Cibuluh

Tiba lagi di Kota Kembang, kota yang berbeda dengan kota lainnya. Udara di sini sejuk dan terlihat mempesona meskipun beberapa kendala kemacetan biasa terjadi.

Sebulan penuh saya berkelana sepanjang lintasan sungai dan jalan untuk memetakan daerah penelitian tugas akhir. Hasilnya cukup memuaskan, meskipun harus sering berkonsultasi dengan dosen pembimbing.

Setelah pekan pertama yang seru dan lancar, menaikturuni dua hingga tiga bukit untuk memulai lintasan singkapan yang paling jauh di selatan kotak penelitian, lain halnya untuk pekan berikutnya karena terkendala ketersediaan porter yang sudah mulai sibuk dengan pekerjaan yang lebih urgen. Sempat tersendat beberapa hari untuk tidak melapang, diselingi dengan kedatangan Eka dari Bandung untuk berkunjung ke lapangan TA saya.

Sambil mengisi waktu luang, kami berdua pergi ke Sungai Cipinangpait untuk mengambil sampel andesit dan batupasir yang lupa saya ambil untuk analisis petrografi. Saya berniat untuk ke lapangan tidak sendirian untuk menjaga keselamatan jika terjadi apa-apa.

Kemudian hari berikutnya, saya menyusur Sungai Cirangkong dari bendungannya sampai mencapai singkapan yang sudah mulai mendekati alluvial. Dua hari itu saya lalui tanpa porter dan terasa cepat, medannya hanya sebatas sungai, tetapi di Cirangkong ke hilir terdapat beberapa singkapan yang menarik seperti batulempung yang bersisik dan lapisan batupasir dengan kemiringan lapisan mencapai 90 derajat.

Sampai akhirnya kesepakatan disetujui dengan porter yang baru, saya bersamanya melakukan persiapan bahan makanan dan pakaian untuk bercamp di sekitar Cipanas. Porter tahu betul ke mana lintasannya dan akses menujunya meskipun harus menerabas ranting pohon dan juga tangkai-tangkai berduri, tanah berlumpur yang menarik-narik sepatu. Begitu juga tempat tinggal selama di Cipanas berupa gubug petani yang sedang menunggu masa panen tiba. Tinggal menghitung hari, kuning padi sudah siap untuk dituai. Hingga kami selesai nanti, ladang sawah sudah rapi dipotong buahnya.

Mis10-08

 Pemandangan yang indah di pusat lengkungan Cipanas

Perjalanan mencari singkapan batuan di sekitar Cipanas ini tak henti dihadiahi sebuah pemandangan yang indah. Kegagahan Tampomas tampak lebih jelas di sini, di pusat lengkungan Cipanas yang diduga terkena jalur patahan yang sifatnya mendatar. Air Cipanas tidak bersih, tapi entahlah, mungkin Tuhan memberikan karunianya, air ini yang kami minum dan pakai untuk mandi, tetapi kami sehat dan bahagia menjalani hari-hari. Tebing-tebing sungai hancur dan terkena longsor menyingkapkan batulempung Formasi Subang dengan baik dan memperlihatkan deskripsi khusus dirinya, berwarna abu-abu kehitaman, mengulitbawang, kadang menyerpih dan mudah digetaskan. Aliran Cipanas cukup kuat untuk membawa raga mengalir mengikuti hukum menuju tempat yang lebih rendah.

DSC02707

Di Cipanas ini jugalah, pengambilan sampel sifat mengembang batulempung diambil. Sebuah sampel yang beratnya mungkin mencapai 15 kg. Batulempung ini harus dibentuk kubus untuk kemudian dilapisi peralatan yang sudah ditentukan dan siap tahan terhadap cahaya dan cuaca. Tiga buah sampel ini yang berat dibawa karena harus menaikturuni Pasir Derewak dengan ketinggian mencapai 200 m dengan medan jalan berlumpur. Tapi, porter saya cukup kuat dan tidak mengeluh tentang hal ini.

DSC02805

Akhirnya, saya tiba lagi di Basecamp di Cipinangpait. Untuk kemudian pergi ke Cikoang, daerah mapping Ara untuk ikut membantu mengambil sampel swelling. Daerah Ara lebih mudah dijangkau dan medannya relatif tidak lebih berat. Pengambilan sampel di sini berjalan dengan tenang dan lancar, hujan tidak mengeluarkan geledek seperti di Cipanas dan matahari tidak begitu menyengat kulit dalam jangka waktu yang lama selama kami di lapangan.

Hingga saat ini, saya menulis ini sebagai bagian dari memori yang nanti mengingatkan saya terhadap orang-orang yang membantu selama di lapangan TA.

DSC02798

Terimakasih semuanya.

Bandung, 26 Maret 2014.