Gempa Yogya

Bencana gempa bumi yang terjadi di Yogyakarta dan sekitarnya pada Sabtu, 27 Mei 2006 berkekuatan 5,9 pada skala Richter, merupakan tipe gempa merusak dengan skala kerusakan 7 MMI (Modified Mercally Intensity). Korban jiwa mencapai angka lebih dari 6000, dengan puluhan ribu orang terluka, dari luka memar hingga patah tulang dan ratusan ribu bangunan rusak parah hingga hancur total. Kasus gempabumi ini dapat digunakan sebagai studi kasus untuk melakukan studi mitigasi bencana akibat gempabumi. Daerah yang mengalami dampak yang paling parah adalah kabupaten Bantul yang terletak disebelah selatan dari Kotamadya Yogyakarta dan sepanjang jalur patahan hingga ke kota Klaten, Jawa Tengah. Dataran ini merupakan daerah dengan tingkat kepadatan penduduk yang cukup tinggi dengan masyarakat tinggal di desa-desa yang dibatasi oleh persawahan.

Hal yang menarik dari kejadian gempabumi ini, bahwa hiposenter gempabumi berdasarkan hasil analisis after shock data terletak pada sebelah barat dari Sesar Opak dan pusat kerusakan diperkirakan tersebar sepanjang Sesar Opak. Hal ini berarti bahwa gempabumi merambat dari titik hiposenternya melalui zona lunak yang merupakan bagian dari Formasi Endapan Merapi Muda dengan komposisi sebagian besar tersusun oleh aluvial, tuf, breksi aglomerat, dan aliran lava.

Posisi sumber gempa bumi diperkirakan berlokasi pada jarak 10 km sebelah timur Bantul. Nilai momen seismik (Mo) gempa bumi Yogyakarta 2006 adalah 8,1385 x 1025 dyne cm dan momen magnitudo (Mw) adalah 6,5. Nilai strain normal yang berorientasi dalam barat – timur lebih besar dibandingkan dengan nilai strain normal yang berorientasi dalam arah selatan – utara. Metode simple kriging yang dipadukan dengan simulasi sekuensial gaussian memberikan hasil cukup baik dibandingkan dengan tanpa dipadukan dengan simulasi sekuensial gaussian.

Kedangkalan pusat gempa turut menyebabkan meluasnya kerusakan struktural. Gempa bumi yang serupa tingkat kekuatannya tetapi lebih dalam di bawah permukaan tanah akan mengakibatkan jauh lebih sedikit guncangan di permukaan dan karena itu lebih sedikit kerusakan pada bangunan. Skala bencana alam ini diperparah oleh kegagalan manusia mendirikan bangunan tahan gempa. Kerusakan berskala-besar terhadap bangunan-bangunan berkaitan dengan kurangnya kepatuhan kepada standar bangunan yang aman dan metode konstruksi dasar tahan gempa. Sebagian besar rumah-rumah pribadi menggunakan bahan bangunan bermutu rendah dan tidak memiliki kerangka bangunan yang esensial serta tiang-tiang penopang sehingga mudah runtuh akibat guncangan.

Manajemen resiko dari Gempabumi Yogyakarta ini dapat dilakukan melalui:

  • Pendidikan dan pelatihan kebencanaan perlu diimplementasikan dan secara periodik dilakukan penyegaran.
  • Perlu koordinasi yang lebih akurat diantara masing-masing stake holder dalam penanganan korban bencana baik dalam satu wilayah maupun antar wilayah.
  • Mitigasi gempabumi mencakup konsep Model Utama dan Rencana Awal Manajemen Mititgasi Bencana yang harus diimplementasikan untuk mengurangi resiko bencana gempa bumi.
  • Sistem pemantau dini hendaknya diimplementasikan sebagai bagian utama dari sistem tanggap darurat terhadap masyarakat yang tinggal pada lokasi bencana yang didukung oleh SDM yang terampil dalam membantu mengevakuasi korban serta penentuan rute evakuasi yang aman.
  • Pemahaman akan sumber bahaya dan potensinya kepada masyarakat hendaknya diintensifkan dengan diselenggarakannya diklat, penyebaran brosur, pamflet, sehingga dapat meningkatkan kesadaran publik akan bahaya gempabumi.
  • Hendaknya perlu dilakukan penataan ulang terhadap penggunaan lahan di daerah bencana secara kontinyu dan hendaknya penggunaan citra satelit atau photo udara dapat diimplementasikan untuk mengestimasi aktivitas patahan didaerah becana.

Referensi:

Abidin, H. Z., Andreas, H., Meilano, I., Gamal, M., Gumilar I., dan Abdullah, C. I., 2009, Deformasi Koseismik dan Pascaseismik Gempa Yogyakarta 2006 dari Hasil Survei GPS, Jurnal Geologi Indonesia, Vol. 4 No. 4, hal 275-284.

Haifani, A. M., 2008, Manajemen Resiko Bencana Gempa Bumi (Studi Kasus Gempabumi Yogyakarta 27 Mei 2006), Seminar Nasional SDM Teknologi Nuklir, Yogyakarta.

Laporan bersama BAPPENAS, Pemerintah Provinsi dan Daerah D. I. Yogyakarta, Pemerintah Provinsi dan Daerah Jawa Tengah, dan Mitra Internasional, 2006, Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian Bencana Alam di
Yogyakarta dan Jawa Tengah, Pertemuan ke-15 Grup Konsultatif untuk Indonesia, Jakarta.

Rakhman, A. N., Kuswardani, I, 2012, Studi Kasus Gempa Bumi Yogyakarta 2006: Pemberdayaan Kearifan Lokal Sebagai Modal Masyarakat Tangguh Menghadapi Bencana, Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains dan Teknologi (SNAST) Periode III, Yogyakarta.

Sulaeman, C., Dewi, L. C., dan Triyoso, W., 2008, Karakterisasi Sumber Gempa Yogyakarta 2006 Berdasarkan Data GPS, Jurnal Geologi
Indonesia, Vol. 3 No. 1, hal 49-56.

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s