Sepatu Dahlan

Judul : Sepatu Dahlan
Pengarang : Khrisna Pabichara
Penerbit : Noura Books
Tahun Terbit : 2012
Kota Terbit : Jakarta
Jumlah Halaman : 369

Sepatu Dahlan adalah novel pertama Trilogi Novel Inspirasi Dahlan Iskan. Sepatu Dahlan bercerita tentang Dahlan Iskan, Menteri BUMN Kabinet Indonesia Bersatu II sewaktu kecil. Dahlan Iskan dikenal sebagai seorang yang rendah hati dan sederhana penampilannya. Dia bahkan biasa menginap di rumah petani miskin, sering terjun langsung ke masyarakat, biasa menggunakan kemeja putih panjang yang digulung bagian lengannya dan sepatu kets dalam menjalankan tugas kedinasannya. Bagaimana sosok Dahlan Iskan yang ada sekarang bisa begitu sederhana dan membaur dengan masyarakat? Khrisna Pabichara mencoba mengulasnya melalui novel yang terinspirasi dari kehidupan Dahlan kecil.

Novel ini diawali dengan “prolog” tentang operasi cangkok liver terhadap tokoh Aku yang menjadi tokoh utama dalam novel. Ketika operasi akan dimulai, mimpi membawanya ke masa lalu di Kebon Dalem.

Tokoh Aku di dalam novel ini adalah Dahlan kecil. Dahlan tumbuh di Kebon Dalam, kampung kecil dengan enam rumah saling berjauhan di daerah Takeran, Magetan. Bersama keluarga dan teman-temannya, kehidupan Dahlan diwarnai dengan suka duka.
Keluarga Dahlan terdiri dari Bapak, Ibu, Zain (adik kandung Dahlan), Mbak Atun dan Mbak Sofwati (kedua-duanya adalah kakak kandung Dahlan). Bapak setiap hari pergi ke sawah untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, Ibu sehari-hari membatik dan mengajari perempuan-perempuan di kampungnya membatik, Mbak Atun dan Mbak Sofwati sedang bekerja dan kuliah, sedangkan Zain masih kecil. Setelah lulus dari Sekolah Rakyat (SR) dengan tiga angka merah di izajah, Dahlan ragu untuk melanjutkan sekolah ke SMP favorit, SMP Magetan karena niatnya seolah dihalangi oleh sang Bapak. Hingga akhirnya, Dahlan memilih melanjutkan sekolah di Tsanawiyah Takeran. Ibu Dahlan memiliki hubungan yang erat dengan kerabat-kerabat di sekolah tersebut. Kedua kakaknya pun pernah bersekolah di sana.

Dahlan menikmati masa-masa sekolahnya di Tsanawiyah Takeran. Setiap hari dia harus menempuh perjalanan ke sekolah sejauh enam kilometer dengan jalan kaki, itupun tanpa alas kaki sehingga membuat kakinya sering lecet dan melepuh. Tapi semangat bertahan Dahlan mampu mengatasi hal tersebut. Sebelum berangkat sekolah, Dahlan biasa nyabit rumput untuk domba-domba peliharaannnya. Sepulang sekolah, Dahlan ngangon domba dan dia juga sering kuli nyeset dan kuli nandur. Dahlan sebenarnya ingin membeli sepatu dan sepeda, dua benda yang menjadi impiannya. Akan tetapi uang yang ada terpaksa selalu digunakan untuk membeli keperluan makan. Ketikapun lapar, Dahlan sudah terbiasa menjalani kehidupan dengan perut melilit yang membuat perih. Pernah suatu ketika Dahlan terpaksa mencuri tebu karena dia dan adiknya kelaparan, tetapi Dahlan kedapatan mencuri oleh anak buah Mandor Komar dan harus menjalani hukuman mondok. Hal tersebut menjadi pelajaran bagi Dahlan untuk menjalani hidup dengan jujur dan kerja keras. Petuah-petuah sang Bapak, yang juga sering memberikan dongeng-dongeng kepada anak-anak kampung di langgar dan kelembutan sang Ibu membuat Dahlan mampu menjalani hidup dengan kesabaran dan semangat bertahan hidup. Ketika sang Ibu meninggal dunia karena menderita penyakit aneh, Dahlan merasakan kesedihan dan kehilangan. Tidak ada lagi kelembutan sang Ibu yang dapat membelainya. Dahlanpun merasakan kehilangan lagi setelah Mbak Atun memutuskan untuk pergi ke Kalimantan. Tapi Dahlan tetap bertahan dan melanjutkan kehidupan bersama Bapak dan Zain.

Di Tsanawiyah Takeran dan di kampungnya, Dahlan mendapatkan persahabatan bersama teman-temannya, Kadir, Maryati, Imran, Arif, Komariyah, dan Aisha. Di sekolah, Dahlan terpilih sebagai ketua Tim Voli, Pengurus Ikatan Santri, dan mendapat nilai yang terbaik. Senyuman sang Bapak yang bangga menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Dahlan. Puncaknya, ketika Tim Voli Tsanawiyah Takeran yang mengikuti Turnamen Voli memperebutkan piala bergilir Bupati Magetan melaju ke babak final melawan tim favorit juara, SMP Magetan. Meskipun, syarat harus bersepatu sempat menjadi hambatan, dengan bantuan dari para santriwati yang membelikan sepatu untuk Dahlan akhirnya dia bersama teman-teman setim, Dirham, Imran, Fadli, Rahmat, Suparto, Arif, Zainal, dan Rizki berhasil memenangkan turnamen. Hal tersebut menjadi kebanggaan keluarga dan sekolah hingga Dahlan memiliki pekerjaan baru untuk mengumpulkan uang demi mengejar impiannya, sepatu dan sepeda yaitu melatih tim voli anak-anak juragan tebu.

Novel ini juga bercerita tentang pembantaian massal terhadap simpatisan PKI di sumur Soco, Cigrok, dan Dusun Dadapan. Ayah Kadir meninggal ketika Kadir masih dalam kandungan karena dituduh sebagai anggota Laskar Merah, bentukan Front Demokrasi Rakyat. Untungnya, Ibu Kadir yang sedang mengandung Kadir berhasil melarikan diri ke rumah kakeknya. Banyak orang terdahulu di Kebon Dalem yang menjadi korban pembantaian massal tersebut.

Dengan hasil jerih payahnya sendiri, melatih voli anak-anak juragan tebu, Dahlan berhasil mengumpulkan uang untuk menebus cicilan sepeda dari Arif dan berhasil membeli dua pasang sepatu, satu untuknya dan satu lagi untuk adiknya, Zain. Akhirnya impian Dahlan terwujud, Sepeda dan Sepatu.

Pada bagian akhir cerita, Dahlan memutuskan untuk kuliah karena respon terhadap surat yang diberikan Aisha. Perjumpaan Dahlan dan Aisha dimulai ketika Dahlan dan Kadir bernyanyi di halaman sekolah dan sosok gadis berambut panjang itu memandangi Dahlan, peristiwa jatuhnya Dahlan dan Maryati dari sepeda ke selokan, sosok gadis berambut panjang itu juga muncul kembali dalam pandangan Dahlan, setiap mau berangkat sekolah Dahlan sering melihat Aisha menjemur sendiri pakaiannya, dan mengetahui bahwa Aisha adalah anak Mandor Malik. Dahlan dan Aisha sebenarnya saling menyukai, tetapi keduanya malu untuk mengungkapkannya. Dahlan mendapatkan surat dari Aisha yang isinya setelah tiga tahun lagi Aisha akan menunggu di Takeran setelah keduanya lulus sarjana muda. Dahlan tidak ingin merasakan kehilangan lagi. Sudah cukup, bagaimana rasanya Ibu dan Mbak Atun meninggalkan Dahlan. Kali ini dia harus meninggalkan Zain bersama ayahnya. Dahlan terbiasa menulis segala suka duka dalam buku catatannya. Akhirnya, Bapak mengizinkan Dahlan untuk melanjutkan kuliah ke Samarinda.

Novel ini diakhiri dengan “epilog” tentang berhasilnya operasi cangkok liver terhadap tokoh Aku.

Banyak pesan-pesan yang bisa diperoleh dari novel ini. Dahlan mendapat petuah dari sang Bapak hidup bagi orang miskin harus dijalani apa adanya. Kemiskinan yang dijalani dengan kesabaran akan mematangkan jiwa dan miskin bagi oranglain adalah sebuah penderitaan tapi bagi Dahlan adalah sebuah kesenangan. Kekurangan novel ini ada dalam hal kekuatan korelasi judul buku dengan isi novel, Sepatu Dahlan pada bab-bab awal hanya mucul sebagai seliweran saja tanpa ada penguatan cerita tentang impian Dahlan memiliki sepatu, baru pada akhir-akhir bab penguatan cerita tentang Sepatu Dahlan mulai terasa. Kemudian istilah “prolog” dan “epilog” yang digunakan dalam novel ini sepertinya tidak umum digunakan dalam penulisan novel jika dikaitkan dengan alur cerita flashback.

Terlepas dari kekurangannya, novel ini menginspirasi kita untuk kembali mensyukuri apa yang kita punya dan menjalani hidup dengan kerja keras. Hambatan yang ada bukan menjadi penghalang bagi kesuksesan seseorang.