Nasihat dari seorang Imam …

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman

Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan teman

Berlelah-lelahlah,manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak kerena diam tertahan

Jika mengalir menjadi jernih,jika tidak,akan keruh menggenang

Singa jika tidak tinggalkan sarang tak akan mendapat mangsa

Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari dan orbitnya tidak bergerak dan terus diam

Tentu manusia bosan padanya dan enggan melihat

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang

kayu gahuru tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan

“Imam Syafi’i Rahimahullah”

Slope Stability Analysis and Landslide Investigation

Factor of Safety

Menurut Pariseau (2007), tujuan utama analisis kestabilan lereng adalah mengestimasi factor of safety untuk massa lereng yang ditentukan. Sebuah formula factor of safety yang tepat untuk gelinciran translasi adalah perbandingan resisting forces dengan driving forces yang parallel dengan arah translasi seperti ditunjukkan pada gambar di bawah ini.Untitled

Formula untuk gelinciran translasi:  S= R/D

Kesepakatan dibutuhkan untuk menentukan apakah sebuah gaya disebut driving atau resisting. Kesepakatannya sederhana, gaya yang bekerja ke arah bawah pada bidang potensi gelincir  disebut driving forces dan gaya yang bekerja ke arah atas disebut resisting forces.

Untitled1

Pada kasus gelinciran rotasional, Fs = Mr/Md

Dalam lereng tambang dan pemotongan, factor of safety biasanya mendekati satu. Lereng tanah mungkin mensyaratkan factor of safety sebesar 1,5 atau kurang. Terdapat dua cara untuk meningkatkan factor of safety yaitu meningkatkan resistensi atau menurunkan gaya pendorong atau momen.

Referensi:

Pariseau, W. G., 2007, Design analysis in rock mechanics, Taylor & Francis, London hal. 15-17.

Menurut Duncan (2004), kestabilan lereng batuan untuk kondisi geologi seperti pada gambar di bawah ini bergantung kepada kekuatan geser (shear strength) yang dihasilkan sepanjang permukaan gelinciran.

Untitled2

Untuk semua keruntuhan tipe geser, batuan diasumsikan seperti material Mohr-Coulomb dengan shear strength diekspresikan dalam istilah kohesi c dan sudut geser φ.

Untitled3

Factor of Safety didefinisikan sebagai perbandingan resisting forces dan driving forces. Driving forces didefinisikan sebagai gaya resultan yang bekerja ke bawah bidang gelincir, sedangkan resisting forces didefinisikan sebagai kekuatan geser (shear strength) yang bekerja ke atas bidang yang menahan gelinciran.Untitled4

Pada gambar (a) di atas resisiting forces melebbihi displacing stress sehingga factor of safety lebih besar dari satu dan lereng aman. Jika permukaan lereng bersih dan tidak mengandung isian kemudian kohesi mendekati nol maka persamaa FS di atas berubah menjadi:Untitled5

Persamaan di atas berlaku pada kondisi lereng dalam keadaan kering, permukaan kering, dan tidak ada perkuatan yang dipasang. Blok batuan akan menggelincir ketika sudut kemiringan permukaan gelinciran sama dengan sudut geser permukaan dan kestabilan tidak bergantung pada ukuran blok yang menggelincir. Dalam artian, blok berada dalam kondisi “kesetimbangan batas/limit equilibrium”. Ketika driving forces secara eksak bernilai sama dengan resisting forces dan Factor of Safety sama dengan satu.

 Referensi:

Wyllie, D. C. dan Mah, C. W., 2004, Rock slope engineering: Civil and mining 4th edition, Spon Press Taylor & Francis Group, London dan New York, hal. 11-13.

Menurut Das (2010), tugas seorang engineer yang berurusan dengan analisis kestabilan lereng adalah menentukan nilai Factor of Safety. Secara umum, Factor of Safety didefinisikan sebagai:Untitled6

Dengan,     Fs = Factor of Safety yang berkaitan dengan kekuatan

τ = kuat geser (shear strength) rata-rata tanah

τd = tegangan geser (shear stress) rata-rata yang berkembang sepanjang bidang keruntuhan potensial.

Shear strength tanah terdiri dari dua komponen, yaitu kohesi dan friksi yang ditulis dalam persamaan:Untitled7

Dengan,     c’  = kohesi

Φ’ = sudut geser

σ’  = tegangan normal di atas bidang keruntuhan potensial

Dalam ekspresi yang sama, dapat ditulis juga:Untitled8

Dengan, c’d dan Φ’d  berturut-turut adalah kohesi dan sudut geser yang berkembang sepanjang bidang keruntuhan potensial. Melalui ketiga persamaan di atas, diperoleh:Untitled9

Ketika Fs sama dengan satu, lereng berada dalam kondisi keruntuhan yang akan segera terjadi. Secara umum, nilai 1,5 untuk Factor of Safety (yang berkaitan dengan kekuatan) dapat diterima untuk desain lereng stabil.

Referensi:

Das, B. M., 2010, Principles of geotechnical engineering: Seventh edition, Cengage Learning, Stamford, hal. 514-515.

Embankment Slope dan Cut Slope

Gambar di bawah ini menunjukkan variasi dari Fs, kuat geser, tekanan pori, beban, dan tegangan geser seiring waktu untuk sebuah timbunan (embankment) yang dibangun di atas endapan lempung. Seiring berjalannya waktu, tekanan air berlebih (excess pore pressure) dalam fondasi lempung menghilang, kuat geser lempung meningkat, dan Fs lereng meningkat. Untitled10

Cheney dan Chassie (1982) dalam Abramson (2002) mengestimasi Fs terhadap keruntuhan sirkular pada bangunan timbunan di atas fondasi lempung melalui persamaan:Untitled11

Dengan,           FOS = Factor of Safety

                        c = kohesi dari lempung sebagai fondasi (lb/ft2)

                        γfill = berat isi dari isian timbunan (lb/ft2)

                        Hfill = tinggi isian timbunan (ft)

Referensi:

Abramson, L. W., Lee, T. S., Sharma, S., dan Boyce, G. M., 2002, Slope stability and stabilization methods: Second edition, John Wiley & Sons, Inc, New York, hal. 13-14.

Dalam cut slope, kuat geser awal sama dengan kuat geser undrained dengan asumsi tidak ada drainase selama konstruksi. Berkebalikan dengan embankment slope, tekanan pori dalam cut slope meningkat seiring waktu. Peningkatan ini disebabkan oleh swelling dari lempung yang mereduksi kuat geser. Fs menurun seiring waktu hingga kondisi tidak stabil tercapai. Kondisi pada kasus seperti ini yang menjadi penjelasan untuk cut slope yang mengandung lempung kadang-kadang menjadi gagal setelah waktu yang lama dari ekskavasi.

McGuffrey (1982) dalam Abramson (2002) merumuskan waktu keruntuhan dari cut slope sebagai:Untitled12

Dengan,     t = waktu keruntuhan

h = jarak rata-rata dari muka lereng terhadap kedalaman maksimum tekanan pori negatif

                  T90 = factor waktu untuk konsolidasi 90% = 0,848

                  Cv = koefisien konsolidasi (ft2/hari)Untitled13

Referensi:

Abramson, L. W., Lee, T. S., Sharma, S., dan Boyce, G. M., 2002, Slope stability and stabilization methods: Second edition, John Wiley & Sons, Inc, New York, hal. 16.

Das, B. M., 2010, Principles of geotechnical engineering: Seventh edition, Cengage Learning, Stamford, hal. 570.

Metode dalam Limit Equilibrium

  • Metode Ordinary

Metode ini memenuhi kesetimbangan momen untuk permukaan gelincir sirkular, tetapi mengabaikan interslice dari gaya normal dan geser. Keuntungan metode ini adalah keserhanaannya dalam menyelesaikan Fs yang tidak memerlukan proses iterasi.Untitled14

u = tekanan pori

l = panjang dasar slice

α = inklinasi permukaan gelincir pada bagian tengah slice

Untitled15

  • Metode Bishop’s Simplified

Pada tahun 1955, Bishop mengusulkan solusi metode ordinary yang telah diperbaiki. Dalam metode Bishop Simplified ini, pengaruh gaya di atas setiap slice dihitung sesuai sudut yang ada.Untitled16

Dalam metode ini, prosedur trial dan error harus dilakukan untuk menemukan nilai Fs. Sejumlah bidang gelincir harus diselidiki sehingga dapat ditemukan bidang kritis yang menghasilkan Fs minimum. Metode ini mungkin adalah metode yang paling umum digunakan. Ketika diintegrasikan ke dalam program komputer, metode ini menghasilkan hasil yang memuaskan untuk kebanyakan kasus.

  • Metode Morgenstern-Price

Metode Morgenstern-Price memenuhi kesetimbangan gaya dan momen serta mengasumsikan fungsi gaya interslice. Metode ini menyeleksi fungsi gaya interslice. Inklinasi gaya interslice dapat bervariasi mengikuti fungsi:

T = f (x)λE

Dengan,           f(x) = fungsi gaya interslice yang bervariasi secara kontinyu sepanjang bidang gelincir.

λ = faktor skala dari fungsi yang diasumsikan.

Metode ini menyarankan asumsi suatu jenis fungsi gaya, untuk sebuah fungsi gaya yang diberikan, gaya interslice dihitung dengan prosedur iterasi hingga Ff  sama dengan Fm.

Untitled17

Keterangan,     Ff  = Factor of Safety untuk kesetimbangan gaya

Fm = Factor of Safety untuk kesetimbangan momenUntitled18

  • Metode Spencer’s

Metode Spencer’s sama dengan metode Morgenstern-Price kecuali dalam hal asumsi yang dibuat untuk gaya interslice. Sebuah inklinasi konstan diasumsikan untuk gaya interslice dan Fs dihitung untuk kesetimbangan gaya dan momen. Berdasarkan metode ini, gaya geser interslice berkaitan dengan

T = E tan θUntitled18

Rangkuman metode Limit Equilibrium ditampilkan dalam tabel di bawah ini.Untitled19

Keterangan,     α = sudut bidang gelincir

β = sudut inklinasi lereng

φ =  sudut geser

θ = sudut inklinasi dari gaya resultan interslice

c = kohesi (kPa)

h = tinggi rata-rata dari sebuah slice

                        E = gaya normal interslice (kN)

T = gaya geser interslice (kN)

Referensi:

Aryal, K. P., 2006, Slope stability evaluations by limit equilibrium and finite element methods, Doctoral Thesis, Norwegian University of Science and Technology, Department of Civil and Transport Engineering, hal. 10 dan 16.

Das, B. M., 2010, Principles of geotechnical engineering: Seventh edition, Cengage Learning, Stamford, hal. 548.

Critical Review SNI 13-6982.1 dan 2 tahun 2004

Pada SNI 13-6982.1, terdapat makna yang ambigu untuk keterangan bencana gerakan tanah. Dalam poin 3.3 disebutkan bahwa bencana gerakan tanah adalah peristiwa yang diakibatkan oleh proses geologis dan/atau oleh ulah manusia, mengakibatkan korban dan penderitaan manusia, kerugian harta benda, kerusakan lingkungan hidup, sarana dan prasarana, serta mengganggu tata kehidupan dan penghidupan masyarakat. Peristiwa yang dimaksud tidak spesifik terhadap gerakan tanah sehingga menghasilkan makna yang bisa multitafsir, tetapi hal ini diperbaiki dalam SNI 13-6982.2 pada poin 3.3 yang dituliskan menjadi bencana gerakan tanah adalah peristiwa gerakan tanah yang diakibatkan oleh proses geologis dan/atau oleh ulah manusia, mengakibatkan korban dan penderitaan manusia, kerugian harta benda, kerusakan lingkungan hidup, sarana dan prasarana, serta mengganggu tata kehidupan dan penghidupan masyarakat. Kemudian, istilah yang digunakan untuk jenis gerakan tanah topples adalah robohan bukan jungkiran. Hal ini mungkin merupakan pilihan kata saja yang digunakan dalam SNI.

Beberapa definisi dari gerakan tanah itu sendiri tidak terlalu lengkap menggambarkan kondisi gerakan tanahnya, seperti dalam definisi longsoran translasi yang digabung dengan longsoran baji. Kata yang digunakan sendiri untuk mendefinisikan gerakan tanah kadang berbeda untuk jenis longsoran translasi dan rotasi yang menggunakan kata depan longsoran.

Pada SNI 13-6982.2, definisi pada poin 3.20 tentang analisa kemantapan lereng yang dinyatakan sebagai analisis hubungan antara tinggi lereng dan sudut lereng yang aman terhadap gerakan tanah. Kemantapan lereng atau kestabilan lereng meliputi faktor yang memicu terjadinya longsoran dan faktor yang menghambat terjadinya longsoran (dalam hal ini SNI menggunakan istilah gerakan tanah). Tidak hanya berhubungan dengan tinggi dan sudut lereng saja, tetapi faktor lain seperti tekanan air yang dipengaruhi curah hujan, kemudian adanya pembebanan serta pengupasan lereng menjadi hal yang penting dalam analisis kemantapan atau kestabilan lereng.

Kemudian, istilah yang digunakan dalam SNI adalah pemeriksaan untuk gerakan tanah. Dalam definisi pemeriksaan ini diartikan sebagai penyelidikan. Dalam tata cara pelaporan, dijelaskan adanya bagian kondisi kegempaan, tetapi secara khusus tidak disinggung dalam poin-poin sebelumnya baik dalam tata cara pemeriksaan maupun dalam tata cara pelaporan.

Referensi:

SNI 13-6982.1-2004, Tata cara pemeriksaan lokasi bencana gerakan tanah.

SNI 13-6982.1-2004, Tata cara pelaporan hasil pemeriksaan.

Asrama Pelopor Jawa Barat Tahun 2016

-Pendaftaran-
||Asrama Pelopor Jawa Barat||
_______________________
》Asrama Pelopor adalah sebuah wadah pengembangan kecerdasan kader dari segi intelektual, spiritual maupun emosional yang diperuntukkan bagi mahasiswa dan mahasiswi asal Jawa Barat. Rekruitmen Asrama Pelopor diselenggarakan sebagai upaya penjaringan kader yang memiliki motivasi dan keinginan kuat untuk mengakselerasi diri dalam membentuk karakter yang siap melakukan perubahan untuk bisa memberikan manfaat yang seluas-luasnya.

》Fasilitas :
– Tempat tinggal (sekitar kampus ITB)
– Pembinaan
– Kesempatan memperluas relasi

》Kriteria Pendaftar :
– Mahasiswa/i Asal Jawa Barat dan kuliah di Perguruan Tinggi wilayah Bandung Raya
– IPK >= 2,75
– Angkataan 2014/2015
– Berkomitmen mengikuti program asrama

》 Syarat Berkas Pendaftaran
– Scan KTP
– Scan KTM
– CV
– Transkrip nilai kumulatif
– Essay dengan ketentuan
Tema : “Aku dan Jawa Barat”
Font : Arial size 12
Spasi : 1,5
Panjang tulisan : 500-1000 kata
Format : PDF

*Semua syarat berkas pendaftaran disatukan dalam format Zip (Nama file pakai Nama pendaftar), lalu dikirim maksimal 28 Mei 2016 via email agisnurholis@gmail.com

》Kontak Personal:
Reza : 085711077115 (id line: @rezarramadhan)
Asih : 085811937500 (id line: @assyurasih)

Organized by : Komunitas Pelopor Jawa Barat

Ap-RxZMRC_slHswbXXunDrVXC3i_V_wdkeM5I44_Po16

Analisis Tanah Lempung Sepanjang Jalan Bireuen-Takengon, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam

Latar Belakang

Tanah ekspansif adalah tanah berplastisitas tinggi yang mengalami perubahan volumetrik karena perubahan kadar air dalam tanah (Horn dan Strydom, 1998 dalam Dlamini, 2015). Tanah tersebut mengembang ketika basah dan menyusut setelah pengeringan dan menghasilkan rongga yang besar (desiccation cracks) di dalam tanah sehingga tanah menjadi tidak stabil dan berbahaya. Sifat mengembang terjadi akibat daya tarik kimia molekul air di dalam struktur lembar mineral lempung pada tanah (Das, 2002 dalam Dlamini, 2015). Tanah ekspansif juga disebut sebagai tanah mengembang, tanah aktif, tanah menyusut atau tanah bergelombang.

Tanah ekspansif menimbulkan bahaya geologi signifikan yang dapat menyebabkan kerusakan infrastruktur. Kehadiran tanah ekspansif dan masalah terkait telah dilaporkan di lima benua (Chen, 1988 dalam Dlamini, 2015) dan di lebih dari enam puluh negara (Al-Rawas, 1999; Shi dkk., 2002 dalam Dlamini, 2015). Kasus tanah ekspansif yang cukup menjadi perhatian di Indonesia adalah kasus Hambalang.

Penginderaan jauh merupakan teknik pelengkap yang lebih cepat, lebih murah, dan tidak sulit yang akan mendukung pemetaan dan penyelidikan geologi teknik (Yitagesu dkk., 2009 dalam Dlamini, 2015). Sebagai alat, penginderaan jauh didasarkan pada akuisisi data spektral kuantitatif radiasi elektromagnetik yang dipantulkan dan dipancarkan dari permukaan bumi (Lillesand dkk., 2008 dalam Dlamini, 2015). Citra satelit dapat menyediakan area yang luas atau cakupan sinoptik yang memungkinkan untuk memeriksa suatu daerah pada skala regional atau pandangan tunggal untuk mendapatkan detail yang lebih halus (Lillesand dkk., 2008 dalam Dlamini, 2015). Citra satelit sangat berguna di daerah terpencil karena data dapat diperoleh tanpa kontak fisik memasuki daerah tersebut.

Untuk kasus wilayah Indonesia yang memiliki banyak gunungapi, mineral lempung banyak terdapat akibat proses alterasi maupun pelapukan kimia. Efek dari tanah ekspansif dapat terjadi pada kasus-kasus lereng dan jalan yang ada di beberapa wilayah yang membutuhkan jalan penghubung guna mendukung perekonomian dan kegiatan sosial antarkabupaten atau provinsi.

Tujuan dari penelitian ini adalah mengindentifikasi tanah ekspansif menggunakan teknik penginderaan jauh untuk perencanaan investigasi geoteknik di sepanjang Jalan Bireuen-Takengon, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Dalam hal ini tanah ekspansif dapat berhasil diidentifikasi dan diklasifikasikan menggunakan penginderaan jauh.

Studi Literatur

Tanah ekspansif bergantung kepada jenis dan jumlah mineral lempung yang hadir dalam tanah. Mineral lempung adalah faktor paling penting yang mengontrol sifat-sifat tanah ekspansif (Mitchell, 1993; Chen, 1988; Gourley dkk., 1993 dalam Dlamini, 2015). Fraksi lempung dan luas permukaan spesifik lempung dapat meningkatkan potensi perluasan tanah melalui peningkatan daerah untuk afinitas air (Carter dan Bentley, 1991; Chen, 1988 dalam Dlamini, 2015). Mineral lempung menentukan proses penyatuan partikel tanah dan perubahan kembang-kusut (swell dan shrink) akibat air.

Mineral lempung adalah hidro-filosilikat yang hampir semua terbuat dari perulangan lapisan silikat tetrahedral dan lembar hidroksida oktahedral (Deer dkk., 1992;. Horn dan Strydom, 1998; Nesse, 2000 dalam Dlamini, 2015). Susunan lembar ini menimbulkan dua jenis struktur mineral lempung, yaitu struktur 1: 1 dan 2: 1. Struktur lembar mineral lempung mempengaruhi sifat fisikokimia tanah; sifat tersebut termasuk kapasitas penukaran kation, plastisitas, kemampuan kerja, kekuatan hijau, dan refrakter (Horn dan Strydom, 1998 dalam Dlamini, 2015). Beberapa mineral lempung yang paling dominan mencakup kaolinit, illit, monmorilonit (smektit) dan interstratifikasi (lapisan campuran lempung).

Penginderaan jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang obyek, daerah, atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh oleh sebuah perangkat yang tidak bersentuhan dengan objek, daerah, atau fenomena yang diteliti (Jensen, 2005; Lillesand dkk., 2008 dalam Dlamini, 2015). Hal ini dilakukan melalui akuisisi data spektral kuantitatif dari radiasi elektromagnetik yang direflektansikan dan dipancarkan dari permukaan bumi (Lillesand dkk., 2008 dalam Dlamini, 2015). Berbagai bagian dari spektrum elektromagnetik yang penting untuk pemetaan mineral mencakup panjang gelombang visible and near infrared (VNIR), short wave infrared (SWIR), dan thermal infrared (TIR). Fitur penyerapan dalam saluran VNIR berhubungan dengan obligasi kation dan proses listrik dan berguna untuk pemetaan oksida besi dan hidroksida seperti hematite dan goethite. Fitur penyerapan SWIR berhubungan dengan proses getaran dan peregangan antara molekul air dan kation yang berguna dalam pemetaan silikat dioktahedral dan trioktahedral yang mencakup mineral lempung dan amfibol. TIR berguna untuk pemetaan kerangka silikat seperti kuarsa dan feldspar; fitur penyerapan Si-O di saluran TIR mendukung hal ini. Pemetaan mineral menggunakan teknik penginderaan jauh yang terbaik adalah ketika vegetasi minimum dan tanah serta batuan terlihat.

Karakteristik reflektansi spektral tanah merupakan fungsi dari faktor-faktor seperti; tekstur tanah, kelembaban tanah, kandungan bahan organik, konten oksida besi, salinitas tanah, dan kekasaran permukaan (Van der Meer, 1999; Jensen, 2007 dalam Dlamini, 2015). Tekstur tanah dan kadar air tanah sangat dipengaruhi oleh kandungan mineral lempung dan tekstur tanah juga mempengaruhi kandungan bahan organik.

Tekstur tanah sebagian besar dipengaruhi oleh jumlah dan jenis kandungan lempung yang pada gilirannya mempengaruhi sifat ekspansif tanah, struktur tanah, dan bahan organik tanah (Jensen, 2007 dalam Dlamini, 2015). Ukuran partikel tanah adalah properti tambahan tekstur tanah, dengan penurunan reflektansi spektral tanah dikaitkan dengan peningkatan ukuran partikel. Hal ini disebabkan butiran yang lebih kecil memiliki reflektansi permukaan dan beberapa pusat hamburan yang lebih banyak dibandingkan dengan ukuran partikel yang lebih besar dengan jalur yang lebih internal dengan radiasi bersifat kurang diserap dan dipantulkan (Van der Meer dkk., 2012 dalam Dlamini, 2015). Properti lain yang berkaitan dengan tekstur tanah adalah kandungan bahan organik. Kehadiran bahan organik dalam tanah mengurangi kecerahan keseluruhan spektrum dan dapat menutupi fitur penyerapan. Jumlah material organik mungkin dapat secara signifikan mempengaruhi spektrum tanah yang bervariasi dengan tanah yang berbeda.

Kadar air tanah mempengaruhi spektrum tanah secara berbeda, yang memungkinkan untuk mengidentifikasi dan membedakan kadar air tanah yang berbeda. Kadar air tanah yang dapat diidentifikasi meliputi air pori bebas, air higroskopis dan hidrasi serta fitur-fitur yang dibedakan dalam wilayah spektrum elektromagnetik Short Wave Infrared (SWIR). Air pori bebas dan air higroskopis mengurangi pantulan keseluruhan tanah (Bedidi dkk., 1991 dalam Dlamini, 2015); dalam jumlah berlebih dapat menyebabkan fitur penyerapan di rentang panjang gelombang 1400 nm dan 1900 nm terlihat membulat. Air hidrasi memiliki fitur pembeda pada panjang gelombang yang lebih pendek yaitu lebih sempit dan dapat menghasilkan perluasan penyerapan band 2200 nm (Hauff, 2000 dalam Dlamini, 2015). Band 1900 nm menunjukkan air hidrasi dan menjadi penting berkaitan dengan potensi mengembang yang ada (Chabrillant dkk., 2002 dalam Dlamini, 2015). Potensi mengembang tinggi diperkirakan memiliki penyerapan yang lebih dalam dan luas pada panjang gelombang 1900 nm. Saluran penyerapan 1900 nm dapat digunakan untuk membedakan antara kaolinit dan montmorilonit atau ilit.

Tanah ekspansif menunjukkan fitur penyerapan pada band SWIR dari spektrum elektromagnetik karena fitur penyerapan karakteristik mineral lempung berada di band ini (Goetz dkk., 2001;. Chabrillant dan Goetz, 2006 dalam Dlamini, 2015). Mineral lempung yang dapat diidentifikasi dan dapat dibedakan dengan menggunakan region SWIR, panjang gelombang 1900 nm – 2500 nm sangat penting. Di wilayah ini, ada atau tidak adanya molekul hidroksil dan air penting untuk membedakan mineral lempung. Molekul-molekul ini menghasilkan proses getaran yang mempengaruhi penyerapan energi. Fitur penyerapan diagnostik yang berkaitan dengan molekul radikal hidroksil dan air ditunjukkan masing-masing pada panjang gelombang 1400 nm dan 1900 nm. Saluran penyerapan 1400 nm berhubungan dengan peregangan OH, sementara band 1900 nm berkaitan dengan air terikat dan karenanya mungkin menunjukkan potensi mengembang mineral lempung (Chabrillant dan Goetz, 2006 dalam Dlamini, 2015). Semua mineral lempung menunjukkan penyerapan diagnostik sekitar 2200 nm – 2300 nm yang berkaitan dengan kombinasi Al-OH (Chabrillant dan Goetz, 2006 dalam Dlamini, 2015). Posisi band 2200 nm bervariasi dalam mineral lempung yang berbeda. Variasi ini disebabkan rasio yang berbeda dari Al, Fe, dan kation Mg (Crowley dan Vergo, 1999 dalam Dlamini, 2015). SWIR sensitif terhadap variasi struktur kimia dan kristal dari mineral lempung. Tabel 1 menunjukkan fitur penyerapan dari beberapa mineral lempung.

Tabel 1. Fitur penyerapan utama dan molekul yang berkaitan seperti hidroksil dan air dari mineral lempung seperti smektit, ilit, dan kaolinit.
Tabel

 METODE

Dalam studi ini terdapat beberapa metode untuk menghasilkan lokasi jalan yang rentan ketidakstabilan terkait sifat mengembang tanah lempung (Gambar 1).

Metod
Gambar 1. Metode yang dilakukan dalam studi.

Koreksi atmosfer dilakukan untuk mendapatkan kondisi permukaan bumi yang lebih akurat dan meningkatkan kejelasan atau ketajaman citra sehingga objek yang di teliti dapat terlihat. Pengaruh dari efek atmosfer disebabkan oleh debu, kabut, atau asap yang sering kali menyebabkan efek bias dan pantul pada detektor, sehingga gambaran permukaan di bawahnya tidak dapat terekam secara normal.

Tahapan awal dalam mengoreksi atmosfer menggunakan metode FLAASH yaitu merubah Digital Number citra raster menjadi nilai Radiance, metode ini menggunakan pendekatan Planetary Reflectance dengan metode Top of Atmosphere (TOA). Kemudian dari hasil tersebut digunakan untuk melakukan pemrosesan menggunakan dengan metode FLAASH. Kriteria pengaturan yang diberikan dalam metode FLAASH yaitu tipe sensor Landsat 8 OLI TIRS, model aerosol berupa maritim karena berkaitan dengan posisi daerah studi berbentuk kepulauan, initial visibility sebesar 40 km yang menunjukkan cuaca pada citra di daerah studi dalam kondisi cerah, tinggi skala aerosol setinggi 1,5 km, rasio campuran CO2 sebesar 390 ppm, resolusi Modran 15 cm – 1, model multiscatter Modran yang dipilih adalah ISAACS, dan faktor skala reflektansi yang dihasilkan sebesar 1000.

DATA DAN ANALISIS

Secara geografis, daerah studi terletak di antara 5,27839 – 4,51068 Lintang Selatan dan 96,4509 – 97,0476 Bujur Timur (Gambar 2). Pada daerah studi  terdapat jalan nasional bernama Jalan Bireuen-Takengon yang berdekatan dengan sungai utama Peusangan. Daerah studi mencakup empat kabupaten: bagian selatan adalah Aceh Tengah, bagian tengah Bener Meriah, utara di Kabupaten Bireuen dan Aceh Utara.

Daerah studi memiliki beberapa formasi batuan yang terdiri dari Formasi Idi (Qpi) yang tersusun oleh kerikil agak mampat, pasir, batugamping, dan lempung, Formasi Seureula (Tps) tersusun oleh batupasir gunungapi klastika dan batulumpur gampingan sublitoral, Formasi Keutapang (Tuk) mengandung batupasir gunungapi klastika sublitoral dan delta sungai, Formasi Baong dengan penyusun batulumpur gampingan, dan batuan pusat Gunungapi Geureundong dengan produk vulkanik berupa Satuan Enang-Enang, Pepanji, Nama Salah, Lanpahan, dan Satuan Telong (Gambar 3).

Daerah

Gambar 2. Lokasi daerah studi (diunduh dari Google Earth).

Daerah geologi

Gambar 3. Peta geologi Lembar Takengon dan Lhokseumawe (Keats dkk., 1981 dan Cameron dkk., 1983).

Gambar 4 menunjukkan citra Landsat 8 OLI TIRS yang diunduh dari situs http://earthexplorer.usgs.gov/ Path 130 Row 57 dengan tanggal pengambilan data 4 Mei 2015 05:49:13z. Gambar 4 menunjukkan citra yang belum dikoreksi atmosfer. Sementara itu, Gambar 5 menunjukkan citra yang sudah dilakukan koreksi atmosfer dan nampak terlihat lebih cerah karena pengaruh atmosfer sudah dihilangkan.

Peta sebelum FlaashOke
Gambar 4. Citra Landsat 8 OLI TIRS Path 130 Row 57.

Peta setelah FlaashOke
Gambar 5. Citra yang sudah dikoreksi atmosfer.

Selanjutnya dilakukan resize data untuk memilih Region of Interest daerah studi. Gambar 6 memperlihatkan kenampakan alami dari daerah studi sehingga dapat dikenali beberapa objek utama seperti area perkotaan/permukiman yang diperlihatkan dengan warna putih, vegetasi warna hijau, laut warna biru, dan danau warna biru tua.

432Gambar 6. Komposisi RGB 432 natural daerah studi.

Gambar 7, 8, dan 9 secara berurutan memperlihatkan citra komposit dengan susunan RGB 567, 754, dan 765. Komposit citra tersebut menunjukkan kenampakan citra yang berbeda secara warna tetapi dapat diidentifikasi objek studi yang sama, yaitu area dengan perkiraan keberadaan mineral lempung. Area tersebut diperlihatkan dengan warna biru muda pada Gambar 7, warna pink pada Gambar 8, dan kuning kecoklatan pada Gambar 9.

567Gambar 7. Komposit citra RGB 567 di daerah studi.

754Gambar 8. Komposit citra RGB 754 di daerah studi.

765Gambar 9. Komposit citra RGB 765 di daerah studi.

Santos dan Goncalves (2014) mengemukakan bahwa pencarian dari mineral lempung di suatu wilayah berada pada region Short Wave Infra Red (SWIR) dengan karakteristik band 6 yang memperlihatkan nilai reflektansi yang lebih kuat dibandingkan band 7. Profil spektral dari area dengan perkiraan keberadaan mineral lempung di daerah studi menunjukkan pola reflektansi yang tinggi pada band 6 dan adanya pola penyerapan pada band 5 dan band 7 (Gambar 10).

SpectralProfileClay
Gambar 10. Profil spektral dari area perkiraan mineral lempung.

SpectralProfileVegetasi
Gambar 11. Profil spektral vegetasi di daerah studi.

Sementara itu, pola reflektansi untuk objek lain seperti vegetasi menunjukkan pola reflektansi paling tinggi pada band 5 dengan nilai Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) sebesar 0,80-0,94 (lihat Gambar 11) dan objek air menunjukkan pola reflektansi yang semakin menurun dari band 1 hingga band 7 dengan band visible di panjang gelombang biru memiliki nilai reflektansi paling besar (Gambar 12).

SpectralProfileWater
Gambar 12. Profil spektral air di daerah studi.

Indikasi mineral lempung dengan karakteristik penyerapan di band 5 dan band 7 serta pola reflektansi yang lebih kuat di band 6 menjadikan dasar untuk melakukan komposit citra melalu band math. Hal ini bertujuan untuk memperkuat tampilan dan memperlihatkan sebaran area yang lebih luas dan banyak untuk mencari keberadaan mineral lempung di area studi.

Gambar 13 memperlihatkan komposit citra RGB berturut-turut melalui Band (B) Math B6-B5, B6-B7, dan band 7. Gambar 14 menunjukkan komposit citra RGB berturut-turut melalui Band (B) Math B6-B7, B6, dan B5/B7. Sementara itu, Gambar 15 menunjukkan komposit citra RGB berturut-turut melalui Band (B) Math (B5*B7)/B6, B7, dan B6. Gambar 14 dan Gambar 15 nampaknya memperlihatkan keberadaan mineral lempung dengan sebaran yang lebih detail. Hal ini diperkirakan terkait komposisi band math yang digunakan dengan perlakuan band 5 dan band 7 yang semakin dikecilkan nilai reflektansinya melalui pembagian maupun pengurangan dengan band 6.

B6-B5,B6-B7,B7Gambar 13. Komposit citra RGB B6-B5, B6-B7, B7.

B6-B7,B6,B5slashB7Gambar 14. Komposit citra RGB B6-B7, B6, B5/B7.

 
B5kaliB7,B7,B6Gambar 15. Komposit citra RGB (B5*B7), B7, B6.

Gambar 14 dan 15 masing-masing memperlihatkan keberadaan mineral lempung dengan warna hijau, biru muda, dan kuning kecoklatan. Profil spektral pada area tersebut menunjukkan ciri spektral yang sama dengan pola reflektansi yang lebih kuat pada band 6 dan pola penyerapan pada band 5 dan 7.

HASIL DAN DISKUSI

Mineral lempung dapat berada pada berbagai jenis batuan, termasuk pada batuan sedimen yang lapuk secara kimia dan hasil alterasi produk vulkanik. Produk ubahan dan pelapukan kimiawai dari gunungapi Geureudong dan sejumlah kecil dari Formasi Baong, Sereula, Idi, dan Keutapang diperkirakan merupakan sumber dari pembentukan mineral lempung di daerah studi.


Gambar 16. Area yang ditandai lingkaran merah menjadi fokus perhatian terhadap kestabilan jalan Bireuen-Takengon.

Setelah dilakukan interpretasi keberadaan mineral lempung di daerah studi, dapat ditunjukkan lokasi-lokasi yang memiliki tingkat kerentanan terhadap kestabilan jalan dan lereng. Secara umum terdapat 6 (enam) area yang perlu diwaspadai terkait sifat mengembang tanah lempung yang terdapat di sepanjang jalan Bireuen-Takengon (lihat Gambar 16).

Sadisun dkk. (2003) mengilustrasikan ketidakstabilan lereng dan jalan berkaitan dengan sifat mengembang batulempung (Gambar 17). Batulempung dalam kasus tersebut merupakan jenis batuan lunak sehingga secara umum memiliki kondisi pengaruh yang sama dengan tanah lempung.

Dalam melakukan interpretasi mineral lempung, metode hiperspektral dapat menganalisis hingga jenis mineralnya seperti keberadaan smektit, ilit, dan kaolinit. Dalam studi penginderaan jauh yang dilakukan saat ini, penulis tidak melakukan analisis hiperspektral. Selain itu, produk vulkanik dari Gunung Geureudong akan menunjukkan jenis produk yang berbeda dan berpengaruh terhadap jenis mineral lempung yang dihasilkan.

Selanjutnya, penginderaan jauh yang dilakukan terhadap daerah studi, diharapkan dapat dianalisis jenis mineral lempungnya sehingga dapat ditentukan area berpotensi ketidakstabilan tinggi, menengah, dan rendah. Smektit selama ini dikenal sebagai mineral lempung dengan potensi mengembang tinggi yang akan memberikan dampak paling besar terhadap ketidakstabilan lereng maupun pondasi jalan.

Lempung
Gambar 17. Ketidakstabilan lereng dan jalan berkaitan dengan pengaruh lempung (Sadisun dkk., 2003).

KESIMPULAN

Mineral lempung yang ada di daerah studi diperkirakan terutama sebagai produk ubahan dan pelapukan kimia dari gunungapi Geureudong dan sejumlah kecil dari Formasi Baong, Sereula, Idi, dan Keutapang. Daerah studi yang berada di sekitar Jalan Bireuen-Takengon memiliki setidaknya 6 (enam) area yang menjadi perhatian terhadap ketidakstabilan lereng dan jalan. Selanjutnya, analisis hiperspektral diharapkan ke depannya dilakukan guna mendapatkan tingkat ketidakstabilan di daerah studi.

REFERENSI

Cameron, N. R., Bennett, J. D., Bridge, D. McC., Clarke, M. C. G., Djunuddin, A., Ghazali, S. A., Harahap, H., Jeffrey, D. H., Kartawa, W., Keats, W., Ngabito, H., Rocks, N. M. S., dan Thompson, S. J., 1983, Peta Geologi Lembar Takengon, Sumatra, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung.

Dlamini, N. J., 2015, Detection of expansive soils using remote sensing in Brits, North-West Province, South Africa, Theses Master of Science in Geography, University of Pretoria.

Keats, W., Cameron, N. R., Djunuddin, A., Ghazali, S. A., Harahap, H., Kartawa, W., Ngabito, H., Rock, N. M. S., Thompson, S. J., dan Whandoyo, R., 1981, Peta Geologi Lembar Lhokseumawe, Sumatra, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung.

Sadisun, I. A., Shimada, H., Ichinose, M., dan Matsui, K., 2003, Slope instability of road cuts due to rock slaking, 12th Asian Regional Conf. on   Soil Mechanics & Geotechnical Engineering, p. 747-750.

Santos, N. D. dan Goncalves, G., 2014, Remote sensing applications based on satellite open data (Landsat 8 and Sentinel-2), Conferencia Nacional de Geodecisao, Barreiro.

 

Cirata

Sudah tiga tahun, Lab Geologi Teknik tidak ekskursi. Tahun ini akhirnya bisa ekskursi. Perizinan ke sana sendiri sebenarnya terbilang mepet, tetapi kami dapat waktu yang pas karena pihak Cirata menyetujui usulan waktu ekskursi tanggal 18 April 2016.

Pertama, kami kontak langsung dengan nomor kantor Cirata 0264270928 Ext. 3030. Biasanya nomor Cirata ketika ditelpon sering sibuk (waktu terbaik untuk telpon jam 8 pagi), jadi agak susah saat ingin konfirmasi sesuatu, disarankan untuk kontak langsung dengan Pak Sukadi, sekertariat di kantor sana 087879605657. Selanjutnya, setelah diangkat, kami disuruh kirim surat pengajuan ekskursi ke nomor fax 0264271140. Respon dari Cirata terbilang cepat, jika jadwal ekskursi yang diajukan sesuai dengan jadwal mereka (tidak penuh oleh kunjungan dari orang lain) maka kita bisa ekskursi ke sana. Balasan fax dari mereka, mengharuskan kontak langsung ke bagian teknis pelaksanaan di nomor 0264270928 Ext. 3065, nanti biasanya diangkat oleh Pak Djaenudin.

Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Cirata merupakan PLTA terbesar di Asia Tenggara. PLTA ini memiliki konstruksi power house di bawah tanah dengan kapasitas 8×126 Megawatt (MW) sehingga total kapasitas terpasang 1.008 Megawatt (MW) dengan produksi energi listrik rata-rata 1.428 Giga Watthour (GWh) pertahun.

Kapasita 1008 MW tersebut terdiri dari Cirata I yang memiliki empat unit masing-masing operasi dengan daya terpasang 126 MW yang mulai dioperasikan tahun 1988 dengan daya terpasang 504 MW. Selain itu, Cirata II juga dengan empat unit masing-masing 126 MW, yang mulai dioperasikan sejak tahun 1997 dengan daya terpasang 504 MW. Cirata I dan II mampu memproduksi energi listrik rata-rata 1.428 GWh pertahun yang kemudian disalurkan melalui jaringan transmisi tegangan ekstra tinggi 500 kV ke sistem interkoneksi Jawa-Madura-Bali (Jamali).

Guna menghasilkan energi listrik sebesar 1.428 Gwh, dioperasikan delapan buah turbin dengan kapasitas masing-masing 129.000 KW dengan putaran 187,5 RPM. Adapun tinggi air jatuh efektif untuk memutar turbin 112,5 meter dengan debit air maksimum 135 m3 perdetik.

PLTA Cirata dibangun dengan komposisi bangunan power house empat lantai di bawah tanah yang pengoperasiannya dikendalikan dari ruang control switchyard berjarak sekitar 2 kilometer (km) dari mesin-mesin pembangkit yang terletak di power house.

PLTA tersebut merupakan pembangkit yang dioperasikan oleh anak perusahaan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN persero) yaitu PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB) yang disalurkan melalui saluran transmisi tenaga listrik 500 kilo volt (KV) ke sistem Jawa Bali yang diatur oleh dispatcher PLN Pusat Pengatur Beban (P3B). Kontribusi utama Cirata terhadap sistem Jawa Bali yaitu memikul beban puncak dan beroperasi pada pukul 17.00 – 22.00 WIB, dengan moda operasi LFC (Load Frequency Control) dengan fasilitas line charging bila sistem Jawa Bali mengalami Black Out dan Start up operasi/ sinkron ke jaringan 500 KV yang relatif cepat yaitu kurang lebih lima menit.

PLTA Cirata terletak di daerah aliran sungai (DAS) Citarum di Desa Tegal Waru, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Luas Waduk Cirata, dari ujung selatan kecamatan Cipeundeuy kabupaten Bandung barat, dan terbendung di desa Ciroyom, kecamatan Cipeundeuy kabupaten Bandung barat, yang berbatasan langsung dengan maniis kabupaten Purwakarta. Latar belakang pendirian PLTA ini, dengan letak sungai Citarum yang subur, bergunung-gunung dan dianugerahi curah hujan yang tinggi. Pembangunan proyek PLTA Cirata merupakan salah satu cara pemanfaatan potensi tenaga air di Sungai Citarum yang letaknya di wilayah kabupaten Bandung, kurang lebih 60 km sebelah barat laut kota Bandung atau 100 km dari Jakarta melalui jalan Purwakarta.

Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Waduk_Cirata

Ini dia foto-foto waktu kami ekskursi.:)

13015323_1129670093720647_8417902105926818878_n

Foto di jalan

13010873_1129666697054320_6455780821077430231_n

Mau masuk tunnel ke power house

13010689_1129671870387136_1342564977358065624_n

Tulisan Asmaul Husna yang ada di sepanjang jalan di Kawasan Cirata

13006592_1129667017054288_1566098923351474599_n

Foto bareng di underground power house

13006544_1129672603720396_9057053345579131089_n

Lagi Tes Akhir

13000108_1129671747053815_5640591157420673738_n

Bagian downstream

12993575_1129667547054235_5634486966744678885_n

Lagi khusu dengerin penjelasan tentang bendungan

12993471_1129666887054301_3833296057481016429_n

Pak Imam dan Asisten

download (1)

Bendungan Cirata

download

Jalan di tepi bendungan

LONGSORAN BESAR YANG DIPICU OLEH TOREHAN SUNGAI PADA CEKUNGAN DUERO KENOZOIK (SPANYOL)

ABSTRAK PANJANG

PENDAHULUAN

Longsoran yang disebabkan oleh torehan sungai umumnya terjadi pada kaki lereng atau pada lidah (toe) yang teraktivasi dari longsoranan sebelumnya. Cekungan Duero adalah cekungan terbesar di Peninsula Iberia (98.073 km2). Tiga area drainase dapat dibedakan berdasarkan ciri geologi dan topografinya yaitu Cekungan Duero Kenozoik, Tepi Barat Cekungan Kenozoik, dan Daerah Rendahan Duero. Pada Cekungan Duero Kenozoik terdapat Sungai Duero yang bersumber dari Rangkaian Iberia pada ketinggian 2169 m.

Longsoran besar terjadi hanya di bagian tengah Cekungan Duero Kenozoik. Secara geologi, daerah ini merupakan cekungan depan daratan yang pada awalnya berkembang sebagai cekungan endorhoik besar. Daerah ini dibatasi oleh rangkaian pegunungan yang dihasilkan selama orogenesa Variscan dan Alpin. Pada bagian barat, daerah ini dibatasi oleh Iberian Massif, Rangkaian Cantabriann di utara, Rangkaian Iberia di timur, dan Sistem Tengah di selatan.

Pada bagian tengah Cekungan Duero Kenozoik, satuan litostratigrafi dari bawah ke atas terdiri dari Satuan Aragonian Bawah, Satuan Pedroso de la Abadesa (Miosen Tengah-Atas), Satuan Duenas (Miosen Tengah-Atas), Satuan Tierra de Campos (Miosen Tengah-Atas), Satuan Cuestas (Miosen Tengah), Satuan Calizas del Paramo (Miosen Atas), dan Satuan Endapan Kuarter.

Pada bagian tengah Cekungan Duero Kenozoik terdapat tiga kelompok struktur rekahan yaitu rekahan berarah timurlaut-baratdaya berupa sesar normal dengan orientasi searah aliran Sungai Pisuerga di tengah cekungan.

Konfigurasi geomorfologi saat ini berkaitan dengan pembukaan cekungan endorhoik pada umur Pleistosen. Kedalaman maksimum dari torehan di bagian tengah Cekungan Duero Kenozoik berdekatan dengan pertemuan Sungai Duero-Pisuerga yaitu 100-600 m.

Di daerah kering seperti Cekungan Duero dengan litologi batuan sedimen subhorizontal yang berbeda-beda komponennya, erosi telah membuat pola morfologi terhadap lereng dibatasi oleh batuan resisten dan gawir-gawir. Sepuluh longsoran ditemukan di bagian tengah Cekungan Duero Kenozoik yang berkaitan dengan lembah Sungai Duero dan Pisuerga. Dalam cekungan tersebut diamati adanya longsoran rotasional besar pada bagian tengah, bersamaan dengan hadirnya lempung berplastisitas tinggi dan resistensi rendah pada Satuan Duenas.

Selain longsoran besar, proses pergerakan massa lainnya dapat diamati. Di daerah utara  Cabezon, sisi lembah dengan panjang 5 km bersesuaian dengan arah aliran Sungai Pisuerga. Terdapat tiga meander sungai yang saat ini menyebabkan erosi pada bagian lidah (toe) lereng. Gerakan massa yang terjadi berupa tipe gelinciran rotasional, jatuhan batuan atau jungkiran, dan aliran tanah.

METODE

Metode yang digunakan adalah pemetaan dan analisis sepuluh longsoran yang berlokasi di bagian tengah Cekungan Duero Kenozoik. Untuk mendukung data pemetaan, dilakukan metode remote sensing (stereofotografi udara). Pengukuran keaktifan longsoran dilakukan dengan monitoring sejak tahun 2002 menggunakan Dual-frequency GPS receivers-Leica GPS System 530 dengan antena AT502. Pada beberapa longsoran, dilakukan pengukuran sistematik langsung pada beberapa bagian dan digunakan juga alat inklinometer.

Pengujian geoteknik dilakukan untuk menghasilkan parameter dalam back-analysis menggunakan software Slide 6.0. Analisis XRD dilakukan untuk mempelajari mineralogi sampel. Sementara itu untuk menentukan umur longsoran Hontoria (contoh longsoran yang paling representatif) dilakukan dating 14C menggunakan teknik AMS.

 HASIL DAN ANALISIS

Semua longsoran yang berkembang berkaitan dengan meander sungai besar pada lereng (elevasi 160 m) endapan Miosen. Pada Sungai Duero dengan arah timur-barat, longsoran yang terjadi berada pada tepi sebelah kanan, sedangkan pada Sungai Pisuerga yang berorientasi timurlaut-baratdaya menghasilkan longsoran pada tepi sebelah kiri. Arah dari sungai-sungai tersebut berkaitan dengan dua arah utama struktur rekahan di Cekungan Duero. Perekahan ini menyokong perkembangan retakan tensional pada batugamping Paramo dan bagian paling atas Satuan Cuesta.

Pada Lembah Duero, empat longsoran diidentifikasi yaitu Los Canonigos (373-5) berupa longsoran roto-translasional, La Curva (373-4) berupa longsoran besar roto-translasional ganda, Granja de Sardon (373-3) merupakan longsoran terbesar dari semua longsoran, melibatkan material lebih dari 50 hm3, Penalba (373-2) yang pada awalnya berupa longsoran besar roto-translasional di atas lapisan lempungan subhorizontal kemudian penorehan sungai menyebabkan jungkiran (toppling) di bawah zona translasional.

Pada Lembah Pisuerga, enam longsoran diobservasi di antaranya Reinoso (312-2) berupa longsoran besar rotasional ganda dengan reaktivasi lanjutan dalam massa yang tergelincir, Monte Reinoso (312-4) berupa longsoran rotasional yang mempengaruhi seri Miosen secara keseluruhan, Hontoria (312-6) yang merupakan longsoran roto-translasional paling representatif di Cekungan Duero, Tariego (312-7) merupakan longsoran roto-translasional ganda yang tidak aktif karena area yang longsor sudah stabil oleh teras Sungai Pisuerga, Cuesta Alta (343-1) berupa longsoran rotasional sederhana, dan Cabezon (343-2) berupa longsoran roto-translasional.

Hontoria
Longsoran Hontoria (312-6). A) Kondisi secara umum. B) Peta geologi dan profil longsoran. C) Pergerakan pada bagian lidah (toe) longsoran. D) Retakan tensional pada bagian mahkota longsoran.

Longsoran Hontoria merupakan tipe longsoran kompleks dengan luas sekitar 0,36 km2 dan volume material sekitar 7 x 106 m3. Pada bagian atas lereng, longsoran mempengaruhi batugamping Paramo dan bagian paling atas Satuan Cuesta yang diiringi berkembangnya retakan tensional.

Tiga satuan litostratigrafi berumur Miosen dari longsoran Hontoria terdiri dari:

  • Satuan Cuesta, terdiri dari dari marl, lempung marl, gypsum, batugamping, dan dolomit. Sampel yang diuji berupa lapisan paling lempungan yang memiliki plastisitas tinggi.
  • Satuan Tierra de Campos, terdiri dari endapan siliklastik dari lanau, pasir, dan lempung dengan beberapa pasiran dan kerikil mikrokonglomerat. Sampel yang diuji dibagi menjadi tiga bagian dengan Campos I berplastisitas menengah, Campos II berplastisitas rendah, dan Campos III berplastisitas rendah-menengah. Sampel pada Campos I sebagai representatif lapisan lempungan memiliki c′ = 55,2 kPa, ϕ′ = 12° dan sampel Campos II sebagai perwakilan lapisan granular memiliki c′=16,4 kPa, ϕ′=26°.
  • Satuan Duenas dengan litologi lempung, marl lempungan, dan marl. 90% sampel merupakan lapisan sangat lempungan dengan dominan smektit dan ilit. Lapisan ini berplastisitas tinggi dan merupakan zona translasional dari permukaan dasar longsoran. Sampel yang diuji dari longsoran Hontoria pada kedalaman 32 m yang merepresentasikan Satuan Duenas di bawah bidang keruntuhan memiliki c′ = 40 kPa dan ϕ′ =21°.

Dating 14C terhadap longsoran Hontoria menghasilkan umur 2050 ± 40 tahun SM untuk sampel terdalam (3,5 m) dan 1780 ± 35 tahun SM untuk sampel terdangkal (2,6 m).

Back analyses dari longsoran Hontoria dilakukan dengan menggunakan geometri lereng sebelum terjadi longsoran. Dari hasil analisis tersebut, diperoleh nilai Factor of Safety mendekati 1 (1,023). Nilai ini hanya dapat dicapai ketika muka air tanah naik hingga dasar Satuan Tierra de Campos.

KESIMPULAN

Faktor geologi dan geomorfologi terhadap Cekungan Duero relevan terhadap beberapa keadaan berikut.

  • Banyaknya kejadian longsoran di bagian tengah Cekungan Duero Kenozoik dengan laju torehan sungai yang tinggi meningkatkan relief. Erosi sungai lateral terjadi pada bagian kaki lereng yang menghasilkan longsoran. Longsoran ini berkembang pada bagian sisi luar meander yang memotong lidah (toe) lereng lembah.
  • Longsoran besar terjadi mengikuti keruntuhan progresif ketika erosi sungai mencapai lapisan lempung berplastisitas tinggi yang overconsolidated pada Satuan Duenas di bagian tengah Cekungan Duero Kenozoik.
  • Longsoranan besar yang berkembang berkaitan dengan orientasi lembah sungai yang bersesuaian dengan arah regional dari rekahan. Rekahan tersebut menyokong pembentukan retakan tensional di bagian mahkota lereng yang mempengaruhi batugamping Paramo dan Satuan Cuesta bagian paling atas.

Longsoran besar teradi pada beberapa ribu tahun terakhir dan tidak ada kondisi yang memperlihatkan akan terjadi longsor baru di masa depan. Ketidakadaan longsor baru ini berkaitan dengan aktivitas antropogenik.

REFERENSI:

Yenes, M., Monterrubio, S., Nespereira, J., Santos, G., dan Fernandez-Macarro, 2015, Large landslides induced by fluvial incision in the Cenozoic Duero Basin (Spain), Geomorphology 246 (2015), Elsevier, halaman 263-276.