Kota Bersinar Dalam Gelap

Pendakian Gunung Manglayang untuk kedua kalinya baru saja saya lewati. Kali ini bersama Gempar dan Faqih. Kami berangkat dari Bandung menuju Jatinangor dan Bumi Perkemahan Kiara Payung sebelum akhirnya tiba di warung untuk menitipkan motor. Pendakian dimulai pukul 14.00 WIB. Seperti pendakian sebelumnya, saya cukup keteteran membawa carrier 80 L. Medan Manglayang terbilang terjal dari awal dengan akar-akar pohon yang masih terlihat sepanjang jalan pendakian. Semakin ke atas mendaki, panorama perkotaan terlihat bagus dan medan berganti dengan batu cadas yang meskipun tidak hujan masih terasa licin. Beberapa kali kami istirahat untuk menghilangkan lelah sembari melihat pemandangan gunung yang mengelilingi Bandung dan perbatasannya ini. Sebelum mencapai puncak, ada plang yang berisi keterangan  pesan yang menyiratkan perjuangan dalam hidup. Dari plang ini perjalanan menuju puncak sebentar lagi. Beberapa batu yang ada di jalur pendakian menunjukkan arah menuju puncak.

IMG_6370

  Gempar dan Faqih

Hingga akhirnya kami tiba di puncak bayangan pada pukul 16.00 WIB. Cuaca cerah di sini. Kelompok pendakian yang lain sudah terlebih dahulu datang dan sudah mendirikan tenda di tempat yang bagus untuk melihat pemandangan. Kami juga segera mendirikan tenda dan mencari kayu untuk bahan api unggun. Tenda selesai dan kami mengambil istirahat sambil bersantai sekeliling tenda. Menjelang malam, kota bersinar di sebuah lembahan besar yang diapit deretan gunung. Lampu-lampu rumah, pabrik, gedung, dan kendaraan terlihat di puncak bayangan ini menampilkan sebuah pemandangan yang cantik. Kami mulai menyiapkan makanan. Memasak dengan bantuan parafin dan kompor spirtus. Sambil menunggu makanan siap saji kami menyalakan dan menghangatkan badan dengan api unggun. Kota semakin bersinar dengan indah. Lampu-lampu kota kompak menyinari malam yang semakin gelap. Bintang dan bulan juga menyajikan kekompakan yang sama di langit. Ditemani dengan obrolan-obrolan ringan, makananpun sudah siap dan dalam waktu singkat sudah mengisi perut kami yang sudah lapar.

IMG_6403

 Kota Bersinar  

Selepas makan, kami masuk tenda dan mendengarkan siaran radio. Udara semakin dingin. Saya tidak membawa sleeping bag dan ternyata berpengaruh meskipun tidur dengan selimut. Udara dingin di puncak bayangan ini merasuk ke dalam tubuh. Paginya, saya mimisan dan bersin berkali-kali.

Di pagi yang dingin ini, kami siap menjemput mentari yang akan muncul di sebalik awan. Banyak orang yang sudah berkumpul untuk mengambil setiap momen yang ada. Rona kuning kemerahan ditambah pemandangan deretan gunung dan lampu kota yang belum mati sepenuhnya menambah syahdu suasana. Cukup untuk berdiri sejenak, bulat kuning itu muncul perlahan dan kami mengabadikan kemunculannya di pagi hari ini. Sebuah pemandangan yang hanya bisa didapatkan di puncak Gunung Manglayang. Gunung Tampomas juga terlihat kokoh di sekitar mentari yang baru terbit. Beberapa foto kami abadikan di sini.

IMG_6426

 Sosok Dalam Rona Kemerahan 

IMG_6445

 Sunrise

IMG_6443

  Siluet Untuk Sunrise

Selanjutnya, kami masak untuk mengisi tenaga. Saatnya perjalanan turun. Waktu perjalanan turun relatif lebih cepat daripada mendaki. Kami mengambil jalur turun gunung yang sama dengan mendaki. Sebelumnya, kami berpamitan dengan kelompok pendakian yang lain.

100_9299

 Foto Saat Turun Gunung

100_9306

  Matahari Menerobos Celah Pohon

Tiba juga di warung untuk mengambil motor yang dititip. Kami turun dari puncak bayangan pukul 10.00 WIB dan tiba pukul 11.00 WIB lewat. Setelah berpamitan kepada penjaga warung, kami pulang menuju Bandung.

Kini, pendakian kedua Manglayangpun, saya belum bisa menerbangkan layang-layang di sini. https://hujungdestinasi.wordpress.com/2014/01/28/melayang-di-atas-manglayang/

Tapi, saya menyadari banyak keindahan yang bisa dinikmati dari perjalanan ini.

 

#Manglayang, 1 Juni 2014

Satu pemikiran pada “Kota Bersinar Dalam Gelap

  1. Ping balik: Pendakian Gunung Sepanjang 2014 | Jejak Destinasi

Komentar ditutup.