Lautan Rasa

SEBESI. Pulau kecil di daerah Lampung. Tiga hari itu, lautan menjadi pemandangan biasa bagi kami, mahasiswa Geologi ITB yang sedang jalan-jalan. Tiba di Pelabuhan Bakauheni sekitar pukul 06.00 pagi, kami berbondong bondong melewati jalanan menuju dermaga kapal yang siap mengantarkan kami menuju Pulau Sebesi. Baru pertama kali aku menaiki kapal seperti ini, terbuat dari kayu dilengkapi dengan sistem mesin sederhana buatan warga. Mesin menyala, asap knalpot yang keluar melalui cerobong, menembus atap kapal memulai perjalanan membelah lautan biru seluas mata memandang. Semakin jauh rasanya gunung tinggi di belakang kapal yang kami naiki.
Sorak-sorak kegembiraan meliputi wajah dan hati kami. Ketika hembusan angin mendinginkan tubuh dan birunya laut memanjakan mata. Sungguh mengasyikan. Hingga akhirnya kami berhenti di Pulau Sebuku melakukan snorkling, melihat indahnya fauna dan flora laut dangkal. Aku bergantian dengan temanku, Eka untuk menggunakan alat snorkling. Hanya kami yang menyewa alat ini satu untuk berdua. Air laut memang asin, tapi bagi yang belum pernah merasakannya langsung akan mengetahui bagaimana rasanya. Seperti halnya aku, banyak rasa keasinan yang meninggalkan jejak di mulutku. Satu dua teman kami terkena sengatan ubur-ubur kecil, meninggalkan duri-duri halus menembus kulit ari. Sakit katanya. Untung aku tidak kena. Tapi seru juga hari itu, snorkling yang mengasyikan.
Sebelumnya, ketika melakukan snorkling yang kedua, kami sudah terlebih dahulu menempati rumah penginapan dan bermakan siang serta menyimpan semua barang bawaan. Tiba malam hari saatnya kumpul-kumpul, berbicara tentang apapun, ngalor ngidul yang penting rame. Hingga pagi membangunkan kami.
Aku berteriak-teriak kecil membangunkan teman-teman yang lain. Keluar dari kamar terlihat dua orang temanku. Satu laki-laki dan satu lagi perempuan. Mereka sedang duduk berdua di bibir pantai. Entah sedang apa. Terpisah sejauh 3 meter. Perempuan itu memang cantik orangnya, jadi idola di angkatan kami. Bahkan di himpunan.
Temanku, Midun tanpa aku sadari membawaku dalam perbincangan di garis pantai sambil melihat lautan di depan kami. Sunrise yang dinanti tidak kunjung tiba, hamparan laut menggelombangkan permukaannya. Ombak hancur di tepi pantai dan terciptalah undakan pasir bergelombang. Dingin rasanya tapi sejuk dan nikmat.
Perbincangan aku dan Midun seputar perempuan itu. Namanya Yudith. Seperti itulah. Yudith disuka banyak laki-laki di sini. Aku dan Midun terlibat perbincangan yang cukup menggetarkan. “Andai aku punya sayap”. “Aku akan pulang duluan ke Bandung” Hehe. Jawab Midun. Tapi aku mengulang kalimatku yang sebenarnya. “Andai aku punya sayap, akan kukembalikan sayap itu ke pemiliknya, karena aku hanyalah seorang manusia”.
Badai kecil sempat mengurung keberanian kami melanjutkan perjalanan. Instruktur kapal memberikan keterangan seputar kondisi laut jika diarungi saat itu juga. Kami berunding dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Anak Gunung Krakatau. Lautan yang dilewati kapal-kapal kami menggerakan permukaannya berupa ombak yang cukup besar, mampu menggoyangkan kapal dengan goyangan yang lebih besar daripada hari kemarin. Sejam lamanya kapal berjalan di atas air, akhirnya kami tiba juga di Pulau Anak Gunung Krakatau. Kemiringan pantainya nampak cukup curam. Pasir hitam menjadi pijakan kami dan seluruh yang berpijak padanya. Inilah pasir vulkanik hasil erupsi dari Anak Krakatau. Memulai perjalanan mendaki dengan perut yang telah terisi nasi dan lauk yang enak. Tingginya tidak terlalu tinggi tapi sanggup membuat napas meminta tolong untuk berhenti. Kaki ini menapaki tapak kaki sebelumnya, terus dan terus hingga aku melihat sebuah kenampakan laut yang indah. Lautan tidak bergerak, seperti lukisan yang dibayangkan seorang pelukis. Biru, berkabut, dan diam. Hawa di sini dingin. Semakin tinggi, semakin dingin. Kami tidak ke puncak yang masih mengepulkan asap. Kami berada di leher, mungkin. Tapi anginnya kencang hingga mulut perlu dibuka untuk menyeimbangkan kedua telinga. Rasanya sakit jika tidak begitu. Kami melihat sekeliling di ketinggian tersebut. Indah. Ketinggiannya tidak tinggi, tapi aku belum terbiasa dengan keadaan seperti ini. Kami berfoto bersama dengan wajah dan hati yang masih bahagia. Di sini di Anak Gunung Krakatau.
Sampai akhirnya kami kembali ke penginapan. Sore kami menuju dermaga dan Pelabuhan Bakauheni untuk kembali ke Kota Kembang. Perjalanan mengisi cerita dalam hidup. Meski ada yang merasa paling bahagia, ada juga yang biasa, tapi aku tidak biasa. Lampung, aku akan menjelajah daerah selainmu untuk mengenal nusantara ini.