TEKNOLOGI SEBAGAI KATALIS PERUBAHAN SOSIAL

Studium Generale kali ini berkerjasama dengan Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA-ITB) Jawa Barat  dan PT Satu Klik Informatika Nusantara (Saklik) dengan tema “Teknologi Sebagai Katalis Perubahan Sosial”. Pembicara yang memberikan materi di antaranya:

  1. Nukman Luthfie (Pakar Media Sosial).
  2. Lendo Novo (Pertamina Foundation).
  3. Agus Sampurno (Guru Kreatif).
  4. Febiola Aryanti (Islamic Financial Advisor).
  5. Seterhen Akbar Suriadinata (Riset Indie).

Pembicara pertama, Bapak Nukman Luthfie. Beliau seorang lulusan teknik nuklir. Saat ini berprofesi sebagai pakar informatika. Materi yang diberikan berjudul “Keterbukaan Informasi, Peran Media Sosial dan Social Movement”. Penggunaan internet tak pelak menjadi hal yang sudah biasa bahkan menjadi budaya di zaman sekarang, apalagi dengan menjamurnya berbagai macam jenis social media. Hal ini tidak terlepas dari kemampuan masyarakat dalam mengakses social media melalui handphone atau smartphone. Harga alat-alat pengakses media social tersebut terbilang relatif murah. Mayoritas pengguna social media ini tentunya anak muda, termasuk mahasiswa. Kota Jakarta saat ini merupakan pengguna teraktif nomor 1 di social media twitter, sedangkan Kota Bandung berada di urutan ke-6 pengguna twitter.

Dalam beberapa hal, terdapat dampak penggunaan media sosial, baik yang positif maupun negatif.  Dampak positifnya, membuat masyarakat semakin terbuka sehingga tercipta suasana kritis dalam rangka memberikan masukan kepada pemerintah. Sedangkan dampak negatif yang saat ini sudah jelas terlihat adalah tidak efektifnya penggunaaan waktu yang dimiliki masyarakat. Waktu mereka habis hanya sekadar untuk sharing atau memberikan respon terhadap kejadian yang tidak penting. Padahal waktu yang teralokasikan untuk social media tersebut dapat digunakan untuk melakukan hal yang lebih produktif.

Pembicara kedua, Bapak Lendo Novo selaku lulusan Teknik Perminyakan ITB. Saat ini bekerja di Pertamina Foundation. Beliau memberikan pandangan bahwa keberadaan media sosial dapat memberikan keuntungan dalam penyebaran gerakan sosial. Meskipun usaha yang dilakukan sekadar memposting atau berkicau di twitter, sebuah kegiatan atau isu dapat dengan mudah tersampaikan kepada orang lain. Dalam kesempatan ini, Pak Lendo juga berkeinginan untuk mendirikan sekolah alam. Social media inilah sebagai upaya persuasif, mengajak masyarakat untuk mencintai lingkungan dan menanam pohon.

Pembicara ketiga, Bapak Agus Sampurno. Beliau seorang Kepala Sekolah. Materi yang disampaikan oleh beliau adalah “Sosial Media Dalam Pendidikan, Saatnya Guru Memaksimalkan”. Media sosial dianggapnya dapat digunakan untuk melakukan pengajaran yang kreatif, bukan hanya digunakan untuk bermain-main saja. Ini dicontohkannya dengan belajar melalui media sosial bersama murid-muridnya, berinteraksi langsung di dunia maya tersebut. Social media membantu guru-guru untuk menyampaikan materi kepada murid dengan lebih gampang dan variatif dibanding selama ini pengajaran yang monoton, berkutat di kelas saja.

Pembicara keempat, Ibu Febiola Aryanti. Beliau seorang Financial Advisor dan lulusan Sarjana Ilmu Ekonomi Universitas Parahyangan. Tema yang dibawakan “Pemanfaatan Media Online Sebagai Sarana Edukasi Perencanaan Keuangan Syariah”. Saat ini, fakta yang ada tentang edukasi keuangan syariah untuk masyarakat di antaranya:

  • Tidak familiar dengan perencanaan keuangan syariah.
  • Dianggap topik berat, sulit, pribadi.
  • Akses terbatas dan terpusat di Pulau Jawa.
  • Batas per kelas training.
  • Kegiatan offline, tidak terjangkau.
  • Waktu seminar/training yang tidak pas.

Media sosial dapat dimanfaatkan untuk mengatasi hambatan ini sehingga dapat mengakses seluruh daerah yang tidak hanya terbatas di Jawa saja. Melalu blog, dapat dilakukan interaksi tanya jawab antara pemberi materi dan peserta.

Pembicara kelima, Bapak Seterhen Akbar Suriadinata (Saska). Beliau lulusan Teknik Elektro ITB yang sempat menginisisasi adanya Angkot’s Day di Bandung bulan September kemarin. Hal ini dikarenakan Kota Bandung memiliki tingkat kemacetan yang terbilang tinggi dan tentunya membuat ketidaknyamanan dalam bertransportasi. Kemacetan ini dikarenakan ruas jalan dengan kendaraan yang terdapat dijalan tidak sebanding jumlahnya. Jumlah kendaraan di Bandung saja sudah banyak sekali dengan rincian mobil sekitar 200.000 unit, motor 500.000 unit dan sisanya transportasi umum (angkot dan bus kota). Tentu masyarakat lebih memilih untuk membawa kendaraan sendiri, karena transportasi umum seperti angkot yang terbiasa ngetem untuk mencari penumpang dan beberapa ada yang fasilitasnya buruk, kotor misalnya. Kita tentu sudah melihat hasil Angkot Day’s kemarin, cukup berhasil sesuai tujuan yang diharapkan. Hal ini tidak terlepas dari sosialisasi kegiatan mealui media sosial baik facebook, twitter maupun blog resmi Angkot Day’s

 

Sumber:

Luthfie, N., Novo, L., Sampurno, A., Aryanti, F., dan Suriadinata, S., A., 2013, Teknologi Sebagai Katalis Perubahan Sosial, Studium Generale ITB tanggal 5 September.