Penjara dan Kebebasan

Saya merasa mendapat pencerahan setelah melihat beberapa tulisan tentang kisah kisah inspiratif mengenai kebebasan yang dibelenggu dalam “Penjara”.

Saya akan mulai dari sebuah film yang begitu inspiratif:

The Shawshank Redemption

552b66fa6ea83459398b4567

“The Shawshank Redemption” hanyalah sebuah film sederhana yang mampu menginspirasi siapa pun yang menontonnya. Andy Dufrense (Tim Robbins) adalah seorang bankir yang dituduh membunuh istri dan pria selingkuhan istrinya. Walaupun sebenarnya Andy tidak bersalah, semua bukti mengarah kepadanya dan mau tidak mau Andy harus mendekam di penjara bernama Shawshank dengan masa hukuman dua kali seumur hidup. Di penjara Shawshank inilah Andy akan bertemu dan bersahabat dengan Ellis “Red” Redding (Morgan Freeman), seorang napi yang ahli menyelundupkan barang yang ketika Andy datang, dia sudah berada di Shawshank selama 20 tahun. Dan tentu saja, hidup Andy pun berubah 180 derajat. Titik balik, itulah yang dirasakan Andy selama berada di Shawshank. Tahun-tahun pertama Andy di Shawshank, hanya berisikan penderitaan. Kepala penjara Samuel Norton (Bob Gunton) yang freak, kapten penjaga Byron Hadley (Clacy Brown) yang bengis dan tak berperasaan hingga geng homoseks “The Sisters” yang dipimpin oleh Bogs (Mark Rolston). Tapi Andy tahu, bahwa masih ada satu hal yang dia miliki walau kebahagiaannya telah terenggut oleh ketidakadilan. Ya, harta satu-satunya itu bernama HARAPAN. Harapan untuk terus hidup, harapan untuk terus berjuang dan harapan untuk terus melakukan hal baik walau dia tidak berada di tempat yang baik. Lihat saja bagaimana Andy memanfaatkan kekhawatiran Hadley tentang pajak warisannya, juga bagaimana Andy membantu napi tua bernama Brooks Hatlen (James Whitmore) mengelola perpustakaan penjara atau bagaimana Andy mengajarkan baca tulis seorang napi muda rock n roll Tommy Williams (Gill Bellows) hingga bagaimana Andy memanfaatkan eksploitasi yang dilakukan oleh Norton yang menyuruhnya melakukan money laundry atas uang Norton dengan nama samaran “Randall Stephens”.

Begitu banyak cerita yang tersirat dan sarat makna di setiap adegan dan dialognya yang sederhana. Bahwa kebebasan adalah hak prerogatif yang dimiliki oleh setiap manusia. Tidak terukur dan tidak sama. Juga perjuangan Red untuk mendapatkan pembebasan bersyarat dan tentu saja… perjuangan Andy untuk keluar dari penjara Shawshank walau hanya dengan bantuan sebuah palu batu dan poster Rita Hayworth, Marilyn Monroe dan terakhir Raquel Welch. Tetaplah berharap dan melakukan yang terbaik dan semua akan indah pada waktunya … .

Andy berhasil keluar dari penjara dengan kejeniusannya setelah membuat lubang yang dibuat bertahun-tahun yang mengarah ke saluran pembuangan air. Setelah keluar penjara -Andy yang sudah memikirkan sebuah rencana ketika masih di penjara- berhasil mengungkapkan kasus pencucian uang yang dilakukan oleh Kepala Penjara. Andy menjalani hidup dengan kebebasan yang dia perjuangkan selama di penjara. Di akhir cerita dia berjumpa lagi dengan Red di pantai Samudera Pasifik.

Ada quote indah yang diucapkan Andy dalam suratnya untuk Red…

“Remember Red, hope is a good thing, maybe the best of things, and no good thing ever dies”.

Kedua, saya ingin memperlihatkan sebuah kisah tentang proklamator Negara kita.

Soekarno
Soekarno lahir di Surabaya tanggal 6 Juni 1901. Ia terlahir dengan nama Koesno Sosrodihardjo. Soekarno dilahirkan sesaat sebelum fajar terbit Saat itu gunung Kelud di Jawa Timur meletus dan mengeluarkan lava panas dari perut bumi. Tanda alam tersebut seolah menjadi pertanda lahirnya seorang pemimpin besar yang akan memimpin negara Indonesia dan mengguncang dunia.

Sejak usia muda keaktifannya, dalam pergerakan melawan pemerintahan kolonial Belanda membuat dirinya menjadi target penangkapan polisi Belanda. Pada 4 Juli 1927, Soekarno mendirikan PNI (Partai Nasional lndonesia) untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Akibatnya, Belanda memasukkannya ke penjara Sukamiskin, Bandung pada 29 Desember 1929. Dia dikategorikan sebagai tahanan yang berbahaya. Bung Karno muda begitu bersemangat memperjuangkan kemerdekaan. Soekarno ditangkap di Yogyakarta ketika usianya baru berumur 28 tahun, suatu usia yang sangat muda dibandingkan pengaruh politiknya yang besar.

Dari balik tembok penjara, Soekarno menulis sebuah Pledoi (pidato pembelaan) yang diberi nama Indonesia Menggugat. Pledoi ini kemudian dibacakan di Gedung Landraad (pengadilan rendah) pemerintah kolonial Belanda di Bandung. Pengalaman sebagai orator ulung di PNI membuat Soekarno mampu mengubah sidang yang semula diniatkan pemerintah Belanda untuk menjatuhkan Soekarno menjadi seperti rapat umum dimana Soekarno seolah menjadi bintangnya. Ia membacakan Pledionya dengan sangat berapi-api. Meski usianya pada saat itu masih muda namun Soekarno mampu memaparkan permasalahan yang dihadapi rakyat Indonesia akibat penjajahan Belanda dan berusaha menyudutkan Pemerintahan Kolonial Belanda dengan argumentasi yang sangat lugas.

Indonesia menggugat tidak begitu saja lahir secara sekejap akan tetapi buah dari pemikiran beliau setelah melakukan kajian hampir 80 buah buku dan karangan pidato dari berbagai tokoh dunia ditambah realitas kehidupan masyarakat Indonesia yang ia amati setiap hari. Pembelaan yang meledak–ledak sekaligus mewakili dasar-dasar pemikiran Soekarno atas penolakannya terhadap kolonialisme, Imperialsme, dan Kapitalisme. Meski pada akhirnya Soekarno dijatuhi hukuman penjara selama 4 tahun namum pengaruh dan dampak dari Indonesia Menggugat luar biasa. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di Belanda dan Eropa Barat. Naskah yang dibacakan Soekarno itu menjadi dokumen politik historis.

Banyak kalangan yang berpendapat bahwa Indonesia Menggugat menjadi salah satu tonggak bangkitnya semangat bangsa Indonesia ditengah penderitaan panjang akibat panjajahan selama ratusan tahun. Soekarno muda telah memberikan inspirasi bagi banyak orang untuk tidak menyerah pada nasib. Beliau telah menyadarkan bahwa masa depan Indonesia harus ditentukan oleh orang–orang Indonesia sendiri.

soekarno-quotes-2

Dalam penculikannya ke Rengasdengklok, Soekarno tidak tergesa-gesa dalam memerdekakan Indonesia. Ia berhasil meyakinkan kaum muda bahwa ada waktunya Indonesia merdeka yaitu 17 Agustus 1945. Kebesaran hati inilah yang seolah menuntun langkahnya menjadi Bapak Proklamator Indonesia.

Setelah melalui perjuangan yang amat panjang dan harus mengalami beberapa kali dipenjara dan diasingkan, akhirnya Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia. Ia pula yang merumuskan Pancasila menjadi dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Empat puluh lima tahun sudah, Indonesia dan dunia kehilangan orator ulung bernama Ir. Soekarno. Sosok yang jadi kawan sekaligus lawan yang disegani oleh tokoh dunia pada masanya. Sosok karismatik yang tentunya tidak lahir untuk kedua kalinya. Namun di balik rasa kehilangan, bukan berarti Indonesia akan kehabisan “Soekarno” baru, karena pasti akan lahir “Soekarno” selanjutnya dengan inspirasi dan semangat baru untuk Indonesia.

Soekarno adalah presiden yang mampu menyatukan nusantara. Bahkan ia bisa menghimpun bangsa-bangsa di Asia dan Afrika dalam konferensi Asia Afrika di Bandung pada tahun 1955 yang kemudian berkembang menjadi Gerakan Non Blok.

Terakhir, sebuah kisah dari ulama terkenal:

Ibnu Taimiyah

Nama lengkap beliau adalah Taqiyuddin Abdul Abbas Ahmad bin Abdul Salam bin Abdullah bin Muhammad bin Taimiyah Al-Harrani Al-Hambali, yang lahir pada hari Isnin, 10 Rabiul Awwal 66l H. (22 Januari 1263 M) di Harran. Karena diburu oleh bangsa Monggol, maka ayah beliau pindah ke Damaskus dengan seluruh keluarganya. Di Damaskus itulah beliau mempelajari agama Islam, yang ternyata sebagai anak yang cerdas. Guru beliau antara lain adalah ulama besar yang bernama Zainuddin Abdul Daim Al-Mukaddasi, Najmuddin Ibnu Asakir, dan seorang ulama perempuan terkenal, Zainab binti Makki, dan sebagainya yang lebih dari seratus guru lagi banyaknya.

Ibnu Taimiyah, ulama besar yang merengkuk dalam penjara Mesir. Baru saja beliau bebas dari penjara, kemudian ditangkap lagi dan dipenjarakan yang kedua kalinya selama setengah tahun lagi. Baru beberapa hari keluar dari penjara yang kedua, ia ditangkap lagi dan dipenjarakan selama delapan bulan lamanya di Aleksandria, kerana fatwa beliau pula yang tidak sesuai dengan faham para ulama. Keluar dari penjara Aleksandria, beliau dipanggil oleh Sultan Nashir Qalaun untuk memberikan fatwa di muka umum. Sebabnya sampai sikap sultan demikian ialah karena sultan senang terhadap sifat terus-terang beliau. Beliau bersedia memberikan fatwa atau ceramah di muka umum, dan ternyata fatwa beliau itu menggemparkan para ulama yang bermazhab Syafi’e, namun beliau tetap dikasihi oleh Sultan. Bahkan beliau mendapat tawaran menjadi professor pada sebuah Sekolah Tinggi yang didirikan oleh Putera Mahkota.

images

Dalam tahun 1313 beliau diminta untuk memimpin peperangan lagi ke Syiria. Beliau diangkat menjadi professor lagi dalam sebuah Sekolah Tinggi, tetapi pada bulan Ogos 1318 beliau dilarang mengeluarkan fatwa oleh Penguasa, padahal fatwa-fatwa beliau itu diperlukan umat saat itu. Dengan diam-diam para murid beliau mengumpulkan fatwa-fatwa beliau yang cemerlang itu dan berhasil dibukukan, kemudian dicetak, yang bernama “Fatwa Ibnu Taimiyah “Alangkah sedih hati rakyat yang ternyata masih ramai yang mencintai beliau. Beberapa waktu kemudian beliau ditangkap lagi dan dipenjarakan yang keempat kalinya selama lima bulan delapan hari.

Yang terakhir beliau ditangkap lagi atas perintah Sultan dalam bulan Sya’ban 726 H. (Juli 1326 M) dan kemudian dipenjarakan yang kelima kalinya selama 20 bulan. Kali ini kamar tahanannya amat sempit dan bertembok tebal. Dalam kamar tahanannya itu beliau tetap menulis, kerana menulis itu yang membawa kebahagiaan bagi beliau. Beliau dilarang berfatwa kemudian menulis, bahkan isi tulisannya sangat bagus.

Maka walaupun beliau hidup dalam lingkungan tembok penjara yang tebal, tetapi hati beliau tidak sedih dan tidak pula gundah. Dalam penjara inilah beliau berkata yang kemudian terkenal sampai sekarang, yaitu: “Orang yang terpenjara ialah yang dipenjara syaitan, orang yang terkurung ialah orang yang dikurung syaitan. Dan dipenjara yang sebenarnya ialah yang dipenjarakan hawa nafsunya. Bila orang-orang yang memenjarakan saya ini tahu bahawa saya dalam penjara ini merasa bahagia dan merasa merdeka, maka merekapun akan dengki atas kemerdekaan saya ini, dan akhirnya mereka tentulah mengeluarkan saya dari penjara ini.”

Referensi:
http://www.kompasiana.com/idha/the-shawshank-redemption-yang-menginspirasi-itu_552aa2adf17e61a72ad623a6

http://www.banguninspirasi.com/2013/12/kisah-perjuangan-soekarno-sang.html

http://www.damniloveindonesia.com/articles.php?id=150

http://sejarahituasyik.blogspot.com/2010/11/7-tokoh-yang-menulis-di-penjara.html

Kali ini tentang Penjara
Darinya muncul tekad…

Merebut kembali Kebebasan
Dari belenggu dan penjajahan …

Terimakasih para pahlawan bangsa
serta ulama …

Semoga negeri ini menjadi negeri yang makmur dan sejahtera.

Bandung, 17 Agustus 1945

Hidup Negeriku!