Ombak, Pembawa Perasaan Ini

Image

                            Debur ombak menghantam tubuh kami, yang senang menikmati liburan akhir lebaran ke Pelabuhan Ratu.

                            Untuk pertama kalinya setelah kekakuan dalam bergaul, ku mencoba menikmati sisa liburan lebaran bersama kawan-kawan di kampung ke Pelabuhan Ratu. Ya, memang terasa bedanya. Kawan-kawan banyak yang sudah bekerja atau membantu orang tuanya di kebun atau lahan pertanian. Hanya aku yang meneruskan sampai tingkat perkuliahan. Setiap manusia pasti senang untuk berbagi, termasuk hari itu. Kami saling berbagi, berbagi cerita dan pengalaman masing-masing.

                            Kami berangkat malam dari Ciasmara (kampungku) menuju Pelabuhan Ratu menggunakan mobil bak terbuka. Bayangkan malam-malam melewati jalanan yang sebagian besar tidak beraspal, berbatu, udara dingin, melewati hutan-hutan lengang, sampai akhirnya tiba di daerah Sukabumi. Sepanjang malam itu, layaknya orang kampung sering begadang di pos ronda, hal itu juga yang dilakukan sepanjang perjalanan sambil memainkan gitar dan bernyanyi bersama. Aku sudah terbiasa begadang di Bandung.

                      Tiba di Pelabuhan Ratu untuk pertama kalinya bagiku. Melihat debur ombak pada pagi yang menenangkan. Tempat ini dipadati banyak pengunjung.

                       Kami bermain bola di bibir pantai. Ada beberapa anak kecil dari kampung juga yang ikut bersama kami. Memainkan bola di tengah keramaian, Setelah sekian lama, aku merasakan kesenangan bersama kawan-kawan di kampung. Menendang bola sana sini, mengoper, menyundul, dan terjadi gol.

                       Saatnya untuk merasakan hempasan ombak. Kami mulai masuk ke area “bermain”. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Empat kali. Dan seterusnya. Kami merasakan kenikmatan dihempaskan oleh ombak. Menghantam tubuh siapa saja yang bersedia dihadapkan dengan tubuh ombak yang “berpegangan satusama lain” sepakat untuk menyerang bibir pantai dalam satu horizon kecil yang lurus. Datang lagi ombak yang lain setelah “teman-temannya” hancur di bibir pantai. Begitu terus hingga menjelang siang. Tentu dengan variasi kejadian yang tidak membuat bosan “bermain” di area tersebut. Sambil bermain bola di atas permukaan air, lari terbirit-birit agar tidak terkena ombak, bermain kejar-kejaran. Menjauhi ombak hingga pantai karena ada ombak yang sangat besar. Begitulah sisa liburan bagiku. Kuhabiskan bersama kawan-kawan kampung di salahsatu pantai yang sering dikunjungi masyarakat.

                       Satu hal yang kudapat, bahwa setiap orang memiliki kemauan dalam hidupnya. Selalu ada jalan untuk mencapai kemauan tersebut. Tetapi ada yang dapat mencapainya dengan cepat, ada yang lama, bahkan ada yang tidak ada kemajuan untuk menggapainya karena merasa hidup ini sulit. Tetapi sesungguhnya kita diberi semua potensi untuk mencapai apa yang kita impikan.

                       Semoga sukses semua.🙂

                       Salam sukses dari hujung destinasi!