Timau, Kupang – NTT: Sebuah Catatan Perjalanan Selama 11 Hari Bagian 1

Hari ke-1

Pesawat akan take off. Menuju Pulau Timor dari Bandung. Untuk pertama kalinya saya menuju ke pulau yang menjadi milik dua negara. Kabarnya daerah rencana observatorium nasional itu sedingin Lembang nya Bandung. Pukul 6 dini hari, pesawat nampak akan segera meninggalkan landasan. Ternyata kami digiring lagi ke ruang tunggu karena kabut membuat jarak pandang yang dekat sehingga pesawat terpaksa bertahan lebih lama 1 jam.

Setelahnya, semua berjalan lancar. Kabut perlahan menghilang diusir terpaan sinar mentari pagi. Semua sudah siap dan sesaat kemudian suara mesin yang cukup keras mengguncang tubuh penumpang dan membawa lepas ke udara. Kabut masih menutupi sebagian tempat di Kota Bandung. Sejam kemudian, akan transit dulu di Surabaya. Waktu yang cukup untuk sekadar melepas kantuk sisa tidur semalam.

Di Surabaya, sejam waktu tunggu hanya melamun melihat beberapa pesawat yang lalu lalang landing dan takeoff sembari membayangkan suasana Timau di Pulau Timor. Tentang kondisi geologinya dan tentang bentangan langit yang baik untuk pengamatan bintang maupun objek astronomis lainnya. Kami masuk ke pesawat yang siap menuju Bandara El Tari, Kupang.

Setelah landing dengan selamat, kami kontak dosen Undana, Pak Nidas dan segera meluncur ke rumah Lapan. Ada seorang anak muda menyambut kami dan memperkenalkan diri sebagai adiknya Pak Umbu. Setelah menyelesaikan biaya taksi kepada seorang pengemudi berbadan kekar dan bertato, kami masuk dan melepas lelah. Beberapa percakapan tentang Kupang terjadi. Setelahnya Pak Umbu datang dan bercerita lebih banyak, termasuk minatnya yang besar terhadap keilmuan geologi dengan background fisika. Tentang pengalaman melakukan survei menggunakan alat-alat geofisika dan keinginannya untuk belajar banyak mengenai ilmu geologi karena baginya sangat menarik.

Kedatangan Pak Nidas menambah hangat suasana malam di Kupang. Sepertinya tidak salah, semua suku di negeri ini memiliki daya humor. Saya beberapa kali tersenyum dan tertawa mendengar cerita-cerita yang mengalir dari pengalaman-pengalaman Pak Nidas. Tentang tempat khusus bunuh diri di Kupang pada sebuah jembatan, akibat masalah percintaan. Tentang kejadian tidak jadi nonton bioskop karena kebakaran satu kawasan. Baik Pak Umbu maupun Pak Nidas menunjukkan suatu sambutan yang hangat terhadap kami. Selebihnya malam itu kami merencanakan agenda selama 10 hari ke depan.

Lanjut Hari ke-2

Pagi menjelang. Suasana di Jalan Tidar ini begitu cerah, mungkin keseluruhan Pulau Timor juga demikian. Hari ini kami akan ke Science Centre. Pak Umbu mengantar kami ke sana. Jalanan cukup lengang. Pantai di sebelah utara nampak bisa terlihat dari kejauhan. Langit biru tanpa awan. Matahari bersinar dengan tenang. Kami singgah terlebih dahulu ke kampus Undana. Bertemu dengan Pak Nidas dan Husni di gedung fisika. Kampus di sini gedungnya saling dibatasi oleh pohon-pohon, nampak suasana yang lebih sejuk dibandingkan tempat lain, meskipun sebenarnya tetap kering. Mahasiswa-mahasiswa baru sedang asyik berkumpul. Mereka sedang mengurus pendaftaran masuk universitas.

Sesampainya di Science Centre, jalanan yang kami lewati adalah pecahan batuan yang diratakan yang telah tergerus oleh ban-ban kendaraan. Dari sini, kemungkinan lokasi Science Centre berlitologi batugamping. Kami semua turun dan melihat-lihat bongkahan batugamping di lokasi, kemudian pergi ke sebuah lereng yang menyingkapkan batugamping koral yang telah terhampar lengkap dengan tanah pelapukan dan tanaman-tanaman kecil yang tumbuh di atasnya. Di bawahnya, sebuah lembah memanjang lurus ke arah selatan. Pak Umbu bilang, kelurusan itu menerus hingga Bendungan Tilong. Beberapa jepretan kami ambil, terutama yang bersifat geologis. Cuaca semakin cerah dan panas. Kami naik mobil kembali dan mengitari kawasan calon Science Centre. Plang bertuliskan tanah milik pemerintah terpampang di bagian ujung batas lokasi.

Kawasan ini banyak ditumbuhi oleh rumput-rumput dan pohon-pohon kecil. Beberapa singkapan tanah memperlihatkan warna coklat cerah yang sesekali ditemukan sapi di sampingnya. Pohon aren di pinggir jalan menghiasi pemandangan. Beberapa ditebang, mungkin untuk dimanfaatkan hasilnya. Bisa untuk gula, atau buah yang dimakan. Kami melaju ke arah Bendungan Tilong.

Memasuki Bendungan Tilong, sungai kering. Kami melewati jalan yang di ujungnya terpampang tulisan besar Bendungan Tilong. Sebuah batas gelap dan putih pada bagian rockfill sepertinya menjadi tanda pembatas luapan maksimum air yang ditampung dalam bendungan. Sekarang sedang drop karena musim kemarau. Singkapan batugamping koral dan klastik tersingkap di pinggir jalan bendungan setelah kami melewati plang besar. Beberapa muda mudi asyik mengatur gaya untuk dipotret. Kami juga tak mau kalah. Kami berfoto bersama di spot-spot yang menarik.

Setelahnya, kami pulang menuju pusat perbelanjaan di Kupang. Kami harus mempersiapkan bahan-bahan survival selama di lapangan nanti. Jarak menuju Timau memang jauh, perjalanan dengan mobil bisa mencapai lima jam. Kami juga sempat melihat tempat bioskop yang pernah diceritakan adanya kebakaran di kawasan itu. Kemudian, setelah selesai berbelanja, kami singgah di tempat makan Jawa. Ada beragam macam menu. Saya mencoba sambal khas Kupang dan sambal teri, juga ayam bakarnya. Kemudian pulang ke tempat kami menginap, Rumah Lapan.DSC05174

Lanjut Hari ke-3

Setelah berbelanja bahan survival untuk di lapangan nanti, kami kembali ke Rumah Lapan dan bersiap-siap packing barang untuk perjalanan besok pagi. Malamnya datang Pak Chio dan Pak Nur untuk mengurus administrasi. Pagi menjelang diiringi dengan kedatangan Pak Nidas.

Mobil di Kupang disebut oto. Oto yang kami tumpangi sengaja turun dari Fatumonas ke arah Kupang atas perintah Bapak Camat. Setelah menaruh semua barang di bagian belakang mobil, lengkap dengan persediaan bahan makanan dan dua galon air minum, kami berangkat dalam kondisi cuaca yang sangat cerah seperti biasanya. Pak Umbu bilang sudah hampir 2 pekan tidak turun hujan.

Perjalanan akan memakan waktu sekitar 4-5 jam dan melewati jalan Timor Raya untuk kemudian berbelok ke arah utara menuju Kecamatan Amfoang. Di oto ini ada saya, Pak Nidas, Indra, Husni, Chyko, dan Pace serta kernetnya. Sepanjang perjalanan saya mengamati kondisi yang gersang. Baik sungai-sungai maupun pohon-pohon di pinggir jalan berdebu. Sedikit air yang terendam dalam endapan aluvial muda. Jalanan berbatu membuat suasana di dalam oto begitu menghibur. Hal ini juga diperindah dengan suasana perumahan warga yang beberapa terbuat dari dinding bambu dan atap dari daun-daun coklat.

Beberapa kali kami melihat anak-anak SD berlarian mengejar oto dan ada juga yang masih meneruskan perjalanan kakinya. Saya teringat dulu ketika di kampung, teman-teman dari kaki Gunung Kasur menempuh jalan hingga 7 km untuk pergi sekolah. Melihat anak-anak SD itu, sepertinya mereka menempuh jarak yang jauh dalam kondisi jalanan yang berbatu dan berdebu.

Seorang anak SD berwajah manis dan temannya yang juga anak SD naik ke oto setelah dibantu Husni dan Chyko. Beberapa percakapan singkat dengan kosa kata Kupang terlontar dari anak SD tersebut. Ternyata benar, dua anak SD ini baru turun setelah kami menempuh jarak yang cukup jauh. Kami mengangkat tangan tanda sampai berjumpa kembali.

Perjalanan berlanjut hingga memasuki kawasan Amfoang. Yang kami tuju adalah Amfoang Tengah di Desa Fatumonas. Beberapa puluh menit menjelang sampai di desa itu, kami melihat banyak sekali gejala creeping dalam tanah rumput yang di beberapa titik berkumpul sapi-sapi dan kadang kuda-kuda. Bergelombangnya bukit di seberang sana menambah kelapangan suasana pemandangan. Oto terus melaju di atas jalan lurus berbatu menuju Fatumonas.

Sesampainya di sana, kami disambut oleh Bapak Tani dengan ucapan selamat sore bapak. Kemudian kami menghirup udara segar nan alami dari sana. Sebuah danau kecil berada di sebelah barat kantor kecamatan dengan pohon-pohon berbenalu yang tumbuh jarang di pinggir-pinggirnya. Matahari sudah hampir mau tenggelam. Berduyun-duyun datang orang-orang dari kecamatan. Satu kesan yang paling saya kagumi adalah mereka sangat ramah dan perhatian terhadap orang lain. Seperti juga Pak Nidas, benar adanya orang-orang di Kupang suka bercerita yang menghibur sekaligus mengundang decak tawa.

Malam itu kami semua menginap di rumah camat. Sebelum tidur, kami makan malam bersama dengan sajian sayur dan ayam goreng yang dicincang kecil-kecil ditambah garam dan cabai lombok. Udara benar-benar segar, dingin, dan manis seperti mereguk madu.DSC05192

Lanjut Hari ke-4

Jelang hari ke empat di Kupang, tepatnya Desa Fatumonas, kami sempat ketemu dengan guru-guru SM3T yang berasal dari berbagai kampus yang diutus Dikti untuk mengajar di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal. Mereka sudah satu tahun rela mengajar anak-anak di desa ini demi pendidikan yang lebih baik bagi desa-desa tersebut.

Pagi menjelang, kami mempersiapkan peralatan dan barang-barang untuk melapang di hari pertama. Ternyata informasi dari Pak Sekretaris Camat bahwa jalan menuju Timau, calon lokasi Observatorium Nasional berupa jalan naik turun dan berbatu yang sangat sulit ditempuh oleh kendaraan bermotor. Akhirnya kami menggunakan jasa oto (mobil) khusus hari itu, ditambah memang barang yang kami bawa cukup banyak. Untuk mengambil sampel saja, kami bawa sample box, plastic wrap, aluminium foil, dan bubble wrap, serta lakban belum ditambah peralatan lainnya. Akhirnya kami ramai-ramai dengan orang kecamatan pergi menuju Timau. Tak lebih dari 10 orang berada di dalam oto. Sekali lagi cuaca sangat cerah. Waktu itu sudah jam 9 pagi. Oto lalu berjalan, selintas saya melihat keindahan tersembunyi dari Fatumonas. Bangunan rumah dengan bentangan alam langit biru, yang memiliki danau kecil di sekitarnya, pohon-pohon dan udara yang segar juga angin yang cukup kencang.

Benar adanya, jalanan menuju Timau berbatu dan ada lubang di beberapa titik. Kami beberapa kali berpegangan pada besi yang berada di atap oto untuk mencegah tubuh kami terbanting-banting. Satu yang sering terjadi adalah, warga di sini selalu menyapa ramah siapa pun. Jika bertemu, supir menekan klakson dan kami mengangkat tangan disertai angkatan tangan tanda sapa dari warga di jalan.

Sesampainya di Timau, saya terpesona oleh kemegahan calon lokasi Observatorium Nasional ini. Gunung Timau begitu namanya tegap berdiri di sebelah utara jalan. Jalan seperti hilang ditelan rimbunan pohon di kaki gunung itu. Gunung-gunung di sebelah timur seperti terlipat-lipat dalam kejauhan pandangan. Padang rumput yang jarang-jarang tumbuh di atas tanah Timau. Kuda-kuda berlarian dalam kelompok. Kami menemukan satu lokasi longsor.

Kami dibagi dua tim, ada yang mengambil sampel dan ada yang mapping. Pengambilan sampel berada di sekitar lokasi longsor. Saya pergi ke tempat lain yang masih dalam peta lapangan dan melakukan observasi geologi. Sebuah erosi bertipe parit saya temukan, menyingkapkan sebuah formasi khas, yaitu Bobonaro Clay dengan kenampakan bersisik. Diselingi oleh batugamping klastik, kadang ditemukan juga litologi tuf. Bongkah-bongkah batugamping klastik berukuran bongkah seperti bermunculan acak begitu saja akibat erosi ini. Tak lupa saya merekam semua data itu dan mendokumentasikannya. Lanjut ke lokasi lain. Mapping terus berlanjut. Hingga waktu sudah menunjukkan pukul 13 kami harus segera turun ke Fatumonas. Saat itu saya telah asyik mengamati sebuah singkapan batulempung dengan kekar yang intensif. Berbeda dengan kenampakan bersisik dari singkapan di lokasi pertama, lempung ini sedikit karbonatan.

Kami pulang. Satu sampel didapat berbentuk box dan mapping belum terlalu banyak lintasan yang dilalui. Masih ada hari esok. Sembari perjalanan pulang. Beberapa dari kami asyik dalam obrolan yang menghibur ditemani guncangan oto yang beradu kuat dengan jalanan yang berbatu dan berlubang. Untung waktu itu musim kemarau. Jika musim hujan, kami harus rela untuk mendorong bahkan menarik oto yang pasti beratnya sangat berat. Sesampainya di Fatumonas, kembali angin yang membawa kedinginan menyejukkan kelelahan kami.P_20160727_115738

Lanjut hari ke-5

Camp Timau

Tak terasa sudah hari kelima. Semalam Bapak Camat baru kembali lagi ke Fatumonas setelah ada acara di Kupang. Berita ini begitu menggembirakan bagi kami karena kami tidak perlu susah-susah mencari oto sekaligus meminta izin ke Pak Camat untuk membuat camp di Timau.

Saat matahari mulai muncul dari balik gunung di sebelah timur Fatumonas, angin kembali dengan belaian kencangnya menyapa pagi. Udara dingin terus menghantam kulit. Pak Camat setuju kami untuk camp selama 4 malam rencananya, untuk pengambilan sampel dan mapping geologi teknik. Pak Tani, Pak Alvin, dan James ikut untuk membantu kami selama camp di lapangan. Karpet, spanduk, dan terpal kami bawa untuk menjaga dari kedinginan dan tempat istirahat di camp.

Setelah melewati medan bebatuan yang naik turun, kami sampai pada satu spot yang cocok untuk mendirikan camp. Tidak terlalu jauh dari mata air sungai dan dekat dengan jalan serta berada di bawah sebuah tebing rendah. Tempat yang strategis. Secepatnya kami menghabiskan sisa hari itu untuk sampling dan mapping serta sorenya mendirikan camp dan memasak. Ini akan menjadi malam pertama kami di Timau. Camp kami tidak masuk hutan tetapi suara-suara binatang malam masih dapat terdengar.

Sebuah pemandangan nan megah terjadi di langit. Ternyata tidak salah mengapa Timau dipilih sebagai calon lokasi Observatorium Nasional. Saya merasa senang bisa melihat secara langsung keindahan astronomis malam itu. Mungkin dari sekian tim yang terlibat dalam survey lapangan untuk pembuatan observatorium ini, hanya tim kami (survei geologi) dan tim astronomi yang bisa melihat keindahan galaksi dan berjuta-juta bintang di atas sana. Beberapa rasi bintang sangat mudah dikenali, meskipun kadang saya selalu susah untuk mengingatnya kembali. Husni menerangkan sebuah rasi berbentuk kalajengking dengan dua bintang yang bersinar terang dalam rasi tersebut.

Kami ditemani oleh hangatnya obrolan dan tidak membiarkan dingin dan angin menaklukkan kami meskipun pada akhirnya kami juga terlelap dalam dinginnya malam itu. Malam terasa damai dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, sampai datanglah kejadian di malam kedua kami di Timau besoknya.P_20160728_174915

Lanjut hari keenam

Jika ada malam yang tak terlupakan itu adalah malam kedua kami di Timau. Malam pertama seperti tidak ada apa-apa di tempat kami camp. Jika ada hal yang tidak diundang datang, itu terjadi malam kedua saat kami sedang asyik ngobrol dalam malam yang dingin. Langit tidak cerah seperti malam kemarin. Bintang-bintang meski tak bisa dihitung pasti, jumlahnya tak sebanyak yang terlihat malam sebelumnya.

Saya masih ingat saat bermalam 3 malam di hutan Ciletuh, tidak ada kejadian apa-apa. Hanya ledakan meriam di penghujung mapping yang membuat saya ketakutan karena TNI AL sedang latihan. Pun demikian saat saya TA dengan bermalam 4 malam di hutan Sumedang, juga tidak terjadi apa-apa. Hanya kilatan petir menjelang malam mampu membuat saya cemas sehingga berlarian melewati rumput-rumput liar pesawahan dan meninggalkan bekas luka sayatan yang perih di betis-betis kaki. Yang ganjil adalah saat saya naik Gunung Pangrango, Waktu itu saya melihat sosok berambut hitam panjang dengan kain putih menjuiur di belakang saya yang saat itu berposisi sebagai sweeper pendakian. Kami sedang tersesat dari perjalanan pulang jam 3 sore di salah satu lembah gunung.

Saat malam kedua di Timau itu, kami sedang memanaskan tubuh dengan api dan membahas topik ngalor ngidul. Mata-mata kami belum terlalu mengantuk untuk tidur. Dingin di sana memang dibarengi dengan hembusan angin yang cukup kencang. Gunung Timau di sebelah utara telah lama hilang ditelan jubah hitam sang malam. Kami sempat melihat video-video kontestan ajang menyanyi yang kami putar dengan suara keras. Yang lain sedang terlarut dalam obrolan Pak Alvin. Beberapa kali tawa-tawa keras kami memecah malam itu. Kami juga sempat mendiskusikan tentang cahaya sebagai materi dan gelombang, berkisah kemana-mana, tentang dimensi lain yang lebih tinggi dari dimensi manusia, tentang bagaimana jin mengatakan kepada Nabi Sulaiman bisa memindahkan bangunan secara cepat. Hingga bercerita tentang mimpi yang entah benar tidak adalah antara alam sadar dan alam bawah sadar, muncullah sebuah insiden yang mengejutkan.

Malam pecah oleh suara-suara aneh yang kami tebak datangnya dari arah mana. Ternyata dari arah atas. Suara-suara yang tidak sendirian, tetapi beramai-ramai seakan menyoraki kami dengan suara khasnya. Kami merinding dan beranjak dari tempat duduk untuk saling mendekatkan jarak. Pak Alvin melempar sebuah kayu berbara api ke sebuah pohon yang letaknya cukup jauh dari tempat camp, seketika suara dari pohon itu lenyap seiring bara api yang juga menghilang. Tetapi suara di pohon lain terus menggaung. Burung hantu kata Pak Alvin. Saya tidak bisa menghitung jumlah burung hantu yang bersuara. Seperti hantu, mereka tidak terlihat, akibat pekatnya malam dan berada di tempat tinggi dalam rimbunnya pohon-pohon. Hanya suara yang terdengar mengerikan dan mencoba meneror kami untuk gelisah. Suara mereka terdengar cukup lama, mungkin sekitar 5 menit. Saya sendiri merasa merinding. Pak Alvin mencoba menenangkan kami bahwa tidak terjadi apa-apa. Kami semua mengambil posisi duduk kembali dalam jarak yang saling berdekatan. Saya terus terbayang peristiwa barusan.

Kami semua seakan ragu untuk tidur di dalam tenda, lebih baik di luar dihangatkan api dan obrolan yang sebenarnya semakin terdengar sayup-sayup. Kami terlelap juga dalam tidur. Seorang dari kami bertutur ada seseorang atau tepatnya sesosok yang berkelebat melewati tenda kami sesaat sebelum dia tidur. Malam yang begitu menegangkan pada saat-saat tertentu itu tetap kami lewati dengan tidur bersama di tenda dalam kedinginan. Pak Alvin sempat melihat seekor anjing sedang meraih nasi dalam wadah sebelum pagi menjelang.DSCN4167

Lanjut hari ketujuh

Menuju Kepulangan

Kejadian semalam telah berlalu. Hari kembali datang. Setelah menunggu hampir 3 jam, Om Monti datang dengan oto yang akan menurunkan kami ke Fatumonas. Mapping dan sampling berakhir lebih cepat dari target. Setelah menempuh perjalanan berliku, kami tiba di kantor camat. Sebuah bus cukup besar telah terparkir. Kami kemudian berkenalan. Mereka adalah orang-orang dari Lapan dan Boscha yang datang dan pulang hari itu juga. Kami memutuskan untuk pulang ke Kupang besoknya saja.

Setelah melihat bus yang mengangkut mereka, termasuk di dalamnya ada Ibu Clara yang menjadi penentu anggaran, kami bersiap-siap menuju pohon-pohon berbenalu untuk mencari sarang semut. Ada sekitar 12 buah yang kami bawa. Oski dkk membantu kami untuk mengambilnya. Melalui buku dari Pak Camat ada racikan dan kegunaan untuk berbagai macam penyakit dari sarang semut. Kami lalu membelah dan memotongnya menjadi lempengan bulat untuk dijemur hingga besok. Sore itu kami menikmati suasana Fatumonas yang sejuk dan damai.

Setelah itu kami pergi mencari sinyal komunikasi di atas bukit berbatu. Jaraknya dekat dari kantor camat, tetapi kami tetap menaiki oto untuk menuju ke sana. Tidak perlu waktu lama sampai puncak karena tingginya hanya sekitar sepuluh meter. Banyak lubang-lubang kemudian kekar-kekar yang sangat intensif memecah batugamping penyusun bukit itu. Berwarna gelap.

Dari atas bukit itu, kami bisa melihat seluas mata memandang dengan arah tiga ratus enam puluh derajat. Matahari sudah di ujung peraduan arah barat. Awan-awan menyajikan pemandangan gagah nan memesona akibat semburan kemerahan dari matahari. Sinyal komunikasi didapat, beberapa pesan masuk dan dibalas. Suara seperti gong berdengung yang berasal dari desa sebelah. Angin terasa kencang, jika tidak memakai jaket bisa menyiksa. Gunung Timau terlihat dalam kejauhan. Seperti biasa, awan atau kabut menutup bagian leher hingga puncak gunung. Kemudian malamnya gunung tersebut kembali menampilkan tubuh seutuhnya dan bintang-bintang berkelap-kelip.

Kami turun dan kembali ke rumah camat. Perjalanan terasa sudah berakhir. Besok kami bisa ke Kupang untuk menyempatkan barang sebentar agar bisa melihat-lihat tempat wisata di Kupang, hingga akhirnya sebuah twist terjadi di penghujung kepulangan kami besok hari.DSC05372

 

DSC05303

24 Juli hingga 30 Juli

Di sebuah kepulauan sebelah tenggara Indonesia dengan beragam keindahan alam dan kebaikan masyarakatnya, Timor Barat

Lanjut ke Bagian 2🙂

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s