PERAN MAHASISWA DAN PEMUDA DALAM MEMBANGUN KEMANDIRIAN BANGSA MELALUI KEGIATAN KEWIRAUSAHAAN

Studium Generale kali ini diisi oleh Anindya N. Bakrie selaku founder Bakrie Center Foundation (BCF) bertempat di Aula Barat ITB.

Seorang Ilmuwan Amerika bernama David McClelland, pernah menjelaskan bahwa suatu negara disebut makmur jika mempunyai jumlah wirausahawan minimal 2% dari jumlah penduduknya. Namun, saat ini jumlah pengusaha Indonesia hanya 0,24% dari jumlah penduduk. Jika jumlah penduduk Indonesia sekitar 240 juta, maka negeri ini membutuhkan setidaknya 4,2 juta pengusaha untuk mencapai minimal 2% jumlah usahawan. Jumlah usahawan yang hanya 2% dari jumlah penduduk, artinya terdapat dua orang dari setiap 100 orang penduduk yang membuka lapangan pekerjaan. Ini berarti, 1 orang pengusaha menghidupi 49 orang lain yang bukan pengusaha. Angka ini akan melonjak menjadi 400-an orang yang harus ditanggung oleh seorang pengusaha jika saat ini baru terdapat 0,24% penduduk Indonesia yang menjadi wirausahawan. Jumlah ini tentu sangat tidak sebanding, dan menunjukkan beban penduduk yang harus ditanggung para pengusaha kita. Pengusaha adalah pihak yang secara ekonomis menanggung elemen masyarakat lain yang bukan pengusaha. Untuk itulah, kita perlu membangkitkan jiwa kewirausahaan dan memulai sebuah bisnis (entrepreneur) yang mampu menanggung kehidupan diri dan kehidupan masyarakat. Entrepreneurship menjadi penting karena pengusaha pulalah yang menjadi ujung tombak perekonomian suatu negara. Merekalah yang memimpin dan menentukan jalan usahanya sesuai bidang industri masing-masing, yang sebetulnya ikut menentukan arah pergerakan ekonomi dan industri.

Dalam membangun mental berwirausaha, kita tidak harus menjadi orang yang luarbiasa tetapi harus menjadi orang yang sangat luar biasa. Sebagai kiat-kiat agar menjadi sukses diperlukan beberapa hal yang harus kita ketahui di antaranya:

  1. Kegagalan yang kita alami dimanapun dan kapanpun merupakan modal yang sangat berharga agar kita bisa belajar banyak hal sehingga terus mengevaluasi diri agar menjadi semakin baik dan sukses.
  2. Dalam membangun kesuksesan, dibutuhkan banyak jaringan baik jaringan pertemanan maupun jaringan kolega di perusahaan atau pejabat-pejabat pemerintahan. Hal ini akan memudahkan kita ketika melakukan birokrasi dalam menjalankan bisnis.
  3. Satu hal yang mungkin dirasa belum terbiasa di Indonesia adalah kepercayaan diri untuk berinovasi. Kita jangan menganggap inovasi merupakan sebuah hal yang tidak mungkin. Semua hal mungkin, bahkan ide gila sekalipun dapat membawa kita membuka peluang yang luas untuk menjadi sukses. Kultur untuk melakukan hal kreatif dan inovatif di negeri ini sudah mulai terbentuk. Jika hal ini ditambah penggunaan teknologi yang baik dapat membuat hasil yang lebih baik pula.

Ketika kita memilih bekerja di suatu perusahaan, mau di manapun posisinya, sebenarnya  sama saja. Yang terpenting dari hal tersebut adalah kesungguhan kita dalam melakukan pekerjaan yang sedang kita emban sehingga hasil yang diperoleh memuaskan dan menguntungkan.

Tentu kita memiliki segenap potensi yang ada untuk membangun kemandirian bangsa. Kita harapkan kualitas sumber daya manusia yang ada di negeri ini menjadi hebat melalui gerakan pendidikan. Semakin banyak orang yang menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lebih bagus. Kita kalah dengan Malaysia yang memiliki jumlah professor yang lebih banyak. Peran akademisi tersebut penting untuk menciptakan karya-karya yang berguna bagi bangsa.

Peran lain tentu diambil oleh para pengusaha yang berperan dalam pergerakan ekonomi bangsa. Melalui usaha dan jaringan yang luas, dapat membuka lapangan kerja bagi orang lain. Pemerintah juga harus sadar untuk mendorong dan mendukung secara aktif apa yang dilakukan akademisi dan pengusaha untuk membuat negeri ini menjadi mandiri. Kita bangsa Indonesia bisa untuk menjadi bangsa yang besar. Kita memiliki sebuah fighting spirit. Kita berharap ke depan Indonesia menjadi Negara yang mandiri di segala bidang, mandiri pangan, air bersih, energi, dan lain-lain.

Jika menjadi pengusaha kita memiliki modal di antaranya: ilmu, jaringan, dan pangsa. Pangsa ini merupakan objek atau sasaran dari pemasaran produk atau jenis usaha yang kita lakukan. Di kompetisi domestik, pangsanya sudah ada. Di negeri ini, masyarakat merupakan pangsa yang sangat melimpah. Apapun bentuk usaha yang dijalankan selama hal tersebut menjadi kebutuhan, akan mendapat sambutan yang baik dari masyarakat.

Dalam berinovasi, satu istilah yang sering kita dengar yaitu “out of the box” memberikan sebuah alternatif lain dalam berwirausaha sehingga kita bisa bersaing bahkan unggul dengan orang lain. Biasanya dalam keadaan sulit atau tertekan ide untuk berinovasi akan muncul sendirinya. Tentu jika kita bersabar dalam menghadapi tekanan tersebut. Kita harus berani ambil resiko dalam mengambil pilihan. Pilihan-pilihan akan selalu muncul ketika kita menjalani proses sebagai pengusaha. Tentunya setiap pilihan itu memiliki keuntungan dan kerugian sehingga tugas kita untuk meminimalisasi kerugian agar didapat keuntungan yang paling maksimal.

Sumber:

Bakrie, A. N., 2013, Peran Mahasiswa dan Pemuda Dalam Membangun Kemandirian Bangsa Melalui Kegiatan Kewirausahaan, Studium Generale ITB tanggal 23 Oktober.