Pendaki Hilang

“Wak, di daerah sini ada gunung yang jarang dinaiki orang?”

“Ada”

“Gunung apa Wak? Di mana itu?”

“Gunung Gendereng, dari sini lumayan jauh. Dua jam ke arah Ciguha.”

“Gunung itu jarang ada yang naik, masih banyak hutannya. Kata orang-orang …………………………………… .”

Terputus.

Karta tak bisa bergerak, kakinya sangat sakit, dia tidak lagi bisa mendengar apapun, seperti tuli mendadak. Dalam ketidakberdayaan itu, dia masih bisa merasakan tubuhnya yang basah oleh cipratan air. “Air terjun,” ucapnya lirih. Penglihatannya pelan-pelan menjadi kabur dan berubah menjadi gelap. Masuk ke sebuah lorong yang seolah-olah membawanya ke tempat lain.

Sebulan penuh pencarian itu, melibatkan badan evakuasi nasional dan segenap komunitas pencinta alam. Semua bersatu dalam unit terpadu search and rescue (SAR). Area-area pencarian korban sudah dievaluasi berkali-kali. Tidak ada tanda-tanda yang mengarah kepada keberadaan survivor. Carrier yang masih bersih dan utuh ditemukan. Akan tetapi, barang-barang di dalam kantong gunung berkapasitas delapan puluh liter itu tampak berantakan. Sleeping bag, sepotong flanel, dan celana lapangan tak karuan, bercampur dengan pisau lipat, benang, headlamp, pemantik api, jas hujan, dan berbagai jenis tali. Kotak pertolongan pertama untuk kecelakaan, tercecer semua isinya. Segala macam makanan serta perangkat-perangkatnya dalam kondisi acak. Tidak ada air minum. Tenda tidak ada di dalam carrier, seperti terlempar jauh dari dalam. Seorang laki-laki muda yang turut serta berujar “Iya, ini carrier saya yang dipakai Karta untuk naik.”

Kasus hilangnya pendaki di Gunung Gendereng sempat masuk media-media nasional. Sudah cukup banyak kasus sepanjang tahun itu. Tim SAR masih berupaya melakukan penelusuran dan pencarian di daerah operasi. “Gunung ini jarang ada yang daki,” “hutannya masih rimba,” “jika tidak terbiasa di gunung, bisa bahaya,” ujar seorang warga bersuara parau. Bicaranya terpotong-potong disela batuk anehnya.

Wira sedang berpikir ketika koordinator misi mengumpulkan informasi-informasi awal. “Dia sempat ngajak saya buat naik. Saya pikir Karta mau berangkat besoknya setelah saya ujian, tetapi dia tetap pergi hari itu juga.”

Para koordinator serta personil unit nampak berkumpul dengan mimik-mimik serius di salah satu pos pemantau. Warga pemilik warung kopi bilang bahwa Karta menitipkan motor selama tiga hari kepadanya. Tetapi, di hari ketiga, Karta tidak kunjung muncul.

“Apa kamu tahu apa saja yang dibawa Karta?”

“Dia pinjam carrier dan GPS. Perlengkapan lain semestinya dia bawa.”

“Apa dia naik gunung sendirian?”

“Iya, sepertinya tidak ada teman yang diajak selain saya.”

Tiba-tiba Wira mengingat sesuatu. “Ohiya, sore hari ada telepon. Karta bilang sudah sampai di puncak dan mau lanjut jalan.” Besoknya dia hubungi Karta untuk menanyakan keadaan, berkali-kali tidak ada jawaban. Sesuatu mungkin telah terjadi, dia lantas menuju Ciguha. Rasa penasaran dan sedikit kekhawatiran muncul. Tidak ada kabar. Sejak saat itu Karta resmi dinyatakan hilang.

Tempat terakhir keberadaan survivor sudah ditelusuri, nampaknya area pencarian perlu diperluas. Koordinator misi memimpin rapat. Komandan lapangan menggelar peta, membentuk lingkaran di beberapa lokasi sebagai blok pembatas, satu di selatan, dua di barat, dan menarik garis untuk pemasangan string lines. Sejauh ini tiga area yang menjadi fokus perhatian. Daerah-daerah lainnya tidak menghasilkan petunjuk. “Besok kita gunakan detection mode di blok I dan pencarian tipe II di sebelah barat. Masih ada area yang belum tersapu di sekitar sana, kita akan tambah unit.” Malam sudah larut, semua personil beristirahat untuk tugas besok.

Pagi menjelang. Pencarian dimulai lagi. Unit-unit disebar sesuai kebutuhan. Blok-blok pencarian dibuat untuk membatasi area jelajah survivor. Tiap unit melakukan penyisiran dan penelusuran, dipimpin oleh seorang komandan. String lines dan tags berwarna merah dipasang pada batas blok agar survivor bisa teralihkan ke tempat aman kalau-kalau melewati garis itu. Global Positioning System (GPS), kompas, peta, teropong, dan jenis alat lainnya digunakan selama operasi. Setiap unit punya anggota khusus yang peka bau-bauan dan objek-objek vital. Ada blokade di jalur masuk untuk pemeriksaan masuk dan keluar. Perangkap dibuat dengan menggemburkan tanah di lokasi yang kemungkinan dilewati survivor. Personil di pos pemantau melakukan pencarian di tempat-tempat strategis, persimpangan jalan dan pertemuan dua sungai. Selain itu, ada look outs, pengintaian dari tempat tinggi untuk mengamati area yang lebih rendah seperti lembah, tempat-tempat terisolir, dan sungai-sungai di bawah tebing. Pengintai juga selalu awas jika muncul gerakan-gerakan atau semacam tanda yang mungkin berasal dari survivor. Mereka juga membuat tanda-tanda mencolok untuk menarik perhatian survivor dengan membuat asap, bunyi-bunyian, dan sinar. On scene commander memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.

Tidak ada temuan berarti. Sekali waktu, jejak kaki yang muncul tidak mengindikasikan petunjuk sama sekali. Ranting-ranting pohon menyisakan arang-arang basah, sudah hancur, dan mulai bercampur dengan tanah juga demikian. Semua hal temuan lainnya telah diidentifikasi, tak kunjung ada titik terang.

Pada hari ketiga puluh satu semenjak Karta dinyatakan hilang.

Di satu dua tempat nampak area-area gundul, akibat kebakaran atau sebab lain. Diamati pada jarak dekat, lahan dengan sisa-sisa batang pohon yang hangus. “Banyak sekali tempat yang terbakar di sini,” ucap seorang personil.

Unit di blok barat berhasil menemukan sebuah topi berwarna coklat, bermerk salah satu produsen perlengkapan gunung. Benda itu ditemukan saat seorang personil terjatuh menginjak tanah pengaruh hujan semalam. Dia jatuh cukup keras dan tidak sengaja melihat sesuatu di akar Edelweis.

Kondisi lereng curam, lebih berupa tebing andesit, sungai deras mengalir dari  punggungan selatan. Penemuan topi menuntun pencarian di bawah tebing. Tetapi, akses menuju sana tidaklah mudah, dibutuhkan peralatan khusus.

Koordinator dan personil lain sudah berada di lokasi tebing. Lima orang terlatih memasang tripod yang terhubung tali karmantel semi statis, biasa digunakan untuk rescue. Seragam lapangan dan rompi dipakai. Harness, alat penopang tubuh yang terikat di pinggang kemudian dihubungkan dengan tali melalui cincin kait karabiner. Helm dan sepatu panjat sudah dikenakan juga. Lalu, secara hati-hati mereka menurunkan diri dan mengatur kecepatan dengan descender. Pada tebing batu itu, sesekali ditancapkan piton, paku tebing yang dipukul dengan palu khusus untuk mengakali lintasan turun yang rumit. Dentingan terdengar pelan lalu hilang ditelan lembah gunung.   

Untuk waktu yang lama, keluarga korban merasakan kesedihan yang mendalam. Informasi ini terasa memprihatinkan bagi kalangan teman-temannya. Dia dikenal seorang pendiam yang hobi pergi sendirian. Kerisauan batin menuntunnya dalam perjalanan-perjalanan ke tempat-tempat sepi yang membawa ketenangan.

Operasi bawah tebing menemukan Karta dalam kondisi sudah tak bernafas. Menurut hasil otopsi, tidak ada temuan luka selain kaki yang terjepit batu sungai, juga tidak ada tanda-tanda serangan hewan. Belum jelas keberadaan korban ketika tim SAR sedang beroperasi di area pencarian selama sepuluh hari awal, karena pada saat berbarengan korban ternyata diduga masih hidup.

Siang yang cerah, matahari tanpa penghalang memancarkan panas merata ke desa itu. Senyum ramah dari seorang kakek menyambut kedatangannya. Warung kopi berupa gubug dari bambu, lengkap dengan bangku dan meja untuk pembeli. Gunung di sana tidak lebih tinggi dari puncak yang pernah dia daki. “Tidak terlalu terjal,” kiranya, menaksir sudut kemiringan gunung.

“Pak, saya titip tiga hari ya motor ini, nanti diambil lagi.”

“Iya Den, hati-hati di jalan.” Den, panggilan untuk orang muda menurut adab kesopanan warga setempat, mungkin maksudnya lebih mirip kata raden.

Dia berjalan mengitari sawah, lalu mendapati jalan setapak yang mengarah ke kaki gunung. Sesampainya di sana, dia berhenti sebentar. Bukan lelah, tapi melempar pandang ke warung kopi tempat dia menitipkan motor. Sadar yang mendaki gunung itu mungkin hanya dirinya seorang. Yang diinginkannya hanya kesendirian dan ketenangan.

Berlalu satu jam setelah melewati jalan tanah yang jarang dilewati, terlihat dari tingginya rumput yang tumbuh secara acak. Dia lalu merasakan kehadiran seseorang di balik pohon-pohon rimbun. Suara siulan yang ditirukan, meyakinkan itu adalah manusia. Terdengar langkah kaki. “Mungkin warga sekitar yang lagi turun,” gumamnya. Di persimpangan itu, tepat dia akan berpapasan dengan seseorang itu, yang terlihat jelas hanyalah sebuah jalan terusan, membentang lurus di antara pohon-pohon besar kemudian hilang di ujungnya.

Pohon-pohon berkayu, cantigi, padi liar, dan pemandangan kawah di gunung sebelah sesekali dia amati dan renungkan. Sesampainya di suatu padang Edelweiss, dia yakin sedang berada di posisi yang tinggi. Berhenti dan melepas carrier, mengambil air minum, mencermati GPS, lalu mencari-cari sinyal untuk menghubungi kawannya. Di tepian padang Edelweiss, plang kayu bertuliskan Puncak I tertempel pada sebuah batang pohon. Di tempat itulah dia berkomunikasi. Tanpa disadari, beberapa pasang mata sedang mengawasinya dari balik pepohonan.

Matahari dengan cepat kembali ke peraduan. Awan-awan senja seakan turut terbenam di barat. Suasana gelap seketika mengambil alih keadaan. Ketika dia sedang kembali menuju tempat menaruh carrier, terdengar suara langkah-langkah kaki di belakangnya. Saat menoleh, samar-samar empat sosok muncul di hadapannya. “Aku tidak sendirian,” ucapnya dalam hati.

Dalam kejauhan dan suasana hening, lima sosok itu bercakap-cakap. Hanya angin yang tahu apa yang sedang dibincangkan. Tiba-tiba, satu orang jatuh tak berdaya menghujam tanah. Hari makin gelap, tidak ada cahaya.

Dalam siluet itu, seseorang menciptakan api di dekat wajahnya. Kepulan asap muncul secara tiba-tiba, kemudian naik dan lenyap di angkasa. Sementara dua orang mengangkat tubuh itu, dua lainnya berjalan ke arah berlawanan menuju hutan.

Kapak, gergaji, dan perangkat lainnya tergeletak di salah satu tumpukan kayu. Gelondongan itu siap dijatuhkan. Arus sungai akan membawanya menuju hilir dan berhenti di tempat yang hanya mereka yang tahu. Hutan itu dipenuhi pohon saninten, jamuju, kihujan, dan jati. Suara sungai dan hewan-hewan malam mengisi kesunyian. Mereka harus terus mengawasi keadaan.

end

2 pemikiran pada “Pendaki Hilang

  1. Cerita asli Mis?
    Saya jadi teringat cerita anak ITB yg dulu naik gunung itu. Klo g salah nama gunung yg dia daki adalah G. Kendeng

    Suka

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s