Kolase 1: Pohon

Tidak sedikit yang bilang, masa SMA adalah masa paling bahagia dan menyenangkan. Masa SMP juga tidak kalah berkesannya. Ketika saya di sana, di SMP PGRI Ciasmara, ada satu pohon, waktu itu belum paham pohon apa itu. Sampai sekarang masih ada. Tapi masih belum tahu juga itu pohon apa. Yang terpenting, boleh jadi cerita-cerita kami didengar dengan takzim oleh si pohon.

Sekitar 10 tahun lalu, di bawah pohon itulah tersimpan bukan hanya kenangan, tapi macam-macam isu terkini yang dihembuskan juga diperbincangkan oleh sekawanan anak-anak SMP yang entah kenapa dinamakan Golden Boys (GB). Usut punya usut, guru SMP kami waktu itu bilang, kami yang tergabung di GB ini adalah siswa-siswa terbaik dari seluruh siswa satu angkatan. Kami senyum-senyum sinis, terus tertawa, dan kemudian tak tahan terpingkal-pingkal waktu itu, di mana letak keterbaikannya. Wong, kami para anggota GB sama saja dengan siswa yang lain. Tak ada kesan istimewa. Mungkin guru kami futuristik, berharap nantinya kami jadi manusia-manusia terbaik di masa depan. Ya, jika mengingat masa lalu dan melihat hari ini, serasa waktu berjalan layaknya kecepatan cahaya.

Kembali lagi ke pohon tadi. Perlu Kawan-kawan ketahui, tempat tumbuhnya pohon itu ada di pinggir turunan jalan, tepat di pertigaan menuju sebuah rumah besar zaman itu. Pohon itu tingginya entah berapa meter. Yang jelas tembok balai desa yang berdempetan dengan si pohon, tak cukup menandingi si jangkung. Masih terlihat dari atas tembok itu tinggi batang kemudian cabang-cabang, ranting-ranting, dan tentunya daun-daunnya yang hijau, tidak terlalu besar, juga tidak kecil-kecil amat. Seperti daun belimbing, tapi ini jauh lebih rimbun. Tembok itu sifatnya membatasi jalan menuju rumah besar tadi dengan balai desa. Ketinggian tempat untuk nongkrong itu ya setinggi tembok pembatas. Jadi ada semenan tempat duduk, terus lahan kosong berupa tanah coklat yang entah siapa yang memulai, dulunya banyak tanaman-tanaman yang tumbuh untuk estetika balai desa. Sekolah kami ada di belakang balai desa, jadi habis dari bawah pohon cuma jalan kaki 1 menit sudah sampai di ruang kelas. Informasi tentang si pohon tadi itu penting, karena dia jadi judul tulisan ini.

Pagi jam 10-13 adalah waktu terbaik untuk berkumpul di bawah pohon itu, duduk di salah satu semenan. Bukan hanya anggota GB, tapi siswa yang lain. Ibarat semut. ada saja siswa-siswa yang berkumpul. Ternyata daya tariknya adalah tempat itu mampu membuat siswa-siswa merasa nyaman dan bahagia terus, kesedihan yang diceritakan juga ujung-ujungnya jadi bahagia. Sinar matahari jam 10 belum terlalu panas, jadi bisa nikmatin keindahan pemandangan yang sebenarnya biasa saja. Entah kenapa, kombinasi puskesmas, matahari yang bulat dan kuning itu, serta si pohon adalah pemandangan default setiap hari yang tak pernah membosankan.

Jam sekolah memang dibagi dua shift, pagi dan siang, ga beda jauh kaya satpam. Kalo pagi, anak-anak langsung masuk kelas. Jarang ada yang nongkrong dulu di bawah pohon. Jam 11 mereka bubar dan berkumpullah di bawah pohon. Yang shift siang duduk-duduk manis dulu nunggu jadwal masuk di bawah pohon yang sama. Baru jam 13 mereka masuk. Ini diatur dan digilir oleh para guru dengan perhitungan dan prinsip keadilan kelas tinggi sehingga para siswa mau-mau saja mengikuti peraturan.

Yang dimaksud isu terkini bagi kami anak kampung bukan tentang teknologi terkini, isu politik, gosip-gosip artis, riset-riset ilmiah. Itu semua terlalu berat bagi kami zaman itu. Bukan berat juga, kami tahu dari mana info-info macam itu. Ga ada yang namanya warnet, mau internet kita harus ke Leuwiliang, 20 km jaraknya. Ya, isu terkini bagi kami hanya sebatas tentang si A pacarnya si B, pacar A sebelumnya si D baru diputusin, si C punya pacar baru yang ternyata ketahuan, pacar baru itu si B.  Atau tentang tempat permainan menarik di kampung, ya tempat berenang di sungai, fosil ikan besar yang bisa kita masukkin dalamannya. Bukan tulang yang membentuk tubuh, hanya besi-besi karatan yang sudah tak terurus lagi. Ikan besar itu ada di kampung lain. Banyak anak-anak yang main di sana. Urusan materi pelajaran, itu bukan fashion kami saat itu. Yang penting kita main, mau main sepeda, main jelatrik cuma modal batu dan pagar bambu nemu dari tempat sampah, main bola sepak di sawah orang terus dimarahin karena nanti sawahnya susah buat dibajak, mainin punggung sapi sambil naik di punggungnya, berburu telor bebek liar karena daya jelajahnya yang luas, telah berjalan ke berbagai kampung melalui jalur sawah, mainin belut panjang, atau mainin sesuatu yang panjang dan licin lainnya.

Kami juga sering masak-masang bareng dengan guru pembina GB di rumahnya. GB adalah sebuah organisasi yang dia dirikan dengan tujuan menghabiskan masa SMP dengan kesenangan padahal ada hidden agenda yang terselip di dalamnya, dimana dalam rangka memenuhi visi organisasi, masing-masing anggota memberikan iuran seala kadarnya kalo bisa dipaksakan sampai batas kemampuan dia, untuk kemudian digunakan untuk beli bahan-bahan masak bareng. Hidden agenda itu, biar si pembina di rumah, makannya gratis.

Semua itu, cerita-cerita itu entah bagaimana serasa hidup kembali jika kami ceritakan di bawah pohon. Kami belum sadar, bahwa waktu akan berlalu sangat cepat, dan hanya pohon itu yang mampu menjadi saksi bisu yang baik bagi isu-isu yang kami perbincangkan.  Mungkin si pohon hanya bisa tersenyum atau mungkin ikut ketawa saat kami cekikikan-cekikikan menertawakan cerita yang kami punya.

images

fredywp.blogspot.com

 

Continued to Kolase 2.

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s