Lereng Selatan Gunung Gede

Pemandangan pagi ini cerah. Bus Sukabumi-Bandung membiarkanku memandang Gunung Gede yang berdiri kokoh di sana. Di sana selama empat hari empat malam saya mendapat ilmu dan pengalaman baru. Semoga bisa menjadi referensi yang baik akan kuasa Sang Pencipta.

10440824_10203296435909495_7149829218669300103_n

Perjalanan dimulai hari Selasa, berangkat dari gerbang depan ITB. Saya rampungkan perkenalan ke semuanya. Jalanan cukup ramai, beberapa lewat pasar memang macet. Perjalanan terasa cepat tidak terlalu banyak obrolan, hanya seperlunya saja. Saya yakin selama beberapa hari ke depan akan menjadi ranah menambah pengetahuan ilmu kehidupan.

Dikdik, Mamik, dan Adrian. Saya ikut dengan mereka untuk mendaki lereng selatan Gunung Gede. Sejauh yang dipahami, analisis vegetasi dilakukan di berbagai ketinggian, pohon dan lumut jenis apa aja yang tinggal di sini. Mereka makhluk hidup yang tanpa pamrih menyediakan kebutuhan udara bagi manusia dan sejauh mana keseimbangan yang terjadi dalam sistem alam yang kompleks ini.

Pintu masuk Gunung Gede terdiri dari tiga. Cibodas, Gunung Putri, dan Salabintana. Jalur Salabintana relatif sepi buat para pendaki. Katanya jalur yang ditempuh sampai puncak lebih dekat dari jalur ini. Kami sempat terlebih dahulu menyapa dan berbicara dengan petugas di kantor untuk kemudian bersiap menuju lokasi pengambilan data.

Kali ini tidak sampai puncak, hanya ketinggian 2400 m dan 2200 m saja saya ikut merasakan secara langsung bagaimana analisis vegetasi ini dilakukan. Kami mulai naik pukul 13.00 WIB. Selama perjalanan ke ketinggian 2400 m itu, seperti biasa kebiasaan saya muncul. Mungkin karena fisik yang tidak kuat selalu kecapekan dari awal. Jalur via Salabintana ini sempit, berbeda dengan Jalur Cibodas. Tidak banyak pemandangan dan pemberhentian wisata yang bisa kita lihat. Mungkin ini jadi alasan yang cocok untuk dilakukan pengambilan data karena relatif aman dari gangguan.

Sepanjang perjalanan, secara tidak sadar pacet-pacet melubangi kulit dan meninggalkan darah yang terus mengalir. Pacet-pacet ini banyak jumlahnya. Dari mulai tangan, perut, hingga kaki merasakan rabaan pacet. Udaranya yang lembab bisa jadi penyebab, jalur ini berada di lereng selatan.

Kami tiba pukul 18.30 WIB di Cileutik, ketinggian 2400 m. Di sinilah kami mendirikan tenda di hari itu. Udara dingin dan angin cukup kencang.  Air dari Sungai Cileutik bagaimanapun juga membantu keperluan makan dan minum meskipun airnya dingin sekali, apalagi kalau malam hari. Malamhari kami lewati tanpa api kayu yang menyala.

Esok hari, kami mulai membuat plot untuk kemudian diambil data yang mendukung tujuan penelitian. Kelembaban dan pH tanah diukur menggunakan alat soil tester. Mamik ditemani Adrian mengamati jenis pohon dalam plot tersebut. Dikdik mengamati lumut yang hidup menempel di permukaan batang pohon. Cuaca hari itu cerah, tapi udara tetap dingin. Pengambilan data dilakukan kurang lebih empat jam. Kemudian istirahat makan siang dan dilanjutkan pembuatan plot ke dua. Masing-masing ketinggian diambil data dari tiga plot. Plot-plot ini dibuat sederhana dari tali rafia yang dibentangkan membentuk kotak berukuran masing-masing 20 m di tiap sisi. Banyak jenis pohon meskipun saya tidak tahu namanya yang tumbuh di sekitaran sini. Inilah maksud analisis vegetasi dilakukan.

10330504_10203296377548036_8047025355806462797_n

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 Adrian

1511466_10203296347547286_5285863653093816891_n

Dikdik

1907413_10203296345507235_589751063550669675_n

Mamik

Keesokan harinya kami melanjutkan pengambilan data di plot kedua, ketinggian 2400 m. Sama seperti sebelumnya pengambilan data kelembaban, mikroclimate, pH, jenis pohon dan lumut, foto rona, kemiringan, diameter pohon, tinggi pohon menyibukan kami dalam plot kotak seharian itu. Pembuatan plot ketiga dilakukan dengan cepat. Semakin terasa bagaimana keseimbangan alam ini begitu kompleks, tapi manusia diberikan sedikit pemahaman dari Yang Maha Kuasa untuk meresapi ciptaan-Nya. Sedikit saja sudah membuat kita sadar bahwa pohon-pohon ini, lumut-lumut ini, dan gunung beserta isinya tercipta untuk mendukung kehidupan. Adrian pergi hari itu. Pergi untuk kembali. Kembali Hari Sabtu nanti.

Berikutnya menyisakan tiga orang. Kami turun sore hari untuk menuju ketinggian 2200 m. Segera membuat plot pertama di ketinggian ini, mendirikan tenda, dan sebagainya untuk memastikan kami tinggal selama dua hari lagi. Api kayu sudah menyala terus selama beberapa hari ke depan. Radiasi panas yang dihasilkan membantu tubuh yang butuh kehangatan. Tapi kehangatan kami cukup malam itu. Ditemani api, minuman hangat, dan obrolan-obrolan kecil. Selain radiasi panas yang dihasilkan, asap yang dihasilkan mebekaskan bau khas pada pakaian kami.

Hari berikutnya pengambilan data dilakukan pada plot pertama tanpa Adrian. Pengambilan data yang sama. Terlihat beberapa pendaki gunung yang mencari sepotong sunrise dan secangkir angin gunung sedikit-demi sedikit menuju puncak. Menyapa sebentar dan mereka langsung pergi. Mendaki gunung inilah hobi yang saya sukai. Begitupun mereka merasakan. Banyak hal yang tidak bisa dituliskan, cukup bagus untuk menjadi memori di masa mendatang dan pelajaran berharga yang hanya terasa jika melakukan.

10599523_10203296359147576_5477879376394296618_n

 Tenda Kami

Sore hari kami sempat membuat plot kedua di ketinggian 2200 m ini. Menjelang malam, seperti biasa kami bersiap masak untuk mengisi perut dan ditemani api kayu yang besar. Obrolan-obrolan disertai canda tawa ikut menghiasi bulan purnama yang menyala terang di atas pepohonan sekitar kami. Ini malam terakhir saya di Gunung Gede. Besok kami turun gunung untuk merecharge perbekalan.

Paginya, plot kedua dengan kemiringan cukup terjal menjadi pembuka hari yang cerah untuk jiwa yang sepi. Beberapa pendaki melewati jalanan dan menyapa kami yang tengah sibuk melihat-lihat pohon dan lumut. Mereka fokus untuk naik ke atas karena itulah yang mereka kejar. Kemudian, kabut tipis jatuh perlahan di lembah ini, lembah Salabintana, lembah di antara pegunungan. Kabut dan dinginnya silih berganti dengan matahari beserta kehangatannya.

Plot terakhir lebih terjal lagi kemiringan mencapai 30 derajat lebih. Tapi tidak menyurutkan Dikdik dan Mamik untuk pengambilan data dalam analisis vegetasi ini. Banyak keanekaragaman jenis pohon dan lumut yang ada. Pohon kecil dan besar. Ukuran sama bisa jadi jenis pohon berbeda. Bentuk daun dan ranting pohon bisa membantu dalam penentuan jenis spesies. Begitupun kulit kayu dari pohon tersebut dan struktur tulang daun yang ada. Mamik berulangkali mengambil sampel daun dengan tambang. Banyak kesenangan yang saya alami. Seru juga seperti anak kecil yang sedang bermain.

10570369_10203296355427483_927729363849906766_n 10603570_10203296365227728_2728352495158590747_n

 Mengabadikan momen di pohon paling besar.

Dikdik tetap dengan objek yang sama, lumut. Lumut berwarna hijau tapi bentuknya beraneka ragam. Ada lumut yang terlihat kering dan lumut yang basah.

10342991_10203296438629563_5033274261509424288_n 10552364_10203296440069599_6579819874924132582_n

Beragam jenis lumut

Akhirnya rampung juga, ini kesempatan yang bagus buat saya mengetahui bagaimana anak biologi melakukan metode penelitiannya. Di samping, cerita yang patut untuk ditulis dan dikenang. Kami turun sore hari itu juga.

Turun gunung menjelang malamhari. Saya cukup kerepotan, kacamata berembun karena keringat dan hari mulai gelap. Senter menjadi alat vital yang menerangi sejauh kaki melangkah. Bulan purnama dari kemarin tetap menyinari langit yang biru. Sejenak berhenti untuk menikmati pemandangannya. Akhirnya kami tiba di kantor, Pondok Halimun meskipun susah payah, saya turun karena jalur yang licin dan buram.

Di Pondok Halimun ini, kami menanti Adrian dan Sisil. Sisil akan melengkapi kekosongan orang. Karena besoknya saya pergi ke Bandung, sepertinya tidak untuk kembali lagi ke sini. Pacet-pacet yang ada cukup menjengkelkan. Tapi semua inilah yang menjadi pembeda dalam setiap pendakian bagiku. Bagaimanapun juga, gunung adalah tempat penting bagiku mencurahkan kesenangan dan merecharge diri kala butuh penyegaran.

10509608_10203296456390007_5280977905946370739_n

Cantiknyo….

Terimakasih semuanya…🙂

Semoga sukses selalu segala urusannya.

 

Salabintana, 5-10 Agustus 2014

5 pemikiran pada “Lereng Selatan Gunung Gede

  1. Ping balik: Pendakian Gunung Sepanjang 2014 | Jejak Destinasi

Komentar ditutup.