Bintang Pelajar

Saya dulu ingat ketika ditanya Pak Dali, salahsatu Project Officer CGS waktu pertamakali bertemu di SMP saya SMP PGRI Ciasmara. Saat itu, saya sedang bersiap untuk memulai kuliah pertama saya di ITB Bandung. Beliau menanyakan, kamu cita-citanya mau jadi apa. Saya jawab saya mau jadi guru Pak. Beliau tersenyum dan sedikit tertawa karena kebanyakan orang-orang di kampung saya yang sekolah ingin jadi guru.

Bukan tanpa alasan saya menjawab itu dengan cepat. Karena gurulah yang membuat kita memahami proses pendidikan dan pembelajaran di kelas-kelas. Semenjak itu, orang yang berprofesi sebagi pengajar saya sebut sebagai guru, termasuk dosen. Dan, setahun yang lalu ketika ada pelatihan perencanaan karir dari Mas Budi Pangestu, pengisi acara yang diundang CGS, saya memantapkan ingin menjadi guru sebagi profesi saya yang permanen nantinya. Menjadi tenaga pengajar di kampus tempat saya belajar, ITB.

Setelah lulus dari ITB, saya merasakan banyak sekali rencana karir saya yang berantakan. Saya tidak mempersiapkan sejak dini untuk lanjut S2. Saya terlanjur memilih untuk berjibaku menyelesaikan skripsi Tugas Akhir selama kurang lebih 10 bulan dari perencanaan hingga lulus sidang. Dalam proses mendapat gelar Sarjana Teknik itu saya tidak cukup mantap untuk mempersiapkan segalanya ketika sudah lulus. Hingga akhirnya terbersit keinginan untuk bekerja di sebuah perusahaan terlebih dahulu agar pengalaman di dunia industri bisa saya alami sebelum melanjutkan jenjang akademik.

Ternyata semuanya tidak berjalan sesuai apa yang diharapkan. Persaingan kerja memang cukup ketat, kemudian banyak informasi lowongan kerja yang saya tidak tahu, serta persyaratan yang tidak bisa saya penuhi. Hingga akhirnya saya sempat mendaftar di Bintang Pelajar, salahsatu lembaga bimbingan pelajar yang berpusat di Bogor. Saya melewati seleksi penerimaan guru di sana. Pada pra-akad saya ditetapkan untuk mengajar sebagai guru honor tetap di Jakarta. Kemudian, saya mencoba me-lobby agar bisa ditempatkan di Bandung agar strategis untuk berbagai macam keperluan dan rencana yang masih bisa saya upayakan.

Alhamdulillah, saya disetujui untuk ditempatkan di Bandung sebagai Guru Honor Lepas, yaitu mengajar Fisika SMA sesuai KBM dengan waktu tersedia yang dimiliki. Akad sudah saya tandatangani, insyaallah jika tidak ada hambatan saya mengajar di Cabang Banda Bintang Pelajar. Dalam waktu satu tahun itu, saya akan mempersiapkan segalanya untuk persyaratan S2 ke luar negeri. Dosen pembimbing saya juga nampaknya akan membantu untuk mencarikan kerjaan sebagai konsultan di Bandung. Selain itu juga, sempat ditawarkan untuk menjadi asisten riset di laboratorium. Insyaallah ini jalan yang ditempuh, semoga Allah memberkahi.

Guru memang bukan profesi yang menggiurkan dari segi gaji. Tetapi di dalamnya, banyak hal yang bisa diperoleh. Jika mengingat guru ini, saya sadar satu hal. Saya lupa bahwa adanya saya sampai lulus di kampus teknik negeri ini berkat guru-guru saya selama SD, SMP, dan SMA. Saya tahu saya tidak banyak bertemu dengan mereka, tetapi meski sekadar menanyakan kabar mereka via SMS, saya tetap didoakan untuk yang terbaik dan dimudahkan segala urusan. Memang guru saya seperti itu, tidak perlu mereka diberikan segalanya untuk mebalas kebaikan. Cukup anak muridnya sukses dalam kehidupan.

Terimakasih Pak Awang dan guru SMP PGRI Ciasmara lainnya. Saya satu-satunya yang masuk SMAN 1 Leuwiliang waktu itu. Mohon maaf saya jarang mampir ke sana.

Terimakasih Bu Ade dan Bu Diah, serta guru-guru yang lainnya di SMAN 1 Leuwiliang. Saat lulus juga saya satu-satunya yang masuk ITB. Semoga ilmu yang saya peroleh menjadi kebaikan bagi sebanyak-banyaknya makhluk.

Doa terbaik untuk kehidupan kalian, guru-guruku!

Kota Kembang, 9 November 2014, kala sinar mentari menerobos jendela kamar dengan lembut bersama alunan tilawah Qur’an yang menentramkan.

Bismillahi tawakaltu ‘alallah…

2 pemikiran pada “Bintang Pelajar

Komentar ditutup.