Prabowo dan Jokowi

Pilpres tahun ini hanya diikuti oleh dua capres dan cawapres. Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Banyak hal menarik yang bisa diperbincangkan setiap kali masa pilpres. Tapi, bagaimana dengan pilpres yang hanya menyajikan dua pilihan ini. Tentu ada dua pilihan lain lagi, orang yang tidak memilih atau memilih keduanya saat pilpres nanti. Media sudah gencar mengkampanyekan capres-cawapres, karena terhitung 3 Juni masa kampanye resmi ditetapkan oleh KPU.

Banyak isu yang berseliweran di media masa. Rakyat dituntut untuk kritis dan menyikapi dengan bijak karena tidak semua isu didukung dengan data dan fakta yang sebenarnya. Beberapa hanya kampanye hitam yang mendiskreditkan capres-cawapres. Banyak teori konspirasi yang diciptakan terkait kedua pasangan. Konspirasi ini sesungguhnya ibarat sebuah proses yang tersembunyi yang tidak semua orang mengetahui secara pasti apa yang sebenarnya melatarbelakangi sebuah peristiwa. Dan, konspirasi inipun menjadi sebuah bahan yang bisa dipertentangkan.

Menarik, dua capres yang ada menyiratkan sebuah karakter yang menurut saya berbeda. Prabowo tersirat sebagai sosok yang tegas, sedangkan Jokowi sebagai sosok yang merakyat. Terlepas dari semua konspirasi atau sekedar manipulasi karakter, itulah karakter dua sosok capres yang setidaknya terlihat secara fisik. Apakah kita tahu isi hati para capres ini? Tentu tidak. Kita hanya bisa mengetahui dari ciri fisik dan apa-apa yang nampak di permukaan. Sebagai seorang geologis, saya tahu begitu banyak interpretasi dengan data yang sama dari orang-orang yang berbeda.

Agus Mustofa seorang penulis buku Tasawuf Modern membuat sebuah status tentang Pemimpin Terpilih adalah Kita. #Bukan kampanye.

~ PEMIMPIN TERPILIH ADALAH KITA ~

Di sebuah negara demokrasi
seorang pemimpin yang terpilih
adalah representasi dari rakyatnya

Jika yang terpilih pintar, berarti rakyatnya pintar
Jika yang terpilih santun, rakyatnya pun pasti santun
Kalau yang terpilih penipu, tentulah rakyatnya penipu
Dan kalau yang terpilih koruptor, tak bisa dipungkiri
ini memang negeri para koruptor…

Maka, memilih pemimpin yang baik dan benar
Harus terlebih dahulu menjadikan diri kita baik dan benar
Dan agar kita bisa mempunyai pemimpin yang hebat
Tak bisa tidak, kita harus lebih dulu menjadi masyarakat hebat

Proses memilih pemimpin yang penuh caci maki
Kampanye hitam dan saling jegal menjegal tanpa kendali
Sumpah serapah dan serangan yang penuh benci
Serta cara-cara buruk dan anggaran hasil korupsi

Jangan-jangan hanya akan menghasilkan pemimpin
Yang kualitasnya tak jauh dari apa yang sedang terjadi
Karena sesungguhnya siapa pun yang terpilih
Hanyalah representasi dari kualitas kita sendiri…

Di sebuah negara demokrasi ini rakyatlah yang memegang kekuasaan untuk menentukan siapa pemimpin yang akan dipilihnya untuk menahkodai arah gerak negara ini. Ada resiko, suara mayoritas belum tentu kebenaran. Tetapi, jika isi kepala rakyat jahat maka pemimpin yang terpilih jahat, begitu juga sebaliknya. Tentu, ini mengambil sebuah penarikan kesimpulan secara umum tanpa mempertimbangkan hal-hal detail yang lain. Salahsatu teman di FB mengatakan bahwa kita harus kembali kepada hati. Karena hati membimbing kita untuk memilih yang terbaik. Jika kita menyerahkan pilihan bergantung sosok, beribu alasan akan menyatakan bahwa sosok yang kita pilih adalah yang terbaik tanpa mempertimbangkan kekurangan yang ada. Yang lebih ekstrim adalah fanatik terhadap satu calon. Tetapi jika kita membersihkan hati, menimbang dengan bijak, dan yang lebih umum menimbang secara objektif bahwa pilihan untuk presiden ini memang pada akhirnya menjadi hak pribadi kita. Bahkan, teman yang lain bilang tidak harus kita mengkampanyekan memilih capres-cawapres yang kita pilih kepada oranglain karena menjatuhkan pilihan kepada satu calon saja sudah luarbiasa bersyukur. 

Saya lebih menyetujui jika kampanye yang dilakukan adalah kampanye yang produktif, kampanye yang positif, kampanye yang tidak kontraproduktif yang memungkinkan terjadi bumerang. Apapun itu, rakyatlah yang nanti akan memilih pemimpinnya. Memilih sosok tegas atau memilih sosok yang merakyat?

Cooming Soon, 9 Juli 2014…