Nasihat dari seorang Imam …

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman

Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan teman

Berlelah-lelahlah,manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak kerena diam tertahan

Jika mengalir menjadi jernih,jika tidak,akan keruh menggenang

Singa jika tidak tinggalkan sarang tak akan mendapat mangsa

Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari dan orbitnya tidak bergerak dan terus diam

Tentu manusia bosan padanya dan enggan melihat

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang

kayu gahuru tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan

“Imam Syafi’i Rahimahullah”

Timau, Kupang – NTT: Sebuah Catatan Perjalanan Selama 11 Hari Bagian 1

Hari ke-1

Pesawat akan take off. Menuju Pulau Timor dari Bandung. Untuk pertama kalinya saya menuju ke pulau yang menjadi milik dua negara. Kabarnya daerah rencana observatorium nasional itu sedingin Lembang nya Bandung. Pukul 6 dini hari, pesawat nampak akan segera meninggalkan landasan. Ternyata kami digiring lagi ke ruang tunggu karena kabut membuat jarak pandang yang dekat sehingga pesawat terpaksa bertahan lebih lama 1 jam.

Setelahnya, semua berjalan lancar. Kabut perlahan menghilang diusir terpaan sinar mentari pagi. Semua sudah siap dan sesaat kemudian suara mesin yang cukup keras mengguncang tubuh penumpang dan membawa lepas ke udara. Kabut masih menutupi sebagian tempat di Kota Bandung. Sejam kemudian, akan transit dulu di Surabaya. Waktu yang cukup untuk sekadar melepas kantuk sisa tidur semalam.

Di Surabaya, sejam waktu tunggu hanya melamun melihat beberapa pesawat yang lalu lalang landing dan takeoff sembari membayangkan suasana Timau di Pulau Timor. Tentang kondisi geologinya dan tentang bentangan langit yang baik untuk pengamatan bintang maupun objek astronomis lainnya. Kami masuk ke pesawat yang siap menuju Bandara El Tari, Kupang.

Setelah landing dengan selamat, kami kontak dosen Undana, Pak Nidas dan segera meluncur ke rumah Lapan. Ada seorang anak muda menyambut kami dan memperkenalkan diri sebagai adiknya Pak Umbu. Setelah menyelesaikan biaya taksi kepada seorang pengemudi berbadan kekar dan bertato, kami masuk dan melepas lelah. Beberapa percakapan tentang Kupang terjadi. Setelahnya Pak Umbu datang dan bercerita lebih banyak, termasuk minatnya yang besar terhadap keilmuan geologi dengan background fisika. Tentang pengalaman melakukan survei menggunakan alat-alat geofisika dan keinginannya untuk belajar banyak mengenai ilmu geologi karena baginya sangat menarik.

Kedatangan Pak Nidas menambah hangat suasana malam di Kupang. Sepertinya tidak salah, semua suku di negeri ini memiliki daya humor. Saya beberapa kali tersenyum dan tertawa mendengar cerita-cerita yang mengalir dari pengalaman-pengalaman Pak Nidas. Tentang tempat khusus bunuh diri di Kupang pada sebuah jembatan, akibat masalah percintaan. Tentang kejadian tidak jadi nonton bioskop karena kebakaran satu kawasan. Baik Pak Umbu maupun Pak Nidas menunjukkan suatu sambutan yang hangat terhadap kami. Selebihnya malam itu kami merencanakan agenda selama 10 hari ke depan.

Lanjut Hari ke-2

Pagi menjelang. Suasana di Jalan Tidar ini begitu cerah, mungkin keseluruhan Pulau Timor juga demikian. Hari ini kami akan ke Science Centre. Pak Umbu mengantar kami ke sana. Jalanan cukup lengang. Pantai di sebelah utara nampak bisa terlihat dari kejauhan. Langit biru tanpa awan. Matahari bersinar dengan tenang. Kami singgah terlebih dahulu ke kampus Undana. Bertemu dengan Pak Nidas dan Husni di gedung fisika. Kampus di sini gedungnya saling dibatasi oleh pohon-pohon, nampak suasana yang lebih sejuk dibandingkan tempat lain, meskipun sebenarnya tetap kering. Mahasiswa-mahasiswa baru sedang asyik berkumpul. Mereka sedang mengurus pendaftaran masuk universitas.

Sesampainya di Science Centre, jalanan yang kami lewati adalah pecahan batuan yang diratakan yang telah tergerus oleh ban-ban kendaraan. Dari sini, kemungkinan lokasi Science Centre berlitologi batugamping. Kami semua turun dan melihat-lihat bongkahan batugamping di lokasi, kemudian pergi ke sebuah lereng yang menyingkapkan batugamping koral yang telah terhampar lengkap dengan tanah pelapukan dan tanaman-tanaman kecil yang tumbuh di atasnya. Di bawahnya, sebuah lembah memanjang lurus ke arah selatan. Pak Umbu bilang, kelurusan itu menerus hingga Bendungan Tilong. Beberapa jepretan kami ambil, terutama yang bersifat geologis. Cuaca semakin cerah dan panas. Kami naik mobil kembali dan mengitari kawasan calon Science Centre. Plang bertuliskan tanah milik pemerintah terpampang di bagian ujung batas lokasi.

Kawasan ini banyak ditumbuhi oleh rumput-rumput dan pohon-pohon kecil. Beberapa singkapan tanah memperlihatkan warna coklat cerah yang sesekali ditemukan sapi di sampingnya. Pohon aren di pinggir jalan menghiasi pemandangan. Beberapa ditebang, mungkin untuk dimanfaatkan hasilnya. Bisa untuk gula, atau buah yang dimakan. Kami melaju ke arah Bendungan Tilong.

Memasuki Bendungan Tilong, sungai kering. Kami melewati jalan yang di ujungnya terpampang tulisan besar Bendungan Tilong. Sebuah batas gelap dan putih pada bagian rockfill sepertinya menjadi tanda pembatas luapan maksimum air yang ditampung dalam bendungan. Sekarang sedang drop karena musim kemarau. Singkapan batugamping koral dan klastik tersingkap di pinggir jalan bendungan setelah kami melewati plang besar. Beberapa muda mudi asyik mengatur gaya untuk dipotret. Kami juga tak mau kalah. Kami berfoto bersama di spot-spot yang menarik.

Setelahnya, kami pulang menuju pusat perbelanjaan di Kupang. Kami harus mempersiapkan bahan-bahan survival selama di lapangan nanti. Jarak menuju Timau memang jauh, perjalanan dengan mobil bisa mencapai lima jam. Kami juga sempat melihat tempat bioskop yang pernah diceritakan adanya kebakaran di kawasan itu. Kemudian, setelah selesai berbelanja, kami singgah di tempat makan Jawa. Ada beragam macam menu. Saya mencoba sambal khas Kupang dan sambal teri, juga ayam bakarnya. Kemudian pulang ke tempat kami menginap, Rumah Lapan.DSC05174

Lanjut Hari ke-3

Setelah berbelanja bahan survival untuk di lapangan nanti, kami kembali ke Rumah Lapan dan bersiap-siap packing barang untuk perjalanan besok pagi. Malamnya datang Pak Chio dan Pak Nur untuk mengurus administrasi. Pagi menjelang diiringi dengan kedatangan Pak Nidas.

Mobil di Kupang disebut oto. Oto yang kami tumpangi sengaja turun dari Fatumonas ke arah Kupang atas perintah Bapak Camat. Setelah menaruh semua barang di bagian belakang mobil, lengkap dengan persediaan bahan makanan dan dua galon air minum, kami berangkat dalam kondisi cuaca yang sangat cerah seperti biasanya. Pak Umbu bilang sudah hampir 2 pekan tidak turun hujan.

Perjalanan akan memakan waktu sekitar 4-5 jam dan melewati jalan Timor Raya untuk kemudian berbelok ke arah utara menuju Kecamatan Amfoang. Di oto ini ada saya, Pak Nidas, Indra, Husni, Chyko, dan Pace serta kernetnya. Sepanjang perjalanan saya mengamati kondisi yang gersang. Baik sungai-sungai maupun pohon-pohon di pinggir jalan berdebu. Sedikit air yang terendam dalam endapan aluvial muda. Jalanan berbatu membuat suasana di dalam oto begitu menghibur. Hal ini juga diperindah dengan suasana perumahan warga yang beberapa terbuat dari dinding bambu dan atap dari daun-daun coklat.

Beberapa kali kami melihat anak-anak SD berlarian mengejar oto dan ada juga yang masih meneruskan perjalanan kakinya. Saya teringat dulu ketika di kampung, teman-teman dari kaki Gunung Kasur menempuh jalan hingga 7 km untuk pergi sekolah. Melihat anak-anak SD itu, sepertinya mereka menempuh jarak yang jauh dalam kondisi jalanan yang berbatu dan berdebu.

Seorang anak SD berwajah manis dan temannya yang juga anak SD naik ke oto setelah dibantu Husni dan Chyko. Beberapa percakapan singkat dengan kosa kata Kupang terlontar dari anak SD tersebut. Ternyata benar, dua anak SD ini baru turun setelah kami menempuh jarak yang cukup jauh. Kami mengangkat tangan tanda sampai berjumpa kembali.

Perjalanan berlanjut hingga memasuki kawasan Amfoang. Yang kami tuju adalah Amfoang Tengah di Desa Fatumonas. Beberapa puluh menit menjelang sampai di desa itu, kami melihat banyak sekali gejala creeping dalam tanah rumput yang di beberapa titik berkumpul sapi-sapi dan kadang kuda-kuda. Bergelombangnya bukit di seberang sana menambah kelapangan suasana pemandangan. Oto terus melaju di atas jalan lurus berbatu menuju Fatumonas.

Sesampainya di sana, kami disambut oleh Bapak Tani dengan ucapan selamat sore bapak. Kemudian kami menghirup udara segar nan alami dari sana. Sebuah danau kecil berada di sebelah barat kantor kecamatan dengan pohon-pohon berbenalu yang tumbuh jarang di pinggir-pinggirnya. Matahari sudah hampir mau tenggelam. Berduyun-duyun datang orang-orang dari kecamatan. Satu kesan yang paling saya kagumi adalah mereka sangat ramah dan perhatian terhadap orang lain. Seperti juga Pak Nidas, benar adanya orang-orang di Kupang suka bercerita yang menghibur sekaligus mengundang decak tawa.

Malam itu kami semua menginap di rumah camat. Sebelum tidur, kami makan malam bersama dengan sajian sayur dan ayam goreng yang dicincang kecil-kecil ditambah garam dan cabai lombok. Udara benar-benar segar, dingin, dan manis seperti mereguk madu.DSC05192

Lanjut Hari ke-4

Jelang hari ke empat di Kupang, tepatnya Desa Fatumonas, kami sempat ketemu dengan guru-guru SM3T yang berasal dari berbagai kampus yang diutus Dikti untuk mengajar di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal. Mereka sudah satu tahun rela mengajar anak-anak di desa ini demi pendidikan yang lebih baik bagi desa-desa tersebut.

Pagi menjelang, kami mempersiapkan peralatan dan barang-barang untuk melapang di hari pertama. Ternyata informasi dari Pak Sekretaris Camat bahwa jalan menuju Timau, calon lokasi Observatorium Nasional berupa jalan naik turun dan berbatu yang sangat sulit ditempuh oleh kendaraan bermotor. Akhirnya kami menggunakan jasa oto (mobil) khusus hari itu, ditambah memang barang yang kami bawa cukup banyak. Untuk mengambil sampel saja, kami bawa sample box, plastic wrap, aluminium foil, dan bubble wrap, serta lakban belum ditambah peralatan lainnya. Akhirnya kami ramai-ramai dengan orang kecamatan pergi menuju Timau. Tak lebih dari 10 orang berada di dalam oto. Sekali lagi cuaca sangat cerah. Waktu itu sudah jam 9 pagi. Oto lalu berjalan, selintas saya melihat keindahan tersembunyi dari Fatumonas. Bangunan rumah dengan bentangan alam langit biru, yang memiliki danau kecil di sekitarnya, pohon-pohon dan udara yang segar juga angin yang cukup kencang.

Benar adanya, jalanan menuju Timau berbatu dan ada lubang di beberapa titik. Kami beberapa kali berpegangan pada besi yang berada di atap oto untuk mencegah tubuh kami terbanting-banting. Satu yang sering terjadi adalah, warga di sini selalu menyapa ramah siapa pun. Jika bertemu, supir menekan klakson dan kami mengangkat tangan disertai angkatan tangan tanda sapa dari warga di jalan.

Sesampainya di Timau, saya terpesona oleh kemegahan calon lokasi Observatorium Nasional ini. Gunung Timau begitu namanya tegap berdiri di sebelah utara jalan. Jalan seperti hilang ditelan rimbunan pohon di kaki gunung itu. Gunung-gunung di sebelah timur seperti terlipat-lipat dalam kejauhan pandangan. Padang rumput yang jarang-jarang tumbuh di atas tanah Timau. Kuda-kuda berlarian dalam kelompok. Kami menemukan satu lokasi longsor.

Kami dibagi dua tim, ada yang mengambil sampel dan ada yang mapping. Pengambilan sampel berada di sekitar lokasi longsor. Saya pergi ke tempat lain yang masih dalam peta lapangan dan melakukan observasi geologi. Sebuah erosi bertipe parit saya temukan, menyingkapkan sebuah formasi khas, yaitu Bobonaro Clay dengan kenampakan bersisik. Diselingi oleh batugamping klastik, kadang ditemukan juga litologi tuf. Bongkah-bongkah batugamping klastik berukuran bongkah seperti bermunculan acak begitu saja akibat erosi ini. Tak lupa saya merekam semua data itu dan mendokumentasikannya. Lanjut ke lokasi lain. Mapping terus berlanjut. Hingga waktu sudah menunjukkan pukul 13 kami harus segera turun ke Fatumonas. Saat itu saya telah asyik mengamati sebuah singkapan batulempung dengan kekar yang intensif. Berbeda dengan kenampakan bersisik dari singkapan di lokasi pertama, lempung ini sedikit karbonatan.

Kami pulang. Satu sampel didapat berbentuk box dan mapping belum terlalu banyak lintasan yang dilalui. Masih ada hari esok. Sembari perjalanan pulang. Beberapa dari kami asyik dalam obrolan yang menghibur ditemani guncangan oto yang beradu kuat dengan jalanan yang berbatu dan berlubang. Untung waktu itu musim kemarau. Jika musim hujan, kami harus rela untuk mendorong bahkan menarik oto yang pasti beratnya sangat berat. Sesampainya di Fatumonas, kembali angin yang membawa kedinginan menyejukkan kelelahan kami.P_20160727_115738

Lanjut hari ke-5

Camp Timau

Tak terasa sudah hari kelima. Semalam Bapak Camat baru kembali lagi ke Fatumonas setelah ada acara di Kupang. Berita ini begitu menggembirakan bagi kami karena kami tidak perlu susah-susah mencari oto sekaligus meminta izin ke Pak Camat untuk membuat camp di Timau.

Saat matahari mulai muncul dari balik gunung di sebelah timur Fatumonas, angin kembali dengan belaian kencangnya menyapa pagi. Udara dingin terus menghantam kulit. Pak Camat setuju kami untuk camp selama 4 malam rencananya, untuk pengambilan sampel dan mapping geologi teknik. Pak Tani, Pak Alvin, dan James ikut untuk membantu kami selama camp di lapangan. Karpet, spanduk, dan terpal kami bawa untuk menjaga dari kedinginan dan tempat istirahat di camp.

Setelah melewati medan bebatuan yang naik turun, kami sampai pada satu spot yang cocok untuk mendirikan camp. Tidak terlalu jauh dari mata air sungai dan dekat dengan jalan serta berada di bawah sebuah tebing rendah. Tempat yang strategis. Secepatnya kami menghabiskan sisa hari itu untuk sampling dan mapping serta sorenya mendirikan camp dan memasak. Ini akan menjadi malam pertama kami di Timau. Camp kami tidak masuk hutan tetapi suara-suara binatang malam masih dapat terdengar.

Sebuah pemandangan nan megah terjadi di langit. Ternyata tidak salah mengapa Timau dipilih sebagai calon lokasi Observatorium Nasional. Saya merasa senang bisa melihat secara langsung keindahan astronomis malam itu. Mungkin dari sekian tim yang terlibat dalam survey lapangan untuk pembuatan observatorium ini, hanya tim kami (survei geologi) dan tim astronomi yang bisa melihat keindahan galaksi dan berjuta-juta bintang di atas sana. Beberapa rasi bintang sangat mudah dikenali, meskipun kadang saya selalu susah untuk mengingatnya kembali. Husni menerangkan sebuah rasi berbentuk kalajengking dengan dua bintang yang bersinar terang dalam rasi tersebut.

Kami ditemani oleh hangatnya obrolan dan tidak membiarkan dingin dan angin menaklukkan kami meskipun pada akhirnya kami juga terlelap dalam dinginnya malam itu. Malam terasa damai dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, sampai datanglah kejadian di malam kedua kami di Timau besoknya.P_20160728_174915

Lanjut hari keenam

Jika ada malam yang tak terlupakan itu adalah malam kedua kami di Timau. Malam pertama seperti tidak ada apa-apa di tempat kami camp. Jika ada hal yang tidak diundang datang, itu terjadi malam kedua saat kami sedang asyik ngobrol dalam malam yang dingin. Langit tidak cerah seperti malam kemarin. Bintang-bintang meski tak bisa dihitung pasti, jumlahnya tak sebanyak yang terlihat malam sebelumnya.

Saya masih ingat saat bermalam 3 malam di hutan Ciletuh, tidak ada kejadian apa-apa. Hanya ledakan meriam di penghujung mapping yang membuat saya ketakutan karena TNI AL sedang latihan. Pun demikian saat saya TA dengan bermalam 4 malam di hutan Sumedang, juga tidak terjadi apa-apa. Hanya kilatan petir menjelang malam mampu membuat saya cemas sehingga berlarian melewati rumput-rumput liar pesawahan dan meninggalkan bekas luka sayatan yang perih di betis-betis kaki. Yang ganjil adalah saat saya naik Gunung Pangrango, Waktu itu saya melihat sosok berambut hitam panjang dengan kain putih menjuiur di belakang saya yang saat itu berposisi sebagai sweeper pendakian. Kami sedang tersesat dari perjalanan pulang jam 3 sore di salah satu lembah gunung.

Saat malam kedua di Timau itu, kami sedang memanaskan tubuh dengan api dan membahas topik ngalor ngidul. Mata-mata kami belum terlalu mengantuk untuk tidur. Dingin di sana memang dibarengi dengan hembusan angin yang cukup kencang. Gunung Timau di sebelah utara telah lama hilang ditelan jubah hitam sang malam. Kami sempat melihat video-video kontestan ajang menyanyi yang kami putar dengan suara keras. Yang lain sedang terlarut dalam obrolan Pak Alvin. Beberapa kali tawa-tawa keras kami memecah malam itu. Kami juga sempat mendiskusikan tentang cahaya sebagai materi dan gelombang, berkisah kemana-mana, tentang dimensi lain yang lebih tinggi dari dimensi manusia, tentang bagaimana jin mengatakan kepada Nabi Sulaiman bisa memindahkan bangunan secara cepat. Hingga bercerita tentang mimpi yang entah benar tidak adalah antara alam sadar dan alam bawah sadar, muncullah sebuah insiden yang mengejutkan.

Malam pecah oleh suara-suara aneh yang kami tebak datangnya dari arah mana. Ternyata dari arah atas. Suara-suara yang tidak sendirian, tetapi beramai-ramai seakan menyoraki kami dengan suara khasnya. Kami merinding dan beranjak dari tempat duduk untuk saling mendekatkan jarak. Pak Alvin melempar sebuah kayu berbara api ke sebuah pohon yang letaknya cukup jauh dari tempat camp, seketika suara dari pohon itu lenyap seiring bara api yang juga menghilang. Tetapi suara di pohon lain terus menggaung. Burung hantu kata Pak Alvin. Saya tidak bisa menghitung jumlah burung hantu yang bersuara. Seperti hantu, mereka tidak terlihat, akibat pekatnya malam dan berada di tempat tinggi dalam rimbunnya pohon-pohon. Hanya suara yang terdengar mengerikan dan mencoba meneror kami untuk gelisah. Suara mereka terdengar cukup lama, mungkin sekitar 5 menit. Saya sendiri merasa merinding. Pak Alvin mencoba menenangkan kami bahwa tidak terjadi apa-apa. Kami semua mengambil posisi duduk kembali dalam jarak yang saling berdekatan. Saya terus terbayang peristiwa barusan.

Kami semua seakan ragu untuk tidur di dalam tenda, lebih baik di luar dihangatkan api dan obrolan yang sebenarnya semakin terdengar sayup-sayup. Kami terlelap juga dalam tidur. Seorang dari kami bertutur ada seseorang atau tepatnya sesosok yang berkelebat melewati tenda kami sesaat sebelum dia tidur. Malam yang begitu menegangkan pada saat-saat tertentu itu tetap kami lewati dengan tidur bersama di tenda dalam kedinginan. Pak Alvin sempat melihat seekor anjing sedang meraih nasi dalam wadah sebelum pagi menjelang.DSCN4167

Lanjut hari ketujuh

Menuju Kepulangan

Kejadian semalam telah berlalu. Hari kembali datang. Setelah menunggu hampir 3 jam, Om Monti datang dengan oto yang akan menurunkan kami ke Fatumonas. Mapping dan sampling berakhir lebih cepat dari target. Setelah menempuh perjalanan berliku, kami tiba di kantor camat. Sebuah bus cukup besar telah terparkir. Kami kemudian berkenalan. Mereka adalah orang-orang dari Lapan dan Boscha yang datang dan pulang hari itu juga. Kami memutuskan untuk pulang ke Kupang besoknya saja.

Setelah melihat bus yang mengangkut mereka, termasuk di dalamnya ada Ibu Clara yang menjadi penentu anggaran, kami bersiap-siap menuju pohon-pohon berbenalu untuk mencari sarang semut. Ada sekitar 12 buah yang kami bawa. Oski dkk membantu kami untuk mengambilnya. Melalui buku dari Pak Camat ada racikan dan kegunaan untuk berbagai macam penyakit dari sarang semut. Kami lalu membelah dan memotongnya menjadi lempengan bulat untuk dijemur hingga besok. Sore itu kami menikmati suasana Fatumonas yang sejuk dan damai.

Setelah itu kami pergi mencari sinyal komunikasi di atas bukit berbatu. Jaraknya dekat dari kantor camat, tetapi kami tetap menaiki oto untuk menuju ke sana. Tidak perlu waktu lama sampai puncak karena tingginya hanya sekitar sepuluh meter. Banyak lubang-lubang kemudian kekar-kekar yang sangat intensif memecah batugamping penyusun bukit itu. Berwarna gelap.

Dari atas bukit itu, kami bisa melihat seluas mata memandang dengan arah tiga ratus enam puluh derajat. Matahari sudah di ujung peraduan arah barat. Awan-awan menyajikan pemandangan gagah nan memesona akibat semburan kemerahan dari matahari. Sinyal komunikasi didapat, beberapa pesan masuk dan dibalas. Suara seperti gong berdengung yang berasal dari desa sebelah. Angin terasa kencang, jika tidak memakai jaket bisa menyiksa. Gunung Timau terlihat dalam kejauhan. Seperti biasa, awan atau kabut menutup bagian leher hingga puncak gunung. Kemudian malamnya gunung tersebut kembali menampilkan tubuh seutuhnya dan bintang-bintang berkelap-kelip.

Kami turun dan kembali ke rumah camat. Perjalanan terasa sudah berakhir. Besok kami bisa ke Kupang untuk menyempatkan barang sebentar agar bisa melihat-lihat tempat wisata di Kupang, hingga akhirnya sebuah twist terjadi di penghujung kepulangan kami besok hari.DSC05372

 

DSC05303

24 Juli hingga 30 Juli

Di sebuah kepulauan sebelah tenggara Indonesia dengan beragam keindahan alam dan kebaikan masyarakatnya, Timor Barat

Lanjut ke Bagian 2:)

Anomali Euro 2016

Anomali selalu berarti sebuah keganjilan dalam suatu peristiwa yang hampir pasti. Suatu kejadian yang tidak berlaku semestinya. Anomali juga terjadi di Euro 2016. Sorotan terutama terpaku pada babak knockout hingga partai puncak. Banyak kemenangan yang tidak terduga seturut tim-tim unggulan macam Spanyol, Jerman, Prancis, dan tim langganan turnamen besar Italia harus saling menghabisi.

images

101greatgoals.com

Italia dan Spanyol adalah dua kekuatan sepak bola yang merajai dunia dengan generasi yang berbeda zaman. Spanyol gemilang di abad milenium, tetapi harus menerima kekandasan belakangan ini. Terbaru saat dikalahkan Italia 2-0 di babak perdelapan final Euro tahun ini. Italia dengan taktik yang diusung Antonio Conte mampu membungkam agresivitas dan penguasaan bola yang biasa ditunjukkan Spanyol. Italia telah membuktikan bahwa dengan semangat dan kesatuan tim mampu menjungkalkan beberapa unggulan Euro 2016, setelah sebelumnya di fase grup juga mengalahkan Belgia dengan skor identik 2-0. Hal ini merupakan kemenangan berarti bagi Italia atas Spanyol setelah di tahun 2008 dan 2012 dikalahkan Spanyol dalam perburuan gelar Euro. Yang menyakitkan tentu saat di final empat tahun silam, gelar Euro direngkuh Spanyol dengan membantai Italia 4-0.

images (1)

sidomi.com

Jerman dan Italia. Mereka bertemu lagi di perempat final Euro 2016. Faktanya Jerman belum bisa mengalahkan Italia di turnamen akbar. Sebut saja, di Piala Dunia 2006 saat Der Panzer kalah 2-0 di kandang sendiri meski jadi tuan rumah. Kemudian bertemu di Piala Eropa 2012, lagi-lagi Italia membungkam Jerman 2-1. Tetapi, di pertemuan terakhir pada perempat final Euro 2016, mereka menang melalui adu penalti yang sengit. Dua kiper hebat kedua tim menjadi antagonis. Jerman melenggang menantang unggulan lainnya, Prancis.

Berlanjut ke semi final, Prancis bertemu Jerman. Pertemuan terakhir kedua tim berkesudahan dengan kemenangan Jerman melalui gol Mats Hummel di Piala Dunia 2014. Nyatanya kedua tim jarang bertemu di turnamen akbar, lebih banyak pertandingan di laga persahabatan. Rekor pertemuan antara kedua timpun secara keseluruhan relatif berimbang. Prancis akhirnya melaju ke final usai menang 2-0 atas Jerman di semi final Euro 2016. Les Bleus menjamu tantangan Portugal.

images (2)

sidomi.com

Final was coming. Head to Head kedua tim menghidangkan dominasi Prancis atas Portugal. Seleccao das Quinas tidak pernah menang atas Prancis di turnamen akbar. Pada semi final Piala Eropa tahun 1984 dan 2000, Portugal kalah oleh Prancis dengan skor masing-masing 3-2 dan 2-1. Pun demikian dengan Piala Dunia 2006, lagi-lagi Prancis memuluskan diri menuju final setelah memulangkan Portugal lewat penalti Zidane. Tetapi, malam tadi nampaknya tidak ada yang mampu menghentikan Portugal. Bahkan Prancis yang sakti dan keramat ketika selalu menjadi juara saat menjadi tuan rumah, sekaligus ingin menggenapkan siklus 16 tahunan juara Euro, tak kuasa melakukan hal itu. Seakan semua keadaan bersepakat untuk memenangkan Portugal yang hanya berbekal tiga seri di fase grup, kemudian tak pernah menang dalam waktu normal kecuali saat mengalahkan Wales 2-0 di semi final. Final pun mereka menangkan melalui babak perpanjangan waktu. Cederanya Ronaldo yang harus ditarik keluar pada menit 25 nampaknya menjadi alasan yang emosional untuk menambah motivasi rekan-rekannya sekaligus mempertebal anomali kemenangan di sepanjang gelaran Euro 2016.

Ya, semua itu pada akhirnya semakin menyakralkan siklus 12 tahunan kemunculan juara baru Euro, setelah Denmark tahun 1992, Yunani tahun 2004, dan PORTUGAL JUARA EURO 2016. Fantastis!

Adu Siklus di Final Euro 2016

Seperti yang sudah diduga, final Euro 2016 memungkinkan sebuah pertarungan siklus sepak bola yang berkecamuk antara Prancis dengan Portugal (lihat di sini).

uefa-euro-2016-logo

Dan Jumat dini hari kemarin hal tersebut menjadi kenyataan. Skor identik menjadi pembeda pertandingan kedua semi final. Final ideal yang menjadi harapan banyak orang jelas tidak terjadi di gelaran kali ini. Para unggulan juara sudah saling menghabisi di awal semenjak babak knockout dimulai. Akhirnya Prancis menjadi tim unggulan yang mencapai partai puncak. Les bleus mengalahkan Jerman dengan skor 2-0 tanpa balas, Jerman sebelumnya menang adu penalti atas Italia, di babak 16 besar Italia membungkam juara bertahan Euro 2012, Spanyol 2-0.

Senin dini hari besok, si Ayam Jantan akan menjamu Samba Eropa di kandang sendiri. Portugal versus Prancis di final Euro 2016 layak diberi judul “Adu Siklus”. Mari kawan, kita lihat apa yang menarik untuk laga final nanti.

Prancis memenangkan gelar juara Euro tahun 1984 saat menjadi tuan rumah, kemudian pada Euro 2000, mereka kembali menjadi juara setelah kemenangan dramatis pada babak perpanjangan waktu melawan Italia, sekaligus menyandingkan gelar dengan Piala Dunia 1998 (dua tahun sebelumnya) saat menjadi tuan rumah. Prancis saat menjadi tuan rumah adalah kekuatan sarat bukti yang menjadi jaminan  untuk menjadi juara pada turnamen besar.

Siklus 16 tahunan untuk Prancis tinggal selangkah lagi menjadi kenyataan jika mereka bisa mengalahkan Portugal di partai final tanggal 11 Juli 2016.

Berbicara Portugal, mereka belum pernah juara Euro, tetapi prestasi di ajang ini terbilang mentereng. Mereka memiliki siklus menarik. Tahun 1996 adalah permulaan siklus, ketika itu tim berjuluk Seleccao das Quinas dikalahkan Republik Ceko 1-0 di babak perempat final. Empat tahun berselang, mereka bertemu sang juara dunia, Prancis di babak semi final dan kalah melalui skor 2-1. Tahun 2004, saat Portugal menjadi tuan rumah gelaran Euro, mereka mencapai prestasi tertinggi yaitu masuk final, tetapi naas karena harus kalah oleh Negeri Para Dewa, Yunani, yang saat itu sedang mengejutkan jagat sepak bola Eropa.

Kemudian siklus Portugal ini berulang dari awal. Dimulai pada Euro 2008, Cristiano Ronaldo dkk. dikalahkan Jerman pada babak perempat final melalui skor sengit 3-2, tahun 2012 mereka harus rela tidak masuk final setelah kalah adu penalti melawan Spanyol yang sedang berjaya melalui generasi emasnya. Dan pada tahun ini, siklus itu mencapai puncaknya, Portugal mengalahkan Wales 2-0 untuk melaju ke final Euro 2016. Siklus tahun 1996 – 2000 – 2004 (perempat final – semi final – final) berulang pada tahun 2008 – 2012 – 2016 (perempat final – semi final – final). Akankah juga di final Euro 2016 nanti, Portugal kalah sesuai siklus yang sudah-sudah?

Berbicara kualitas pemain, kedalaman skuat, dan rekor pertemuan, Portugal kalah dibandingkan Prancis. Mereka sudah bertemu Les Bleus di semi final Euro 1984 dan Portugal kalah melalui skor 3-2. Prancis yang saat itu menjadi tuan rumah berhasil menjuarai Euro usai mengalahkan Spanyol pada babak final dan Platini menjadi topscorer sekaligus pemain terbaik. Pada semi final Euro 2000, Portugal lagi-lagi kalah, kali ini dengan skor 2-1 oleh Prancis. Di partai puncak, Tim Ayam Jantan keluar sebagai juara setelah mengkandaskan Italia dan Zidane menjadi pemain terbaik saat itu.

Besar kemungkinan kali ini Prancis akan menjadi juara lagi karena faktor kuat yang telah sarat bukti jika Les Bleus menjadi tuan rumah. Meskipun ada satu siklus yang bisa menjadi kartu As bagi Portugal, yaitu siklus 12 tahunan juara baru Euro seperti yang ditorehkan Denmark tahun 1992, Yunani tahun 2004, dan tahun ini, 12 tahun berselang, Portugal berkesempatan meyakinkan pecinta sepak bola melalui siklus juara baru Euro.

Cristiano Ronaldo memang bintang bagi Portugal yang bisa jadi pembeda di final nanti, tetapi Antoine Griezmann sebagai pencetak gol terbanyak Euro 2016 dengan 6 gol berpotensi untuk mengikuti jejak pendahulunya, Zinedine Zidane dan Michel Platini, sebagai pemain terbaik yang membawa gelar juara bagi tuan rumah.

images

Sekali lagi, kemungkinan Prancis menjadi juara lebih besar dibandingkan Portugal dan kebanyakan pecinta sepak bola sepakat bahwa Seleccao das Quinas sebenarnya tidak tampil mengesankan di Euro 2016. Tetapi, bukan sepak bola namanya jika tidak memberikan kejutan. Siklus manakah yang terbukti benar di final Euro 2016?

  • Siklus 16 tahunan Prancis
  • Siklus 12 tahunan munculnya juara baru Euro
  • Siklus perempat final, semi final, final Portugal
  • Atau faktor keramat Prancis jika menjadi tuan rumah

 

Untuk Apa Kuliah

Kawan, saya pernah mendengar sebuah ungkapan. Untuk mengikat ilmu, tulislah. Saya mau cerita perjalanan saya kemarin.

Saya mendapat pembinaan dari beasiswa Chevron-Dompet Dhuafa (DD) semenjak S1 dan sekarang menjadi alumni DD. Banyak proyek sosial yang dilakukan di daerah sebagai bentuk manfaat dari value yang ditanamkan kepada para penerima manfaat. Di Sukabumi, kami kemarin ada acara santunan kepada anak yatim juga kepada yang tidak mampu, berkolaborasi dengan rekan-rekan dari Scoopa. Acara berjalan meriah karena dihadiri banyak masyarakat selain anak-anak, juga menampilkan pentas seni termasuk ada lomba-lomba lainnya.

berapa-biaya-kuliah-di-korea-9kueB3GqVm

news.okezone.com

Kami para alumni dan penerima manfaat berkumpul untuk bersilaturahim karena beberapa, terutama alumni baru bisa bertemu kembali. Banyak kabar-kabar baru. Rata-rata untuk para penerima manfaat, mereka sedang menuju tugas akhir dan setelah lulus akan mengalami masa kegalauan dalam mencari minat sesungguhnya. Untuk alumni, ada yang sudah bekerja dan ada yang sedang meneruskan S2. Selaku dari pihak DD, Mas Hassan memberikan materi pembinaan kepada penerima manfaat serta saran-saran kepada alumni.

Di sinilah kawan, saya menuliskan kembali tentang ilmu itu.

Banyak pengangguran berijazah di Indonesia. Tujuan ketika kuliah, mungkin ada yang ingin agar bisa bekerja di perusahaan besar, ingin lanjut terus ke jenjang pendidikan tertinggi, atau bekal menjadi wirausahawan. Banyak yang memutuskan untuk tidak menganggur kemudian mengambil S2 dan setelah lulus tidak tahu mau apa, pun jika mereka diterima bekerja, perusahaan menilai sama antara lulusan sarjana dan magister. Saya dan teman-teman saya termasuk yang merasakan masa pengangguran setelah menyandang gelar sarjana. Rasanya tidak menyenangkan. Awal-awal seakan kita bisa rehat sebentar dari kepenatan dunia kampus. Setelah itu, ada rasa bosan kemudian menjadi galau yang menyiksa diri. Masa depan tidak jelas. Ya, kondisi di negara kita memang sedang susah.

Mas Hassan menuturkan, lebih baik bekerja dulu bagi yang sudah lulus sarjana untuk mendapatkan pengalaman bekerja dan merasakan bagaimana kondisi sebagai seorang karyawan di perusahaan sekaligus mengaplikasikan ilmu-ilmu yang sudah kita pelajari di kampus. Jika kita memilih jalur profesional, kebutuhan S2 dan jenjang yang lebih tinggi itu untuk memenuhi kebutuhan yang disyaratkan dalam menunjang profesi.

Kasus untuk dosen, bisa langsung ambil S2 setelah lulus atau bahkan sekarang ada Program Menuju Doktor Sarjana Unggulan (PMDSU), jika belum menikah, melajulah secepat mungkin karena itu peluang terbaik kita.

Untuk menjadi seorang wirausahawan setelah lulus sarjana, kita harus siap dengan tren pengusaha yang akan menemui titik terendah pada masa-masa awal usaha. Kita harus punya mental baja untuk lolos dari lembah penderitaan itu untuk melesat selanjutnya. Mas Hassan mengambil sejumlah angka, dari 100 bisnis start up di negara ini, setelah usaha berjalan selama rentang 5-10 tahun, hanya 5 yang bisa bertahan dan berkembang. Untuk menjadi seorang pengusaha butuh lebih dari sekadar ilmu.

Jika kita ingin mengakselerasi kesuksesan pada suatu bidang, kita perlu panutan atau mentor. Misal kita ingin menjadi dosen, kita bisa melihat bagaimana dosen kita menggapai kesuksesannya, jadikan dosen kita sebagai pembimbing, maka kita akan menemukan pola tertentu menuju kesuksesan. Ya, sukses atau gagal ada polanya. Sekali kita tahu polanya, di sanalah kesempatan terbaik untuk mengakselerasi diri menggapai kesuksesan kita. Hal ini berlaku juga jika kita ingin menjadi profesional atau seorang wirausahawan, pastikan diri kita punya panutan atau mentor, temukan pola kesuksesan mereka, terapkan, dan bersiaplah untuk berakselerasi menuju puncak yang kita inginkan.

Mas Hassan menyarankan untuk gerakan sosial di daerah sebagai bentuk kontribusi, tidak harus diarahkan kepada hal tentang mengajar. Tidak semua orang dengan latarbelakang berbeda bisa mengajar. Seperti yang dilakukan pada ilmuberbagi yang mendapatkan penghargaan dari Kick Andy. Kontribusi di dalam ilmuberbagi, tidak memaksakan orang yang terlibat untuk dijadikan relawan mengajar, tetapi yang penting adalah menempatkan potensi yang dimiliki oleh setiap orang yang berbeda latar belakang itu pada posisi yang sesuai yang tetap berdampak besar terhadap perkembangan kegiatan yang dilakukan. Mas Hassan mencontohkan, ada yang tidak punya bakat apapun terhadap bentuk kontribusi di ilmuberbagi, tetapi punya waktu untuk hanya sekadar mengantarkan media-media publikasi acara, sehingga orang tersebut hanya bertugas tentang itu. Termasuk untuk alumni DD disarankan untuk berfokus pada pemanfaatan kapasitas yang dimiliki individu dengan latar belakang jurusan berbeda pada tempatnya masing-masing yang bermanfaat terhadap gerakan sosial.

Di luar itu, kami bercerita yang lain. Termasuk saat saya mengeruk pelajaran dari alumni yang lain. Bahwa dia pernah menyimpan mimpinya untuk kuliah selama 2 tahun karena tidak punya biaya dan kondisi ekonomi keluarga yang tidak mendukung. Dia akhirnya kerja di sejenis pabrik selama 2 tahun. Dia tidak menghapus mimpinya untuk kuliah, tetapi menyimpannya. Saat ada kesempatan, dia akhirnya bisa kuliah dan menjadi bagian dari penerima manfaat DD. Pelajaran yang berarti bagi kita, bahwa mimpi tidak harus dikejar sekarang jika kondisi tidak memungkinkan, kita bisa menunggu saat yang tepat untuk mewujudkan impian yang telah dipersiapkan dengan matang. Bukan menghapusnya tapi menyimpannya sementara waktu.

temu alumni 3 juli 2016

Temu penerima manfaat dan alumni Chevron-Dompet Dhuafa di Kalapanunggal, 3 Juli 2016. 

Twist Ending di Euro 2016?

Italia kembali menghadirkan akhir pertandingan yang membungkam para peragu. Dengan skuat yang tidak terlalu bersinar pada bagian tengah dan lini serang, tetapi hal itu menjadi senjata yang menyakitkan lewat skema serangan balik dan skema yang berawal dari garis pertahanan. Sungguh taktik identikal Italia yang sangat kuat, unggulan lainnya yaitu Spanyol dibuat tak berdaya pada knockout 16 besar kemarin. Menarik untuk dilihat adalah lawan berikutnya, Jerman. Belgia, Spanyol, dan Jerman adalah para unggulan di Euro. Jika Italia berhasil membungkam Jerman, mereka harus menghadapi kemungkinan Prancis sebagai unggulan lainnya. Melihat Islandia yang mampu memulangkan Inggris lebih awal, kejutan bisa saja terjadi, meskipun motivasi Tim Ayam Jantan untuk menjadi jawara di kandang sendiri tidak perlu diragukan. Pasalnya siklus 16 tahunan menjadi Juara Euro setelah terakhir di tahun 2000 sepertinya bakal semakin terealisasi untuk Les Blues jika mampu mengalahkan Islandia.

indomultimedia.net

indomultimedia.net

Menilik hasil tadi malam, menarik melihat Portugal yang tidak pernah menang selama 90 menit waktu normal dalam 5 pertandingan terkini di gelaran Euro 2016. Ricardo Quaresma secara berturut-turut dalam laga vs Kroasia dan Polandia menjadi pahlawan bagi Portugal. Mereka tinggal menunggu sang kuda hitam Wales atau tim unggulan setan merah Belgia di semifinal. Akankah juga siklus Portugal terjadi, yaitu terhenti di perempat final pada Euro 1996, terhenti di semifinal pada Euro 2000, dan merasakan final di tahun 2004 meski kalah. Pola terakhir juga sama bagi Portugal di tahun 2008 dan 2012 yaitu berturut-turut terhenti di perempat final dan semifinal. Untuk melaju ke final banyak orang yang meragukan Portugal sebelumnya, melihat permainan yang tidak mengesankan.

Yang jelas di final nanti akan terjadi sebuah posibilitas tinggi terhadap juara baru. Portugal dan Belgia memang pernah masuk final, tapi belum pernah juara. Jerman, Italia, dan Prancis sama-sama pernah merengkuh Trofi Euro. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah juara baru di final atau juaranya adalah tim unggulan? Atau ekspektasi para pecinta sepakbola menjadi antiklimaks atau twist ending seperti dalam film thriller dengan Wales atau Islandia yang menjadi juara? Saya pikir di antara kita, ada sedikit rasa lucu jika hal tersebut terjadi. Tapi Denmark dan Yunani sudah membuktikan itu.

sport.merahputih

sport.merahputih.com