Asisten

Karena saya menerima Beasiswa Voucher, saya berkewajiban menjadi asisten riset dan asisten beberapa mata kuliah yang diampu Pak Imam. Pada awal-awal, saya mendapatkan pekerjaan untuk membuat modul tentang praktikum Geologi Teknik yang juga masih berlangsung sampai saat ini. Tantangan dari pembuatan modul ini adalah mesti banyak baca literatur, buku, dan modul course di berbagai universitas di dunia untuk mencari hal yang bisa ditonjolkan dalam modul nantinya, termasuk beberapa materi yang menarik secara geologi. Geologi Teknik memang erat kaitan dengan ilmu sipil dan tambang, perlu ditekankan adanya geological scence bagi seorang geologist. Contoh paling sederhana kenapa suatu per conto dengan per conto yang lain memiliki nilai densitas yang berbeda. Hal ini bisa dikarakterisasikan terlebih dahulu apa jenis dari per conto yang satu dengan per conto yang lain, apakah jenis batuan atau tanahnya, kemudian juga yang paling penting apa saja komposisi mineral yang terkandung pada masing-masing per conto. Tentu saja, kita mengetahui densitas masing-masing mineral berbeda-beda. Untuk mineral mafik densitas rata-rata antara 3,0 – 3,6 g/cm3 dan mineral felsik 2,5 – 2,7 g/cm3.

Selain itu, saya juga memiliki beberapa pekerjaan seperti memeriksa tugas Mata Kuliah Analisis Bahaya Geologi (ABG) sebagai asisten mata kuliah. Mata kuliah ABG sering mendatangkan para penggiat di bidang terkait kebencanaan, seperti pembicara dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang membahas tsunami. Dalam mata kuliah ini saya bertugas menemani pembicara juga. Banyak hal yang dibahas selain tsunami, seperti gempabumi.

Saya juga pernah terlibat sebuah projek dari BATAN mengenai analisis Geotek Pondasi untuk rencana area tapak Reaktor Daya Eksperimental (RDE) di Serpong, Banten selama satu pekan. Pada projek ini, saya bertugas untuk menganalisis potensi ambles dan terangkatnya tapak. Bagi saya, hal ini merupakan ilmu baru yang sebelumnya belum pernah dikerjakan. Analisis ambles di sini bukan seperti penurunan tanah yang dibahas sesuai prinsip Terzaghi akibat pembebanan atau penurunan tanah akibat pengambilan air tanah seperti di hidrogeologi, tetapi lebih ke arah sisi geologi seperti potensi dari adanya sinkholes atau rongga bawah tanah akibat keberadaaan dari batuan mudah larut seperti batugamping. Juga digunakan data-data geofisika seperti georadar dan seismik untuk mendukung pendeteksian keberadaan potensi rongga bawah tanah ini. Untuk terangkatnya tapak, dari beberapa per conto yang diuji, dilakukan klasifikasi jenis tanah apakah termasuk tanah yang berbahaya misal lebih mudah mengembang karena hal tersebut akan menyebabkan ancaman untuk terangkatnya tapak.

Satu yang masih belum saya bisa kerjakan adalah mengenai proposal riset. Bagaimana kita peka terhadap permasalahan yang ada dan kemudian mengemukakan solusi dalam sebuah riset. Perlu diasah nih🙂

Bandung, 5 November 2015.