatan dari pulau Rokko. Timbunan granular di belakang struktur garis pantai menjadi miring dan rusak (Brebbia, 1996). Citra satelit mengungkapkan failure tanah pulau pelabuhan mencapai 2-3 meter gerakan horisontal serta 1 meter settlement (Brebbia, 1996).

Referensi:

Akai, Koichi, dan Bray, J. D., 1995, Geotechnical reconnaisance of the effects of the january 17, 1995, Hyogoken Nanbu Earthquake, JapanEarthquake Engineering Research Center Report.

Brebbia, C. A., 1996, The Kobe Earthquake: Geodynamical Aspects, Computational Mechanics Publications, Southampton, UK.

Chung, R. M., 1996, The January 17, 1995, Hyogoken Nanbu (Kobe) Earthquake: Performance of Structures, Lifelines, and Fire Protection Systems. Gaithersbrug, MD: The Institute.

Dickenson, S.E. dan Stuart D. W., 1996, Hyogoken Nanbu Earthquake of January 17, 1995. New York, NY: American Society of Civil Engineers.

Dalam Negeri

A. Bendungan Situ Gintung

Situ Gintung, lokasi yang terletak di suburban Cirendeu, Ciputat, Kabupaten Tangerang. Bendungan failure pada tanggal 27 Maret 2009, mengeringkan waduk, terjadi banjir yang menewaskan sedikitnya 100 orang.

untitled4

Lokasi Situ Gintung

Penggunaan asli dari bendungan telah menahan air untuk irigasi sawah yang kemudian digantikan oleh pembangunan perkotaan. Orang yang tinggal di dekat bendungan telah membuat keluhan tentang kebocoran di masa lalu dan bendungan benar-benar jebol pada bulan November 2008 namun tidak ada kerusakan yang terjadi. Daerah mengalami hujan deras beberapa jam pada malam 26/27 Maret, 2009 yang menyebabkan level waduk meningkat. Retakan dilaporkan terlihat di wajah tanggul bendungan sekitar tengah malam. Banyak orang terjebak di kota dan banyak naik ke atap rumah mereka untuk menghindari banjir.

Referensi:

U.S. Department of the Interior Bureau of Reclamation, 2014, RCEM-Reclamation Consequence Estimating Methodology, Interim Draft.

B. Tol Ungaran-Bawen

Jalan tol Semarang-Solo terbagi menjadi 5 (lima) seksi, yaitu  Seksi I Semarang – Ungaran, Seksi II (11 KM) telah dioperasikan sejak 10 Nopember 2011, Seksi II Ungaran – Bawen (11,95 km), Seksi III Bawen-Salatiga sepanjang 17, 93 Km, Seksi IV Salatiga – Bojolali sepanjang 24,13 KM, dan Seksi V Boyolali – Solo sepanjang 8,4 KM.

Belum genap satu bulan beroperasi dan diresmikan Menteri PU Djoko Kirmanto, badan jalan Tol Seksi 2 Semarang-Solo (SS) ruas Ungaran-Bawen di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah ambles. Kerusakan ini terjadi di ruas jalan kilometer (KM) 34+600, atau tepatnya di bagian pangkal jembatan Lemah Ireng 1 tahun 2014. Bangunan bawah jembatan yang berfungsi sebagai pemikul beban jembatan tersebut ambles lantaran diduga ada pergerakan tanah berikut talud peno pangnya.

Imbasnya, badan jalan tol sisi timur di sekitar pangkal jembatan ikut ambles hingga membentuk patahan. Adanya pergerakan tanah juga mengakibatkan retakan memanjang pada tanah urugan di sekitar amblesnya badan jalan. Selain itu, memicu ambrolnya talud pangkal jembatan dan membentuk patahan sepanjang hampir 10 meter.

Adanya persoalan infrastruktur tersebut, terjadi penyempitan di lajur tol dari arah Ungaran menuju Bawen, khususnya jelang ujung selatan jembatan sepanjang 879 meter tersebut. PT Trans Marga Jateng (TMJ), selaku pengelola tol Semarang-Solo, telah memasang rambu-rambu peringatan kepada pengguna jalan tol sejak KM 34+200. Termasuk pemasangan pengaman berupa barrier serta traffic cone di sekitar lokasi badan jalan yang ambles.

Referensi:

http://www.waskita.co.id/en/id/index.php/news2/item/500-menteri-pu-resmikan-jalan-tol-ungaran-bawen-seksi-ii-semarang-solo diakses tanggal 14 September 2016 pukul 10.00 WIB.

http://www.merdeka.com/peristiwa/belum-sebulan-diresmikan-jalan-tol-semarang-solo-ambles.html diakses tanggal 14 September 2016 pukul 10.00 WIB.

 

Gempa Yogya

Bencana gempa bumi yang terjadi di Yogyakarta dan sekitarnya pada Sabtu, 27 Mei 2006 berkekuatan 5,9 pada skala Richter, merupakan tipe gempa merusak dengan skala kerusakan 7 MMI (Modified Mercally Intensity). Korban jiwa mencapai angka lebih dari 6000, dengan puluhan ribu orang terluka, dari luka memar hingga patah tulang dan ratusan ribu bangunan rusak parah hingga hancur total. Kasus gempabumi ini dapat digunakan sebagai studi kasus untuk melakukan studi mitigasi bencana akibat gempabumi. Daerah yang mengalami dampak yang paling parah adalah kabupaten Bantul yang terletak disebelah selatan dari Kotamadya Yogyakarta dan sepanjang jalur patahan hingga ke kota Klaten, Jawa Tengah. Dataran ini merupakan daerah dengan tingkat kepadatan penduduk yang cukup tinggi dengan masyarakat tinggal di desa-desa yang dibatasi oleh persawahan.

Hal yang menarik dari kejadian gempabumi ini, bahwa hiposenter gempabumi berdasarkan hasil analisis after shock data terletak pada sebelah barat dari Sesar Opak dan pusat kerusakan diperkirakan tersebar sepanjang Sesar Opak. Hal ini berarti bahwa gempabumi merambat dari titik hiposenternya melalui zona lunak yang merupakan bagian dari Formasi Endapan Merapi Muda dengan komposisi sebagian besar tersusun oleh aluvial, tuf, breksi aglomerat, dan aliran lava.

Posisi sumber gempa bumi diperkirakan berlokasi pada jarak 10 km sebelah timur Bantul. Nilai momen seismik (Mo) gempa bumi Yogyakarta 2006 adalah 8,1385 x 1025 dyne cm dan momen magnitudo (Mw) adalah 6,5. Nilai strain normal yang berorientasi dalam barat – timur lebih besar dibandingkan dengan nilai strain normal yang berorientasi dalam arah selatan – utara. Metode simple kriging yang dipadukan dengan simulasi sekuensial gaussian memberikan hasil cukup baik dibandingkan dengan tanpa dipadukan dengan simulasi sekuensial gaussian.

Kedangkalan pusat gempa turut menyebabkan meluasnya kerusakan struktural. Gempa bumi yang serupa tingkat kekuatannya tetapi lebih dalam di bawah permukaan tanah akan mengakibatkan jauh lebih sedikit guncangan di permukaan dan karena itu lebih sedikit kerusakan pada bangunan. Skala bencana alam ini diperparah oleh kegagalan manusia mendirikan bangunan tahan gempa. Kerusakan berskala-besar terhadap bangunan-bangunan berkaitan dengan kurangnya kepatuhan kepada standar bangunan yang aman dan metode konstruksi dasar tahan gempa. Sebagian besar rumah-rumah pribadi menggunakan bahan bangunan bermutu rendah dan tidak memiliki kerangka bangunan yang esensial serta tiang-tiang penopang sehingga mudah runtuh akibat guncangan.

Manajemen resiko dari Gempabumi Yogyakarta ini dapat dilakukan melalui:

  • Pendidikan dan pelatihan kebencanaan perlu diimplementasikan dan secara periodik dilakukan penyegaran.
  • Perlu koordinasi yang lebih akurat diantara masing-masing stake holder dalam penanganan korban bencana baik dalam satu wilayah maupun antar wilayah.
  • Mitigasi gempabumi mencakup konsep Model Utama dan Rencana Awal Manajemen Mititgasi Bencana yang harus diimplementasikan untuk mengurangi resiko bencana gempa bumi.
  • Sistem pemantau dini hendaknya diimplementasikan sebagai bagian utama dari sistem tanggap darurat terhadap masyarakat yang tinggal pada lokasi bencana yang didukung oleh SDM yang terampil dalam membantu mengevakuasi korban serta penentuan rute evakuasi yang aman.
  • Pemahaman akan sumber bahaya dan potensinya kepada masyarakat hendaknya diintensifkan dengan diselenggarakannya diklat, penyebaran brosur, pamflet, sehingga dapat meningkatkan kesadaran publik akan bahaya gempabumi.
  • Hendaknya perlu dilakukan penataan ulang terhadap penggunaan lahan di daerah bencana secara kontinyu dan hendaknya penggunaan citra satelit atau photo udara dapat diimplementasikan untuk mengestimasi aktivitas patahan didaerah becana.

Referensi:

Abidin, H. Z., Andreas, H., Meilano, I., Gamal, M., Gumilar I., dan Abdullah, C. I., 2009, Deformasi Koseismik dan Pascaseismik Gempa Yogyakarta 2006 dari Hasil Survei GPS, Jurnal Geologi Indonesia, Vol. 4 No. 4, hal 275-284.

Haifani, A. M., 2008, Manajemen Resiko Bencana Gempa Bumi (Studi Kasus Gempabumi Yogyakarta 27 Mei 2006), Seminar Nasional SDM Teknologi Nuklir, Yogyakarta.

Laporan bersama BAPPENAS, Pemerintah Provinsi dan Daerah D. I. Yogyakarta, Pemerintah Provinsi dan Daerah Jawa Tengah, dan Mitra Internasional, 2006, Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian Bencana Alam di
Yogyakarta dan Jawa Tengah, Pertemuan ke-15 Grup Konsultatif untuk Indonesia, Jakarta.

Rakhman, A. N., Kuswardani, I, 2012, Studi Kasus Gempa Bumi Yogyakarta 2006: Pemberdayaan Kearifan Lokal Sebagai Modal Masyarakat Tangguh Menghadapi Bencana, Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains dan Teknologi (SNAST) Periode III, Yogyakarta.

Sulaeman, C., Dewi, L. C., dan Triyoso, W., 2008, Karakterisasi Sumber Gempa Yogyakarta 2006 Berdasarkan Data GPS, Jurnal Geologi
Indonesia, Vol. 3 No. 1, hal 49-56.

Seleksi Beasiswa Tanoto Foundation

Kali ini saya mau sharing pengalaman mengikuti seleksi BeasiswaTanoto Foundation yang berlangsung sepanjang Januari-Agustus 2016. Tanoto Foundation adalah yayasan filantropi yang memiliki kepedulian di bidang pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan kesehatan. Untuk kawan-kawan yang ingin mengikuti seleksi beasiswa dari Tanoto Foundation dapat mengikuti kabar terbarunya di situs http://www.tanotofoundation.org/id/. Pembukaan beasiswa dibuka tiap tahun pada akhir tahun hingga menjelang Maret tahun berikutnya. Seleksi administrasi biasanya diumumkan Bulan April, kemudian dilanjutkan seleksi psikotes dan Focus Group Discussion (FGD) Bulan April, dan dilanjutkan tahap akhir seleksi yaitu wawancara dengan pihak Tanoto Foundation pada Bulan Mei. Ketiga jenis seleksi itu saya lalui di kampus saya, Institut Teknologi Bandung. Dengan demikian, seleksi di kampus lain bisa jadi berbeda waktu pelaksanaannya. Tetapi, pendaftaran dan pengumuman penerima beassiswa biasanya serentak pada Bulan Juli atau Agustus. Pada pengumuman penerima beasiswa, saya sendiri tidak diterima.

Berbicara mengenai besaran beasiswa yang diberikan termasuk besar, yaitu mencakup biaya perkuliahan dan biaya hidup hingga selesai masa studi normal.  Berikut saya sharing seleksi penerimaan beasiswa Tanoto Foundation pada waktu-waktu kemarin dengan status pendaftar sebagai mahasiswa S2. Seleksi untuk mahasiswa S1 memiliki persyaratan yang sedikit berbeda, semua infonya bisa dicek di situs Tanoto Founfation.

A. Seleksi Administrasi

Saya terbilang telat untuk melakukan pendaftaran beasiswa Tanoto Foundation. Penutupan pendaftaran waktu itu akhir Bulan Februari 2016, sedangkan saya baru mendaftar tanggal 9 Maret 2016 karena sedang di lapangan untuk kunjungan lapangan sebuah proyek dari laboratorium. Saya juga tidak sempat memenuhi upload berkas-berkas penting seperti transkrip akademik, surat rekomendasi, surat keterangan bekerja minimal 2 tahun, dan esai. Tetapi saya berhasil lolos untuk mengikuti Seleksi Psikotes dan FGD.

B. Seleksi Psikotes dan FGD

Pada tahap ini, saya memenuhi undangan dari Tanoto Foundation karena berhasil lolos administrasi, meskipun banyak berkas online yang belum saya penuhi. Pada hari H harus membawa berkas-berkas yang seharusnya diupload di website pendaftaran. Maka dari itu, beberapa hari sebelum seleksi tahap ini, saya menyiapkan semua berkasnya, termasuk surat keterangan bekerja minimal 2 tahun. Di sini, meskipun saya tidak memiliki pengalaman bekerja secara resmi selama 2 tahun, saya tetap membawa surat keterangan dari laboratorium bahwa pernah terlibat dalam beberapa proyek di lapangan. Jadi, bagi kawan-kawan jangan minder atau tidak jadi mengapply beasiswa karena tidak punya pengalaman bekerja selama 2 tahun. Saya dan bahkan teman saya yang pada akhirnya lolos sebagai penerima beasiswa ini pun hanya berbekal surat keterangan dari laboratorium saja. Atau kawan-kawan bisa coba pakai surat keterangan sejenis. Intinya, selama kawan-kawan memiliki keinginan apapun silakan dicoba dulu karena dengan mencoba kita melakukan sesuatu. 

Pada tahap seleksi psikotes, saya berada di Ruangan Alumni Sipil untuk mengerjakan soal-soal psikotes berupa verbal, numerik, beberapa kuisioner, tes menggambar, dan tes koran. Kemudian diakhiri dengan diskusi kelompok dengan kasus benda-benda yang penting untuk dibawa saat kondisi kapal tenggelam. Saya melewati seleksi ini dengan cukup optimis untuk lolos tahap wawancara.

Tips dalam seleksi psikotes ini cukup sederhana. Kawan-kawan istirahat yang cukup pada malam hari sebelumnya dan datang beberapa menit sebelum tes berlangsung untuk menyesuaikan keadaan. Khusus untuk diskusi kelompok atau FGD, usahakan untuk mengemukakan pendapat dengan alasan yang bagus, sistematis, dan mudah diterima oleh orang lain.

C. Tahap Wawancara

Tahap wawancara menurut saya adalah penentu segalanya. Saya ingat, mahasiswa S2 ITB yang mendaftar beasiswa Tanoto Foundation ini berjumlah mencapai 300 dan yang diterima pada penerimaan akhir hanya 4 mahasiswa S2 saja. Jadi, wawancara sangat penting sekali untuk diperhatikan.

Saya diwawancara oleh dua orang dari pihak Tanoto Foundation dan mitra kerjasamanya. Pertanyaan yang ditanyakan adalah mengapa mendaftar beasiswa ini, kenapa memilih jurusan geologi, apa rencana setelah lulus S2, apa isu terkini yang sedang berkembang di Indonesia, ceritakan tentang kejadian Lumpur Lapindo (ini seusai jurusan), dan terakhir ditanya mengenai apa yang bisa membuat kami (Tanoto Foundation) bisa menerima Anda sebagai penerima beasiswa.

Tips dalam seleksi wawancara ini adalah jujur dalam setiap jawaban. Saya sendiri merasa sudah melakukan itu, tetapi kemampuan untuk menyampaikan jawaban dengan komunikatif mungkin menjadi kendala. Kawan-kawan juga tidak perlu terlalu gugup (ini merupakan kelemahan saya setiap mengikuti wawancara), anggap saja sedang berdiskusi sehingga suasana yang muncul bukan suasana menegangkan seperti pada kasus peradilan atau pengadilan. Yang terpenting juga adalah kawan-kawan memiliki alasan yang jelas dan kuat mengenai rencana studi dan keinginan mendapatkan beasiswa Tanoto Foundation.

Demikian, ada satu pepatah yang mengatakan:

“Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain dibukakan. Tetapi sering kali kita terpaku terlalu lama pada pintu yang tertutup sehingga tidak melihat pintu lain yang dibukakan bagi kita”.

Saya termasuk yang merasa kecewa pada diri sendiri karena tidak lolos beasiswa ini, alhamdulillah beberapa pekan setelahnya, saya diterima beasiswa lain dari ITB.

Bandung, 4 September 2016

Bagian Penutup Perjalanan 11 Hari Di Timau, Pulau Timor

Bagian paling menarik dari suatu film thriller adalah twist ending. Kami sudah berpacu dengan target dan waktu yang mepet, ternyata pencapaian kami di lapangan melebih ekspektasi sehingga di hari keempat sebelum jadwal pesawat ke Bandung, kami sudah bisa pergi ke Kupang untuk menikmati beberapa wisata. Tetapi sayangnya hal itu tidak terjadi. Kami kembali lagi ke Timau menempuh jarak seratusan kilometer dari Kupang dan kami bekerja kembali di lapangan.

P_20160730_163103_BF

Saat Foto Bersama Di Fatumonas

Ya, sampel yang kami bawa ternyata kurang sampel batuan yang dikemas dalam sample box. Kami hanya punya waktu efektif 1,5 hari dari sisa waktu dua hari sebelum pulang ke Bandung. Maka mau tak mau, setelah beristirahat selama satu malam di kosan Chyko, kami berangkat besok siangnya, yaitu hari Senin menuju Fatumonas. Perjalanan melalu Poros Tengah cukup lancar dan kami tiba menjelang ‘Isya. Angin kencang sudah mendinginkan semua orang yang tiba-tiba mengerumuni rumah Bapak Camat. Dosen-dosen yang terlibat dalam tim analisis dampak lingkungan baru datang siang tadi bersama dengan Pak Nidas untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat dan tetua suku mengenai rencana pembangunan Observatorium Nasional Timau. Kami disarankan untuk tidak berangkat malam itu menuju Timau karena alasan safety. Berkali-kali dosen-dosen tersebut mengingatkan tentang alasan keamanan jika berangkat malam itu juga. Kami tidak punya pilihan lain karena target kami ada yang kurang, yaitu sampel batuan berbentuk kotak 20 cm x 20 cm x 20 cm. Malam itu juga kami meluncur ke Timau dengan oto Mesakh.

P_20160730_164515

Sore Di Bukit Batu

Saya tak kuasa menahan kantuk, perjalanan dari Fatumonas ke Timau dengan medan yang naik turun dan berbatu tak terasa selama saya tertidur. Kami mendapat tambahan personil dari warga untuk mengambil sampel batuan. Sampel batu yang harus dibentuk kotak sejatinya akan mudah dibentuk menggunakan gerinda, tetapi karena keterbatasan kami menggunakan pahat dan alat seadanya. Sesampainya di sana, kami menimbang waktu dan memutuskan besok pagi, Selasa baru jalan untuk mengambil sampel di beberapa titik yang sudah kami ketahui saat mapping.

Pagi menjelang, setelah menyeruput kopi dan menyuap mie goreng, kami dibagi dua tim. Proses pengambilan sampel ini memang tidak mudah, untuk membuat agar berbentuk kotak kami pahat pelan-pelan juga dibantu dengan pisau dan golok. Sampai siang hari sampel ketiga kami dapat. Nampaknya hanya tiga sampel batuan berbentuk kotak yang bisa kami dapat. Setelahnya, kami melunjur untuk mengejar posisi sudah di Kupang karena saya dan Indra harus sudah di Bandara El Tari pukul lima pagi besoknya, Rabu. Kami tiba di Fatumonas dan tidak menemukan siapa-siapa. Ternyata tim amdal bersama Bapak Camat sedang ke desa-desa meneruskan sosialisasi. Kami hanya bertemu dengan Pak Alvin dan beberapa orang berseragam kepolisian militer menggunakan oto. Kami sampaikan pamit yang kedua kepada Pak Alvin dan memohon izin untuk kembali ke Bandung. Tak terasa delapan hari saya ada di Fatumonas dengan keramahan warganya, cerita yang begitu berkesan di dalam hati saya.

SDC19007

Saat Kami Bermalam di Timau

Akhirnya kami tiba di Rumah Lapan pukul sepuluh malam. Setelah sebelumnya makan malam bersama Kaka Mesakh dan teman-teman yang lain. Di Rumah Lapan kami bertemu dengan Pak Irvan dan Bu Clara yang juga akan pulang ke Bandung besok pagi. Jadi, saya dan Indra akan berbarengan ke bandara.

Pagi menjelang, kami berempat naik taksi menuju Bandara El Tari. Saya sempat bilang selamat berjumpa kembali kepada Chyko dan Husni yang sudah banyak membantu kami selama di lapangan dan hingga kami mau pulang ke Bandara. Taksi sampai dan kami berpisah dengan Bu Clara dan Pak Irvan karena maskapai yang kami gunakan berbeda.

SDC19027

Pesona Gunung Timau

Menunggu pesawat tidak terlalu lama. Pagi sudah menjelang, Rabu. Setelah lepas landas, awan-awan rendah berada di bawah pesawat. Pesona Pulau Timor begitu indah meski saya hanya melihat tanah Kupang di bawah awan-awan itu. Sungguh luar biasa penciptaan pagi itu. Kami seperti terbang di atas awan yang tak berujung, awan-awan putih yang bergumpalan berjejer cukup rapat menyisakan ruang penglihatan untuk laut-laut yang tenang. Mentari tidak bisa kami lihat, tetapi sinarnya lah yang membuat terang segalanya. Kemudian kami, saya dan Indra transit dulu di Surabaya.

Kami mencari makanan untuk sarapan dan singgah sebentar di sana. Saat kami akan menuju ruang tunggu, saya mendengar suara yang tak asing kemudian diiringi oleh sesosok kawan lama, Ikhwan. Bersama temannya. Saya berangkulan, sudah sangat lama tidak bertemu. Obrolan singkat memaksa kami hanya sebentar saja bertemu. Saya tak menduga bisa bertemu di Bandara Surabaya. Semoga ada waktu untuk kembali bertemu kawan-kawan lama yang sudah punya banyak cerita.

Pesawat kembali terbang menuju Bandung. Pemandangan kali ini disuguhi oelh deretan pegunungan Jawa yang sangat megah dan indah. Mungkin benar sebutan Jawa adalah Tanah Para Dewa. Keindahannya dari atas awan di dalam pesawat ini begitu mengagumkan. Warnanya yang biru pekat jika kami lihat dari kaca jendela pesawat menambah aroma gagah gunung-gunung yang kokoh. Mereka seperti menjaga para warga yang mendirikan tempat tinggal di kaki gunung dan dataran rendah di sekitarnya. Secara umum, gunung-gunung itu seakan menjadi tancap yang menempatkan Jawa berada di tempatnya sekarang. Di dekat garis katulistiwa sehingga produk vulkanik yang ada sungguh subur, menghasilkan tanaman-tanaman dan beragam kekayaan alam lainnya yang sedap dipandang mata. Sungguh suatu anugrah yang besar untuk negeri ini yang barang tentu tidak dimiliki negara lain.

DSC05215

Hamparan Rumput Timau

Akhirnya sekitar jam dua belas siang, Rabu kami sampai. Matahari di atas Kota Bandung yang padat cukup panas. Kami hirup kembali udara Kota Kembang. Kami kabari Bu Clara, Pak Imam, Pak Nurkhamdani, bahwa kami sudah tiba di Bandung. Sesampainya di kosan, beberapa jam kemudian, saya baca pesan yang masuk dari Pak Alvin dan Bapak Camat yang mengucapkan hati-hati di jalan. Ada getar kerinduan. Kemudian, tak lupa juga saya kabari Husni dan Chyko.

SDC18905

Fatumonas Yang Tentram dan Damai

Timau-Fatumonas-Kupang-Nusa Tenggara Timur, 24 Juli – 3 Agustus 2016.

Perjalanan yang begitu mengesankan …

Selamat berjumpa kembali🙂