Dalam Zona Patahan Aku Berdiri

Genap satu pekan melakukan pencarian singkapan batuan. Untuk memahami bagaimana daerah ini terbentuk beserta komponen bahan alam yang menyertainya.

Menurut penelitian lebih dulu, saya berdiri di atas zona patahan. Sebuah zona yang memiliki intensitas deformasi yang kuat dan beragam. Tapi kali ini, studi untuk tugas akhir saya bukan tentang struktur tapi tentang karakteristik dari batulempung meliputi ciri khas yang tidak banyak orang minati. Batuempung berukuran butir sangat halus, tidak terlihat oleh mata telanjang. Jika kontak dengan udara akan menunjukkan gejala mengembang meskipun sekali lagi tidak terlihat dengan kasat mata. Tapi selama sepekan ke belakang, pencarian singkapan batulempung dengan kondisi yang segar tidak berhasil saya jumpai, mungkin di pekan berikutnya.

Setiap hari saya harus menyiapkan fisik dan stamina yang kuat. Bagaimana tidak, berangkat pukul 07.00 WIB dari basecamp di rumah Kepala Dusun CipinangPait menapaki jalan proyekan menembus tiga bukit, tentu turun dan naik. Keringat selalu menjadi pengganti mandi saya di pagi hari. Dengan diantar oleh ketua RW Cirangkong yang begitu paham medan dan nama setiap bukit ketinggian. Tak jarang saya yang biasa mendaki gunung, meminta banyak istirahat saking capeknya. Perjalanan menembus bukit tentu bukan tanpa alasan. Masalahnya tidak ada akses yang lebih cepat dan lebih terjangkau dibandingkan ini. Perjalanan ke kawasan Bukit Gunung Haji memerlukan waktu satu jam. Belum perjalanan menuju Pasir Panenjoan satu jam juga. Total perjalanan untuk mencari singkapan di daerah paling selatan baru dimulai pukul 09.00 WIB.

Suara derit pohon bambu di pagi dan siang hari yang terusik oleh angin hutan menjadi nada tak berirama tapi menemani saya dan porter. Jika sendiri, saya khawatir tidak bisa melanjutkan perjalanan dengan baik. Kondisi medan berlumpur, panas terik matahari akan membakar kulit jika jaket kuning tak menutupi tubuh. Panas ini ditransfer masuk ke dalam tubuh meskipun jarak matahari jauh kilometer di atas zona patahan ini. Porter yang juga sebagai ketua RW Cirangkong dalam dialek dan bahasa yang sama menjadi teman obrolan yang menyenangkan sepanjang pencarian berbagai tanda alam.

Pernah berdiri di dua bukit tertinggi di daerah penelitian ini. Memandang dataran rendah berisi sawah dan rumah penduduk dalam horizon pandangan yang luas. Terlihat bahwa seluas mata memandang selain dataran rendah, juga perbukitan saling mengambil tempat. Menyusur sungai melihat berbagai batuan dan struktur internal batuan tersebut, juga struktur eksternal akibat proses deformasi. Hingga melihat kegagahan Tampomas berdiri sepanjang arah barat daya daerah penelitian. Meski awan tak lekang menutup tubuh, kadang puncaknya. Di satu pagi ketika menuju Pasir Panenjoan sebuah potret indah Gunung Tampomas berhasil diabadikan.

Saya selama beberapa bulan selalu mendaki gunung. Semoga di kesempatan ini, bisa ikut merasakan mendaki Gunung yang terletak di Kabupaten Sumedang ini.

Perjalanan hari pertama saya menyusur sungai untuk mendeskripsi batuan sepanjang lintasan geologi dalam hal ini lintasan berada sepanjang jalur sungai dari hilir menuju hulu. Sungai Cirangkong menjadi destinasi pertama. Sungai ini terselesaikan sampai hulu dalam dua hari. Banyak singkapan batuan yang cukup bagus hingga saya tahu urutan vertikal dari pengendapan batuan-batuan yang ada.

Selanjutnya Sungai Cipinangpait. Singkapan batuan yang ada lebih segar dan memanjakan mata. Terlihat batuan-batuan berfragmen menyudut tertanam dalam massa dasar batuan piroklastik tetapi bersifat pasiran. Di hari yang ketiga ini juga saya berhasil menjangkau Pasir Bajo yang warga sekitar namakan Tanjakan Cadas. Sering juga sapi-sapi yang ditambatkan sedang mencari makan dan digembalakan oleh warga sekitar. Kadang-kadang bapak-bapak berumur dan pemuda yang terbilang duapuluh tahunan.

Hari keempat Pasir Bajo kami turuni untuk menuju Sungai Cibayawak. Tapi tidak ketemu hewan tersebut. Jika melihat bentuk kontur dalam peta dasar yang sering saya bawa dalam pemetaan ini, bentuk sungai ini memang mirip ekor dari jenis kadal. Bisa bayawak atau buaya. Lembah-lembah dari sungainya menunjukkan bentuk hurup V menandakan erosi vertikal dominan terjadi. Pohon-pohon bambu menjadi tanaman penghias di sekelilingnya. Di sungai Cibayawak ini banyak tersingkap pecahan fosil moluska. Mereka menjadi saksi bisu sampai saat ini bagaimana mereka pernah hidup secara damai dengan batuan dalam dimensi ruang dan waktu.

Hari kelima menaiki dan menuruni dua bukit sudah terbiasa sekarang. Satu bukit lagi bernama Pasir Panenjoan coba didaki yang warga biasa namai Pasir Ori. Nyatanya, bukit atau pasir ini memang memiliki ketinggian tertinggi di daerah penelitian saya berdasarkan peta elevasi yang dibuat dengan bantuan perangkat lunak. Di sini semuanya terasa jelas. Gunung Tampomas terlihat indah, Sungai Cipanas yang merupakan sungai yang luas juga terlihat bersama longsoran di salahsatu tepinya. Pasir Bajo dan kawasan Gunung Haji yang berjejer terlihat kokoh di sebelah utara pasir ini. Hari kelima tak banyak singkapan yang ditemukan, lebih banyak proses geomorfologi yang dideskripsi seperti longsoran dan pengamatan dataran dan perbukitan yang nantinya akan dijadikan satuan.

Hari keenam, kami sudah tahu medan pasir Panenjoan, sekarang saatnya menyusur dari hulu menuju Sungai Cibayawak yang utama. Banyak sekali bongkah batuan beku terutama andesit berukuran hingga 5 meter sepanjang hulu hingga mendekati muara anak cabang Sungai Cibayawak ini. Pohon bambu menjadikan medan lebih sulit karena ranting-rantingnya yang tercecer sepanjang jalan. Mendekati ke arah hilir mulai dijumpai batulempung berwarna abu-abu kecokelatan dan ke hilir lagi dijumpai yang berwarna abu-abu kehijauan hingga akhirnya kembali berdiri di atas endapan alluvial Sungai Cibayawak. Menyusur hilir sungai utama ini yang memiliki anak cabang berpola trellis seperti pagar akibat pengaruh struktur geologi. Diduga kuat. Selain kelurusan dalam peta topografi juga banyak ditemukan kekar gerus dan fragmen searah kelurusan tersebut. Saya bersama porter berpanas ria dalam terik siang mengukur arah dan kemiringan struktur yang menyebabkan batuan ini tidak selamanya bagus. Tapi dengan struktur inilah di mana aku berdiri dalam zona patahan.

Hari terakhir menjadi hari dengan lintasan tempuh yang paling panjang. Sinar matahari tak henti menerpa daerah ini juga menembus jaket kuning yang saya pakai hingga menyisakan panas yang terasa hingga ke tubuh meski sudah berada di peraduan sore harinya.

Ya, genap satu pekan saya melakukan pengamatan singkapan sepanjang lintasan. Hasilnya cukup memuaskan. Semoga pekan berikutnya perjalanan lebih menyenangkan. Senang rasanya menyusur sungai, menembus hutan, mendengarkan bunyi burung, naik turun bukit, dan mencoba untuk menyatu dengan alam.

DSC02058 Mis02-17 (Geomorf Aliran Cipanas) Mis03-01 (hancuran) Mis04-17 (silangsiur pd pasir konglomeratan) DSC02401

Cibuluh, Ujungjaya, Sumedang, 1-6 Maret 2014 kala Hari Jum’at untuk beristirahat dan merenungkan semuanya.