Kolase 2: Guru Matematika

Setelah berkumpul di bawah pohon dengan seribu obrolan yang tak kunjung habis, bel sekolah berdering kencang, sampai-sampai suaranya mengalahkan kami, untuk segera masuk kelas. Ya, siang ini pelajaran matematika, yang ngajar sebut saja Pak Tatang, memang demikian nama aslinya. Tidak ada lagi guru matematika selain dia di sekolah kami.

Dengan kacamata tebal berwarna coklat bening menutupi sorot matanya yang sayu dengan kantung mata lebar mirip bapak presiden kita yang terakhir diganti. Wajahnya bukan tipe orang yang ceria, pipinya mengikuti hukum gravitasi, jadi tembemnya menurun, tapi kami satu kelas pasti tidak ada yang berani macam-macam. Ngobrol saja kami tidak sanggup. Bukan karena bapaknya bakal menghukum kami yang nakal. Bukan. Tetapi dengan postur tubuh tinggi besar dan buncit itu, kami semua segan. Sedikit guru di sekolah kami yang kami segani. Guru yang ini berbeda.

Seperti biasa, dan itu ibarat sebuah keadaan yang tak kunjung berubah. Butuh seorang revolusioner untuk merubah keadaan kelas yang diajar oleh guru kami ini. Ya, suasananya pasti selalu seperti ini. Beliau masuk, semua anak langsung duduk rapi di bangkunya. Yang tadi ngobrol tiba-tiba secara otomatis menjadi diam dan mengambil posisi sebagai siswa yang siap belajar. Yang sedang mesra berduaan di bangku belakang bersama pacarnya, kemudian si lelaki tiba-tiba kehilangan gandengannya.  Tahu-tahu sudah ada di bangku depan. Sedangkan siswa-siswa yang pendiam kayak saya, dari tadi tidak berubah keadaannya. Tetap diam. Semua, seisi, segenap kelas, seluruhnya kemudian diam. Selalu seperti ini. Sungguh percampuran kondisi yang mengagumkan sekaligus mengerikan.

Dengan penggaris kayu yang panjangnya 1 meter, beliau meletakkannya di atas meja. Siswa menelan ludah, dan jakunnya bergerak ke atas sebagai ekspresi pendukung. Suasana yang tidak menyenangkan. Kemudian beliau membuka buku dan menyuruh siswa-siswa untuk membuka halaman materi tentang bangun ruang. Sebuah pelajaran yang sudah kami bayangkan, dengan penggaris 1 meter itu Pak Tatang kemudian menghadap papan tulis, goresan kapur putih mengikuti batas garis dari penggaris kayu yang ditempelkan di permukaan papan tulis. Kemudian dimiringkan penggarisnya, dimiringkan lagi, kemudian dibalikkan arah penggarisnya, kemudian dimirngkan lagi, kapur terus mengikuti setiap gerakan si penggaris itu. Kami semua diam, bukan terkesima dengan apa yang akan Pak Tatang gambarkan. Tapi kami was-was jika harus menjawab soal ke depan. Tidak ada dari kami yang bisa. Hanya ada satu dua yang bisa, dan itu pasti dua orang yang lebih baik dari kami semua. “Coba hitung volume dari bangun ruang ini”, nadanya tidak keras, tapi soal sederhana seperti itu tidak bisa kami kuasai. Kami telah terbodohkan oleh rasa ketidakpercayaan kami. Kami telah takut akan ketidaktahuan kami. Ya, ditambah bapaknya juga tidak menunjukkan ekspresi wajah yang bersahabat.

Waktu sudah berlalu, 20 menit. Tidak ada yang ke depan. Sungguh Kawan, kondisi yang mengerikan, bagi kami dan juga nasib pendidikan di negeri ini. Kami berdiam seisi kelas dalam waktu yang lama. Tidak ada yang berani maju ke depan untuk menjawab soal hitungan volume bangun kubus itu. Padahal sangat sederhana bukan. Tapi, begitulah kondisi sekolah kami, siswa-siswa kami bukan anak-anak yang pintar dan rajin. Kami lebih senang untuk terus bermain saja atau membantu orangtua di rumah untuk bekerja meladang dan sebagainya. Jika bukan karena orangtua-orangtua kami yang menyuruh kami sekolah, kami tidak akan mengalami hal yang membisu seperti ini. Iya, mau dikata apa. Kami tidak mengerti. Bahkan untuk kemudian, Pak Tatang mengerjakan soal itu sendiri dan menerangkan sekilas kepada kami, kemudian dia membuat soal lagi dan menyuruh untuk mengerjakan di depan, tetap seisi kelas diam. Ada yang hanya terpaku melihat ke depan, melihat bangun ruang yang digambar Pak Tatang. Mereka ini adalah kelompok yang berusaha untuk memahami materi, sampai-sampai jumlah kedipan matanya sangat minimalis selama jangka waktu itu. Ada yang menatap ke bawah, menatap meja-meja kelas yang tercoret tak karuan oleh pulpen, spidol, tipe-x, pensil, bertuliskan kata-kata gombal, Sastro love Mahmud muach atau kalimat-kalimat tak jelas dari nama-nama geng. Mereka ini hanya sampai kuat melihat sampai kaki Pak Tatang saja. Takut ditunjuk buat maju, terus ga bisa, dan diam seribu bahasa, membelakangi kami, sambil pegang kapur menunggu bel jam pelajaran berdering.

Ya, pada akhirnya, semua soal yang ditulis Pak Tatang di depan, dikerjakan oleh beliau sendiri dengan penjelasan singkat kepada kami. Jangan sangka kami paham jika sudah dijelaskan berkali-kali, terus saja lupa. Hanya satu dua yang paham di antara kami.

Bel yang ditungu-tunggu kami akhirnya berdering. Pelajaran matematika berakhir. Kami semua dalam hati merasa lega karena bebas dari penderitaan selama 2 jam ini. Tapi kami tak ada yang berani bersorak ria atau melepaskan ketegangan tubuh yang kami rasakan. Jika hanya Pak Tatang sudah keluar pintu dan dipastikan tidak ada yang tertinggal, kami seketika riuh seisi kelas. Ada yang wajahnya seakan terlihat baru sembuh dari sakit berkepanjangan, ada yang langsung terkulai lemas kemudian tidur, dan anak-anak di bangku belakang langsung kumpul-kumpul dan tertawa cekikikan.

Kondisi ini harus dirubah, harus direvolusi, dan anak-anak Golden Boys (GB) selalu menyajikan isu ini di bawah pohon, membuat sebuah to do list agar kami bisa merubah keadaan sekaligus merubah nasib pendidikan di sekolah kami.

Continued to Kolase  3

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s