Melayang Di Atas Manglayang

Dikisahkan Sangkuriang jatuh cinta pada perempuan yang sebenarnya adalah ibunya. Diberilah sebuah syarat untuk membangun perahu dalam tenggat tempo satu malam. Ketika semuanya sudah dirancang dengan sempurna dan Sangkuriang akan bahagia jika perahu selesai dan mendapatkan perempuan yang dia idami. Tapi dengan kuasa tertentu, pagipun menjelang dan Sangkuriang tidak berhasil memenuhi syarat. Kemurkaannya membuat terbaliknya perahu yang sudah dibuat membentuk morfologi Gunung Tangkuban Perahu seperti saat ini. Kayuh yang dibuat membentuk Bukittunggul. Sisa-sisa bahan menjadikan Gunung Burangrang. Tetapi Gunung Manglayang tidak mempunyai kisah yang sama dengan yang lainnya. Hanya sebatas wawancara sepintas, bahwa Manglayang merupakan “kran” bagi air di danau Bandung.

Perjalanan kali ini mendaki gunung yang berada di Timur Kota Kembang. Gunung dengan ketinggian 1818 mdpl ini berada di Perbatasan Sumedang-Bandung. Jalur yang kami lewati kali ini via Baru Beureum. Sebelumnya kami melewati Bumi Perkemahan Kiara Payung terlebih dahulu.

Pukul 14.00 WIB hari Sabtu (25/01/2014) kami packing dan bagi-bagi barang di Salman sambil menunggu kelengkapan anggota. Akhirnya, kami memutuskan untuk menunggu di Circle K Simpang Dago. Anggota sudah penuh: saya, Gelfi, Zaini, dan Adit. Kami berempat berangkat pukul 15.30 WIB menuju Almen dulu untuk sewa flysheet dan kompor parafin. Selain itu, perlengkapan kami sediakan sendiri. Sempet Sholat Ashar juga di Bandung.

Pukul 16.00 WIB, kami benar-benar berangkat dari Bandung menuju Sumedang via Jatinangor, kemudian Kiara Payung, Baru Beureum, dan akhirnya sampai di Warung Abah.

191. 1040208_748775505132735_922795555_o

190. 1497876_748775805132705_1841331993_o

186. 1524332_748781345132151_947012939_o

Pukul 18.00 WIB kami berangkat menuju Puncak Bayangan. Lumayan banyak juga yang mendaki gunung ini. Terutama anak IPDN yang tiap tahun juniornya sering ke puncak. Medan yang dilalui terjal. Saya sempet ngos-ngosan dan minta banyak break sepanjang perjalanan. Biasanya kalo mendaki gunung, saya tidak secapek ini. Medannya memang berupa tanah, cadas, dan menanjak terus. Seperti halnya ketika mendaki Cikuray, tapi di Manglayang tidak banyak akar pohon yang bisa dijadikan pegangan ketika mendaki. Untung hari itu cerah. Kalau hujan turun, medan akan tambah sulit karena pasti tanah menjadi licin. Lebih berbahaya lagi di batu cadasnya kalau hujan. Sempat mendengar dua kali suara adzan, Maghrib dan ‘Isya. Kami siapkan senter untuk menerangi perjalanan yang tidak ada bonusnya ini.

Saya benar-benar kewalahan melewati medan Manglayang yang meskipun tidak setinggi Gunung Cikuray yang pernah saya daki. Langkah demi langkah menapaki medan yang makin menanjak. Obrolan-obrolan santai, penyemangat, candaan menemani malam yang belum terlalu gulita. Zaini sempat menawarkan untuk mengurangi beban yang saya bawa di carrier. Cukup membantu untuk mencapai tempat camp.

Setibanya di pertigaan pada suatu ketinggian, ada dua percabangan. Ke kanan untuk mencapai Puncak Manglayang dan ke kiri untuk tempat camp di Puncak Bayangan. Sudah berdiri banyak tenda di pertemuan pertigaan ini. Pukul 20.00 WIB.

Kami menuju Puncak Bayangan. Melihat-lihat lahan yang cocok untuk dijadikan tempat camp. Akhirnya lapangan yang cukup luas kami dirikan tenda di sana. Ini pertama kalinya tenda klub hobi Pelopor Mendaki dicoba untuk pendakian. Berturut-turut datang beberapa pendaki lainnya sambil menyapa. Mereka juga mencari lahan untuk mendirikan tenda.

180. 1658722_748783291798623_1771015804_o

Kami buat tenda berempat, pasang flysheet, masak. Pukul 23.00 WIB kami sudah memastikan semuanya selesai: sholat, makan, minum, merapikan barang, dan lainnya. Sekarang saatnya bermain kartu remi.

Permainan 41 saya babat dua babak untuk menjadi pemenang, padahal saya baru tahu permainan jenis ini. Selanjutnya 7 sekop, sayang di sini saya kalah terus. Tak terasa, sambil bercanda tawa ria sudah pukul 01.30 WIB. Setelah briefing di awal dengan sangat singkat untuk rencana besok, kami tidur terlelap. Malam itu cerah. Bintang berkerlip tepat di atas Puncak Bayangan ini, menghamparkan lukisan yang siap ditebak nama rasinya. Kami siap untuk besok.

182. 1614445_748782475132038_1078406450_o

Besok pagi kami bangun, Sholat Shubuh dengan tayammum. Pergi menuju area yang bagus untuk melihat sunrise. Meskipun musim hujan, cuaca pagi menanti mentari itu cerah. Semburat kuning kemerahan berada di tepi horizon lain. Si bulat belum muncul, tapi sinarnya sudah memberikan warna pada awan dan langit. Cerah. Pemandangan lebih eksotis karena ada awan yang mempercantik. Hamparan bangunan dan rumah berada di bagian paling bawah. Tidak lupa kami abadikan dalam kamera, momen yang tidak selamanya kami dapatkan. Sunrise di atas Manglayang. Jika melihat awan ini dan kami berada di Puncak Bayangan seperti ingin melayang di atas awan. Ku melayang bagaikan terbang ke awan …

160. 1614061_748788058464813_1198847144_o 159. 1537890_748788298464789_1100682207_o 158. 1537993_748788435131442_1574922165_o 156. 1501334_748789001798052_2104450957_o 177. 1658270_748783675131918_1440508655_o 176. 1556329_748783708465248_996461256_o

Pukul 08.00 WIB, kami sudah memastikan sarapan pagi sambil menikmati momen pagi yang cerah di musim hujan ini. Berbagai pose dan pemandangan dengan model berbeda kami save dalam kamera.

153. 1502629_748789871797965_494881168_o 148. 1669715_748791225131163_196225046_o 134. 1531945_748803058463313_350752464_o 149. 1617192_748790998464519_977637940_o 129. 1781056_748818185128467_975303747_o 128. 1265094_748818361795116_499205819_o 126. 1780057_748819261795026_403721304_o

Saatnya berangkat menuju Puncak Manglayang. Kami tinggalkan barang-barang semuanya di dalam tenda. Hanya membawa satu carrier berisi makanan dan minuman untuk dinikmati di puncak sana. Medan menuju Puncak Manglayang tidak terlalu terjal. Di sini banyak pohon-pohon, sehingga pemandangan tidak sejelas ketika di Puncak Bayangan. Terus kami lewati medan menuju puncak ini hingga benar-benar tiba di satu dataran luas yang bisa memuat banyak tenda, mungkin hingga 30 tenda juga muat. Ada kuburan juga di Puncak Manglayang ini. Kami sempat mengucapkan salam dan melihat ada tanda alam Manglayang. Puncak yang telah didaki oleh Wapa Manggala IPDN.

99. 1534792_748827438460875_815243774_o 88. 1655652_748834115126874_1591378336_o 100. 1412395_748827081794244_1000723645_o

Berbagai pose dan adegan kami peragakan dan diambil momennya di sini. Tempatnya sangat luas dan bagus, tapi pemandangan tertutup oleh tinggi dan banyaknya pohon di sini. Rasa-rasanya kami di sini sangat narsis, maklum kita berempat semua laki-laki. Kalau ada perempuan mungkin agak malu-malu kita. Puas benar-benar puas, puas berfoto-foto ria di Puncak Manglayang. Tanda alam Manglayang ini memang menjadi model tetap dalam setiap foto di Puncak.

72. 1102539_748842661792686_315408546_o 79. 1149300_748839608459658_1681888988_o 75. 1602004_748842221792730_1114104814_o 67. 1596980_748845965125689_250370291_o 62. 1599675_748848505125435_1556403759_o 60. 1519052_748849008458718_228798442_o 59. 664293_748849878458631_1472343624_o 58. 1523924_748850331791919_235725939_o 57. 1025275_748850381791914_1813366246_o

Pukul 09.00 WIB kami turun lagi menuju tempat camp. Kami bereskan tenda, barang-barang, bahan makanan, semuanya termasuk sampah. Kami berfoto di Puncak Bayangan untuk terakhir kalinya. Kali ini latarnya makin cerah.

56. 1782275_748852025125083_58370146_o 51. 1596983_748854055124880_1312295796_o 37. 1492384_748859858457633_1072987026_o 28. 1015484_748919908451628_829621329_o 26. 1557294_748921785118107_2128141054_o

Pukul 10.30 WIB, packing selesai. Kami berdoa bersama dan menyapa pendaki lainnya yang masih ngecamp. Saatnya turun. Medan yang kami turuni masih sama seperti medan saat naik. Harus hati-hati saat menuruni jalanan. Bisa-bisa terpeleset, kena batu cadas. Banyak binatang juga yang kami temui, sejenis tawon, kaki seribu juga ada. Alam memberikan sebuah keharmonisan dalam dirinya. Masih sama dengan canda tawa dan obrolan santai dengan diselingi jepretan-jepretan kami lalui perjalanan turun dengan senang ria.

24. 1507369_748923165117969_1781745738_o 17. 1556389_748928058450813_94990494_o 12. 1064078_748930951783857_460012154_o 8. 1523795_748934681783484_765649480_o 6. 1553453_748936555116630_1915704105_o 2. 1492692_748937515116534_1554396215_o 4. 892333_748936631783289_403062585_o

Pukul 12.00 WIB kami tiba di Warung Abah. Sholat Dzuhur dulu. Sempat mencuci dan menyegarkan tubuh di sungai. Setelahnya, kami selesaikan semua hal di sini. Memberi uang parkir, nyemil gorengan, manasin motor, utang-piutang. Kemudian turun menuju Baru Beureum, Kiara Payung, dan Jatinangor.

1. 1048326_748937381783214_745242579_o

Pukul 13.00 WIB saatnya perjalanan turun menggunakan motor. Menuruni jalanan berbatu yang tidak diaspal. Harus tenang dan hati-hati menuruninya. Kalo ngga, bisa jatuh nanti. Perjalanan menggunakan motor selain menghemat ongkos juga relatif lebih cepat dibandingkan menggunakan transportasi lain.

Beberapa check point kami tetapkan. Kami ketemu di UIN Bandung kemudian di Kantor Imigrasi Bandung. Rencana sebelum mengakhiri perjalanan ini kami makan-makan dulu di Pujasera, balikin semua perlengkapan yang disewa atau dipinjam. Kami sempat juga beli buah buat teman-teman di Taman Hewan.

Manglayang, kami ingin bermain layang-layang lain kali di puncak sana.

Terimakasih untuk alammu.

Manglayang, 25-26 Januari 2014.

2 pemikiran pada “Melayang Di Atas Manglayang

  1. Ping balik: Pendakian Gunung Sepanjang 2014 | Jejak Destinasi

  2. Ping balik: Kota Bersinar Dalam Gelap | Jejak Destinasi

Komentar ditutup.