I’tikaf

I’TIKAF

Berbicara I’tikaf, kita mengingat Ramadhan yg baru saja lewat, sepuluh hari terakhir Ramadhan Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam senantiasa mengisi hari-hari tersebut dengan berdiam diri di masjid dan melakukan berbagai macam keta’atan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

I’tikaf juga telah mengisi tahun-tahun saya selama setidaknya mulai delapan tahun yang lalu ketika saya duduk di kelas X SMAN 1 Leuwiliang. Selama tiga tahun masa SMA, saya bersama teman satu pengajian dan para kenalan beri’tikaf di Masjid At-Tauhid, Leuwiliang, Bogor. Kami yang berasal dari berbagai macam golongan, anak SMA hingga anggota DPRD juga ikut meramaikan sepuluh hari terakhir Ramadhan dengan berbagai macam kegiatan, seperti Qiyamul Lail, Tilawah Qur’an, Kajian, hingga Sahur dan Buka Bersama. Di sana, kami makan secara bersama dalam satu nampan yang sama, biasanya satu nampan untuk 4 – 6 orang. Makanan yang disediakan terbilang sederhana tetapi sangat nikmat bagi kami. Semua fasilitas ini disediakan secara gratis oleh pegurus DKM. Lokasi Masjid At-Tauhid yang ada di dekat sawah dan terbuka hingga pemandangan bukit-bukit menghiasi pemandangan dari siang hari hinga malam hari. Saya ingat, sangat jarang hujan turun selama tiga tahun saya beri’tikaf di sana. Setiap malam 27 Ramadhan, biasanya jama’ah lebih ramai karena berharap adanya Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari 1000 bulan.

Kemudian pada tahun 2010 saya masuk kuliah, di tahun itu saya balik ke Masjid At-Tauhid untuk berjumpa dengan kawan-kawan mutafikin pada tahun-tahun sebelumnya. Di tahun kedua (2011), saya menjadi panitia I’tikaf Masjid Salman ITB sehingga saya beri’tikaf di sana selama sembilan hari sebelum mudik. Pengalaman menjadi panitia sungguh berkesan di hati saya, banyak pelajaran yang di dapat, saya bersama teman-teman yang lain belajar bagiamana melayani jama’ah seperti penyediaan makan berbuka dan sahur, menjemput pemateri kajian, hingga tingkat teknis dalam persiapan setiap kegiatan. Setiap pagi evaluasi dilakukan tentang bagaimana pelayanan terhadap jama’ah, apa yang kurang dan apa yang mesti diperbaiki. Pemateri-pemateri yang dihadirkan kadang dari tokoh yang memang familiar di telinga masyarakat, kadang juga dari pemateri di lingkungan Masjid Salman. Qiyamul Lail bagi peserta terasa begitu hening, tenang, dan dingin. Saya ingat, udara saat itu begitu dingin setiap dini hari. Alhamdulillah, saat itu rangkain kegiatan berjalan sesuai dengan rencana, meskipun banyak kekurangan.

Tahun 2012 dan 2013 saya tidak beritikaf di masjid manapun, saya kembali ke rumah dalam waktu yang lebih cepat. Saat itu di 2012 saya pergi ke Antam Bogor untuk melihat kegiatan penambangan dan mencoba melakukan penyelidikan geologi bersama tim. Pada 2013 saya menyelesaikan Laporan Karangsambung yang cukup lama selama satu pekan sebelum mudik. Pada 2014 saya juga tidak beri’tikaf, waktu itu saya sedang melaksanakan aktivitas rutin mengerjakan Tugas Akhir dan pulang cepat ke Bogor.

Akhirnya, tahun ini (2015) saya kembali lagi beri’tikaf meskipun sebenarnya adalah mabit keliling. Sensani itu kembali saya rasakan, ada yang berbeda memang ketika beri’tikaf. Saya merasakan memiliki waktu khusus untuk merenungkan apa-apa yang telah terjadi dan menatap optimis ke masa depan yang akan di jalani. Banyak cela yang tak terkira selama menjalani kehidupan hingga saat ini, tapi berbalut semangat untuk mencapai kesuksesan yang siap menanti bagi orang yang memperjuangkan itu. Saat ini, saya sedang menunggu waktu untuk memulai kuliah lagi S2 di ITB. Banyak target yang ingin saya capai, semoga saja tercapai. Kuncinya niat dan komitmen.

I’tikaf di tahun 2015 ini, saya mabit keliling ke tiga masjid berbeda. Hari pertama, malam 26 Ramadhan, saya dan Aceng bermabit di Masjid Al-Irsyad Kota Baru Parahyangan. Setelah lama menunggu bus kota akhirnya kami naik dan meluncur ke sana. Saat itu sudah sore. Kami masuk dan merasakan indahnya arsitektur masjid yang dirancang oleh Ridwan Kamil. Bagian depan masjid tidak tertutup, malah dibuka, dan menghadap kiblat tentunya, pemandangan berupa bola bertuliskan lapadz Allah dan bukit serta matahari senja kuning kemerahan yang siap menutup shaum hari itu. Suara-suara tilawah mengayun di seisi ruangan. Kami berbuka gratis, bertemu dengan adik kelas dari Arsitektur 2011 yang juga menjelaskan tentang konsep arsitektur, bertemu dengan jama’ah dari Cirebon yang selama hampir dua pekan berkeliling Jakarta-Bogor-Bandung dari masjid ke masjid. Kemudian malamnya ada kajian dari Ust. Roni, “berkumpul dengan Rasulullah di Surga”. Dini hari diisi dengan Qiyamul Lail, suasana hening di masjid yang berarsitektur indah ini. Kolam renang berisi ikan tepat ada di depan imam. Heningnya malam juga sama berlaku bagi ikan di kolam. Hanya lantunan ayat suci Al Qur’an dari Imam yang tetap meneguhkan kaki-kaki makmum yang shalat selama dua jam.

Hari kedua, malam 27 Ramadhan kami pergi ke Masjid Al Hikmah Telkom, kami berta’jil dengan es buah kemudian pergi ke Masjid Pusda’i untuk bermabit di sana. Kondisi mutafikin sangat ramai, banyak keluarga yang membawa anak-anak dengan melamparkan kain dan sleeping bag di setiap sudut masjid. Malam itu selesai tarawih, saya, Aceng, dan Dedi pergi ke perpustakaan membaca buku-buku islam yang tersedia. Saya membaca buku tentang Sunni-Syiah. Satu topik yang ramai didengungkan di kalangan umat islam. Tentang perbedaan dan sejarah keduanya.

Sebelum kembali lagi ke masjid, kami menikmati Bakso Cuanki dan Kerak Telor, ditemani keramaian halaman masjid oleh banyak pedangang dan jama’ah bersama anak-anaknya, temaram malam tidak diterangi oleh lampu yang terang, tapi cukup jelas bagi kami untuk memastikan wajah setiap orang dan makanan yang kami makan. Malam begitu tenang. Tidak banyak bintang yang bersinar, bisa dihitung oleh jari telunjuk, meskipun ada satu bintang yang bersinar lebih terang. Dini hari ada Muhasabah dan Qiyamul Lail. Di malam 27 Ramadhan itu, saya merasa ada hal-hal yang melegakan setelah beragam kegiatan selama bermabit di Pusda’i. Shalat Subuh pagi itu membawa ketenangan dalam hati dan saya merasa senang untuk menjalani hidup.

Hari terakhir, saya bermabit di Masjid Salman, malam 28 Ramadhan 1436 H. Kalo di sini, saya selalu ingat pengalaman jadi panitia I’tikaf. Tidak disangka, jauh lebih bagus kualitas pelayanan yang dilakukan oleh panitia. Saat itu, jama’ah tidak usah repot ngantri makanan berbuka karena panitia membagikannya selesai Shalat Maghrib berjama’ah. Makanan yang dibagikan pun tergolong waah, ada daging ayam, ikan semur, hingga telur ayam yang direndang. Panitia yang melayani I;tikaf pun lebih tertata rapi pembagian kerjanya, ramah saat melayani pendaftaran peserta. Ada juga bagi-bagi matras untuk peserta. Malam itu, saya bertemu Havid, teman yang akan bareng-bareng lagi kuliah S2 di ITB, kali ini dia ambil jurusan Informatika setelah sebelumnya Teknik Fisika. Mengobrol-ngobrol hingga jam 21.00 WIB tentang program studi yang diambil dan aktivitas-aktivitas yang nanti akan dikerjakan saat kuliah. Kemudian masuk ke masjid, saya bertemu Eka, teman satu jurusan di Teknik Geologi, kami juga mengobrol dengan Jovi, teman Eka. Malam itu kami saling membicarakan tentang rencana kami. Eka akan kuliah ke Inggris dan sedang mengajukan LPDP, Jovi sudah bekerja. Saya juga mengemukakan alasan ingin menjadi dosen dan keinginan untuk mengenyam pendidikan di luar negeri. Dini hari Qiyamul Lail ditegakan mulai pukul 02.00 WIB hingga 03.45 WIB sebelum bersahur bersama. Shalat subuh pun menutup keberadaan saya di Masjid Salman saat itu.

#Cerita I’tikaf, tahun 2007-2015, Ramadhan 1428-1436 H.