MEMBANGUN NASIONALISME MELALUI LAGU-LAGU PERJUANGAN DAN DAERAH

ImageStudium Generale kali ini diisi oleh Addie MS, seorang komposer yang familiar di Indonesia, mengangkat tema “Membangun Nasionalisme Melalui Lagu-lagu Perjuangan dan Daerah”, bertempat di Aula Timur ITB. Kita semua tentu hafal benar tiga kata yang tertulis di Sabuga ITB. Sains, Teknologi, dan Seni. Tidak seperti biasanya, kuliah umum kali ini tidak berkaitan dengan sains, teknologi, politik, ekonomi, tetapi bagaimana sebuah karya seni bisa menjadi pemicu dalam membangkitkan nasionalisme.

ITB sendiri memiliki unit ITB Orchestra. Tidak hanya di tingkat kamus, pendidikan musik sudah berkembang dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi.

Musik adalah media ekspresi perasaan. Yang mendengar mendapat getaran yang sama. Dahulu, musik menjadi penunjang perang seperti, perkusi yang digunakan untuk membantu komandan dalam peperangan. Abad ke-14, Pasukan Padjadjaran menghadapai Majapahit dalam Perang Bubat dengan menggunakan angklung untuk membantu peperangan.

Lagu juga menjadi identitas bangsa. Banyak komponis menciptakan lagu untuk peringatan hari besar, mengenang tokoh-tokoh penting, dan lain sebagainya.

Musik klasik dalam hal ini adalah musik barat. Musik digunakan untuk mengekspresikan rasa kekaguman seorang kepada seorang tokoh. Contohnya, Bethoven yang menyadari keangkuhan Napoleon mengekspresikan kegundahannya melalui musik.

Seorang komponis Rusia, Caikovski, menggambarkan perjalanan Napoleon ke Petersburg, melewati berbagai macam jenis cuaca hingga suara bom saat peperangan berkecamuk melalui musik.

Meskipun berlawanan dengan Rusia, Amerika Serikat sampai saat ini memakai karya Rusia untuk lagu kemerdekaannya yang diperingati setiap tanggal 4 Juli.

Musik menjadi pembangkit nasionalisme. Ceko, yang sempat dikuasai Austria hingga bahasa yang digunakan adalah Bahasa Jerman. Pada kondisi ini, kebudayaan bangsa Ceko merasa terkungkung.

Awal abad ke-19 semangat baru muncul untuk membangkitkan nasionalisme dengan cara menggali kembali tradisi lama. Bangkitnya nasionalisme ini melalui lagu.

Ternyata, banyak tokoh sejarah yang mendapat inspirasi kehidupan dari komponis. Hitler, di luar segala kontorversi tentang dirinya juga sangat terinspirasi oleh seorang komponis Jerman, Richard Bahner. Ideologi Hitler terinspirasi dari karya Bahner. Cara pidatonya juga terinspirasi dari Bahner. Banyak pemimpin bangsa mengeksploitasi musik untuk kepentingan pribadi dan golongannya.

Musik tidak hanya terbatas sebagai ajang komersialisasi tetapi juga harus digunakan sebagai alat perjuangan. Bangsa-bangsa lain mempertimbangkan isi dan instrumental dari sebuah musik untuk memacu adrenalin sehingga muncul semangat juang.

Pada zaman pra kemerdekaan Indonesia, komponis menggunakan keroncong untuk menciptakan karya. Meskipun pada saat itu, karya yang dihasilkan agak diperhalus karena sensitivitas pemerintah. Sekali merasa terganggu, maka seseorang bisa dipenjara.

Wage Rudolf Supratman ketika menciptakan lagu Indonesia Raya berawal dari sebuah permainan biola sederhana. Dengan proses berhari-hari tumbuhlah semangat nasionalisme sehingga tahun 1928 mulai adanya lagu Indonesia Raya versi biola.

Lagu Indonesia Raya ini ibarat sebuah semangat untuk Indonesia Merdeka hingga akhirnya 17 tahun setelah tahun 1928 yaitu tahun 1945 negeri kepulauan ini menjadi Negara yang merdeka.

Jepang yang sempat menjajah Indonesia selama kurang lebih 3,5 tahun menginginkan untuk memberikan hadiah kepada Indonesia melalui aransemen lagu Indonesia Raya. Aransemen lagu ini dilakukan oleh Nobu dan direkam di Tokyo pada tahun 1945.

Sama halnya dengan Jepang, Belanda pun sempat membuat aransemen Indonesia Raya yang dibuat oleh Jash Claver yang membentuk Orkes Kosmopolitan (kumpulan banyak bangsa). Lagu tersebut direkam di Radio Republik Indonesia dengan 140 musisi yang kemudian dibawa ke Belanda.

Dalam kuliah umum ini juga sempat diputar beberapa lagu selain lagu Indonesia Raya yang dimainkan dengan biola oleh ITB Orchestra dan Indonesia Raya versi Jepang, yaitu Mars TNI, Indonesia Pusaka, bangun Pemuda-Pemudi.

Sejauh ini, kita bisa mengambil pelajaran bagaiman bangsa lain bisa menjadi bangsa besar melalui lagu-lagunya. Indonesia lemah dalam hal pendokumentasian. Lihat saja kasus Rasa Sayange yang sempat diklaim oleh Malaysia sebagai lagu ciptaannya.

Addie MS juga sempat menceritakan bagaimana bangsa Amerika menjadikan Orkes Simfoni menjadi alat diplomasi terhadap bangsa Korea, meskipun di Negara tersebut semua hal yang berbau Amerika begitu dibenci.

Dari penjelasan Addie MS tersebut. Kita disuguhkan banyak peristiwa yang menjadi pembangkit nasionalisme. Meskipun hanya sebuah lagu tapi membangkitkan spirit untuk membela dan mencintai tanah air. Suatu bangsa dikenali dari karyanya. Negeri Indonesia adalah negeri yang kaya akan sumber daya, bukan hanya sumber daya alam, tetapi banyak karya-karya dari anak bangsa termasuk karya seni.

Indonesia Tanah Air Beta.

Pusaka Abadi Nan Jaya.

Indonesia Sejak Dulu Kala

Tetap Di Puja-puja Bangsa

Di Sana Tempat Lahir Beta

Dibuai Di Besarkan Bunda

Tempat Berlindung Di Hari Tua

Sampai Akhir Menutup Mata

Indonesia Sejak Dulu Kala

Kepadamu Rela Ku Beri!

Begitulah karya Ismail Marzuki menggambarkan betapa pusakanya Indonesia.

Sumber:

MS, A., 2013, Membangun Nasionalisme Melalui Lagu-lagu Perjuangan dan Daerah, Studium Generale ITB tanggal 30 Oktober.