Guntur, Keunikan Gunung dari Swiss van Java

Garut memang memiliki banyak keindahan alam yang dikagumi banyak orang. Keindahan alamnya juga ada pada gunung-gunung yang membentengi kota berjuluk Swiss-nya Jawa. Setidaknya ada tiga gunung yang biasa didaki oleh para penggemar hiking atau pendakian. Gunung Cikuray menjulang tinggi sebagai atap tertinggi di Garut. Kemudian Papandayan, gunung yang masuk dalam papan atas gunung tercantik di Indonesia, dan satu lagi gunung yang kami daki pada perjalanan kali ini, yaitu Gunung Guntur, sebuah gunung yang sangat aktif kegiatan vulkanismenya di abad ke-19. Akibat batuannya yang belum terlapukan secara sempurna membuat pohon-pohon sangat jarang tumbuh di gunung ini.

Guntur, ketika pertama kali mendengar namanya mengindikasikan sebuah peristiwa alam berupa atraksi menyerupai akar pohon yang bercabang di langit, mungkin memiliki kandungan listrik yang tinggi. Terbukti mampu membuat beberapa pohon di sana hanya menyisakan tubuhnya yang kering dan hitam.

Perjalanan dimulai di Masjid Salman. Kita bersebelas berdoa bersama agar perjalanan ini lancar. Ketua perjalanan untuk pendakian kali ini adalah Adit. Anggota yang berangkat ada saya, Tarlani, Ade, Dede, Dedi, Gelfi, Tito, Gigih, Dian, dan Elin. Kami meninggalkan Kota Kembang pada Senin (30/12) pukul 17.45 WIB menuju Garut bersama angkotnya Pak Alex.

1525121_734740629869556_789154200_n

Berdoa Sebelum Berangkat

Tiba di alun-alaun Garut, Fauzi yang menyusul dari Tasik bergabung bersama kami. Pukul 20.30 WIB kami tiba di rumah Ratih untuk bersilaturahim dan menginap selama satu malam. Meskipun dia tidak ikut dalam pendakian ini, tapi kami sangat berterimakasih atas jamuannya. Luhur yang menyusul dari Cirebon kemudian datang untuk menambah jumlah anggota pendakian.

Tak lupa, kami bersilaturahim dengan orangtua Ratih. Kami dijamu dengan berbagai macam jenis makanan dan kami menikmati itu. Kami tidur terlelap untuk hari esok.

Hingga langit sudah menjadi terang meskipun tidak ada mentari, kami masih bermalas-malasan untuk menyamankan badan di kasur. Tetapi, kami tidak lupa untuk berangkat pukul 09.00 WIB. Setelah memastikan anggota pendakian lengkap seiring datangnya Aci, kami berempat belas berpamitan dengan Ratih dan keluarganya. Kamipun diantarkan oleh kakaknya Ratih menuju Guntur menggunakan truk penambangan pasir.

995288_734749723201980_2047788267_n

Berfoto bersama di depan rumah Ratih

1531785_734752526535033_827429458_n

Naik Truk Penambangan Pasir

Perjalanan ini sungguh mengasyikan. Kami menikmati jalanan yang tidak rata dengan senyum dan tawa. Di pertengahan jalan, kami sempat bertukar truk dengan truk yang lebih besar. Pukul 10.30 WIB, kami tiba di penambangan pasir. Kami berterimakasih dan bertanya jalur pendakian menuju puncak Guntur.

1558583_734754713201481_1096122544_n

Suasana di Dalam Truk

Pertama, kami melipir area penambangan pasir untuk kemudian bertemu dengan sungai dan melihat jalur pendakian sepanjang sungai menuju hulu. Kami melangkah perlahan tapi pasti, melewati hutan dan sempat singgah di Curug Citiis dan mengambil beberapa gambar di sana. Medan pertama ini cukup terjal dan berat membuat nafas saya tersengal-sengal. Cuaca saat itu mendung, tidak ada matahari yang menerangi secara langsung, hanya kabut dan awan yang membuat udara saat itu dingin. Rintik-rintik hujan kadang jatuh sedikit-sedikit.

1512493_734773096532976_861656739_n

Mulai Pendakian dari Penambangan Pasir

1535758_734778823199070_1146057115_n

Berfoto di Curug Citiis

1526519_734781376532148_852309295_n

Perjalanan di Hutan

Setelah melewati hutan, kami masuk padang savana berupa ladang ilalang setinggi badan. Kami sempat bertemu dengan kelompok pendakian yang lain. Melewati padang savanna jalurnya cukup terjal dan tidak ada bonus. Kami menapaki tubuh Guntur di atas pasir hitam yang kadang membuat kami kesusahan. Tapi medan yang seperti ini sungguh mengasyikan. Puncak Guntur tidak kelihatan meskipun gunung ini gersang karena tidak ditumbuhi pohon layaknya gunung Cikuray. Kabut terus membayangi perjalanan kami menuju puncak di padang savana ini. Mereka datang dan hilang seketika dalam ritme waktu yang tidak sempat kami presisikan. Perjalanan menuju puncak hanya menyisakan padang savanna ini saja. Kami banyak beristirahat untuk menghilangkan capek dan diiringi dengan canda tawa.

1530319_734786626531623_599202505_n

Menuju Padang Savana

1538812_734792163197736_541306736_n

Di Padang Savana

1513326_734799056530380_919127906_n

Berpegangan Tangan di Padang Savana

Puncak terlihat ketika gerombolan kabut menghilang sementara dan ada kelompok yang baru turun dari puncak. Kami sempat menyapa dan menanyakan kondisi di atas sana. Tinggal sisa-sisa medan yang harus kami lewati untuk menuju puncak. Satu persatu dari kami berdiri di atas puncak dan melihat keindahan bekas kawah yang masih mengeluarkan asap. Kota Garut tidak terlihat karena tertutup awan. Ternyata ini bukan puncak Guntur, tapi Puncak I. Ada dua hingga tiga tenda ketika kami tiba di Puncak ini. Beberapa saat kami menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, udara di sini dingin.

1536528_735016839841935_986309401_n

Mendekati Puncak I

1538922_734794693197483_955207907_n

Berfoto Dekat Puncak I

1487247_734797396530546_395604228_n

Berdiri Tenda Dekat Puncak I

Adit dan Ade mencari tempat yang kira-kira cocok untuk dibuat tenda agar kami bisa bermalam di malam tahun baru ini. Puncak II atau Puncak Guntur sesungguhnya berada di sebelah barat Puncak I. Antara kedua puncak ini terdapat lembahan yang nantinya kami gunakan untuk mendirikan tenda.

Kami tiba di camp pukul 15.00 WIB. Berbagi tugas untuk membuat tenda dan masak. Kami tertawa bersama ketika candaan demi candaan silih berganti. Akhirnya tenda berdiri cukup kokoh dan “dapur” sudah oke untuk memasak. Kami melaksanakan sholat Ashar dan Zuhur dalam waktu bersamaan di sela-sela pembuatan camp.

Menjelang maghrib, kami sudah memastikan perut terisi makanan yang cukup. Saya sangat menyenangi makan sore itu, ikan asin yang dilengkapi dengan sambal manis dan pedas. Sungguh enak.

Sesudah sholat maghrib dan ‘isya kami melanjutkan sharing moment. Masing-masing dari kami saling bertukar cerita mengenai kesan pendakian dan cita-cita di masa depan. Termasuk perencanaan untuk pendamping hidup. Kami belajar untuk mendengar dan memahami kondisi teman. Sambil diiringi canda tawa kami habiskan malam itu di bawah langit Garut. Ternyata cukup banyak kelompok pendakian yang membuat camp di sini. Kami saling menyapa dan bertanya-tanya dengan kelompok pendakian yang lain. Ditemani api unggun, kami menikmati makan malam terakhir.

1503332_734800736530212_1171389753_n

Masak Bersama Ikan Asin

1009834_734807159862903_1932655883_n

Sharing Moment

Malam tahun baru ini ditandai dengan suara kembang api yang cukup menggelegar di balik puncak I. Kami yang beronda melihat kembang api yang mewarnai langit di lembahan. Api unggun membantu untuk menghangatkan badan dari sergapan dingin. Ketika gerimis mulai turun, kami masuk tenda dan menghabiskan jadwal ronda dengan bermain kartu. Setelah itu, kami bergantian ronda dan giliran tidur.

Kami ingin melihat sunrise, tapi cuaca nampaknya tidak mendukung. Pukul 04.30 WIB kami bangun dan bersiap melaksanakan sholat Shubuh. Beberapa gelas berisi minuman hangat kami seduh untuk menghangatkan badan.

Kami menuju Puncak I untuk mencoba melihat sunrise. Pemandangan di sekitar tertutup kabut dan awan. Tapi pemandangannya tetap indah. Kami mengabadikan beberapa gambar di sini. Berfoto ria, menikmati keindahan yang dihamparkan dan memandangnya dengan pengertian. Saya, Luhur, dan Gelfi sempat membuat sebuah gambar aksi yang menarik.

1560477_735015163175436_1592177454_n

Mencoba Melihat Sunrise

1528551_735017099841909_1543630429_n

Tenda Para Pendaki

59028_735015299842089_2138596150_n

Berfoto di Pagi Hari di Tahun yang Baru

1525692_735018019841817_36504646_n

Melompat Lebih Tinggi

Kami kembali ke camp dan masak untuk terakhir kalinya. Kami menikmati makan pukul 09.00 WIB. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan menuju Puncak II alias Puncak Gunung Guntur. Tarlani, Fauzi, Tito, dan Dian berjaga di camp. Perjalanan menuju Puncak Guntur menapaki punggungan lembahan dan medan yang terjal, cukup melelahkan. Tiba di puncak sesungguhnya pukul 11.00 WIB, ada tugu penanda yang tertancap kokoh di sana. Pemandangannya lebih bagus meskipun kota Garut dan matahari tetap tak terlihat. Di sebelah barat lautnya ada puncak yang lebih tinggi. Memang Guntur merupakan kawasan gunung dengan setidaknya terdapat tiga puncak. Semuanya terlihat ingin mengabadikan momen di puncak. Di akhir, kami berfoto bersama tugu penanda.

1525272_735020786508207_337729641_n

Masak Midog

1525017_735018983175054_12457351_n

Berfoto Berdua

1512517_735019383175014_2072137249_n

Yang Lain Masak, yang Ini Main Kartu

1512796_735020389841580_1174728723_n

Memasak Nutri Gel di Gunung

1528682_735023029841316_309954339_n

Perjalanan ke Puncak II Alias Puncak Guntur

1528585_735025763174376_360984813_n

Mengabadikan Momen di Tugu Puncak Guntur

1503322_735024783174474_1695661805_n

Narsis di Puncak Guntur

1530537_735027333174219_1455245880_n

Selamat Tahun Baru, Selamat Hari Sunda di Puncak Guntur

1512527_735029029840716_22829659_n

Aksi Berbahaya Ditunjukkan di Puncak Guntur

1005846_735031936507092_886544633_n

Pulang dari Puncak Guntur

Pukul 13.00 WIB kami sudah siap untuk melakukan perjalanan turun setelah packing dan membersihkan area camp kami dari sampah-sampah. Kami berdoa dengan khidmat untuk perjalanan turun ini. Kabut tebal menyelimuti perjalanan turun.

1501827_735032583173694_710582728_n

Packing

1505270_735035423173410_2036027765_n

Sebuah Carrier Berdiri Kokoh di Lembahan Berkabut

1526525_735035469840072_2071889341_n

Kita Cek Anggota Dulu Sebelum Pulang

Atas kiri ke kanan: Tarlani, Ade, Misbah, Dian, Dedi.

Bawah kiri ke kanan: Luhur, Tito, Adit, Dede, Gigih, Elin, Aci, Gelfi, Fauzi.

Perjalanan turun memang tidak melelahkan, tetapi lebih sulit untuk melangkah. Terkadang kami meluncur begitu saja di atas pasir dan terkadang terjatuh secara tidak sengaja. Hujan sempat membasahi perjalanan turun kami. Kami tak lupa memakai perlengkapan jas hujan dan ponco. Kami harus bergerak, perlahan-lahan menuruni Guntur. Dingin terasa, kabut pun silih berganti datang dan pergi.

1486581_735037699839849_1099704222_n

Istirahat Dulu

1530383_735036113173341_1755007298_n

Perjalanan Turun

1545554_735036089840010_2028173093_n

Kabut Menemani Saat Turun

Ade, Gigih, Luhur, Elin, Tito, Dedi, dan Dede berada beberapa langkah lebih depan dengan saya, Adit, Aci, Tarlani, Fauzi, Gelfi, dan Dian. Kami berjalan dengan kecepatan yang berbeda. Di gunung ini, sinyal HP bisa dideteksi. Saya sempat ditelepon oleh kelompok kami yang di depan agar memilih jalur kanan di pertigaan jalan. Jalur kanan ini untuk menghindari medan hutan sebelumnya yang diduga akan menyulitkan.

Akhirnya kami berempat belas kembali bertemu di satu titik ketinggian. Beristirahat sebentar dan memakan roti dan mie dulu. Dari titik ini, kami bisa melihat penambangan pasir dan kota Garut. Perjalanan turun tinggal sebentar lagi. Ketika kami tiba di penambangan pasir, truk sudah tidak ada. Kami memutuskan untuk berjalan sepanjang jalan truk. Pukul 18.30 WIB saat itu.

Hari semakin gelap, suara adzan maghrib sempat terdengar. Kota Garut memancarkan beribu lampu yang menyala di langit yang hitam. Kembang api masih sempat ada yang menyala di langit. Kami melihat semua itu sebagai sebuah pemandangan yang bagus. Saya dan Ade berada di depan untuk memimpin perjalanan sepanjang jalur truk. Adit memastikan setiap anggota pendakian berada dalam kondisi baik. Jalanan truk ini becek dan tidak rata layaknya jalan penambangan pada umumnya. Dibantu dengan senter kami menerangi jalananan ini seperti kunang-kunang yang bergerak secara bergerombol.

Akhirnya kami tiba di perkampungan. Kampung Citiis pukul 20.00 WIB. Ade menelepon Pak Alex untuk menjemput kami. Sambil berjalan menyusuri jalanan, kami bertemu dengan angkot Pak Alex. Kami bertolak menuju Bandung sekarang. Rasanya gembira sekali bisa bertemu perkampungan lagi dan angkot yang akan membawa kami pulang.

Sepanjang perjalanan pulang, kami sempat terjebak macet. Kami juga sempat berganti pakaian karena sebelumnya terguyur hujan ketika masih di Guntur. Luhur, Aci, dan Fauzi berpisah duluan.

Kami tiba lagi di Bandung pukul 23.30 WIB. Menyisakan cerita yang masih belum selesai kami ingat. Sebelum berpisah kami makan malam dulu di Tamansari sambil memuaskan bercerita mengenai pendakian yang baru berlalu beberapa jam. Setelah selesai semua urusan, kami pulang ke tempat masing-masing.

Setiap pendakian akan memiliki ceritanya sendiri. Pendakian tidak hanya melatih kaki kita agar kuat, tapi juga agar kita kokoh mencapai harapan.

Guntur, 30 Desember 2013-1 Januari 2014.

5 pemikiran pada “Guntur, Keunikan Gunung dari Swiss van Java

  1. Ping balik: Guntur, Keunikan Gunung dari Swiss van Java - Usum News

Komentar ditutup.