KORELASI PENAMPANG STRATIGRAFI

1.

a.      Hukum Walther

Menyatakan bahwa suksesi vertikal mencerminkan suksesi lateral dalam satu fasies. Perubahan fasies secara vertikal akan diikuti oleh perubahan fasies secara lateral atau sebaliknya. Hukum Walther berlaku untuk lingkungan transgresi dan regresi.

b.      Isochron

Garis yang menghubungkan kesamaan umur dalam peta maupun penampang geologi.

c.       Wedge-out

Perangkap stratigrafi di mana lapisan reservoir yang dihimpit di antara lapisan penyekat menipis dan menghilang.

d.      Shale-out

Di mana ketebalan lapisan tetap, akan tetapi sifat litologi berubah, misalnya batupasir secara berangsur menjadi batulempung. Pada umumnya disertai jari-jemari antara batupasir dan batulempung.

e.       Erosional Truncational

Suatu lapisan reservoir berakhir ke suatu arah karena:

–          Terpacung oleh erosi à terdapat di bawah bidang ketidakselarasan.

–          Lapisan reservoir terbatas oleh bidang erosi à lapisan diendapkan di atas ketidakselarasan atau di atas suatu permukaan erosi.

f.       Melensa

Struktur sedimen yang memperlihatkan batupasir yang melensa di lapisan batulempung.

2.

Hukum Walther kurang bisa diaplikasikan pada karakter backstepping/transgresif. Pada karakter backstepping/transgresif distribusi lateral dengan distribusi vertikal berbeda. Lingkungan transgresif, suplai sedimen kurang dari kecepatan pembentukan akomodasi.

3.

Permasalahan korelasi stratigrafi dengan litostratigrafi dan kronostratigrafi pada lingkungan transisi:

Litostratigrafi didasarkan pada perbedaan litologi atau jenis batuan. Perbedaan litologi akan dikenali sebagai perbedaan fasies. Menurut hukum superposisi batuan yang diendapkan paling bawah, paling tua. Sedangkan pada konsep kronostratigrafi didasarkan pada kesamaan waktu sedimentasi. Pada lingkungan transisi korelasi litostratigrafi dan kronostratigrafi tidak bisa dilakukan karena:

–          Pengendapan di lingkungan transisi memiliki geometri yang memiliki initial dip oleh karena pengendapan batuan dengan waktu yang sama dalam satu sekuen. Sekuen berikutnya di atasnya berbeda waktu pengendapan. Apabila dikorelasikan berdasarkan litostratigrafi akan menghasilkan batuan dengan litologi yang sama tapi umur berbeda.

–          Sedangkan menurut kronostratigrafi nantinya waktu pengendapan yang sama bila dikorelasikan akan terbentuk korelasi litologi yang berbeda.

4.

Penarikan horizon dengan menggunakan marker formasi pada seismik salah. Hal ini dikarenakan pada penampang seismik horizon merupakan timeline pengendapan sedangkan apabila digunakan marker formasi dimungkinkan persebaran marker tidak sama dengan horizon seismik. Oleh karena itu, penarikan horizon pada penampang seismik digunakan konsep sekuenstratigrafi untuk menghubungkan litologi dengan seismik.

5.

a.      Blocky

Menunjukkan homogenitas sedimen yang dibatasi oleh pengisian channel dengan kontak yang tajam. Disebut juga sebagai cylindrical atau amalgamated. Diasosiasikan dengan endapan sedimen braided channel, estuarine, atau tidal sand.

b.      Bell shaped

Menunjukkan penghalusan kearah atas kemungkinan karena pengisian channel, memperlihatkan gradasi menuju butir halus yang bersifat radioaktif. Dihasilkan dari endapan point bar, tidal deposit, dan endapan turbidit.

c.       Funnel shaped

Menunjukkan pengkasaran kearah atas yang dihasilkan dari sistem progradasi seperti regressive shallow marine bar.

d.      Serrated

Mencirikan lapisan mengasar dan menghalus secara cepat dalam tempo singkat, menunjukkan sistem agradasi.

 

 

Referensi :

Koesoemadinata, R. P., 1980, Geologi Minyak dan Gas Bumi, Bandung ITB.

Kuliah Geologi Minyak dan Gas Bumi, 13 Maret 2013, Teknik-Geologi ITB.