BERANI GAGAL

Studium Generale kali ini diisi oleh Dr. Sammy Sumargo selaku CEO Polycore Singapore. Beliau merupakan alumnus S1 ITB Jurusan Teknik Elektro angkatan 1964. Saat ini, beliau sudah menyelesaikan Ph.D dalam bidang Fisika di Stuttgart, Jerman.

Pada pemaparan awal materi, beliau menjelaskan mengenai tiga konsep Quotient (kecerdasan). Kita sudah umum mendengar Inteligent Quotient (IQ) yang mengukur kecerdasan inteligen seseorang melalui sejumlah tes yang menguji kemampuan otak, tes psikotes, dan psikologi. Kemudian terdapat Emotional Quotient (EQ), kemampuan sesorang untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain secara efektif.

Satu quotient yang jarang dikenali oleh orang yaitu Adversity Quotient (AQ), sebuah kemampuan seseorang dalam mengatasi masalah dan mencari solusi penyelesaiannya. Perlu dipahami bahwa kegagalan selalu ada dalam sepanjang hidup yang kita jalani. Beriringan dengan keberhasilan.

Jika IQ dengan terukur bisa kita hitung secara kuantitatif, tetapi beda halnya dengan EQ, sulit untuk dilakukan perhitungan kuantitatif.

Untuk AQ sendiri, keuntungan yang dimiliki yaitu measurable dan upgradable.

Beliau mengibaratkan pengukuran AQ ini layaknya orang yang melakukan pendakian di sebuah gunung. Terdapat tiga tipe pendaki, yaitu Quitters, Campers, dan Climbers. Climbers merupakan tipe paling baik dalam AQ ini.

Quitters adalah tipe orang yang menyerah sebelum bertanding. Dia merasa tidak mampu melihat tantangan yang dia anggap terlalu sulit sehingga dia menyerah terlebih dahulu, sejatinya sudah kalah sebelum berperang.

Campers adalah tipe orang yang melakukan perjalanan dalam sebuah pendakian, menaklukan tantangan tetapi dia dihadapkan kepada pilihan untuk maju terus atau pilihan untuk berhenti karena sudah berada dalam posisi nyaman. Dalam artian, tipe ini menyerah karena nyaman.

Seperti halnya ketinggian gunung. Climbers adalah level tertinggi dari AQ. Tipe ini adalah tipe yang pantang meyerah menaklukan tantangan, tetap maju, dan berjuang hingga puncak.

Di dalam pengukuran AQ ini diberikan parameter interpretation sehingga di dapat karakteristik lebih detil dari masing-masing tipe. Interpretation ini meliputi Control, Origin/ownership, Reach, dan Endurance (CORE).

Berikut tabel interpretation dan tipe AQ:

Tipe/Interpretation
C
O
R
E
Climbers
Fokus dan optimis untuk mengandalkan situasi.
Fokus pada solusi, inisiatif memperbaiki.
Tantangan terbatas pada kejadian sendiri.
Tantangan hanya sementara.
Campers
Makin merasa tidak berdaya seiring meningkatnya tantangan.
Lunturnya rasa saling memiliki seiring meningkatnya tantangan.
Menjadi kewalahan seiring meningkatnya tantangan.
Mulai merasa sial..
Quitters
Tidak berdaya, putus harapan.
Menghindar, cenderung menyalahkan orang lain.
Kewalahan, masalah besar.
Merasa sial terus-menerus.

AQ ini ternyata dapat diimprove dengan sebuah resep simpel. LEAD.

LEAD meliputi Listen, Explore (mencari peran yang bisa diambil, menghasilkan commited), Analyze (menghasilkan beragam asumsi), dan Do something (action dari segala perencanaan).

Pada kesempatan kali ini juga dilakukan survei singkat selama sepuluh menit terhadap AQ yang dimiliki oleh peserta Studium Generale.

Survei dilakukan dengan mengisi kuisioner Adversity Response Profile yang terdiri dari beberapa pertanyaan studi kasus yang dapat dibayangkan oleh peserta. Pertanyaan berjumlah dua puluh pertanyaan dengan pilihan jawaban angka 1 sampai 5. Angka 1 menunjukkan nilai-nilai rendah hingga semakin ke angka 5 menunjukkan nilai-nilai yang besar dan positif.

Setelah dilakukan pengisian selama 10 menit dan diukur nilai AQ nya diperoleh AQ score dari peserta Studium Generale sebesar 146,7. Nilai AQ score dunia sendiri adalah 147. Berarti peserta ini masih normal.

Selanjutnya diperoleh juga data, peserta Studium Generale kali ini memiliki persentase untuk masing-masing tipe AQ. Tipe Quitters sebesar 21%, Campers 58%, dan Climbers 21%. Jumlah persentase Climbers dan Quitters sama. Mayoritas peserta bertipe Campers, artinya merasa nyaman dengan kondisi yang ada sehingga memutuskan untuk tidak maju.

Menjadi lebih baik akan diikuti dengan peningkatan kualitas, meskipun dengan kuantitas yang sama. Kualitas semakin bertambah ini diawali dengan Noise, kemudian Data, menjadi Information, diperoleh Knowledge. Knowledge tidak cukup hingga menjadi Intelligence, dan pada tingkatan yang paling berkualitas adalah Wisdom/kebijaksanaan.

Sumber:

Sumargo, S., 2013, Berani Gagal, Studium Generale ITB tanggal 23 November.

Satu pemikiran pada “BERANI GAGAL

Komentar ditutup.