Untuk Apa Kuliah

Kawan, saya pernah mendengar sebuah ungkapan. Untuk mengikat ilmu, tulislah. Saya mau cerita perjalanan saya kemarin.

Saya mendapat pembinaan dari beasiswa Chevron-Dompet Dhuafa (DD) semenjak S1 dan sekarang menjadi alumni DD. Banyak proyek sosial yang dilakukan di daerah sebagai bentuk manfaat dari value yang ditanamkan kepada para penerima manfaat. Di Sukabumi, kami kemarin ada acara santunan kepada anak yatim juga kepada yang tidak mampu, berkolaborasi dengan rekan-rekan dari Scoopa. Acara berjalan meriah karena dihadiri banyak masyarakat selain anak-anak, juga menampilkan pentas seni termasuk ada lomba-lomba lainnya.

berapa-biaya-kuliah-di-korea-9kueB3GqVm

news.okezone.com

Kami para alumni dan penerima manfaat berkumpul untuk bersilaturahim karena beberapa, terutama alumni baru bisa bertemu kembali. Banyak kabar-kabar baru. Rata-rata untuk para penerima manfaat, mereka sedang menuju tugas akhir dan setelah lulus akan mengalami masa kegalauan dalam mencari minat sesungguhnya. Untuk alumni, ada yang sudah bekerja dan ada yang sedang meneruskan S2. Selaku dari pihak DD, Mas Hassan memberikan materi pembinaan kepada penerima manfaat serta saran-saran kepada alumni.

Di sinilah kawan, saya menuliskan kembali tentang ilmu itu.

Banyak pengangguran berijazah di Indonesia. Tujuan ketika kuliah, mungkin ada yang ingin agar bisa bekerja di perusahaan besar, ingin lanjut terus ke jenjang pendidikan tertinggi, atau bekal menjadi wirausahawan. Banyak yang memutuskan untuk tidak menganggur kemudian mengambil S2 dan setelah lulus tidak tahu mau apa, pun jika mereka diterima bekerja, perusahaan menilai sama antara lulusan sarjana dan magister. Saya dan teman-teman saya termasuk yang merasakan masa pengangguran setelah menyandang gelar sarjana. Rasanya tidak menyenangkan. Awal-awal seakan kita bisa rehat sebentar dari kepenatan dunia kampus. Setelah itu, ada rasa bosan kemudian menjadi galau yang menyiksa diri. Masa depan tidak jelas. Ya, kondisi di negara kita memang sedang susah.

Mas Hassan menuturkan, lebih baik bekerja dulu bagi yang sudah lulus sarjana untuk mendapatkan pengalaman bekerja dan merasakan bagaimana kondisi sebagai seorang karyawan di perusahaan sekaligus mengaplikasikan ilmu-ilmu yang sudah kita pelajari di kampus. Jika kita memilih jalur profesional, kebutuhan S2 dan jenjang yang lebih tinggi itu untuk memenuhi kebutuhan yang disyaratkan dalam menunjang profesi.

Kasus untuk dosen, bisa langsung ambil S2 setelah lulus atau bahkan sekarang ada Program Menuju Doktor Sarjana Unggulan (PMDSU), jika belum menikah, melajulah secepat mungkin karena itu peluang terbaik kita.

Untuk menjadi seorang wirausahawan setelah lulus sarjana, kita harus siap dengan tren pengusaha yang akan menemui titik terendah pada masa-masa awal usaha. Kita harus punya mental baja untuk lolos dari lembah penderitaan itu untuk melesat selanjutnya. Mas Hassan mengambil sejumlah angka, dari 100 bisnis start up di negara ini, setelah usaha berjalan selama rentang 5-10 tahun, hanya 5 yang bisa bertahan dan berkembang. Untuk menjadi seorang pengusaha butuh lebih dari sekadar ilmu.

Jika kita ingin mengakselerasi kesuksesan pada suatu bidang, kita perlu panutan atau mentor. Misal kita ingin menjadi dosen, kita bisa melihat bagaimana dosen kita menggapai kesuksesannya, jadikan dosen kita sebagai pembimbing, maka kita akan menemukan pola tertentu menuju kesuksesan. Ya, sukses atau gagal ada polanya. Sekali kita tahu polanya, di sanalah kesempatan terbaik untuk mengakselerasi diri menggapai kesuksesan kita. Hal ini berlaku juga jika kita ingin menjadi profesional atau seorang wirausahawan, pastikan diri kita punya panutan atau mentor, temukan pola kesuksesan mereka, terapkan, dan bersiaplah untuk berakselerasi menuju puncak yang kita inginkan.

Mas Hassan menyarankan untuk gerakan sosial di daerah sebagai bentuk kontribusi, tidak harus diarahkan kepada hal tentang mengajar. Tidak semua orang dengan latarbelakang berbeda bisa mengajar. Seperti yang dilakukan pada ilmuberbagi yang mendapatkan penghargaan dari Kick Andy. Kontribusi di dalam ilmuberbagi, tidak memaksakan orang yang terlibat untuk dijadikan relawan mengajar, tetapi yang penting adalah menempatkan potensi yang dimiliki oleh setiap orang yang berbeda latar belakang itu pada posisi yang sesuai yang tetap berdampak besar terhadap perkembangan kegiatan yang dilakukan. Mas Hassan mencontohkan, ada yang tidak punya bakat apapun terhadap bentuk kontribusi di ilmuberbagi, tetapi punya waktu untuk hanya sekadar mengantarkan media-media publikasi acara, sehingga orang tersebut hanya bertugas tentang itu. Termasuk untuk alumni DD disarankan untuk berfokus pada pemanfaatan kapasitas yang dimiliki individu dengan latar belakang jurusan berbeda pada tempatnya masing-masing yang bermanfaat terhadap gerakan sosial.

Di luar itu, kami bercerita yang lain. Termasuk saat saya mengeruk pelajaran dari alumni yang lain. Bahwa dia pernah menyimpan mimpinya untuk kuliah selama 2 tahun karena tidak punya biaya dan kondisi ekonomi keluarga yang tidak mendukung. Dia akhirnya kerja di sejenis pabrik selama 2 tahun. Dia tidak menghapus mimpinya untuk kuliah, tetapi menyimpannya. Saat ada kesempatan, dia akhirnya bisa kuliah dan menjadi bagian dari penerima manfaat DD. Pelajaran yang berarti bagi kita, bahwa mimpi tidak harus dikejar sekarang jika kondisi tidak memungkinkan, kita bisa menunggu saat yang tepat untuk mewujudkan impian yang telah dipersiapkan dengan matang. Bukan menghapusnya tapi menyimpannya sementara waktu.

temu alumni 3 juli 2016

Temu penerima manfaat dan alumni Chevron-Dompet Dhuafa di Kalapanunggal, 3 Juli 2016. 

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s