Bagian Penutup Perjalanan 11 Hari Di Timau, Pulau Timor

Bagian paling menarik dari suatu film thriller adalah twist ending. Kami sudah berpacu dengan target dan waktu yang mepet, ternyata pencapaian kami di lapangan melebih ekspektasi sehingga di hari keempat sebelum jadwal pesawat ke Bandung, kami sudah bisa pergi ke Kupang untuk menikmati beberapa wisata. Tetapi sayangnya hal itu tidak terjadi. Kami kembali lagi ke Timau menempuh jarak seratusan kilometer dari Kupang dan kami bekerja kembali di lapangan.

P_20160730_163103_BF

Saat Foto Bersama Di Fatumonas

Ya, sampel yang kami bawa ternyata kurang sampel batuan yang dikemas dalam sample box. Kami hanya punya waktu efektif 1,5 hari dari sisa waktu dua hari sebelum pulang ke Bandung. Maka mau tak mau, setelah beristirahat selama satu malam di kosan Chyko, kami berangkat besok siangnya, yaitu hari Senin menuju Fatumonas. Perjalanan melalu Poros Tengah cukup lancar dan kami tiba menjelang ‘Isya. Angin kencang sudah mendinginkan semua orang yang tiba-tiba mengerumuni rumah Bapak Camat. Dosen-dosen yang terlibat dalam tim analisis dampak lingkungan baru datang siang tadi bersama dengan Pak Nidas untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat dan tetua suku mengenai rencana pembangunan Observatorium Nasional Timau. Kami disarankan untuk tidak berangkat malam itu menuju Timau karena alasan safety. Berkali-kali dosen-dosen tersebut mengingatkan tentang alasan keamanan jika berangkat malam itu juga. Kami tidak punya pilihan lain karena target kami ada yang kurang, yaitu sampel batuan berbentuk kotak 20 cm x 20 cm x 20 cm. Malam itu juga kami meluncur ke Timau dengan oto Mesakh.

P_20160730_164515

Sore Di Bukit Batu

Saya tak kuasa menahan kantuk, perjalanan dari Fatumonas ke Timau dengan medan yang naik turun dan berbatu tak terasa selama saya tertidur. Kami mendapat tambahan personil dari warga untuk mengambil sampel batuan. Sampel batu yang harus dibentuk kotak sejatinya akan mudah dibentuk menggunakan gerinda, tetapi karena keterbatasan kami menggunakan pahat dan alat seadanya. Sesampainya di sana, kami menimbang waktu dan memutuskan besok pagi, Selasa baru jalan untuk mengambil sampel di beberapa titik yang sudah kami ketahui saat mapping.

Pagi menjelang, setelah menyeruput kopi dan menyuap mie goreng, kami dibagi dua tim. Proses pengambilan sampel ini memang tidak mudah, untuk membuat agar berbentuk kotak kami pahat pelan-pelan juga dibantu dengan pisau dan golok. Sampai siang hari sampel ketiga kami dapat. Nampaknya hanya tiga sampel batuan berbentuk kotak yang bisa kami dapat. Setelahnya, kami melunjur untuk mengejar posisi sudah di Kupang karena saya dan Indra harus sudah di Bandara El Tari pukul lima pagi besoknya, Rabu. Kami tiba di Fatumonas dan tidak menemukan siapa-siapa. Ternyata tim amdal bersama Bapak Camat sedang ke desa-desa meneruskan sosialisasi. Kami hanya bertemu dengan Pak Alvin dan beberapa orang berseragam kepolisian militer menggunakan oto. Kami sampaikan pamit yang kedua kepada Pak Alvin dan memohon izin untuk kembali ke Bandung. Tak terasa delapan hari saya ada di Fatumonas dengan keramahan warganya, cerita yang begitu berkesan di dalam hati saya.

SDC19007

Saat Kami Bermalam di Timau

Akhirnya kami tiba di Rumah Lapan pukul sepuluh malam. Setelah sebelumnya makan malam bersama Kaka Mesakh dan teman-teman yang lain. Di Rumah Lapan kami bertemu dengan Pak Irvan dan Bu Clara yang juga akan pulang ke Bandung besok pagi. Jadi, saya dan Indra akan berbarengan ke bandara.

Pagi menjelang, kami berempat naik taksi menuju Bandara El Tari. Saya sempat bilang selamat berjumpa kembali kepada Chyko dan Husni yang sudah banyak membantu kami selama di lapangan dan hingga kami mau pulang ke Bandara. Taksi sampai dan kami berpisah dengan Bu Clara dan Pak Irvan karena maskapai yang kami gunakan berbeda.

SDC19027

Pesona Gunung Timau

Menunggu pesawat tidak terlalu lama. Pagi sudah menjelang, Rabu. Setelah lepas landas, awan-awan rendah berada di bawah pesawat. Pesona Pulau Timor begitu indah meski saya hanya melihat tanah Kupang di bawah awan-awan itu. Sungguh luar biasa penciptaan pagi itu. Kami seperti terbang di atas awan yang tak berujung, awan-awan putih yang bergumpalan berjejer cukup rapat menyisakan ruang penglihatan untuk laut-laut yang tenang. Mentari tidak bisa kami lihat, tetapi sinarnya lah yang membuat terang segalanya. Kemudian kami, saya dan Indra transit dulu di Surabaya.

Kami mencari makanan untuk sarapan dan singgah sebentar di sana. Saat kami akan menuju ruang tunggu, saya mendengar suara yang tak asing kemudian diiringi oleh sesosok kawan lama, Ikhwan. Bersama temannya. Saya berangkulan, sudah sangat lama tidak bertemu. Obrolan singkat memaksa kami hanya sebentar saja bertemu. Saya tak menduga bisa bertemu di Bandara Surabaya. Semoga ada waktu untuk kembali bertemu kawan-kawan lama yang sudah punya banyak cerita.

Pesawat kembali terbang menuju Bandung. Pemandangan kali ini disuguhi oelh deretan pegunungan Jawa yang sangat megah dan indah. Mungkin benar sebutan Jawa adalah Tanah Para Dewa. Keindahannya dari atas awan di dalam pesawat ini begitu mengagumkan. Warnanya yang biru pekat jika kami lihat dari kaca jendela pesawat menambah aroma gagah gunung-gunung yang kokoh. Mereka seperti menjaga para warga yang mendirikan tempat tinggal di kaki gunung dan dataran rendah di sekitarnya. Secara umum, gunung-gunung itu seakan menjadi tancap yang menempatkan Jawa berada di tempatnya sekarang. Di dekat garis katulistiwa sehingga produk vulkanik yang ada sungguh subur, menghasilkan tanaman-tanaman dan beragam kekayaan alam lainnya yang sedap dipandang mata. Sungguh suatu anugrah yang besar untuk negeri ini yang barang tentu tidak dimiliki negara lain.

DSC05215

Hamparan Rumput Timau

Akhirnya sekitar jam dua belas siang, Rabu kami sampai. Matahari di atas Kota Bandung yang padat cukup panas. Kami hirup kembali udara Kota Kembang. Kami kabari Bu Clara, Pak Imam, Pak Nurkhamdani, bahwa kami sudah tiba di Bandung. Sesampainya di kosan, beberapa jam kemudian, saya baca pesan yang masuk dari Pak Alvin dan Bapak Camat yang mengucapkan hati-hati di jalan. Ada getar kerinduan. Kemudian, tak lupa juga saya kabari Husni dan Chyko.

SDC18905

Fatumonas Yang Tentram dan Damai

Timau-Fatumonas-Kupang-Nusa Tenggara Timur, 24 Juli – 3 Agustus 2016.

Perjalanan yang begitu mengesankan …

Selamat berjumpa kembali🙂

6 pemikiran pada “Bagian Penutup Perjalanan 11 Hari Di Timau, Pulau Timor

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s