Pare: Sejuknya Ilmu

pare

           Pare. Kampung bahasa Inggris ini mengajariku keramahan. Orang dari berbagai luar kota disini belajar hal yang sama tentang bahasa inggris dan tentang keramahan. Mungkin demikian yang saya tangkap.

Bulan Desember 2011 bersama teman-teman Asrama Salman pergi ke sana untuk belajar bahasa inggris. Untuk pertama kalinya, saya menempuh perjalanan kereta selama hampir 15 jam, melakukan sholat di dalam kereta dan tidurpun di kursi kereta. Perjalanan dari St. Kiara Condong ke St. Kediri. Tiba di sana mencari kosan dan informasi terkait pendaftaran kursus.

Akhirnya saya memutuskan untuk 2 minggu di Kediri kursus di Elfast dan Webster. Elfast saya di Kelas C bersama Kang Budi dan Arif. Mengambil Confidence Class. Rasanya senang dan mengasyikkan mendapat materi yang simple tetapi mengena. Ketika disuruh menampilkan opera sederhana yang lucu cukup menghibur seisi kelas. Di Webster saya adalah yang paling tua, belajar bersama anak SD bahkan, tapi saya belajar bahwa usia bukan penghambat untuk belajar. Anak SD itu layaknya anak kecil yang lucu dengan logat jawanya begitu renyah didengar dan meniggalkan kenangan ketika nantinya pulang ke Bandung.

Di kosan, kami bertemu dengan teman-teman yang baru lulus ITB dan IPB serta kampus lain. Setiap pekan, kami selalu main futsal di tempat futsal Pare, dulunya gudang. Satu kebiasaan yang ada di Pare adalah para pembelajar selalu menggunakan sepeda sebagai transportasi. Sungguh seru dan mengasyikkan.

Pernah ketika hari kedua di Pare, kami melakukan perjalanan ke candi dan wisata di Pare menggunakan sepeda. Dan tentunya minuman pelepas dahaga karena di sana panas, Es Tebu.  Harganya murah dan sangat terasa cita rasa tebunya. Makanan yang juga murah dan cukup enak di sana adalah Nasi Pecel. Tiap pagi kami selalu sarapan itu.

Pare, dengan aku pernah berkunjung ke sana semoga manfaat bagiku.🙂

Semoga bisa ke sana lagi. Amiin.

2 pemikiran pada “Pare: Sejuknya Ilmu

Komentar ditutup.