Secangkir Cerita di Puncak Pangrango

Pendakian ini dimulai saat kami merencanakan perjalanan untuk acara Jalan-Jalan Euy Keluarga Pelopor ITB. Tetapi pada akhirnya kami mengajak banyak orang untuk mengikuti acara ini.

Perjalanan dimulai pada hari Jum’at (15/11) pukul 20.00 WIB. Kami semua berangkat dari Salman menuju Terminal Leuwipanjang.  Kelompok pendakian terdiri dari Ade Amat, Misbah, Aprian, Kang Mamat, Gelfi, Rizkie Adit, Teh Ani, dan Gempar.

Pendakian dilakukan pada musim hujan, spek pendakian seperti ponco penting untuk dibawa. Perjalanan menuju Pangrango kami selingi dulu dengan bersinggah di Rumah Hashri (Cici).

Seperti kebiasaan orang Indonesia yang terkenal ramah, kami dijamu dengan baik oleh keluarga Cici. Disuguhkan makanan dan tempat beristirahat selama satu malam.

Hari berganti pada Sabtu pagi itu. Matahari tidak terbit seperti musim kemarau. Dia mungkin terbit tapi terhalang oleh kabut dan awan. Tetesan gerimis membasahi halaman Rumah Cici sekadarnya saja, bahkan aku lupa saat itu ada gerimis atau tidak. Hanya sekumpulan semut dalam jumlah yang cukup banyak berlarian tanpa karuan, keluar dari sepatu lapangan yang akan aku pakai untuk menapaki tubuh Pangrango.

100_6670Kami dan Keluarga Cici

Setelah berpamitan dan mengucapkan rasa terimakasih kepada keluarga Cici, kami meninggalkan Rumah yang berada di Kelurahan Pamoyanan, Kecamatan Cianjur tersebut. Sebuah angkot mengantarkan kami menuju Gerbang Cibodas. Seingatku, saat itu matahari menerangi hamparan depannya. Jepretan pertama melalui kamera di sana begitu jelas.

Kami berjalan sampai waktu menunjukkan pukul 09.00 WIB di Balai Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Kami meluangkan waktu untuk becanda dan mengobrol, menunggu pintu balai yang belum terbuka. Setelah mengurus SIMAKSI dengan alot, kami berangkat memulai langkah pertama dari balai menuju Pangrango. Bekal makan siang dari keluarga Cici sangat membantu perut kami merasakan kenikmatan rasa.

100_6686Berpose di Balai TNGGP

Kami tiba di Pos Mandalawangi pukul 11.30 WIB untuk menyerahkan SIMAKSI kepada petugas. Kemudian menaiki tangga berbatu yang sepertinya disusun secara sengaja. Kami menapaki setiap tangga tersebut, meskipun bentuknya tidak rapi sempurna, namun sangat membantu agar perjalanan di awal ini tidak membuat kami kesusahan.

100_6710Melangkahi Tangga Batu

Tangga berbatu ini membawa kami ke Telaga Biru pukul 12.30 WIB, meskipun hanya sepintas kami memandangnya. Telaga yang menyimpan banyak rahasia. Beberapa langkah di depannya kami bertemu jembatan yang disusun dari beberapa batang semen, membantu kami melewati Rawa Gayonggong di bawahnya. Tidak lupa kami mengabadikan beberapa foto di atas jembatan yang panjangnya ratusan meter itu. Gelfi dengan mahir melakukan tugasnya.

100_6721Satu Jepretan Di Rawa Gayonggong

Selebihnya jalur yang kami daki senantiasa menanjak. Di beberapa pos kami beristirahat untuk menyeimbangkan beban, menghirup nafas baru, mengambil diam untuk merasakan suasana alam, bahkan sekadar berpose indah di depan papan penanda pos untuk siap didokumentasikan. Gempar selalu pada pose terbaik dari semua orang dalam kelompok kami.

100_6733Beristirahat Sejenak

100_6740Gelfi dan Gempar Narsis

Kami sampai di Kandang Batu pukul 16.30 WIB dan sudah bersiaga untuk mendirikan tenda dan memasak. Sebelumnya kami melewati Air Panas beruap yang menghangatkan kami dari dinginnya udara sepanjang perjalanan. Dari sanalah semuanya mulai terasa. Bagaimana kebersamaan terjalin dan rasa kesenangan muncul dari masing-masing orang. Tertawa, bercerita, dan bercanda tak lepas di camp itu, yang memuat puluhan tenda lainnya.

100_6752Dihangati Uap Panas

100_6754Diam Dalam Hangat

100_6757Sampai Di Kandang Batu

100_6780

Malamnya kami isi dengan mendengarkan cerita masing-masing. Dengan beragam gaya penyampaian dan konten yang dibicarakan mengantarkan kami pada tidur pertama pendakian.

100_6768Kebersamaan Dalam Tenda

100_6773Masak Air dan Makanan

Ternyata rencana kami untuk berangkat dini hari menuju puncak tidak terjadi. Kami memutuskan untuk berangkat pada pagi hari dengan kondisi alam yang lebih bersahabat.

Pukul 08.45 WIB di Ahad pagi, kami meninggalkan carrier di camp bersama tenda dan puluhan orang di sana, untuk menuju puncak. Pun ternyata, beberapa orang sudah terlebih dahulu pergi menuju puncak, tetapi juga ada yang hanya sebatas menikmati keindahan Gede-Pangrango sampai di Kandang Batu.

100_6795Menuju Puncak (1)

100_6821Menuju Puncak (2)

100_6830Menuju Puncak (3)

100_6831Menuju Puncak (4)

100_6853Menuju Puncak (5)

Ketika pada akhirnya puncak sudah semakin dekat dalam pandangan mata, hujan tetap tak berhenti membasahi kami. Jalur semakin terjal, beberapa jalan licin karena terbasahi air hujan. Kelelahan dan keringat memang dari awal sudah ada.

Meskipun tidak terdapat matahari di puncak sana, kami menyambut puncak dengan gembira. Puncak Pangrango 3019 mdpl. Pukul 12.00 WIB dengan suasan dingin diselimuti kabut tebal yang menghalangi kami dari melihat keindahan gunung sekitarnya. Bahkan sang gunung tetangga tidak terlihat karena tebalnya benda putih itu.

100_6860Tiga Sekawan Di Puncak yang Dingin

100_6862Takjub Dengan Kabut

Satu lagi, kami melewatkan kebahagian kami di Lembah Kasih, Lembah Mandalawangi. Edelweiss yang tumbuh dengan menjaga jarak satu sama lain memperindah foto-foto kami. Lembah yang indah meskipun dalam musim hujan. Suasana di sini begitu dingin. Kami habiskan waktu satu jam sekadar menempatkan kami dalam memori mesin di lembah sana.

100_6872Berfoto Di Lembah Mandalawangi (1)

100_6877Berfoto di Lembah Mandalawangi (2)

Pukul 13.00 WIB, tepat saat air hujan membasahi lembah tersebut, kami bergegas memakai kembali jas hujan dan ponco. Kami yakin hal ini bukan bermaksud mengusir, tetapi sudah saatnya kami menjalani babak lain. Pendakian berganti menjadi turun gunung.

Dalam turun gunung tersebut, aku dan Amat menikmati perjalanan dengan mengalun nada. Hujan terus turun di sekitar puncak. Beberapa pendaki juga turun dan ada juga yang baru naik. Kami sempat tidak sadar karena jalur yang kami turuni berbeda dari sebelumnya. Satu jam terlewati dalam jalan yang menguras fisik dan memberi keanehan. Ketegasan kang Mamat memicu kesadaran kami untuk kembali ke jalan yang benar. Akhirnya jalur yang benar pun ditemukan. Dan kami menyusuri jalur tersebut dengan ciri khas ikatan rafia pada beberapa ranting tanaman.

Kami tiba di Kandang Batu lagi pukul 16.30 WIB. Adit dan Apri sudah terlebih dahulu berada di tenda, menghangatkan badan bukan hanya berdua di dalam tenda tetapi juga memanaskan nesting untuk memasak air dan nasi. Pada sore yang tetap dingin tersebut kami memutuskan untuk bermalam satu kali lagi, menunggu kondisi yang baik dalam melakukan perjalanan turun. Pada saat itu, hujan turun dengan deras dan angin mengibaskan daun juga ranting pohon yang tinggi di Kandang Batu.

Kali ini malam kami diisi dengan cerita yang lebih banyak dan beragam, kebanyakan seputar pendakian menuju puncak dan turunnya. Teh Ani, meskipun satu-satunya perempuan yang ikut tetapi sangat antusias dalam perjalanan itu.

Malampun berlalu, dan kami harus pergi meningggalkan Pangrango dengan puncaknya yang mungkin setiap hari dikunjungi anak manusia.

100_6881Berfoto Bersama Di Kandang Batu (1)

100_6884Berfoto Bersama Di Kandang Batu (2)

Kami turun lagi. Saat itu pukul 08.30 WIB hari Senin. Berpamitan dengan pendaki lain dan saling bertukar senyum. Sepanjang perjalanan ternyata banyak yang baru naik. Ada yang benar-benar mendaki, ada juga yang hanya ingin mengunjungi air panas dan air terjun Cibeureum. Sepanjang perjalanan turun itu juga, canda kami masih mengimbangi langkah disertai pemandangan makhluk ciptaan Tuhan yang bergelantungan di ranting pohon. Kang Mamat memberikan sedikit penjelasan mengenai Owa dan Lutung. Mereka begitu menikmati hidup di alam sana. Kami yang memperhatikannya merasa senang.

100_6889Tidak Bosan Untuk Istirahat

100_6891Lutung

Rawa Goyombang dan Telaga Biru kembali kami lewati. Sekali lagi, tanpa melewatkan pose terbaik untuk dikenang.

100_6894Foto yang Indah

100_6895Memandang Birunya Telaga

Kami tiba kembali di Cibodas pukul 13.00 WIB. Mencicipi kuliner di sana. Lagi-lagi angkotlah yang membawa kami, menuju Terminal Rawa Bango untuk selanjutnya dipertemukan dengan bus yang membawa kami ke Kota Kembang.

100_6903Perjalanan Pulang Di Dalam Bus

Sebelum hari berganti kembali, kami membawa semua peristiwa ke Bandung dalam tidur yang terlelap. Semoga lebih indah apa yang diproyeksikan malam itu.

Pangrango, 15-18 November 2013.