Kolase 3: Sekolah

Nama sekolah kami SMP PGRI Ciasmara. Menurut guru bahasa inggris kami, ini satu-satunya sekolah SMP yang ada di Desa Ciasmara. Biar agak gaul dikit di perhelatan para narsiser sekecamatan, kami punya nama khusus untuk Ciasmara dan ini mencakup jenjang sekolah sampai SMA. Namanya Whello, saya tidak tahu siapa pendiri dan penyebar nama ini. Waktu masuk SMP, nama ini sudah dikenal di kalangan anak-anak SMP melalui jalur non formal kurikulum tentunya. Termasuk menjadi bahan obrolan di bawah pohon oleh anak-anak. Sederhana sekali, Ciasmara diinggriskan menjadi water love tinggal disingkat saja, kemudian mengalami perubahan pengucapan dan penulisan menjadi Whello. Saya yakin tentu pendirinya lebih fasih bahasa inggrisnya.

Nama Whello ini bukan merupakan identitas resmi sekolahan SMP dan SMA di desa kami. Nama ini semacam identitas gaul untuk bergaul di dunia sekolahan antardesa bahkan lintas kecamatan sampai ke Leuwiliang, tempat sekolah-sekolah terbaik yang ada di bagian barat Kabupaten Bogor. Tapi naas pada kenyataannya, sekolah kami tidak seperti sekolah-sekolah terbaik itu, siswa-siswanya lebih banyak main-main, motor-motoran, kadang tawuran di kecamatan sendiri dengan anak-anak dari sekolah desa lain. Bahkan ada yang sempat tewas mengenaskan. Setelah diusut, ini hanya perbuatan oknum yang memang sudah keterlaluan. Oknum dari si siswa sendiri. Saya tidak tahu kelanjutan ceritanya para pelaku tersebut bagaimana. Yang jelas para Golden Boys (GB) bertekad untuk merubah nasib pendidikan di sekolah kami.

Hanya sedikit siswa di sekolah yang paham mengenai pelajaran matematika dan sains. Orangtua zaman dulu selalu bilang, hanya orang yang pintar saja yang bisa memahami pelajaran-pelajaran tersebut. Dengan mengandalkan keanggotaan GB, saya mendapat akses lebih untuk belajar dari dua orang andalan kami di organisasi, sebut saja Fikri dan Iroy. Mereka berdua adalah dua orang terbaik yang kami miliki di kelas satu angkatan. Mereka mungkin tidak sehebat anak-anak di Leuwiliang tapi setidaknya lebih baik dari kami. Pelajaran matematika oleh Pak Tatang perlahan dimengerti oleh siswa-siswa lain. Iroy dan Fikri selalu menjadi langganan mengerjakan soal di depan, terkadang siswa lain juga mulai bisa mengerjakan setelah sebelumnya belajar berkelompok yang dipandu oleh mereka berdua. Saya yakin dalam hati, Pak Tatang mengalami kegembiraan yang mengharukan, meskipun tidak diperlihatkan oleh ekspresi wajah beliau.

Pelajaran sains seperti Fisika termasuk yang mungkin lebih susah dari matematika bagi kami semua. Tetapi tidak banyak angka-angka, lebih banyak definisi dan rumus-rumus sederhana yang masih bisa kami cerna sedikit-sedikit. Pelajaran ini juga diampu oleh guru kami dengan senyuman khasnya. Selalu ketika mengajar, berdiri tegap, wajahnya cerah, senyum mengembang disertai kumisnya yang juga terangkat, mirip Pak Raden dalam serial Unyil. Sesekali beliau selipi dengan hikmah-hikmah keagamaan. Kami menjadi lebih yakin setelah mengetahui, background beliau sebagai S.Ag. Alangkah indahnya dalam benak kami ketika sains harmonis dengan agama. Tidak banyak para pengajar yang  menyampaikan materi seperti ini. Fisika menjadi salahsatu dari sekian pelajaran favorit bagi kami. Sampai-sampai, lahirlah kejeniusan salahseorang siswa yang mampu menciptakan bom. Bom yang untuk ukuran otak kami saat itu, sebuah penemuan yang luar biasa dan kami memanggilnya anak yang jenius. Bom ini bukan bom untuk meruntuhkan sebuah kota seperti Nagasaki dan Hiroshima, tapi bom yang mampu memekakan telinga dan menjadi hiburan langka bagi kami. Yang jelas, guru fisika kami tidak tahu, karena kalau ketahuan mungkin hak paten si jenius ini tidak bisa berkembang. Bahannya sangat simpel, botol kecil bekas obat-obatan yang berbentuk kaca, kemudian disumbat oleh gabus dan filter kuning rokok, dihubungkan oleh kawat tembaga yang dipasang pada suatu rangkaian sumber listrik, satu buah baterai bekas. Isinya entah apa yang dia masukkan, kami telah terpukau oleh kejeniusan teman kami ini. Kami sering menonton mahakaryanya ini di sungai-sungai di balik-balik bebatuan. Suaranya menggelegar mengalahkan kesunyian dan derasnya air sungai. Dia telah berhasil memahami materi fisika sampai tingkat pengaplikasian. Melebihi pemahaman dari siswa-siswa lain, itulah sebabnya dia memang jenius.

Sekolah kami sangat indah Kawan-kawan. Pemandangannya khas pedesaan. Sekolah kami ada di dekat pesawahan luas milik para petani. Jadi, jika kami pergi ke belakang sekolah, tempat berkumpulnya anak-anak di dekat WC, itu yang terhampar adalah tanaman-tanaman hijau luas, yang saat mencapai musim panen, kuningnya berisi oleh bulir padi. Pegunungan yang membiru terlihat di ujung horizon sawah, ditambah beberapa spot yang dipenuhi oleh rumah-rumah penduduk dengan genteng berwarna orange. Gunung Salak, ada di sebelah timur. Terbitnya matahari di balik gunung itu, sebuah pemandangan indah. Gunung, matahari, awan, burung-burung, sawah, jalan, kemudian kita lukiskan sekolah. Ya, lukisan yang hampir semua anak pernah meggambarnya. Kami sadar bahwa daerah kami sangat subur. Para petani selain menanam padi juga menanam banyak jenis-jenis sayuran. Bahkan, hal itu menjadi suatu keasyikan sendiri bagi kami ketika guru Biologi memberi tugas untuk menanam pohon. Ya, suatu kebanggaan dan kegembiraan. Bagaimana kami bisa belajar kearifan orangtua-orangtua kami untuk menanam, menyiram, dan kemudian memanen hasil. Tugas Biologi itu  pada akhirnya tumbuh sebagai tanaman-tanaman hijau yang menghiasi pekarangan sekolah. Berbagai jenis, ada pohon singkong, bunga matahari, mangga, rumput-rumputan, cabe-cabean. Tambah asrilah suasana belajar yang kami rasakan.

Continued to Kolase 4

painting-school-illustrator-11130

id.gofreedownload.net

 

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s