“KAUM MUDA INTELEKTUAL MENCIPTAKAN KETAHANAN ENERGI UNTUK NEGERI”

Pada Studium Generale pertama di semester 2013/2014 ini diisi oleh PT Pertamina (Persero) dengan tema “Kaum Muda Intelektual Menciptakan Ketahanan Energi untuk Negeri”. Acara ini merupakan acara Pertamina Goes To Campus 2013 dalam rangka mengajak mahasiswa berperan dalam ketahanan energi Indoensia. Pembicara yang diresume materinya adalah Pak Ali Mundakir selaku Vice President Corporate Communication PT Pertamina.

Negara Indonesia selain memiliki jumlah sumber daya manusia yang banyak, juga sumber daya alam yang melimpah. Sebut saja, migas, panas bumi, timah, nikel, emas, perak, batubara, dan lain sebagainya. Tetapi dengan keberlimpahan sumber daya alam ini tidak sebanding dengan kesejahteraan yang seharusnya didapatkan oleh rakyat. Banyak investor asing dan perusahaan asing menguasai sekitar 80% sumber daya alam di negeri ini. Dengan adanya penguasaan asing, kebutuhan dalam negeri menjadi tidak terpenuhi secara maksimal. Sumber energi ini digunakan untuk keperluan ekspor. 

Saat ini, kita bergantung dengan migas, padahal Indonesia memiliki sumber energi panas bumi yang terbesar di dunia. Harus ada pengalihan ke energi panas bumi atau energi terbarukan lainnya agar tidak selalu bergantung kepada migas sebagai energi tak terbarukan. Ada juga pihak yang hanya ingin memaksimalkan pemanfaatan sumberdaya alam. Sehingga dibutuhkan manajemen sumber daya alam dengan integrated approach. Indonesia dalam hal ini pemerintah, dianggap tidak merencanakan penyimpanan cadangan energi untuk masa depan. Sumber daya alam yang ada dialokasikan hanya untuk memenuhi APBN saja. Untuk sektor migas, pemerintah berangkat atas dasar pragmatisme sehingga mengharapkan hal yang instan mulai dari dana investasi yang besar, teknologi tinggi, dan kemampuan SDM yang handal. Pertamina mulai memaksimalkan energi terbarukan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri seperti panas bumi, sel surya, dan lainnya. ITB tentu dapat mengambil bagian sebagai pusat penelitian untuk hal ini.

Dalam rangka mengamankan pasokan energi masa depan, Pertamina berusaha mengoptimalkan lapangan migas dalam negeri. Juga perlunya ekspansi luar negeri. Seperti, di Timur Tengah sedang tahap eksplorasi, di Malaysia tahap pengembangan dan Australia dalam tahap produksi.

Pertamina diketahui sebagai distributor BBM yang paling kompleks di dunia. Semua jalur dipakai, mulai darat hingga kapal laut.

Berbicara gas, Indonesia membutuhkan pasokan gas dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan domestik. Momentum kenaikan harga BBM subsidi mempercepat proses konversi BBM ke BBG (Bahan Bakar Gas). Indonesia merupakan salahsatu negara yang memiliki pasokan cadangan gas terbesar di Asia, dengan 2.659 miliar m3, tetapi mencatat penggunaan CNG dengan kendaraan NGV yang sangat rendah di Asia dibandingkan dengan negara-negara lain yang memiliki cadangan gas kecil. Peluang untuk konversi kendaraan bermotor terutama angkutan umum di Indonesia masih terbuka lebar, dalam segmen angkutan kota (angkot) dan taksi.

Beralih ke CBM (Coal Bed Methane). Pertamina memiliki potensi CBM yang besar untuk dikembangkan sebagai energi alternatif. Tantangan yang ada berupa produksi yang lebih sulit dibandingkan gas konvesional dan membutuhkan lahan yang sepuluh kali lebih luas daripada pengembangan gas konvensional (pembebasan lahan).

Sumber energi lainnya yang menjadi fokus Pertamina adalah Waste to Energy Project, Coal to Ethanol, Solar PV Project, dan Wind Energy.

Waste to Energy Project. Target kapasitas yang diinstal untuk municipal waste dan biomassa di Indonesia untuk 2012 adalah 61 MW. Dengan sumber sampah yang melimpah, Indonesia memiliki potensi memenuhi kebutuhan listrik hingga 951 MW. Saat ini, Pertamina masih dalam tahap pengembangan sampah menjadi energi dari municipal waste di Jakarta sebanyak 100 MW dengan teknologi seperti incinerator atau Integrated Gasification Combine Cycle (IGCC) atau Integrated Plasma Gasification Combine Cycle (IPGCC). Proyek ini akan meluas ke daerah lain dan juga sedang melakukan pencarian potensi energi dari residu biomasa.

Coal to Ethanol diproyeksikan sebagai integrasi produksi batubara berbasis etanol dalam artian etanol yang dihasilkan dari batubara. Stok batubara yang digunakan adalah batubara dengan rangking rendah (4000-4500 kcal/kg GAR). Di proyek ini, Pertamina akan melakukan kerjasama dengan Celanese Corporation.

Untuk Solar PV Project, Indonesia memiliki tingkat iradiasi solar paling tinggi di Jawa, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Indonesia memiliki potensi pasir kuarsa yang sangat besar (17,491 billion tons) yang dapat digunakan sebagai bahan utama silikon berbasis industri energi solar.

Sedangkan untuk Wind Energy, Pertamina sedang memetakan potensi energi meliputi pengukuran, monitoring, proses, dan evaluasi, terutama di Nusa Tenggara Timur dan Kepulauan Sumba. Pulau tersebut dipilih karena memiliki energi angin yang cukup besar di Indonesia dan kebutuhan energinya tinggi, di mana listrik langka dan mahal di sana. 

 

Sumber :

Mundakir, Ali. 2013. Kaum Muda Intelektual Menciptakan Ketahanan Energi Untuk Negeri. Pertamina Goes To Campus. Studium Generale ITB.