Tanah Bandung

Kuliah di salahsatu PTN di Bandung memang membuat saya senang. Senang karena banyak pengalaman yang bisa diambil manfaatnya. Kali ini saya akan bercerita tentang tempat tinggal saya selama menempuh pendidikan di sini.

Sampai saat ini, meskipun sudah pindah tempat tinggal. Bapak kosan saya yang dulu dan ibu kosan masih sering teringat, baik saya dengan mereka atau mereka kepada saya. Kalo dalam Bahasa Sunda “ngarah teu kaleungitan teuing, sering-sering kadieu“. Begitu seloroh Pak Yuyu. Selama dua tahun saya tinggal di kosan Pak Yuyu di Taman Hewan. Daerah ini memang sangat terkenal karena kosannya yang murah. Baik mahasiswa yang baru masuk ataupun mahasiswa yang udah lulus tak jarang masih ngekos di daerah ini. Selain murah, daerah ini juga dekat dengan kampus dan selalu ramai oleh warga lokal dan pengunjung yang melihat Kebun Binatang setiap liburan.

Pak Yuyu dan Bu Yuyu, satu dari sekian keluarga yang mengontrakan kamar kepada mahasiswa. Biasanya kepada mahasiswa laki-laki. Dulu di tingkat II kuliah, saya ngekos bersama teman satu jurusan dan satu temen dari jurusan berbeda. Mereka adalah Eka, Aliyyus, dan Aceng Salim.

Setelah lulus TPB, saya langsung mencari kosan di Pelesiran. Karena merasa tidak cocok, akhirnya pindah ke Taman Hewan, kosannya Pak Yuyu ini. Awalnya Aceng, kemudian datang Eka, kemudian saya, dan terakhir Aliyyus. Kami biasa dipanggil oleh Bu Yuyu dengan awalan Cep. Ya benar: Cep Eka, Cep Salim, Cep Ibah, dan Cep Ali. Tapi bukan Cep=Maestro Masak. Cep, bahasa Sunda untuk anak laki-laki.

Dalam rentang satu tahun itu banyak cerita yang kita torehkan meskipun tidak terkenang dalam sejarah, tapi cukup bagi memori kami berempat. Kegiatan rutinan kami kuliah di kampus. Kalo tidak ada kegiatan, langsung kupu-kupu. Kuliah Pulang-Kuliah Pulang. Di kosan terkadang kita nonton TV bersama, makan bareng, bercanda tawa, dan tidur bersama. Saya dan Ali kadang secara sembunyi-sembunyi sering tanding game PES semalaman, di saat Aceng dan Eka sibuk ngerjain tugas kuliah. Mereka berdua berbeda selera game nya.

Ketika pagi menjelang, jelas sudah siapa yang sigap menyambut hari. Saya dan Ali terlihat kantuk. Tapi live must go on. Kehidupan kuliah dan kegiatan lainnya seperti organisasi, nongkrong di Salman, ngenet, dan kegiatan ngampus lainnya tetep berjalan.

Pak Yuyu dan Bu Yuyu biasanya bergantian menyapa pagi kami dengan senyum yang ramah dan rasa kekasihsayangan kepada kami, meskipun hanya bertanya mau berangkat kuliah. Tak jarang kami disuguhi banyak makanan, teh manis, kue, dan lain-lain. Setidaknya pengeluaran kami hari itu lebih sedikit. Pak dan Bu Yuyu sering bercerita tentang banyak hal, tentang mahasiswa, kampus zaman dulu, keadaan Taman Hewan, keluarganya, dan cerita-cerita singkat yang menghangatkan waktu-waktu kami di kosan. Betah menjadi konskuensi logis dari pelayanan yang ramah dari pemilik kosan.

Aceng meskipun berbeda jurusan, tetapi menikmati kehidupan bersama anak geologi yang tugasnya bertumpuk dengan peta, alat tulis, pensil warna. Sedangkan Aceng sangat kuat untuk bertahan di depan laptop selama berjam-jam. Satu keunikan lain darinya, bisa tidur dalam posisi bagaimanapun. Tidur ketika duduk, di depan laptop, bersujud, bersandar ke dipan, sampai posisi normal tidur. Ketika fokus terhadap suatu hal, sulit untuk mendapat jawaban dengan cepat ketika bertanya suatu hal kepadanya.

Sedangkan kami bertiga kadang harus berbagi kepusingan bersama mengerjakan tugas kuliah atau praktikum. Masalahnya, tidak jarang kami bertiga ngebleng, tidak tahu apa-apa untuk mengerjakan tugas. Kami meminta bantuan kepada temen sejurusan atau ke kakak kelas. Kosan kami juga sering didatangi temen sejurusan lain untuk mengerjakan tugas bersama-sama. Kehidupan seperti itu sekarang hanya menjadi kenangan saja. Kini di tingkat akhir, tidak banyak tugas yang dikerjakan.

Satu per satu mulai lepas. Di tingkat ketiga, Ali, Eka, dan Aceng pindah tempat tinggal ke Kidang Pananjung sebagai Tutor Asrama. Menyisakan saya sendiri yang tinggal bersama yang lain, masih ada adik kelas yang menempati kamar yang kosong. Kebersamaan kami tidak lagi di kosan tersebut. Kami masih sering ketemu di Kidang Pananjung, di Salman, di Kampus, atau berkunjung ke kosan saya. Dalam enam bulan pertama sejak berpisah, Ali masih sering bolak-balik Taman Hewan-Kidang Pananjung. Baru setelahnya tinggal full di asrama KP.

Kini, kami berempat sudah memasuki tingkat akhir di kampus ini. Eka berencana TA di Kalimantan, Ali di Sukabumi, dan saya di Sumedang. Karena kami anak geologi, pilihan yang kami pilih adalah Tugas Akhir A, yaitu penelitian dengan data primer di lapangan. Sedangkan Aceng masih sering bolak-balik kampus, mungkin TA nya tidak jauh dari Bandung.

Ali dan Aceng masih tinggal di KP sampai saat ini. Saya dan Eka juga sering main ke sana, meskipun sekadar membuat tenda di belakang asrama. Saya tinggal di sekretariat Keluarga Pelopor di Bangbayang bersama teman-teman satu penerima beasiswa. Eka tinggal di asrama PPSDMS bersama calon-calon future leader.

Meskipun berpisah, silaturrahim tetep berjalan.

#In Memoriam Taman Hewan