Cikuray, Di Atas Awan Garut

Perjalanan ini adalah sebuah pendakian. Pendakian kedua bagiku. Alam menyuguhkan kealamian yang dapat dinikmati dengan kerja keras dan semangat pantang menyerah.

Perjalanan di mulai hari Jum’at pagi. Sekitar pukul 07.00 WIB kami berangkat dari Salman menuju Caheum memakan waktu sekitar satu jam. Anggota pendakian kami berjumlah sebelas orang. Satu orang menunggu di Terminal Guntur dan dua orang lagi menunggu di Pemancar. Perjalanan dari Caheum menuju Terminal Guntur menggunakan bis. Kami duduk di barisan belakang dan masih menyimpan semangat yang tinggi untuk mendaki.

DSC01371

Menuju Terminal Guntur

Pukul 10.45 WIB kami tiba di Terminal Guntur. Satu anggota bernama Ka Guntur sudah bergabung.

DSC01374

 Tiba di Terminal Guntur

Selanjutnya, angkot membawa kami menuju Cilawu. Pukul 11.45 WIB kami tiba di sana. Sekitar satu jam, kami Sholat Jum’at dulu. Yang perempuannya Sholat Dzuhur. Pukul 13.00 WIB kami memulai pendakian pertama. Berjalan di atas aspal yang menanjak hingga membawa kami ke hamparan kebun teh yang menyejukkan mata. Cikuray terlihat kokoh berdiri di hadapan kami. Aku menjepret beberapa foto keindahan di awal ini.

DSC01383

Melewati Kebun Teh

DSC01388

 Cikuray di Depan Kami

Medan yang ada di kebun teh ini berupa jalan berbatu dan relatif sudah mulai menanjak. Cukup membuat nafas kami tersengal-sengal. Kami tiba di Pemancar pukul 15.00 WIB. Dua orang lagi sudah bergabung. Lengkaplah sudah anggota pendakian ke Cikuray. Aku, Aeny, Amat, Ka Guntur, Deni, Syiru, Rindu, Ade, Cucu, Roni, dan Lulu. Sebelum berangkat kami foto kebersamaan di Pemancar ini. Udara di sini sudah mulai dingin. Pemancar ini sendiri memiliki tiang-tiang pemancar untuk beberapa televisi swasta. Pukul 16.30 WIB perjalanan membelah kebun teh di sebelah pemancar menyuguhkan jalanan dengan kemiringan yang cukup terjal. Hari itu sedang musim kemarau sehingga tanahnya kering, debu-debunya terbang terinjak langkah-langkah kaki. Mental kami diuji dengan jalanan yang terus menanjak meski beberapa kali ada jalanan landai. Kami melihat hamparan kebun teh di sepanjang perjalanan dan Cikuray tetap berada di hadapan kami. Berdiri kokoh dengan bagian puncak yang disebut puncak bayangan yang datar dan bagian puncak yang meruncing.

DSC01413

Berfoto di Pemancar

Pukul 18.00 WIB kami tiba di Pos 1. Di pos ini terdapat tanah landai dan cukup untuk melaksanakan sholat berjama’ah. Kami menjama’-qashar Sholat Maghrib dan ‘Isya setelah sebelumnya bertayamum. Hari sudah mulai gelap. Pendakian kami harus ditemani dengan senter. Beberapa ada yang tidak membawa senter. Ka Gun selaku ketua perjalanan menyusun nomor jalan bagi setiap anggota. Kami harus saling menjaga karena kali ini   kami berjalan di dalam kegelapan. Untungnya hari di mana kami melakukan pendakian cerah. Kalau hujan, tentunya tanahnya licin dan akan menyusahkan.

Benar apa yang pernah kutahu. Jalan pendakian Cikuray terus menanjak. Akar-akar dan batang pohon menjadi pegangan kami dalam melangkah. Beberapa kali kami berhenti untuk meredakan kelelahan. Sambil menghangatkan suasana saat itu dengan berbicara dan becanda seperlunya.

Kami tiba di Pos 2 pukul 19.00 WIB. Perjalanan menuju Pos 3 lebih jauh, memakan waktu sekitar satu setengah jam dengan medan yang lebih sulit. Jalanan yang banyak akar-akar pohon masih membantu kami untuk melangkah. Tiba di Pos 3 pukul 20.30 WIB. Sepanjang perjalanan kami banyak berhenti untuk beristirahat. Sambil menghilangkan lelah, kami becanda dan melihat bintang-bintang yang menggantung di langit Cikuray. Sepertinya mereka bersedia menemani perjalanan kami malam ini. Kami sempat juga memakan pepaya untuk mengirit persediaan air.

Kami sempat terpikirkan untuk membuat tenda di Pos 3, karena tempatnya yang cukup luas, dan hari yang sudah malam. Tetapi energi kami masih bisa melebihi pos ini. Akhirnya, kami memutuskan sebaiknya membuat tenda di Puncak Bayangan (Pos 6).

Perjalanan dilanjutkan. Sekali lagi dengan medan yang sama, terus menanjak. Kami tiba di Pos 4 pukul 21.30 WIB. Di pos ini kelihatannya tidak cocok untuk membuat tenda karena tanahnya miring. Kami sudah mulai mengalami kelelahan yang berat. Beberapa mengeluhkan kapan sampai pos berikutnya. Banyak berhenti untuk beristirahat sepanjang perjalanan. Kalau dipaksakan sebenarnya bisa. Tapi fisik ini meminta untuk beristirahat. Kami melihat kondisi jika pos selanjutnya cocok untuk membuat tenda kami akan membuatnya di sana.

Perjalanan ke Pos 5 masih dengan kondisi yang sama, gelap, menanjak, jalanan yang sulit. Kelihatannya fisik ini sudah tidak bisa dipaksakan lagi untuk mendaki. Kami sudah benar-benar kelelahan. Meski beberapa orang masih kuat untuk mencapai Pos 6 di mana kami berharap mendirikan tenda di sana.

Kami tiba di Pos 5 pukul 22.30 WIB. Tempatnya cukup luas dan ada dua bagian yang landai, cocok untuk mendirikan tenda. Akhirnya, diputuskan malam itu juga kami membuat tenda tidak di Pos 6 tapi di pos ini karena hampir semuanya sepakat untuk bermalam di pos ini saja. Aku mengeluarkan nesting dan peralatan memasak lainnya. Yang lain mengeluarkan tenda. Kerja kami malam itu dibagi antara yang membuat tenda dan memasak. Tenda yang dipasang tiga buah. Setelah tenda selesai didirikan, kami semua menyantap mie dan nasi. Juga meminum minuman hangat.

Pukul 23.30 WIB kami mulai tidur di tenda masing-masing. Aku dan Amat berdua di satu tenda. Sebelum tidur, kami melihat indahnya bintang-bintang yang berada di langit biru. Langit cerah karena ditemani bulan. Suasana mulai sepi. Tidak terdengar suara apapun. Sesekali suara daun-daun pohon yang terkena angin. Kami semua terlelap malam itu.

Pukul 03.00 WIB hari Sabtu kami mulai bersiap-siap. Kami membawa satu tas berisi air dan perlengkapan sholat. Kami berdoa bersama terlebih dahulu. Tujuan kami sepagi itu untuk mencapai puncak, melihat sunrise. Pukul 04.00 WIB kami berangkat. Jalanan masih sama, banyak akar-akar pohon dan terus menanjak. Udara saat itu dingin sehingga perlengkapan yang melekat dalam tubuh kami cukup lengkap. Jaket hangat, kupluk, syal, sarung tangan, dan senter untuk menerangi jalanan. Kami masih fresh dan tidak banyak berhenti untuk beristirahat.

Kami sampai di Pos 6 pukul 04.30 WIB. Pos ini merupakan puncak bayangan Cikuray. Puncak Cikuray dengan ketinggian 2818 mdpl terlihat dari pos ini. Seperti hampir menggapai bulan yang bersinar di atasnya. Pos 6 ini tanahnya landai dan luas. Bisa memuat banyak tenda, meskipun memang udaranya lebih dingin dari Pos 5 karena anginnya lebih kencang. Puncak tinggal di depan mata.

Kami berhenti untuk Sholat Shubuh di dataran yang landai antara Pos 6 dan Pos 7. Sholat dengan udara yang dingin. Menggetarkan. Kami sampai di Pos 7 sekitar pukul 05.15 WIB. Horizon merah matahari yang akan keluar di sebalik gunung. Dalam waktu yang tidak lama lagi nampaknnya si bulat indah itu akan menampakkan diri. Ternyata benar.

Di antara Pos 7 dan Puncak terdapat dataran landai. Kami semua berhenti untuk melihat sunrise. Awalnya di salahsatu titik horizon di balik gunung yang lain nampak lengkungan kecil. Dalam hitungan detik lengkungan itu mulai meninggi. Lengkungan itu indah berwarna kuning kemerahan dan semakin meninggi menyinari mata kami di gunung ini menjadi setengah lingkaran. Setengah lingkaran itu akhirnya berubah menjadi bulat matahari pagi. Sungguh mengagumkan. Tak lupa kami mengabadikan momen itu dengan teknologi yang ada. Hati ini cerah secerah matahari pagi. Puncak sebentar lagi. Berharap keindahan yang lebih di atas sana.

DSC01453

Sunrise 

Pukul 06.00 WIB kami tiba di Puncak Cikuray. Puncak di atas awan. Puncak yang menampilkan pemandangan mengagumkan di sekelilingnya. Kami di sini seperti disambut dengan kebahagiaan yang besar. Angin yang kencang menerbangkan debu. Awan-awan putih bergelantungan di depan kami dengan indah. Warnanya semakin cerah diterpa matahari yang beberapa waktu yang lalu baru terbit. Beberapa puncak gunung yang ada di Garut sama gagahnya dengan gunung ini, berdiri seperti menyapa kami di puncak. Di sana ada Gunung Papandayan, Gunung Guntur, Gunung Ciremai, dan lainnya. Kami berfoto bersama dengan ria. Berfoto dengan background yang sangat indah, matahari di atas awan. Sedangkan awan berada di bawah kami. Dengan gunung-gunung yang berdiri anggun. Kami bisa melihat Garut di puncak ini. Kota yang tenteram dipagari banyak gunung. Pemandangan ini sungguh mengagumkan.

DSC01473

Pegang Matahari

DSC01488

Bendera Indonesia di Puncak Cikuray

DSC01503

Pemandangan di Puncak Cikuray (1)

DSC01528

Pemandangan di Puncak Cikuray  (2)

DSC01535

Foto Bersama di Puncak (1)

DSC01538

Foto Bersama di Puncak (2)

DSC01532

Foto Bersama di Puncak (3)

Kebahagiaan ini sudah cukup untuk kami hari itu. Melihat pemandangan indah di Puncak Cikuray. Kami mulai melakukan perjalanan turun. Membawa kenangan indah dan meninggalkan jejak. Hati kami sumringah sepanjang perjalanan turun. Canda-canda menemani pagi itu.

Pukul 07.30 WIB kami tiba di tenda kami, Pos 5. Kami mengisi perut dulu dan bersiap-siap untuk turun gunung. Tenda dirubuhkan dan semua packing. Kali ini perjalanan menuju rumah. Sebelumnya, kami bertemu dengan pendaki yang ramah dan murah senyum, memberikan topi untuk Amat sebagai hadiah perkenalan yang hangat. Sebelum mulai turun, kami berdoa bersama kembali. Pukul 10.30 WIB perjalanan turun dimulai.

DSC01588

Packing

DSC01593

 Dikasih Topi

Perjalanan turun gunung dengan medan yang sama ketika mendaki. Meskipun berat beban ketika berjalan saat turun lebih berat tetapi waktu yang ditempuh lebih cepat dibandingkan saat mendaki. Hari itu kami turun gunung dengan wajah-wajah ceria. Bertemu dan bertegur sapa dengan pendaki-pendaki lain yang akan menuju puncak. Sepanjang perjalanan banyak sekali para pendaki yang baru naik hari ini. Kadang kami becanda meskipun belum kenal. Kami melihat wajah yang sama saat kami mendaki gunung ini. Wajah kelelahan tetapi masih bersemangat untuk mencapai puncak. Pos demi pos kami lewati setelah sebelumnya berhenti untuk beristirahat. Perjalanan turun ini membelah hutan dan terus menurun hingga keluar hutan dan memasuki kembali hamparan kebun teh. Tiang Pemancar terlihat semakin dekat.

DSC01604

Beristirahat sejenak

Pukul 14.00 WIB kami tiba di Pemancar. Perjalanan turun ini terasa lebih cepat. Di Pemancar ini beberapa pendaki baru akan mendaki. Kami saling bertegur sapa. Setelah membersihkan diri dan makan kami naik truk untuk menuju Terminal Guntur.

DSC01403

 Tiba lagi di Pemancar

Pukul 16.00 WIB truk yang membawa kami mulai menuruni jalanan berbatu. Kami berpamitan dengan penjaga Pos Pemancar dan para pendaki lain. Kami meninggalkan Cikuray ini dengan jejak langkah kami di sana dan membawa kenangan yang masih tersimpan dalam memori. Perjalanan turun dengan truk ini mengasyikan. Jalanan yang berbatu membuat badan kami berguncang-guncang disertai canda tawa. Hamparan kebun teh tetap menyajikan pemandangan indah yang sama seperti pada awalnya. Puncak Cikuray yang berada di atas kaki kami pagi tadi itu kini berada di belakang kami mulai menjauh. Memperlihatkan kekokohan dan kegagahan.

Pukul 18.00 WIB kami tiba di Terminal Guntur. Perjalanan menuju Bandung. Di dalam bis yang membawa kami ke Kota Kembang, kami tidur karena lelah.

Kami tiba di Bandung dengan selamat pukul 20.30 WIB. Ada yang turun terlebih dahulu dan ada juga yang turun belakangan. Pendakian kali ini membawa kenangan tersendiri buat kami. Yang pasti semuanya senang karena bisa melakukan perjalanan ke Cikuray, Garut.

#Bandung, 25 Agustus 2013

6 pemikiran pada “Cikuray, Di Atas Awan Garut

    • Iya. Medannya ga ada bonus. Kami juga banyak istirahatnya pas daki. Hehe. Maklum, para pemula. Untungnya kami bermalam di pos 5. Tempatnya ga terlalu dingin. Paginya juga masih fresh buat lanjutin ke puncak.

      Suka

    • Kami berangkat dari bandung Mas.
      Lokasi Awal-Caheum (naik angkot): 5 rb.
      Caheum-Term. Guntur (naik bis): 13 rb
      Term. Guntur-Cilawu (sewa angkot): 10 rb
      Cilawu-Pemancar-Puncak (daki)
      Puncak-Pemancar (turun)
      Pemancar-Terminal Guntur (sewa truk): 30 rb
      Terminal Guntur-Bandung/Caheum (naik bis): 13 rb
      Caheum-Lokasi Awal (naik angkot): 5 rb
      Total biaya perjalanan (belum termasuk perlengkapan): 76 rb
      Untuk perlengkapan: standar daki gunung.

      Suka

Komentar ditutup.