Sepak Bola

Sejauh yang saya pahami, sepak bola memberi banyak pelajaran, kalau tidak bisa disebut sebagai hikmah. Saat ini, dunia ramai dengan kabar Euro 2016, setidaknya kegagalan Inggris disebut dengan Brexit 2.0, kabar lain seperti Italia dengan Antonio Conte-nya mampu bungkam juara bertahan, Spanyol.  Di luar semua itu, gelaran Copa America tidak memberikan sorotan yang terlalu dalam terhadap Chile, sang juara. Tetapi yang mencuat ke permukaan adalah tentang Messi.

images

espnfc.com

Saya merupakan pelaku sepak bola tingkat lokal, tingkat kelompok, di kampung, sekolah, dan rekan-rekan ketika di Bandung. Ketika di kampung, saya bersama teman-teman sebaya bermain di sawah milik orang yang sudah dipanen. Tantangannya adalah kami harus siap kabur jika pemilik sawah tahu kami bermain di sawahnya karena si pemilik akan susah untuk membajak sawah yang sudah terpadatkan akibat ribuan langkah yang membekas selama kami bermain. Di luar itu, kami anak kampung merasakan kebahagiaan sebagai seorang anak-anak dalam bermain. Sepak bola merupakan permainan yang sangat menyenangkan bagi kami, tidak peduli dimarahi pemilik sawah, tidak peduli kami menerjang sisa-sisa batang padi dengan kaki telanjang, dan tidak peduli cedera kaki yang muncul akibat tekel-tekel liar yang ajaibnya hanya bisa sembuh kalau kami bermain lagi keesokan harinya.

Masuk ke SMA, tidak ada sepak bola, tapi bentuk lain sebagai futsal. Di sini, saya bersama teman-teman sekolah bermain dalam ruang yang lebih sempit, mengutamakan kerja sama atau teknikal dari seorang pemain. Saya pernah ikut kompetisi ketika menjelang liburan dan sempat menyarangkan sebuah gol melawan kakak tingkat di bawah tekanan permainan yang tinggi. Kartu kuning pun saya dapat. Di sana saya mendapat arti bahwa perlu kerja sama yang baik dengan rekan setim.

Masuk kuliah di Bandung, tetap sepak bola futsal menjadi hobi karena banyak rekan-rekan yang bisa diajak dan juga wadah mengisi waktu luang. Di sini saya melihat bahwa sepak bola membuat individu berkreasi dengan baik, permainan kelompok, dan sekaliber bakat yang memang dimiliki oleh sedikit orang.

Saat di kampung, kami mendukung tim desa saat perlombaan 17 Agustus, sensasi menjadi penonton begitu histeris karena ada rasa bangga yang menyeruak saat tim kesayangan menang. Sebaliknya, saat kalah, kekecewaan menjadi hal yang lumrah. Masuk SMA dan kuliah, saya mulai menggemari tim-tim dari luar negeri dan tim daerah. Termasuk juga, tim-tim negara Eropa saat ada Liga Champions atau kompetisi domestik. Piala Dunia adalah sebuah kulminasi dari keseruan masyarakat dunia terhadap pertunjukan terakbar di bidang olahraga.

Kembali ke Messi. Berita yang ramai saat ini adalah keputusannya untuk pensiun dari Timnas Argentina sesaat setelah Albeceleste menyerah dari Chile, Menurut saya, yang membuat menarik adalah dukungan dari negara Argentina agar Messi membatalkan keputusannya itu. Mulai dari seorang guru yang menulis secarik kertas mengharukan untuk Messi, para legenda seperti Kempes dan Maradona, suporter yang mau berunjuk rasa meminta Messi mengurungkan pensiunnya, hingga seorang Presiden Argentina pun memohon Messi untuk terus berjuang di timnas. Kita semua sudah mafhum, Messi adalah pemain terbaik dunia, mungkin saja tidak ada pemain yang bisa meraih Balon d’Or selama 5 kali di masa mendatang, bakat Messi dalam bermain sepak bola sungguh mengagumkan tentu dengan usaha dan latihan yang tetap dijalankan.

Messi adalah sedikit dari pemain yang punya kemampuan luar biasa dalam sepakbola, setidaknya yang mencuat di permukaan dan diketahui oleh masyarakat dunia. Gelar-gelar bersama Barcelona sudah terlampau banyak, penghargaan individu sudah sering didapatkan, rekor-rekor prestisius terpecahkan, dan kecintaan publik terhadap dirinya juga sangat besar, terutama dari negaranya sendiri. Yang menarik lainnya adalah Messi belum mampu mempersembahkan gelar untuk negaranya di final yang berlangsung selama 4 kali, Copa America 2007, 2015, dan 2016, serta Piala Dunia 2014. Messi bermain dengan baik dan rekan-rekan setimnya adalah sekumpulan pemain-pemain terbaik yang mendukung Messi. Di luar penaltinya yang gagal saat adu tos-tosan lawan Chile kemarin, wajar jika Messi berujar kepada media, ini bukan untukku, sudah empat final. Karena seorang Messi adalah manusia biasa. Dia berpikir sesuai sifat sebagai  seorang manusia biasa, yang merasakan bahwa memang jalannya cerita dia di sepak bola seperti ini, terutama karirnya di Timnas. Jika saya boleh berpendapat, mungkin Messi berpikir takdir sepak bola baginya adalah tidak memenangkan gelar bersama timnas.

Di luar semua itu, Messi tetaplah pemain terbaik dunia yang akan dikenang dalam sejarah persepak bolaan oleh masyarakat dunia, teutama oleh Argentina. Bahkan karirnya di timnas bisa saja terus berlanjut dan pada akhirnya, dia memenangkan gelar bersama Argentina. Sebuah cerita yang saya rasa semua orang ingin kisah manis bersama timnas menutup kepensiunan Messi.

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s