Dunia

Apa yang bergejolak di hati, perenungan dalam tentang makna dari kekayaan negerinya. Kenapa sebuah wilayah diberikan kekayaan alam yang luas dan subur dibanding yang lain. Terus terngiang dalam pikiran. Mungkinkah dulu, negerinya adalah negeri besar dan seharusnya menjadi bangsa yang besar. Adapun ketertinggalan saat ini boleh jadi sebab tidak amanah penduduknya terhadap pemberian yang Maha Pencipta. Tapi dia meyakini -meskipun cuma dirinya saja, bahwa banyak sejarah besar negerinya yang tak terungkap dan sudah tergerus waktu. Bahkan seorang ahli sejarahpun tak kuasa menuliskan kebesaran ini dalam karya-karyanya. Hanya alam yang menjadi saksi. Begitulah pikiran-pikiran liar yang sedang berkecamuk menguasai rasa bangganya terhadap negeri tempat dia dilahirkan, dibesarkan, dan tekadnya untuk memberikan segenap jiwa raga.

Pagi itu, yang sangat cerah. Untuk pertama kali, dia berada di puncak gunung. Negerinya adalah negeri yang terbanyak jumlah gunungnya, terbanyak jumlah suku dan bahasanya. negeri yang paling melimpah sumber daya buminya, negeri yang sangat beragam kekayaan flora dan faunanya, negeri yang terdapat di garis khatulistiwa sehingga tanah-tanahnya menjadi subur, memberi kemakmuran yang ideal bagi penghuninya, disejukkanlah mata-mata mereka dengan beragam pemandangan yang sangat indah. Negeri yang ada di pertemuan ke dua lempeng besar, tidak, tiga atau bahkan empat mungkin, sehingga terletaklah negerinya di sebuah pertemuan besar yang menghasilkan konfigurasi tatanan batuan yang sedemikian beragam jenis dan prosesnya. Belum laut-lautnya. Angin-anginnya yang dipengaruhi oleh dua benua besar, Australia dan Eurasia. Kalaupun orang lain harus belajar, bisalah di negerinya mereka mengambil banyak kasus-kasus ilmiah. Ya, terlampau banyak kekayaan di negerinya. Sulit untuk membedah secara detail setiap pemberian Maha Kuasa ini. Ilmu manusia tidaklah ada arti di hadapan-Nya. Ibarat setetes air yang dijatuhkan ke lautan dunia, seperti itulah perumpamaan seluruh ilmu yang dimiliki segenap manusia yang pernah hidup.

Kalau boleh berandai, suatu awal mula, lahirlah manusia pertama dan menciptakan peradaban pertama di dunia ini. Setelah waktu-waktu yang lama menurut ukuran manusia terciptalah peradaban-peradaban lain yang tersebar ke seluruh penjuru dunia. Di permukaan, dan bukan permukaan laut, di permukaan tanah mereka hidup, sesungguhnya mereka juga berasal dari tanah. Di manakah awal mula itu lahir, bisa jadi tidak ada manusia yang mampu mencatatkan itu dalam sebuah penelitian ataupun publikasi yang dapat diterima oleh seluruh manusia. Pikiran manusia lebih misterius dari dunia itu sendiri.  Semua berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya.

 

-Coretan kala hujan mengguyur, di negeri hutan hujan tropis-

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s