Geomorfologi Karangsambung

  1. Bendungan berada di Kalikarang pada kontur terendah. Batas genangan ditunjukkan oleh area dengan warna coklat pada peta.
  1. Trase Jalan Baniara melalui Gunung Bujil dan berakhir di Gunung Dliwang

Trase jalan dari Baniara (+44 m) melewati sekitar G. Bujil (+162 m) menuju G. Dliwang (+512 m) tanpa terowongan dan cut and fill ditunjukan dengan garis merah pada peta.

  1. Sungai yang dilalui trase jalan berjumlah 2 (dua) sungai yang berhulu di G.Paras sehingga jembatan yang diperlukan tidak terlalu banyak.
  1. Daerah-daerah yang diperkirakan akan bermasalah terhadap trase jalan adalah erosi akibat aliran sungai (lingkaran merah) dan kemungkinan potensi terjadinya longsoran pada kontur-kontur yang terjal (lingkaran hijau).
  1. Sumber batu untuk fondasi jalan adalah batuan beku diabas yang berasal dari G. Bujil (lingkaran warna ungu). Batuan ini memiliki kekerasan dan kekuatan yang tinggi sebagai pondasi jalan ditambah kemudahan untuk menambangnya karena memiliki bidang-bidang lemah seperti kekar kolom.
  1. Satuan batuan atau formasi batuan yang akan mengganggu keutuhan jalan adalah Formasi Karangsambung yang terdiri dari batulempung serpihan, berwarna hitam, berselingan dengan pasir, berstruktur scaly (sisik ikan), di beberapa bagian, memperlihatkan perlapisan yang baik, terdapat fragmen-fragmen berupa batugamping dan konglomerat polimik. Selain itu, perlu diperhatikan trase jalan di dekat kontur yang curam pada Formasi Waturanda, karena dimungkinkan adanya longsor.

Terutama pada batulempung akan memberikan pengaruh yang berarti terhadap keutuhan jalan. Batulempung memiliki karakteristik khas dengan sifat menyusut (shrinkage) dan mengembang (swelling) di bawah pengaruh cuaca pada siklus musim hujan dan kemarau. Sifat tersebut berbahaya karena jalan yang memiliki fondasi di atas satuan batuan ini akan rusak bahkan runtuh karena fenomena mengembang dan menyusut ini. Hal ini akan diperparah bila pelapukan dan erosi terjadi secara intensif pada satuan batulempung yang resistansinya rendah. Hal lain yang perlu diperhatikan juga adalah sifat batulempung ini yang memiliki struktur serpih sebagai bidang lemah bagi adanya keruntuhan batuan yang pada akhirnya juga mempengaruhi keutuhan jalan. Karsam

 Geologi daerah Karang Sambung (Lembar Kebumen) oleh Asikin dkk (1992).

Secara umum geologi Karangsambung merupakan struktur antiklin menunjam ke arah timur yang pada puncaknya telah tererosi membentuk amfiteater Karangsambung. Formasi yang berkembang secara berurutan adalah Teok (F. Karang sambung) yang berupa batulempung berstruktur sisik, dengan bongkah batugamping, konglomerat, batupasir, dan basal. Diatasnya diendapkan secara selaras Tomt (F. Totogan) yang terdiri dari breksi dengan komponen batulempung, batupasir, batugamping dan basal dengan masa dasar batulempung bersisik. Diatasnya lagi diendapkan Tmw (F.Waturanda) yang berupa batupasir dan menjadi breksi pada bagian atasnya. Formasi-formasi tersebut diterobos oleh Tmd (Diabas) termasuk di G. Bujil yang terkekarkan, sebagian kekar tiang.

REFERENSI

 Asikin, S., Harsolumakso, A. A., Busono H., dan Gafoer S, 1992, Geologic Map Of Kebumen Quadrangle, Java, Scale 1:100.000. Geologycal Research and Development Centre, Bandung.

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s