Di Penghujung Studium Generale

Seru mengikuti kuliah ini dari awal sampai akhir. Petugas LK yang mengelola mata kuliah ini juga begitu antusias memeriksa makalah mahasiswa sebagai tugas akhir mata kuliah yang biasa disingkat SG ini.

Makalah ini sebenarnya hanya berisikan gagasan singkat peserta kuliah selama mengikuti kuliah dengan pilihan bidang seperti energi, ekonomi, transportasi, dan pendidikan. Peserta hanya disuruh menuangkan gagasannya dalam empat halaman.

Sejak awal, kuliah umum ini memang menghadirkan beragam tema dan beragam pembicara. Dari mulai pejabat Pertamina hingga Walikota Bandung. Setiap pekannya kita meresume materi yang disampaikan dalam kuliah.

Pada akhirnya, tugas Ujian Akhir Semester menjadi penutup mata kuliah SG. Di sini saya mengambil tema tentang energi karena energi merupakan salahsatu isu paling penting di dunia. Indonesia memiliki kandungan energi yang melimpah. Masih banyak PR yang mesti dibenahi agar energi negeri ini benar-benar menjadi energi untuk negeri bukan untuk negara lain.

Selama ini juga, saya sering mencantumkan resume saya di blog https://hujungdestinasi.wordpress.com/. Saya sekadar berbagi informasi untuk digunakan sesuai keperluan. Satu hal lagi, yang mungkin sudah mulai terbentuk kesadarannya bahwa ketika kita mengutip tulisan atau menulis sesuatu tentu ada beberapa referensi yang kita manfaatkan. Nah, di situlah pentingnya mencantumkan referensi-referensi mana saja yang kita gunakan. Sejatinya kita sedang menghargai buah hasil kerja orang lain.

Berikut tulisan terakhir saya untuk kuliah Studium Generale ini. Semoga bermanfaat untuk menambah wawasan kemahasiswaan dan kebangsaan.

Energi Untuk Indonesia

Berbicara energi, terdapat beberapa energi yang biasa kita dengar, yaitu energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Energi terbarukan di antaranya panas bumi, angin, surya, sedangkan energi tak terbarukan salahsatunya energi fosil seperti minyak, gas, dan batubara.

Potensi kedua jenis energi tersebut di Indonesia sangat melimpah. Indonesia sebagai negara kepulauan yang berada di antara pertemuan ketiga lempeng besar dan berada di jalur katulistiwa membuat negeri ini dianugerahi sumber daya alam luar biasa.

Indonesia merupakan negara dengan kapasitas panas bumi terbesar di dunia (40% cadangan dunia, atau sekitar 27.140,5 MegaWatt). Tapi pemanfaatan cadangan panas bumi Indonesia masih sangat minim, yakni hanya 800 MW. Potensi bahan tambang lainnya, seperti batubara 3,1% cadangan dunia, dan gas 1,4% cadangan dunia, tenaga air 75 GigaWatt, biomasa 49 GW, tenaga matahari 48 kWh/m2/hari, tenaga angin 9 GW, dan uranium dengan kapasitas  sebesar 32 GW atau total ada lebih 230 GW. Fakta yang ada atas potensi tersebut, antara lain:

  • Ketersediaan listrik di Indonesia baru mencapai 21,6 GW atau 108 watt per orang, jauh lebih kecil dibandingkan dengan Jepang yang mencapai 1.874 watt/orang. Padahal, kebutuhan listrik dunia diproyeksikan akan meningkat dari 14.275 milyar watt di tahun 2002 melonjak menjadi 26.018 milyar watt di tahun 2025.
  • Batubara dipasok untuk industri ketenagalistrikan dengan jumlah 22,882 juta ton. Meski sudah ada pasokan dari batubara, tetapi produksi energi listrik masih juga memakan 6,796 juta kilo liter bahan bakar minyak. Seiring dengan kenaikan harga minyak maka jumlah dan harga energi listrik juga menjadi semakin mahal. Hal tersebut mengakibatkan tarif listrik semakin mahal. Terlebih penjualan minyak dan batubara serta bahan penunjang lainnya antar BUMN ataupun tidak di dalam negeri, dilakukan dengan mata uang dollar.
  • Sejauh ini produksi listrik nasional untuk konsumsi dalam negeri baru 80%, sedangkan 20% nya harus dibeli PLN.
  • Di Indonesia Black Out (pemadaman sementara) pernah terjadi pada tahun 1997, 1999, 2000 dan 2002 dan memiliki kecenderungan akan terus terjadi dengan tingkat yang lebih besar.
  • Tarif dasar listrik terus dinaikkan. Hal ini menunjukkan pencabutan subsidi listrik diberlakukan oleh pemerintah.

KeduaIndonesia merupakan negara net eksporter gas dunia—dengan  10 perusahaan asing  (Exxon Mobil, Vico, BP, Unocal, Conoco Philips, Energi, Caltex, Exspan, Premier/Amoseas, Cnooc/YPF/Maxus) menguasai 55% produksi gas Indonesia—dengan cadangan gas saat ini diperkirakan sebesar 134,0 TSCF yang tersebar di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Tengah, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Natuna, Sulawesi Selatan, dan Papua. Sementara produksi gas tercatat sebesar 8,6 miliar kaki kubik per hari, dimana 6,6 miliar kaki kubik dari produksi tersebut digunakan untuk ekspor dan sisanya sebesar 2,0 miliar kaki kubik untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri yaitu untuk keperluan fertilizers, refinery, petrochemicals, LPG domestik, PGN, PLN, dan industri lainnya. Penerimaan negara dari gas bumi rata-rata sebesar 10,2% dari total penerimaan negara dan 80% dari jumlah tersebut berasal dari ekspor. Fakta yang ada dari potensi tersebut, antara lain:

  • 10 perusahaan asing  (Exxon Mobil, Vico, BP, Unocal, Conoco Philips, Energi, Caltex, Exspan, Premier/Amoseas, Cnooc/YPF/Maxus) menguasai 55% produksi gas Indonesia.
  • Jepang memperoleh 75% dari total pengiriman gas LPG perusahaan besar asing dari Indonesia.
  • Jepang juga memperoleh 64% dari total pasokan LNG yang dikirim dari Indonesia.
  • PT Pupuk Iskandar Muda dan PT ASEAN Aceh Fertilizer hampir bangkrut karena kurangnya pasokan Gas, karena target eksport ke Jepang dan Korea Selatan. Serta pembelian harga LNG yang tinggi—dengan standar harga internasional dan dengan pembayaran melalui dolar Amerika.
  • Naiknya harga minyak internasional hingga pada level $135 per barel tidak memberikan windfall profit melainkan meningkatnya harga premium ke harga Rp. 6000 per liter.

Ketigapotensi energi fosil jenis minyak, antaralain: minyak 86,9 miliar barel (sumberdaya), 9 miliar barel (Cadangan), 500 juta barel (Produksi per tahun. Produksi 989.880 barel per hari itu dengan rincian kondensat 128.785 barel per hari dan minyak mentah 861.095 barel per hari (Mei 2008). Dengan sumur yang siap diproduksi: Cepu/Jawa Timur: 170 ribu bph,  Jeruk/Jawa Timur: 50 ribu bph,  West Seno/Selat Makasar: 27 ribu bph,  Belanak/Natuna: 50 ribu bph,  Petrochina: 25 ribu bph, Pertamina: 30,6 ribu bph. Fakta yang nyata dari potensi tersebut:

  • Terjadi penurunan produksi minyak dari tahun 1978 ketika Oil Shock  ke II produksi minyak Indonesia sebesar 1,4 Juta Barel per hari.
  • Sepuluh perusahaan asing (BP, Caltex, CNOOC, Connocophilips, Exonmobil, EXSPAN, Total Fina/ELF, Unocal, VICO, Petrocina) menguasai 84% produksi minyak Indonesia dan perusahaan Caltex menguasai sebesar 56%.
  • Cost Recovery yang harus dibayarkan pemerintah untuk seluruh kontraktor selama 2007 mencapai US$ 8,33 miliar.
  • Ladang minyak yang diyakini menyimpan cadangan dalam jumlah mencapai 1.1 milyar barel di kedalaman kurang dari 1.700 meter itu, memiliki cadangan potensial yang mencapai 11 milyar barel di kedalaman di atas 2000 meter dikuasai oleh Exxon Mobil Oil.

Permasalahan di bidang energi memang sudah begitu kompleks. Dari hal yang paling kecil saja, di beberapa desa selalu terjadi pemadaman bergilir, korupsi di tubuh lembaga yang mengurus energi, hingga penguasaan asing terhadap kekayaan alam di Indonesia yang dominan. Ironis sekali kita menyaksikan negara yang memiliki kekayaan alam luar biasa tetapi rakyatnya miskin. Seperti halnya, di Papua, bagaimana kandungan emas yang sangat besar dengan kadar terbaik di dunia berhasil masuk kas negara lain dengan lancar, sedangkan rakyatnya hidup jauh dari sejahtera.

Hingga kini, saya meyakini apa yang pernah diusahakan Bung Karno sebagai langkah untuk memakmurkan negeri ini, yaitu nasionalisasi perusahaan asing atau penguasaan penuh terhadap kekayaan alam sendiri sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 33 yang menyatakan bahwa bumi dan kekayaan alam yang terkandung di dalam negeri ini sepenuhnya dikuasai oleh negara dan dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Entah dengan dalih apa, mungkin dengan dalih pembangunan kita melibatkan asing untuk berinvestasi dalam eksplorasi dan eksploitasi energi negeri.

Dalam jangka waktu dekat ini, memang beberapa perusahaan asing masih memiliki hak untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi energi di Indonesia. Apa yang bisa dilakukan saat ini adalah energi yang belum ditemukan atau energi yang siap diproduksi dipegang oleh perusahaan nasional karena orientasinya pendapatan yang besar untuk negara yang pada ujungnya untuk kemakmuran rakyat. Miris rasanya ketika mengetahui, perusahaan asing menguasai saham hingga melebihi 50% untuk kekayaan alam di negeri ini.

Hal ini tidak terlepas dari inkonsistensi menerapkan amanat undang-undang. Banyak sekali kebijakan atau undang-undang yang saling kontradiktif. Di satu sisi Pasal 33 menjamin kemakmuran untuk rakyat, di sisi lain terdapat kebijakan yang memuluskan asing menguasai energi di Indonesia secara penuh, dalam hal ini mereka rata-rata menguasai saham melebihi 50%. Memang terdapat kontrak kerja sama, antarmasing-masing pihak bisa berunding untuk memutuskan sejauh mana akan mengambil peranan dalam pengelolaan energi. Sekali lagi bisa dirundingkan. Tetapi jika kebijakannya saja sudah menyatakan asing boleh menguasai pengelolaan secara penuh, tentu mereka akan mengambil peranan semaksimal mungkin, karena orientasi mereka adalah profit. Berbeda jika dikuasai oleh negara secara penuh, setidaknya orientasi sejatinya adalah untuk kemakmuran rakyat.

Hal yang sering saya dengar juga adalah apakah jika energi ini dikuasai oleh negara sendiri, sudah siap dan mampukah? Saya pikir kita bisa. Banyak sekali orang-orang pintar di negeri ini. Mereka terlanjur merasa “tidak dihargai” di negeri ini sehingga lebih mengabdikan diri di luar sana. Banyak pekerja-pekerja di Indonesia yang bekerja di perusahaan asing yang juga beroperasi di Indonesia. Secara kompetensi, kita sudah siap. Sumber daya manusia kita banyak dan kualitasnya tidak berbeda jauh dengan negara lain.

Tentu kita masih ingat, beberapa waktu lalu marak kasus Blok Mahakam yang kontraknya akan habis 31 Maret 2017. Sementara ini dipegang oleh Total. Saham yang mereka pegang mencapai 50%. Tentu ini menjadi kesempatan bagi kita untuk mengambil alih penguasaan terhadap Blok Mahakam yang memiliki potensi gas yang cukup untuk ketahanan energi Indonesia dalam beberapa puluh tahun mendatang. Dalam hal ini, Pertamina bisa mengambil alih itu dengan mengajukan permohonan kepada Menteri terkait. Dari segi sumber daya manusia, pegawai di Total sebagian besar adalah warga Indonesia, maka dari itu tidak menjadi masalah. Dari segi teknologi, selama ini selalu digunakan oil company service, jadi Pertamina bias mengontrak perusahaan service. Dari segi modal, kita ambil resiko untuk hal yang pasti tentu akan menguntungkan. Potensi gas di Mahakam diperkirakan mencapai 2 TCF.

Kesimpulan dari solusi permasalahan energi ini adalah penguasaan secara penuh terhadap energi negeri. Jikapun, terdapat kontrak kerjasama dengan asing, keuntungan untuk negara haruslah lebih tinggi untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Selain itu, kebijakan di bidang energi harus saling mendukung, bukan malah kontradiktif. Acuan kita adalah Pasal 33 UUD 1945. Selain itu, perlu diperbaiki juga karakter para pemegang kekuasaan di dalam negeri. Praktek korupsi memang sangat akut di negeri ini. Tapi saya yakin masih banyak orang-orang baik yang ingin merubah praktek korupsi ini. Kita butuh kekuatan massal untuk menghadapi semua ini.

 

 

Referensi:

Ginting, P., S., 2012, Krisis Energi: Akar Masalah dan Solusi, http://koranpembebasan.wordpress.com/2012/03/13/krisis-energi-akar-masalah-dan-solusi/ diakses tanggal 22 Desember 2013 pkl 15.00 WIB.

HMTG ‘GEA’ ITB, 2013, Nasionalisasi Blok Mahakam?, Sikap GEA terhadap Blok Mahakam, ITB, Bandung.