Beauty of Papandayan

Hari Ahad, tanggal 19 April yang lalu, kami berlima Asep, Kimul, Gempar, Teguh, dan saya berangkat dari Bandung menuju Garut menggunakan Elf BMT di Leuwipanjang pagi Pukul 08.00 WIB. Tujuan kami untuk mendaki salahsatu gunung tercantik di Indonesia yaitu Gunung Papandayan. Perjalanan sekitar 3 jam, kami baru tiba di Alun-alun Cisurupan untuk mencari transportasi ke Camp David (kaki gunung). Kami naik ojeg, sekitar satu jam perjalanan baru tiba di camp tersebut. Kami registrasi dan memberikan informasi akan berkemah di mana dan pulang hari apa. Kami mulai mendaki Pukul 14.00 WIB.

Gunung papandayan sebenarnya tidak terlalu tinggi dan medannya relatif mudah, bahkan untuk yang baru pertama kali naik gunung. Pemandangannya pun begitu indah. Kita bisa menemui kawah yang aktif, Pondok Saladah, Hutan Mati, dan Tegal Alun, tempat Edelweiss tumbuh. Medan awal pendakian berupa kawah, banyak asap belerang berwarna putih yang masih naik ke atas, baunya cukup menyengat, hujan gerimis turun rintik-rintik, para pendaki yang sebelumnya naik saat Sabtu malam, baru turun.

100_5623 100_5636

Kami melanjutkan perjalanan setelah dari kawah, menuju Pondok Saladah, tempat nge-camp. Perjalanan dari Camp David (kaki gunung) sampai Pondok Saladah memakan waktu selama kurang lebih 2 jam dengan medan yang relatif landai, hujan kadang membuat jalanan licin karena tersusun oleh material volkanik berupa tuf dan hasil pelapukannya yang menjadi tanah. Pemandangan sepanjang menuju Pondok Saladah cukup bagus, banyak tanaman hijau dihiasi kepulan asap belerang, kami juga bisa melihat pemandangan air terjun di sisi yang lain.

100_5645

Di Pondok Saladah tidak sebanyak Sabtu Malam kemarin yang nge-camp di sini. Kami mendirikan tenda agak jauh dengan yang lain, karena letaknya yang nyaman. Kami menghabiskan siswa waktu di hari itu untuk mendirikan tenda, berfoto-foto, memasak, ishoma, dan bercanda tawa. Kami melepas tidur malam dengan sejumlah cerita yang terbawa ke alam mimpi.

100_5663 100_5653

Pagi esoknya, Hari Senin, 20 April, kami bersiap melanjutkan pendakian ke tempat yang lebih keren, Hutan Mati. Dulu pepohonan ini tumbuh di sekitar puncak gunung kemudian diterjang produk gunung api entah lava atau aliran piroklastik, yang jelas saya masih bisa melihat begitu kering dan hitamnya pohon-pohon ini dan lapisan tuf berlaminasi sejajar berwarna terang menjadi pondasi dari hutan mati ini. Materialnya yang loose membuat pendakian lumayan berat, tetapi kami menemukan sebuah sisi pemandangan dari tempat ini yang sangat indah, kami bisa melihat Gunung Cikuray dan Garut secara bersamaan seluas mata memandang. Hutan Mati ini dari Pondok Saladah ditempuh sekitar 30 menit.

100_5670 100_5679 100_5682

Kami sempat tersesat ketika akan lanjut ke Tegal Alun karena mengambil jalur masuk hutan dari Hutan Mati ini. Kami tersadar, di tengah rimbunan pepohonan dan jalan setapak yang sepertinya jarang dilewati. Akhirnya kami memutuskan kembali lagi ke Hutan Mati dan mengambil jalan setapak tempat pendaki lain turun. Kami bertanya kepada mereka dan benar jalur menuju Tegal Alun adalah lewat lembahan antara dua punggungan ini. Kami menghabiskan sekitar 45 menit menuju Tegal Alun. Ketika hampir mencapai area tersebut, medannya relatif terjal tetapi masih lebih banyak yang landai. Pemandangan di Tegal Alun berupa hamparan Edelweiss yang menghijau seluas tempat itu. Hutan yang mati lainnya terlihat di ujung sana dekat dengan Puncak. Kami tidak pergi sampai Puncak karena pemandangan di sana tidak terlalu menarik. Kami mendokumentasikan jejak kami di Tegal Alun.  Kemudian kami turun gunung menuju tempat camp untuk packing dan bersiap melanjutkan perjalanan pulang.

100_5715 100_5701 100_5685

Jalur pendakian ketika turun sama seperti naik gunung. Sesampainya di Camp David (kaki gunung) kami mencari ojeg untuk turun lagi dan tiba di Alun-Alun Cisurupan untuk mencari Elf ke Bandung. Kami tiba di Bandung pukul 16.30 WIB hari Senin di Terminal Cicaheum.

Transportasi (sekali jalan) dan biaya lain:

  • Dago-Leuwipanjang (Damri): Rp3.800,-/orang.
  • Leuwipanjang-Cisurupan Garut (Elf BMT): Rp35.000,-/orang.

*Bisa naik jenis Elf yang lain kayak Jaya Giri, masih di Leuwipanjang jg karena bisa langsung turun di Cisurupan. Kalo kita naik dari Caheum pake Elf Enk Ink Enk, tapi kalo pagi lebih dari jam 5 ga bakal ada yang nyampe Cisurupan, bisa naik BMT dan JayaGiri juga di Caheum cuma biasanya udah penuh karena penumpang pada naik di Leuwipanjang. Naik Elf yang lain biasanya cuma turun di Terminal Guntur dan harus naik angkot lagi.

  • Cisurupan-Camp David (Ojeg): Rp25.000,-/orang.

*Bisa naik pake mobil Colbak tapi biayanya sekitar Rp200.000,-. Kalo anggotanya sedikit sayang juga. Biasanya yang naik Colbak, rombongan pendaki sekitar 10-20 orang. 

  • Biaya administrasi (registrasi): Rp7.500,-/orang.

*Kalo bawa motor juga kena biaya tsb. Di luar weekend biayanya Rp5.000,-. 

  • Cicaheum-Dago (angkot): Rp5.000,-/orang.
  • Logistik, makanan, dll: Rp50.000,-/orang.

*Biayanya tergantung para pendaki mau bawa apa aja.